Selamat Jalan Ibu Yustina Fahik-Parera
Jun 5th, 2008 by drt
Tanggal 31 Mei pagi, saya mendapat sebuah email dari seorang peserta milis pak Laru Bolelebo, ibu Ros Kaunang-Lammers dari negeri Belanda yang mengabarkan kalau istrinya almarhum pak Agus Parera, barusan meninggal dunia saat lagi berdoa Rosario bersama para tetangga.
Ketika teman saya, bung Agus Parera meninggal tahun lalu, saya memang sempat telpon ke ibu Agus, menanyakan keadaan beliau sekalian menyatakan rasa duka cita saya.
Kenangan saya tentang bung Agus sudah agak memudar. Pertama, kami memang seasrama, tapi itu di awal tahun 70an. Bung Agus yang sudah senior saat itu berpindah dari Asrama Realino ke Asrama Mahasiswa Asal Timor di daerah Demangan Baru, Yogya, di akhir masa studinya. Jadi kami juga tidak terlalu lama sebagai teman asrama. Yang masih jelas saya ingat adalah tawanya bung Agus yang begitu bebas, begitu menyenangkan. Bung Agus seorang senior yang jenaka, membuat kami yang muda-muda selalu terhibur kalau berada di sekitar bung Agus. Ada saja canda bung Agus yang bikin kami semua ikut tertawa. Kedua, sejak bung Agus pulang ke Timor kami tidak pernah kontak lagi.
Adik bung Agus, ibu Helena atau yang lebih dikenal dengan panggilan akrab ibu Heri, memang pernah satu sekolah dengan saya sewaktu di SMA, dahulu. Tetapi kami baru sempat kontak lagi satu dua bulan terakhir ini, gara-gara berpulangnya teman kelas kami, ibu Poppy Pelapelapon. Makanya begitu terima email itu, saya berusaha telpon ke keluarga ibu Heri Parera di Kupang, tapi tidak tersambung. Saya telpon ke keluarga Lolang dan keluarga Parera di Australia, dan email berisi berita duka pun mulai berseliweran di milis Bolelebo. Nah, dari email itu akhirnya baru ketahuan kalau istri bung Agus bernama ibu Yustina Fahik-Parera. Begitu mendengar nama itu, dalam hati saya menyesal sekali. Kenapa waktu telpon dan bicara langsung dengan ibu Yustina dahulu, saya tidak pernah tanyakan tentang keluarga bung Agus, atau siapa dan dari mana asalnya ibu Agus?
Soalnya begitu membaca nama ibu Yustina, saya seperti dibangunkan dari tidur. Lha, ibu Yustina ini kan teman bung Agus dari Yogya dulu? Saya tiba-tiba ingat kembali, waktu itu memang bung Agus dan ibu Yustina adalah teman dekat alias pacaran. Cuma memang saya tidak ingat sama sekali urusan pacaran bung Agus dan ibu Yustina, sewaktu telpon dan bicara dengan ibu Yus waktu bung Agus baru meninggal?
Akhirnya saya bisa kontak dan bicara dengan ibu Helena, dan ibu Helena membenarkan kalau ibu Yustina dulu kuliah di Akademi Perawat di RS Pasti Rapih Yogya. Barangkali saat saya telpon dahulu, ibu Yustina juga barusan kehilangan bung Agus, jadi mungkin tak sempat terpikir untuk tanya itu telpon dari siapa. Yang beliau tahu saat itu adalah, telpon dari seorang teman bung Agus dari Amerika.
Menurut ceritera yang berhasil saya kumpulkan, ibu Yustina meninggal karena serangan jantung. Ibu Yustina baru melagukan sebuah lagu kesayangan beliau, Ina Maria, selagi berdoa Rosario, dan tahu-tahu mendapat serangan jantung dan tak sadarkan diri sampai meninggal.
Seperti biasa, saya sangat sedih mendengar ceritera tentang teman yang meninggal karena serangan jantung. Ini adalah korban serangan jantung keempat yang saya kenal. Bung Agus dan ibu Yus meninggalkan tiga orang anak, Lia yang sudah berkeluarga, Gemza dan Meggy, juga sudah dewasa dan tentu saja saudaranya termasuk ibu Heri Parera.
Foto di atas dari album foto keluarga bung Agus dan ibu Yustina berasal dari ibu Heri. Bung Agus di foto kelihatan agak gemuk dibandingkan zaman di Yogya dulu. Sedangkan wajah ibu Yustina tidak terlalu berubah.
Malam ini, saya khusus sisihkan waktu untuk mengenang kedua sahabat saya yang sudah mendahului kita semua seraya berbisik menyelesaikan doa yang mungkin ibu Yustina tidak sempat selesaikan:
Kemuliaan,…
….
Bapak kami,…
….
Santa Maria Bunda Allah,
Doakanlah kami yang berdosa ini,
Sekarang dan waktu kami mati,
Amin.
Selamat jalan ibu Yustina!
Selamat beristirahat di kedamaian abadi dalam rumah Bapak bersama bung Agus. Semoga Tuhan memberi kekuatan buat keluarga yang ditinggalkan.

Sembayang Kontas mempertemukan kembali Ibu Yustina dan Bu Agus Parera di tempat yang kekal abadi.. dengan nama bapa dan putra dan roh kudus. Amen.
Beta ikut berdukacita, untuk keluarga besar Parera yang ditinggalkan, semoga Kasih Tuhan Jesus memberikan penghiburan. Ibu Yus sudah tenang di surga. Amien.
Kami sek di syd menyampaikan turut berduka yg se dalam2nya atas meninggalnya ibu Yustina Parera,kiranya keluarga yang ditinggalkan di berikan kekuatan oleh Nya…amien.