Tornado, Musim Barat di Kupang dan Sincia.
Feb 15th, 2008 by drt
Malam itu waktu selesai menata kopor, sudah jam 2 subuh. Pesawat saya berangkat jam 10 pagi. Tapi karena saya harus titipkan anjing kami Krypto ke dokter hewan langganan kami, (maklum istri saya lagi mudik menilik mertua yang lagi sakit, ) jadi saya sempat pikir kalau bisa bangun jam 7 pagi masih lumayanlah.
Eh, baru saja tidur, rasanya masih belum pulas sudah terbangun gara-gara suara sirene yang meraung-raung. Lihat jam, baru jam 4 subuh. Busyet, lihat di TV ada Tornado warning. Tapi setelah beberapa menit saya lihat lintasan Tornado-nya sekitar 15 - 20 miles dari rumah makanya saya pun terus tidur kembali. Soalnya, hanya dalam kasus yang jarang sekali tornado bisa menyerang secara mendadak di suatu daerah yang tak ada sistem prediksi meteonya. Teknologi pemantauan di sini sudah begitu canggih dan biasanya lintasan tornado bisa diprediksi dengan tepat. Yang susah adalah menerka dimanakah kolom putaran jahanam yang kita kenal sebagai puting beliung di kampung itu bakal turun dan memporakporandakan semua yang dilewatinya, walaupun lintasan dan kapan waktunya melewati setiap lokasi sudah diketahui. Biasanya kalau memang berada dalam lintasan awan kelabu tebal ( yang sewaktu-waktu bisa menjelma dari sekedar hujan badai menjadi tornado, ) dan kalau sempat mengungsi ke tempat-tempat perlindungan yang tersedia, jumlah korban bisa ditekan. Maklum tornado sudah tidak begitu menakutkan penduduk di sini, karena kota kami sudah berpuluh-puluh kali dihantam tornado dengan korban manusia dan materi yang paling menyolok di tahun 1974 dan tahun 1989. Di daerah lain yang tak ada sistem peringatan dini, jumlah korban jiwa bisa mencapai puluhan selain kerugian materi.

Kerusakan di Airport Road, Huntsville, Alabama
Foto di atas ini adalah foto di Airport Road yang ada di jalur tornado tanggal 15 November 1989 yang juga bisa dilihat di Wikipedia. Tornado alley mendapatkan nama itu karena sudah terlalu sering dihantam tornado, termasuk tornado 1974 dan 1989 yang saya sebutkan di atas itu, yang jumlah korban manusia maupun materinya luar biasa.
Buat saya, kalau bukan wedge tornado seperti yang terlihat di gambar ini, maka pengalaman selama belasan tahun di sini membuat saya merasa tentram untuk pergi tidur lagi. Apalagi di TV tidak ada peringatan tentang kemungkinan turunnya tornado dahsyat pagi-pagi buta itu di daerah kami, yang letaknya hanya sekitar 3 miles dari Airport Road.
Pagi-pagi bangun, saya cepat-cepat pergi titipkan Krypto lalu buru-buru berangkat ke airport. Eh, ternyata pesawatnya dari Atlanta belum mendarat, dan keberangkatan saya jadi tertunda 90 menit. Alasan perusahan penerbang, front badai subuh tadi itu baru saja melewati daerah Atlanta, Georgia, negara bagian yang bertetangga dengan Alabama itu. Wah, jengkel juga. Tahu begitu kan masih bisa tiduran dulu. Gara-gara penundaan itu, saya jadi ketinggalan pesawat lanjutan menurut jadwal saya pagi itu. Untung begitu sampai di Atlanta, mereka bisa tempatkan saya di pesawat berikut, dan akhirnya bisa sampai juga dengan selamat di Miami, Florida.
Sambil menunggu di airport saya melihat di TV kalau jumlah korban dari berbagai daerah yang dilalui tornado cukup banyak hari itu. Tentu saja di hati tak enak sekali memikirkan para korban dan keluarga mereka.
