Bet Pung Buku dan Kokoro No Tomo
Nov 27th, 2007 by drt
Beberapa hari lalu Hein mengirim link Alkitab Bahasa Kupang ke milis Bolelebo yang bahasa pengantarnya adalah bahasa Kupang. Sebagai pemakai bahasa Kupang yang setia, tentu saja saya senang ada yang sudah mau menyempatkan waktu untuk terjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Kupang. Untuk saya sendiri, dalam percakapan sehari-hari, dalam email, di antara teman sekampung, terasa normal sekali. Tetapi begitu membaca tulisan resmi dalam bahasa Kupang seperti di Alkitab, tak terasa keunikan bahasa pasar ini yang akan membuat pembaca bahasa Indonesia lainnya terbengong-bengong, sempat membuat saya tersenyum geli. Saya mendengar komentar yang sama dari seorang teman lain yang sebenarnya seorang ahli bahasa.
Selama ini, seingat saya, pemenggalan kata yang menjadi ciri khas bahasa pasar atau bahasa sehari-hari daerah Indonesia Timur sudah banyak dibicarakan. Sejauh ingatan saya, di akhir tahun 60an di Intisari pernah ada feature dengan judul ’sapi main bola’. Ternyata itu ceritera mengenai bagaimana dalam bahasa pasar di Irian waktu itu, kata sa(ya) p(erg)i main bola dipenggal sehingga tinggal sa pi main bola. Tentu saja kalimat ini unik buat orang yang baru datang dari Jawa misalnya. Untungnya, dalam bahasa Kupang lebih sering dipakai kata beta ketimbang kata saya, sehingga kata beta pergi maen bola dalam bahasa Kupang menjadi bet pi maen bola atau be pi maen bola. Makanya tak heran kenapa tidak ada sapi atau kambing yang main bola di Kupang.
Tapi selama ini saya tidak begitu perhatikan adalah keunikan lain yang baru saya sadari akhir-akhir ini. Keunikan itu rasanya tidak saya temukan dalam bahasa daerah lain yang saya ketahui. Misalnya kata ‘bet pung buku’ dalam bahasa Kupang. Jelas maksudnya beta punya buku atau saya punya buku. Gimana ya bahasa Jawanya? Selain ‘buku kulo’ atau yang searti dengan itu, atau ‘buku saya’ dalam bahasa Indonesia, apa ada kalimat yang sama strukturnya dengan bet pung buku atau saya punya buku? Bagaimana dengan bahasa daerah lainnya?
Waktu menulis ini, saya ingat juga saat jablo beberapa hari lalu, sempat liat ada yang menulis tentang Kokoro no Tomo-nya Itsuwa Mayumi. Saya sempat lihat videonya dan senang sekali dengan lagu itu.
Kokoro no Tomo secara harfiah artinya Kokoro atau Hati Punya Teman. Ok, ok, saya tahu, terjemahan bahasa Inggrisnya Soulmate. Tapi tujuan saya cuma mau bilang, kokoro no tomo atau hati punya teman itu struktur kalimatnya sama dengan saya punya buku, saya punya teman atau watashi no hon, watashi no tomodachi.
Dalam ingatan saya jarang sekali mendengar kalimat ‘Saya punya buku’ dalam pemakaian sehari-hari dalam bahasa Indonesia. Sebaliknya, dalam kalimat bahasa Kupang, ‘bet pung buku’, ‘bet pung doi’, ‘bet pung maitua’ terasa normal sekali.
Kenapa begitu ya dalam bahasa Indonesia, saya punya buku, saya punya duit, saya punya istri terasa janggal pemakaiannya? Sebaliknya, seperti dalam Kokoro-no-tomo, malah dalam struktur bahasa Jepang terasa normal sekali. Bukan itu saja, struktur serupa juga ditemukan dalam bahasa Tionghoa, dimana wo de shu, wo de qian atau wo de laopo sama artinya dengan kata-kata di atas. Wo = saya, de = punya, shu = buku, qian = duit dan laopo = maitua.
Apakah ada juga struktur serupa dalam bahasa Belanda, Spanyol atau Portugis? Ada yang bisa bantu?
