Abue Malia Dan Rarabai
Dec 8th, 2007 by drt
Buat yang punya teman atau kenalan orang Jepang, tentu kesulitan orang Jepang mengucapkan bunyi ‘R’ sudah bukan hal yang aneh. Ini sebenarnya kebalikan dari encek-encek totok yang kita kenal di Indonesia. Kalau orang Jepang misalnya bilang ‘Seramato sore’, maka encek-encek akan bilang ’selamat sole’. Barangkali sekarang ini populasi orang totok sudah makin menipis, dan generasi mudanya tidak mengalami kesulitan seperti orang tua mereka lagi.
Menurut saya, ini persoalan umum manusia di mana-mana. Setelah akil balig dan seseorang tidak pernah mendengar dan mengucapkan bunyi-bunyi tertentu, maka akan sulit sekali mengubahnya. Tak percaya? Gampang deh.
Kalau anda punya teman yang bisa bahasa Mandarin, atau anda cari ke Internet, coba dengarkan, bagaimana menghitung 1, 2, 3, 4 dalam bahasa Mandarin. Dan bandingkan ucapan kata empat anda dengan ucapan dari orang yang sejak kecil diajarkan untuk menyebutkan bunyi ‘si‘ empat dengan ucapan anda yang lidahnya sudah kaku.
Yang paling mudah, anda bisa mencoba itu di situs Standard Mandarin, dan isilah kata ’si’ ke dalam form di bagian Pronounce Pinyin. Agar tidak membingungkan, silahkan pilih button ke-4, untuk intonansi kata si atau 4 yang kebetulan berintonansi ‘4′. Tapi anda pilih tone yang manapun dari keempat tone dalam bahasa Mandarin itu bukan persoalan di sini. Saya hanya ingin menunjukkan, betapa sulitnya kalau lidah kita sudah kaku baru mau memelintir untuk mengucapkan kata-kata bahasa asing. Jadi tulisan ini bukan bahan guyonan.
Nah, setelah anda load bunyi itu, silahkan tekan tombol panah atau play untuk mendengar dan bandingkan bagaimana kalau anda mengucapkan kata itu dengan apa yang anda dengar dari komputer. Sebagian besar tidak bisa meniru bunyi itu. Ini pengalaman pribadi yang sudah saya cobakan berulang kali kepada teman-teman sejak masih sekolah.
Pagi ini saya ingin menambahkan satu lagi huruf yang sukar diucapkan dalam bahasa Jepang untuk pemahaman kita bersama. Huruf V di Jepang diucapkan sebagai B diikuti vowel berikutnya. Makanya jangan heran kalau mendengan teman Jepang anda bilang ‘buery good’ atau ‘buerocity’ atau kalau orangnya bisa menyebutnya dengan huruf ‘l’ akan kedengaran sebagai ‘buelocity’ , maka itu bukan lain dari kata-kata ‘very good’ dan ‘velocity’. Nama seperti Van Dyck menajadi Ban Dikku dsb-nya.
Ide untuk menulis ini timbul setelah mendengar nyanyian almarhum Mibari Hisora ini:
Coba kalau anda bisa mainkan lagu dari Youtube ini, perhatikanlah bahwa di saat Misora-san melagukan kata-kata Ave Maria, maka akan terdengar sebagai A-bue Ma-lia. Lidahnya sudah sangat sukar untuk diplintir setelah terbiasa menyebut Ave sebagai A-bu-e dalam bahasa Jepang.
Tapi kalau anda perhatikan, ada juga orang Jepang yang masih bisa menyebut huruf ‘L’ dengan baik. Misalnya Itsuwa Mayumi-san dalam lagu Kokoro-no-tomo. Kalau anda perhatikan, bagian lyric ini, Mayumi-san akan menyanyikannya sebagai:
愛はいつもララバイ
Ai wa i tsu mo la la bai
Sedangkan penyanyi bukan Jepang akan menyanyikan sesuai lyric Jepang di atas sehingga yang terdengar adalah:
Ai wa i tsu mo ra ra bai…
Anda bisa temukan sendiri contoh yang saya maksudkan kalau mencari ke Youtube.
Saya pikir untuk kedua contoh ini, dalam kasus pertama Hisora-san berusaha keras menyesuaikan ucapannya, tapi kebablasan. Sedangkan dalam kasus kedua, Mayumi-san sama sekali tidak salah dalam menyanyikan lyric rarabai dengan lalabai, karena rarabai dalam bahasa Jepang itu sebenarnya berasal dari kata lullaby dalam bahasa Inggris atau lagu penina-bobo, dan kata itu sudah dimasukkan sebagai kosakata bahasa Jepang.
Nah sekarang terserah anda. Kalau anda menyanyi Kokoro-no-tomo, terus mau nyanyikan Ai wa itsu mo lalabai atau rarabai,… tak perlu khawatir. Karena keduanya tidak salah ditinjau dari apa yang sudah saya uraikan. Selamat bernyanyi. Saya sendiri masih akan mendengarkan beberapa lagu lagi.
