Musim Gugur di Selatan dan ‘Mat Jalan Beleng
Nov 23rd, 2007 by drt
Dua hari lalu akhirnya pohon di depan rumah menjadi gundul dan dedaunan berserakkan di seluruh halaman depan. Tak lama lagi musim gugur sudah akan berakhir.
WidgetBucks - Trend Watch - WidgetBucks.com
Di selatan musim gugur pergi dan musim dingin datang dengan merayap perlahan-lahan. Perlu berhari-hari sebelum akhirnya dedaunan berserakkan dan pepohonan menjadi gundul. Kapan hari itu istri saya malah sempat bilang, kalau dia perhatikan walaupun pohonnya sama, butuh waktu yang berbeda sebelum daunnya berganti warna. Semua tidak terjadi serempak. Tapi saya lupa apakah di utara juga begitu. Hitung-hitung sudah hampir dua kali lipat waktunya kami habiskan di daerah selatan ketimbang di utara.
Yang saya ingat di utara musim gugur datangnya mendadak. Atau paling tidak kesadaran bahwa musim gugur sudah tiba itu terasa mendadak. Suatu hari bangun pagi, pohon-pohon sudah pada gundul dan dedaunan berserakkan di mana-mana. Sewaktu menyetir, pemandangan di kejauhan yang tadinya tertutup dedaunan pohon di sepanjang jalan kini luas terbuka, bangunan atau pemandangan lain bisa terlihat dari jauh.
Musim gugur secara tradisional adalah musim orang menuai panen dan bersyukur dengan apa yang telah mereka capai selama setahun yang lewat di Amerika sini. Sebentar lagi musim dingin akan tiba, dan semua akan berjalan lamban.
Musim gugur juga adalah musim untuk bersyukur kalau setahun lagi sudah lewat, dan angka usia kita bertambah satu. Tapi entah mengapa, setiap melihat dedauan yang berserakkan, sekitar 6, 7 tahun terakhir ini saya selalu terkenang akan mereka yang tidak sempat menunggu akhir tahun dan sudah mendahului pulang menemui sang Pencipta, atau mereka yang sudah pergi di tahun sebelumnya. Biasanya bayangan mereka itu bagaikan bayangan foto hitam putih yang sudah memudar, silih berganti muncul dalam ingatan yang kemudian pupus bersama angin musim gugur, dan menghilang dalam langit kelabu.
Di selatan, musim gugur datang dan perginya secara merayap.
Perasaan ini semakin mengental ketika saya telpon ke rumah dua hari lalu, dan adik saya ternyata sedang pergi melayat. Ketika saya telpon ke HP-nya, ternyata itu adalah teman bermain saya sewaktu kecil dulu. Semasa kecil almarhum lebih dikenal dengan nama panggilan Beleng, dan di kemudian hari orang lebih kenal beliau dengan nama Pak Kades Saleh. Saya hanya menitip ucapan ikut berduka cita kepada keluarga, sambil berdoa dan mengenang kembali pertemuan kami terakhir ketika dia mampir ke rumah orang tua saya waktu saya pulang dulu. Beleng memakai seragam PNS waktu itu, suara dia masih seperti dulu dan kejenakaan masa kecil kita belum juga hilang. Kami hanya bertukar-sapa sebentar karena sudah lama tak bersua dan Beleng terus pergi karena dia sibuk di kantor.
Di halaman, dedeaunan kuning masih berserakan. Diam-diam saya hanya bisa bilang, mat jalan, Beleng! Semoga arwahmu sudah diterima di sisi Tuhan dan semoga Tuhan memberi kekuatan buat keluarga yang ditinggalkan.
Dan di luar, musim gugur terus merayap pergi.

Daun gugur
Daun gugur jelang akhir musim
Kawan pergi menandai waktu
Ingatan berjalan melampaui rupa
Musim dingin kali ini kembali torehkan jejak di atas salju
yang pasti akan turun sebentar lagi seperti tahun-tahun yang lalu
kawan, kampung halaman, ingatan lampau kadang meradang
Tapi daun gugur pasti lah tiba waktunya
Tiupan angin meski terasa lebih lembut
Memberikan dingin di kalbu
Bau laut
di mana rasa pulang selalu ada
membuat tanya dalam hati
semoga jika pulang
masih ada yang bisa disapa
untuk ingatkan tawa masa kecil
apa pun itu
ucapan terima kasih pada yang esa
mengalir dari kalbu
mengiring daun yang jatuh
Birmingham, 24 Nov 2008
Makasih, El. Itu Birmingham buat orang di sini bisa dikira dari Birmingham, Alabama.
Sebenarnya waktu menulis entry itu, saya juga teringat akan seorang penjaga toko tua dari Sapporo hampir 30 tahun yang silam. Suatu waktu salju lebat, saya mampir di tokonya dan sempat menggerutu soal salju. Dia bilang, semakin tebal dan semakin dinginnya salju pertanda musim semi akan tiba. Tapi ah, lu pandai menggoda El.