Lapar Terus, Bego Terus
Jan 12th, 2008 by drt
Saya tak pernah tertarik dengan Apple ataupun Mac. Pengalaman pertama dengan Mac waktu mengisi ilustrasi set up eksperimen untuk berbagai makalah saat masih kuliah dulu. Tetapi sewaktu kerja dikasih Mac saya sempat uring-uring saking seringnya mengalami persoalan dengan berbagai aplikasi Microsoft. Apakah itu gara-gara kesengajaan dari MS saya tidak tahu. Tapi akibatnya saya mendapat PC baru dan selama delapan tahun terakhir ini setiap ada pergantian komputer, saya tetap meminta PC dan masih belum punya pikiran untuk mencoba dengan produk Apple lainnya, walaupun sering melihat iklan mereka di TV.
Pagi ini begitu buka email, ada yang mengirim pidato Steve Jobs sewaktu acara wisuda di Stanford University tahun 2005 yang lalu. Tapi karena kiriman ini adalah hasil terjemahan, saya coba tanyakan ke Gus Goog untuk melihat teks aslinya. Eh, malah ketemu pidato itu di youtube, dan sekalian saya taruh link video itu di sini:
Buat yang susah mengikuti pidato ini, bisa menemukan teks bahasa Inggrisnya di situsnya Standford. Saya sendiri terkesan sekali atas 3 butir idenya Steve:
- Terkadang kita tak bisa melihat kaitan titik titik dalam perjalanan hidup kita. Baru setelah semua itu berlalu dan kita melihat ke belakang dan mengerti, oh, begitu toh sebabnya. Maka itu kalau saat berada dalam kebimbangan, saat tak mengerti ke mana lagi arah hidup ini, berikut ini adalah kata-kata Steve: “Again, you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.”
- Dalam bagian kedua yang menceriterakan tentang kehidupan dan cinta Steve mengatakan, dia tak tahu apakah semua itu bakal terjadi kalau dia tak pernah di-phk oleh Apple, atau dalam kata-kata Steve sendiri: “Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith. I’m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.” Mengingat kembali perjalanan hidup saya sendiri, saya sempat berpikir, kalau saja kepala saya tak pernah dihantam batu batu, atau beton
seperti kata Steve, atau tepatnya, pernah di-phk berkali-kali, apa saya akan duduk di sini mengetik ini ya? - Waktu kita di dunia ini terbatas.
Dalam kata-kata Steve:”Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.” Mungkin kata-kata ini terlalu bombastis bagi yang konservatif, tetapi simak baik-baik, dan jangan lupa, Steve menutup pidatonya dengan mengajak kita untuk berusaha keras bagaikan orang yang kelaparan terus, tetapi tetap berendah hati bagaikan orang bego. Paling tidak itu tangkapan saya. Selamat menikmati!

pidato steve luar biasa menggugah kita semua utk tetap bersikap arif dan rendah hati. kalau dalam kultur kita mungkin sama dengan ibarat “ilmu padi, makin berisi makin merunduk”, begitu kira ya pak aris. *halah, maaf kalo sok tahu, pak aris”