Bakar Dupa, kaki Budha dan Jablo
Nov 12th, 2007 by drt
Sewaktu begitu merindukan trafik dalam upaya mengumpulkan dana untuk biaya operasi bayi mungil Gratia, saya sempat juga menulis dengan judul yang hampir serupa dalam bahasa Inggris yang tentunya di sini sudah saya ubah sedikit, karena saya menyukai rimanya.
Kalau anda termasuk pencandu cersil, mungkin anda pernah tahu tentang pepatah yang menjadi pangkal judul di atas. Bunyi terjemahan pepatah itu kira-kira begini:
Sehari hari tidak bakar dupa,
waktu kepepet peluk kaki Budha.
Mencari dana lewat Internet, terutama lewat blogging bukan sesuatu yang cespleng. Sama halnya dengan semua usaha yang mendatangkan hasil, satu per satu langkahnya perlu ditekuni, perangkat yang dibutuhkan harus disiapkan, lalu perlu ketelatenan untuk memperluas jaringan,… Dengan demikian pada saat dibutuhkan, bukannya ibarat sudah kepepet baru peluk kaki Budha seperti yang digambarkan dalam pepatah di atas, melainkan ibarat ibadah, yang diungkapkan lewat kata ‘bakar dupa’ perlu ditekuni setiap hari. Tentu saja pepatah di atas berlatarbelakang kebudayaan Tionghoa, namun kandungan artinya universalnya bisa dibandingkan dalam situasi di sini.
Sebenarnya hari ini di sini kami lagi menikmati akhir minggu panjang, dan pagi-pagi saya sudah siapkan ‘to do list‘ tentang apa yang mau saya selesaikan hari ini. Tapi setelah mengisi blog tentang Penghargaan buat Para Veteran Perang Korea oleh pemilik restaurant Korea yang sering kami kunjungi, sepanjang sore saya habiskan waktu ber-jablo lagi menelusuri kembali berbagai posting mengenai perbaikan peringkat di Technorati. Hahaha, ketemu istilah baru jablo? Ah, ini kami masih terusan posting saya kemarin:
Papeca, papeca,
Pablo, peblo, pecablo,
Papace, papeca,
Kalo cape yuk jablo.
Iyalah, jablo untuk jalan-jalan menelusuri blog. Tentu saja gara-gara jablo, saya jadi tak beranjak dari komputer sejak berapa jam lalu dan sempat melihat berbagai email yang seliweran masuk ke dalam inbox saya.
Pertanyaan timbul, mana duluan? Berisi dulu tugas-tugas dalam list saya atau periksa dan balas semua email yang masuk? Jawabannya pasti sudah bisa anda tebak.
Menyelesaikan apa yang sudah tercantum dalam ‘to do list‘ kan sepadan dengan ungkapan setia membakar dupa setiap hari. Makanya, kalau email anda belum sempat saya balasi, mohon maaf….., karena saya tidak mau sudah kepepet baru menyembah-nyembah peluk kaki Sang Budha lagi.
Sedangkan mengenai peringkat Technorati, nanti deh. Biar itu jadi masukkan untuk ditulis di kemudian hari.
Tabik.
