Anak-anak dan istri saya pecinta Star Trek tetapi mereka paling jengkel kalau saya sudah mulai mengomentari. Makanya zaman anak-anak masih di rumah, mereka tak mau kalau saya ikutan saat mereka menonton Star Trek. Apalagi kalau saya mulai komentari bahwa Teleportation itu tak masuk akal.
“Aneh, mestinya orang yang tak punya imajinasi sepertimu pah, nggak pantas kerja di tempat kerjamu itu,” komentar mereka kalau sudah gemas. Tentu saja saya cuma bisa tersenyum melihat kejengkelan di wajah mereka, tetapi sekarang semua itu tinggal kenangan, karena anak-anak sudah pada tidak di rumah lagi.
Ketika putri saya pulang sebentar saat liburan musim panas yang lalu, saya sempat tanya dia, “pernahkah kamu pikirkan untuk melamar menjadi astronaut?”
“Pah!”, katanya separuh mengeluh. “Saya sudah melihat persyaratannya. Mataku, mataku,….” lanjutnya, “mereka tidak menerima yang pakai contact lens.”
WidgetBucks – Trend Watch – WidgetBucks.com
“Oh, saya tak pernah tahu adanya syarat itu,” lalu arah pembicaraan saya ganti, karena kalau saya ajak omong terus, nanti akan keluar lagi omelan dia. “Dasar orang tua Asia! Suka menekan!” Sudah lama kami tak pernah masuk ke pembicaraan urusan begitu lagi. Apalagi liburan musim panas di rumah cuma sebentar, karena 6 minggu dia habiskan ikut pelajaran bahasa di Italy, dan 6 minggu berikutnya dia habiskan di Hawaii untuk kerja musim panas menjadi Resident Assistant di proyek untuk anak-anak berbakat. Dia butuh uangnya untuk membiayai travel dia. Karena kebetulan dia memang senang dengan biologi dan life science, jadi iseng saya tanyakan. Siapa tahu dia tertarik jadi Payload Specialist atau kerjaan lain yang berkaitan dengan kesehatan di luar angkasa? Yang jadi bapak ya terang senang sekali. Tapi sudahlah, 37 tahun lalu mana saya pernah mimpi akan tinggal di sini?
Pembicaraan ini saya angkat ke sini, karena saat berjablo kemarin ketemu blognya bung Erik Tapan* berisi foto Astronaut Malaysia.
Reaksi pertama saya, Astronaut Malaysia? Kapan dia ikuti pendidikan dan latihan untuk menjadi Astronaut? Maklum, saya hanya pakai patokan, kalau Astronaut itu berarti diklatnya di Amerika, sedangkan Cosmonaut di Russia. Di luar sana orang mau bilang apa keq, saya tak peduli. Makanya, begitu dengar sebutan Astronaut Malaysia, reaksi saya, koq tak pernah dengar ya? Karena kalau namanya Astronaut, artinya diklatnya di Amerika, kemungkinan besar saya akan bisa mendapatkan informasi itu, dan paling tidak saya mungkin bisa mencarinya, dan ajak cakap Melayulah.
Makanya setelah baca tentang Astronout Malaysia, saya terus tanya ke Gus Goog untuk dapatkan info lebih lanjut. Eh, setelah membaca beberapa situs, reaksi saya cuma, weleh, koq jadi begini?
Siang tadi, waktu ketemu seorang teman saya sempat tanya. “Eh, sewaktu Peggy berangkat dulu, apa kamu bertugas?”
Setelah berpikir sebentar, dia terus menjawab, “Iya.”
“Kamu tahu nggak tentang Astronaut Malaysia?”
“Maksudmu yang namanya sukar diucapkan itu?”
“Betul, betul!” Kata saya sambil tersenyum. Maklum, buat lidah teman Amerika saya, nama itu pasti sulit sekali.
“Oh, saya sibuk dan saya tak pernah perhatikan apa yang dia kerjakan.”
Saya bisa mengerti karena setiap petugas di ruang pengatur operasi memang sibuk sekali, apalagi kalau ada penerbangan ke atas begitu.
Dari pada mencari informasi dari dia yang ada kaitan dengan tugas sehari-harinya dan bisa bikin berabe dia di kemudian hari kalau ada yang mempertanyakan, saya coba mencari informasi di NASA yang ada dalam public domain. Saya juga ingat , waktu tanya ke Gus Goog, sempat baca juga komentar berikut di Asianews.net:
There were earlier reports that NASA had referred to Sheikh Muszaphar as a “space flight participant”, a term reserved for space tourists.
However, Russian Ambassador to Malaysia Alexander Karchava refuted that suggestion and said he was a full-fledged cosmonaut.
Kelihatannya memang ada perbedaan pandangan di sini ya. Betul, dia seorang Cosmonout. Tapi kalau anda melihat di situs resmi NASA ini, anda bisa lihat sendiri bahwa bahkan sampai saat saya mengecek ke sana malam ini pun, di baris paling bawah, mereka masih pakai istilah yang sama. Begitu juga foto-foto NASA di halaman berikut, akan terlihat bahwa mereka tetap memakai istilah space-flight participant. Mereka tidak bilang kalau dia bukan Cosmonout, tetapi mereka tetap bilang, dia hanya peserta penerbangan angkasa luar.