Malam hari di kamar hotel, saya baru ingat lagi kalau malam itu malam menjelang Sincia, alias tahun baru Imlek. Di Kupang kalau tahun baru Imlek, pasti ada gelombang besar gara-gara angin barat, dan nelayan maupun orang-orang dari Pulau Semau atau kampung-kampung di ujung Timor seperti Sulamu, Pariti, Amfoang, sampai ke Tablolong di ujung lain, maupun orang-orang dari Pulau Rote dan Sabu tidak bisa berlayar. Di kampung Solor orang suka menyebut musim gelombang besar itu dengan nama (musim) Barat taon baru Cina. Saya juga ingat, kalau waktu kecil sering melihat puting beliung dengan putaran yang mengerikan, tapi pada umumnya kolom air itu berbentuk kerucut kelabu pekat yang sedikit meliuk dengan ujung kolom yang mengecil terlihat jauh di tengah laut. Teman-teman sekampung selalu menyebutnya dengan sebutan angin batbaliung. Saya tak tahu bagaimana puting beliung berubah menjadi batbaliung? Apakah gara-gara banyak batu yang terputar ke atas dalam kolom puting beliung itu lalu jatuh kembali?
Kalau saya pikir lagi, rasanya seperti ada hubungan antara gelombang musim barat di Kupang dan siklus pasang surut mengikuti peredaran bulan, karena tahun baru Imlek jatuh pada bulan baru. Tapi saya tidak pernah menyelidiki kaitan itu, dan mungkin ada yang bisa menjelaskan.
Ada juga teman dan sanak saudara yang suka bertanya, apakah tidak merasa ngeri dengan kedahsyatan tornado itu? Iya, kalau pas lewat daerah kami ya ngeri juga. Tahun lalu, rumah kami sempat merasakan curahan butir es atau hail sebesar setengah biji nangka. Suaranya seperti ada truk yang mencurahkan satu bak penuh kerikil ke atap rumah kami. Berdua bersama istri, kami yang berlindung di dalam kamar mandi dan sempat ketir juga, tapi TV tidak menyebutkan bahwa bakal ada tornado dan kami merasa bahwa bangunan kami bisa bertahan. Wah, perusahaan perbaikan atap rumah dapat bisinis bagus karena ada yang bilang sekitar 30,000 rumah di kota kami mendapatkan atap baru. Atap kami hampir seluruhnya ditanggung perusahaan asuransi.
Berapa kali memang sempat bingung mau berlindung ke mana sewaktu jauh dari rumah, apalagi kalau lagi menyetir. Untungnya datang dan perginya cepat sekali dan biasanya sebelum keluar rumah kemungkinan besar sudah tahu jalurnya. Suatu hal yang saya suka pikir, kalau tornado kan bisa diprediksi, sedangkan ledakan gunung berapi atau gempa bumi sulit diprediksi. Makanya setelah belasan tahun, saya tidak begitu peduli, karena bukankah akhirnya semua itu sudah ada dalam buku besar di atas sana? Yang kasihan, suatu waktu pernah terjadi putra bungsu kami lagi di rumah sendiri sewaktu ada peringatan tornado. Itu sudah lebih dari 10 tahun lalu. Dia masih di kelas 4 atau 5. Di sekolah mereka sudah dilatih apa yang harus dikerjakan kalau ada tornado. Begitu dia telpon ke kantor, dan saya ngebut sampai di rumah, bunyi sirene sudah lama lewat, tetapi saya temukan dia masih sembunyi di dalam kamar mandi.
Setelah sekian tahun hidup di jalur tornado, saya selalu ikut prihatin setiap ada badai tornado, seperti kali ini di mana korban jiwa mencapai jumlah di atas 50 orang itu. Sekitar 10 tahun lalu pernah waktu pulang gereja saya sempat dengar di radio mobil kalau ada tornado di daerah sekitar. Sempat terpikir, wah, enaknya tadi tunggu dulu di gereja sampai badainya lewat tapi sudah di jalanan ya saya ngebut terus sampai rumah. Eh, waktu nyalakan TV, saya lihat ada saya gereja yang terkena tornado dan menelan korban beberapa jemaatnya. Makanya setiap ada atau sehabis tornado, saya hanya bisa tepekur sambil memohon, Lord, have mercy sambil bersyukur atas karunia yang sudah kami terima.
Sebagai penutup, catatan ini sebenarnya saya tulis di malam menjelang Sincia di hotel saya tapi tidak pernah selesai, dan baru malam ini saya sempat menyentuhnya. Makanya walaupun sudah terlambat, tetapi karena masih belum melewati Cap Go Meh, saya ikut mengucapkan Xin Nian Kuai Le atau Selamat Tahun Baru Imlek buat saudara-saudara yang merayakan walaupun sedikit terlambat. Oh, tentu saja malam itu saya sempat telpon sanak family saya, dan esok harinyanya saya sempat menonton pertunjukkan barongsai dalam pertemuan yang saya hadiri.
Gongxi Facai! ![]()