Oleh sebab itu, saat membaca berbagai komentar yang berseliweran, terutama antara anak muda Malaysia dan Indonesia, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Gejala ini mengingatkan saya akan keberingasan pencandu sepak bola kalau teamnya menang atau kalah.
Dari urusan kecil ini, saya juga ingat ceritera yang selalu diulang-ulang almarhum Pak Poernomosidhi Hadjisasosa tentang mengapa beliau membangun Program Pasca Sarjana Bidang Optoelektroteknika dan Applikasi Laser di Universitas Indonesia di tahun 1977, 30 tahun yang lalu.
Pada waktu itu, baik pak Poer atau pak Marjono, — yakni panggilan akrab buat dua guru kami almarhum, Dr. Ing Poernomosidhi Hadjisarosa dan Dr. Eng Achmad Soemarjono, — sering menekankan, bahwa baik di Jerman maupun Jepang, orang dengan mudah masuk program Pasca Sarjana karena kesempatannya ada. Artinya sekolahnya ada, fasilitas penelitiannya ada, industri maupun lembaga penelitian swasta dan pemerintah ikut mendukung, cari dana untuk sponsor penelitian mahasiswa pasca sarjana juga mudah, sehingga siapa pun yang punya kemampuan di atas rata-rata, kalau mau pasti bisa ikuti program itu dan bisa jadi doktor. Di awal atau pertengahan tahun 80an, kalau tak salah ingat, saya rasa bung Ninok Leksono pernah menulis juga tentang komentar pak Poer di KOMPAS waktu itu.
Seleksi masuk menjadi Astronaut termasuk ketat, tetapi bukan berarti yang bisa masuk itu hanya jenius saja. Saya sudah tak ingat persis berapa jumlah astronaut sekarang, yang saya ingat sekitar 100an dan malas tanya Gus Goog terus. Saking banyaknya, mereka bukan lagi sesuatu kelompok elite seperti zaman Apollo dan sebelumnya. Ada berapa orang yang saya cuma ingat nama kecil mereka. Sekali waktu pernah papasan dengan Daniel Tani di WC di Houston, saya sempat menyapanya dengan Konichiwa dalam bahasa Jepang. Eh, koq jawabannya Konichiwa tetapi wajahnya tidak ramah begitu. Setelah lihat dia terbang ke atas, saya cari dan baca riwayatnya. Eh, ternyata dia Astronaut Amerika. Waktu papasan bulan September lalu di Houston itu, saya pikir dia salah satu Astronaut Jepang. Pantasan dia cemberut dan saya geli sendiri. Kalau saja ada kesempatan ketemu lagi, saya akan ingatkan dia akan pertemuan singkat di Houston itu, lalu minta maaf pakai bahasa Inggris (maksudnya tidak mengulang pakai bahasa Jepang lagi.)
Nah, di satu fihak para Astronaut memang special karena untuk menjadi seorang Astronaut, mereka harus melalui saringan yang ketat, tapi seperti yang sudah sering anda baca di koran atau lihat di TV, mereka juga manusia biasa dan kadang membuat kesalahan manusiawi juga. Makanya saya agak geli juga melihat berbagai komentar di Internet soal Angkasawan Malaysia ini. Andaikan tidak ada tragedi Challenger, toh ibu Pratiwi atau pak Taufik yang jadi cadangan bakal sudah duluan terbang belasan tahun lalu. Kenapa ya perlu menjelekjelekkan Indonesia gara-gara bisa bayar tiket untuk jadi turis ke luar angkasa?
Dalam hal itu, asal punya uang, kesempatan untuk beli tiket ada, apalagi kalau didukung negara. Semua pilot AU yang lancar berbahasa Inggris dan punya kemampuan di atas rata-rata pasti punya kemampuan untuk masuk diklat menjadi Astronaut/Cosmonaut seperti Angkasawan Malaysia itu. Dari dunia akademis, persyaratan fisik dan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris mungkin merupakan tantangan, tetapi masya dari sekian banyak anak muda kita nggak ada yang bisa toh? Saya tak percaya! Persoalannya, kalau pakai dana pemerintah seperti Malaysia yang harus beli pesawat tempur Rusia dulu seharga US$900 juta, ditambah US$25 juta lagi buat tiket dan diklat untuk turis ruang angkasa lainnya, ya mestinya mampu juga. Sayangnya, mau diakui atau tidak, kalau di Malaysia mereka cari kesempatan untuk mendapat nama dengan membayar biaya untuk melatih dan menerbangkan Angkasawan mereka, eh, di kite, jangan-jangan dikasih uang beli pesawat, bukannya mencari tahu bisa tidak menerbangkan Astronaut/Cosmonaut Indonesia, malah yang dicari, ada nggak ya yang serebu tiga ya?
Jangan-jangan sambil bisik-bisik lagi bilang, OK, biar bekas juga nggak apa-apa, toh tak ada yang tahu!
(*catatan: Nama Erik Tapan ini koq terasa familiar. Apa dari parokinet ya?)
Disclaimer: The opinion here is mine and mine alone.
Popularity: 1% [?]


