Ayah, Guru dan Sahabat saya

by drhi on August 23, 2008

Untuk kurun waktu yang lama, nama pak Ismandar sangat terkenal di kota Kupang. Seingat saya, walaupun tak pernah menjadi murid SMA Negeri, tapi rasanya ijazah SMA saya juga ditandatangani beliau. Tapi karena itu kejadian hampir empat dekade yang silam saya perlu cek lagi kebenaran data ini. Nah, siapakah tokoh yang begitu terkenal di Kupang maupun NTT, sejak ketika Kupang masih kota pelabuhan kecil bisa kita ikuti bersama penulis tamu kita, statistikawati Dr. Haerani Ismandar, yang tak lain adalah putri almarhum pak Ismandar. Terima kasih atas kontribusi Dr. Haerani dalam rubrik Tokoh Sejarah kota Kupang ini. (drt)

Hari ini 19 Agustus 2008 tepat 19 tahun berpulangnya ayah.

Bagi sekian ribu anak didiknya yang kini tersebar di seluruh pelosok dunia, beliau dikenal dengan nama pak Ismandar atau bagi kawan2nya, beliau dikenal dengan panggilan pak Is. Bagi saya, beliau adalah ayah, guru dan sahabat saya.

Ayah adalah sosok yang sangat sederhana, pandai, jujur, tegas dan sangat perhatian kepada orang lain. Lahir di Tulung Agung, Jawa Timur di tahun 1928, dan menghabiskan masa kecilnya disana hingga selesai SMA. Setamat SMA beliau melanjutkan pendidikannya di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Pada saat beliau meninggal, pemakamannya dilakukan dengan upacara militer. Tentu banyak yang bertanya mengapa ayah yang dikenal sebagai pendidik dan juga seorang penduduk sipil dimakamkan secara militer. Tidak banyak yang kami ketahui kecuali apa yang pernah diceriterakan kepada kami, dan juga dari dokumen2 yang kami temukan sepeninggal ayah. Selama menempuh pendidikan di sma, beliau ikut berjuang melawan penjajahan Jepang. Usia ayah saat itu masih sangat muda (sekitar 15 tahun) katanya, tetapi beliau sudah bergabung dengan tentara pelajar di daerah Jawa Timur (TRIP) dan ikut berjuang mengusir penjajahan Jepang dengan bambu runcing. Di tengah perkuliahan nya pula pecah agresi Belanda, dan beliau juga ikut bergabung bergerilya mengusir Belanda dari daerah Yogyakarta. Jadi alasan ayah dimakamkan secara militer adalah karena ayah adalah veteran perang yang juga pernah di anugerahi penghargaan Bintang Gerilya oleh pemerintah.

Di Yogyakartalah ayah bertemu dengan ibu. Ayah dan ibu menikah di tahun 1952. Dari pernikahan ini lahirlah 7 anak2nya (5 perempuan dan 2 laki2), dan saya adalah puteri beliau yang ke empat. Dalam kesehariannya selain mengajar ayah juga aktif sebagai sekertaris Dewan Harian Daerah angkatan 45 propinsi NTT di Kupang. Sebelum ayah meninggalkan kami semua, beliau pernah berpesan bahwa ingin dimakamkan disamping makam ibu. Sehingga pada waktu pemerintah daerah NTT meminta agar ayah dimakamkan di taman makam pahlawan di Kupang, dengan sangat terpaksa tidak bisa kami kabulkan. Sekarang, bila ada yang berkunjung ke makam ayah, pasti melihat ada bambu runcing berwarna kuning yang tertanam di depan makam ayah. Itu adalah tanda penghargaan dari presiden atas nama pemerintah Indonesia kepada ayah atas jasanya ikut berjuang mengusir penjajahan dari bumi Indonesia.

Perhatiannya terhadap dunia pendidikan tidak bisa dipungkiri juga sangat besar. Kariernya sebagai pendidik dimulai dengan mengajar di SMA negeri 1 Singaraja Bali, hingga tahun 1960, sebelum pindah ke Kupang. Beliau mengajar di SMA negeri 173 Kupang (sekarang menjadi SMA negeri 1 Kupang) selama beberapa tahun sebelum akhirnya diangkat sebagai kepala sekolah di tempat yang sama. Dalam kesehariannya memimpin tanpa disadari terlihat sekali kalau ayah adalah bekas tentara, sehingga menaruh perhatian yang sangat besar terhadap kedisiplinan. Selama hampir dua puluh tahun menjadi kepala sekolah, seingat saya ayah tidak pernah terlambat ke kantor. Pukul 7 pagi beliau sudah disekolah, bahkan kadang2 beliaulah yang membuka pintu kantor. Kecintaannya terhadap olah raga terlihat dari keinginannya yang kuat untuk membangun fasilitas olah raga di sekolah. Pada saat itu SMA negeri 173 Kupang tidak banyak mempunyai dana untuk membangun fasilitas olah raga. Ayah sangat menyadari itu sehingga membuat peraturan yang menurut saya sangat aneh. Setiap murid yang bolos sekolah diwajibkan mengumpulkan batu dalam jumlah tertentu. Pada saat itu batu mudah sekali diperoleh dihalaman sekolah. Dengan berjalannya waktu, batu2 tersebut menjadi semakin banyak dan batu2 tersebutlah yang digunakan untuk membangun lapangan basket, lapangan volley dan lapangan bulutangkis. Fasilitas olah raga ini tidak hanya dinikmati oleh murid SMA negeri 173, tetapi juga oleh masyarakat sekitarnya.

Sebagai guru, disekolah beliau tidak pernah membeda-bedakan muridnya. Saya sebagai anaknya tidak pernah mendapat perlakuan istimewa. Bahkan masih segar dalam ingatan saya, suatu hari saya terlambat kesekolah. Saya dihukum lari keliling sekolah beberapa kali. Tentu saja saat itu saya marah, semalaman saya berdiam diri di kamar, tidak mau berbicara dengan siapapun. Tetapi setelah itu sungguh ajaib saya tidak pernah terlambat sekolah lagi. Bukan hanya itu saja dalam memberi nilai ayah selalu fair. Teringat pada saat itu ayah mengajar aljabar, pelajaran pertama di kelas saya. Pagi2 beliau memberikan kuis tanpa pemberitahuan sebelumnya. Hasilnya saya mendapat angka 4 dari skala 10, karena malam sebelumnya saya ke bioskop bersama kakak untuk menonton bintang film favorite saya John Wayne dalam filmnya The Green Berets. Ayah tahu kalau saya tidak belajar malam itu. Dan akibatnya saya harus belajar sangat keras setelah itu untuk menunjukkan kalau saya mampu mendapat nilai baik di kelas ayah.

Kecintaan ayah terhadap NTT nyata sekali terlihat. Pada saat2 senggang beliau dengan gitar kecilnya selalu mencoba menyanyikan lagu2 daerah NTT. Bahkan seingat saya ayah terlebih dahulu hafal lagu2 tersebut dibandingkan kami anak2nya. Sudah menjadi aturan tidak tertulis kalau sebulan sekali kami piknik ke pantai Oesapa. Pantai Oesapa pada waktu itu masih bersih, rindang dan tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami (sekitar satu jam kalau ditempuh dengan jalan kaki). Di rumah kami tidak punya kendaraan kecuali 2 buah sepeda. Jadi setiap piknik kami harus jalan kaki. Adik2 yang lebih kecil dari saya di bonceng sepeda oleh kakak. Saya karena dianggap sudah besar (8 tahun), selalu kebagian berjalan. Tetapi ayah tahu kalau saya tidak kuat jalan, sehingga selalu memdampingi saya berjalan dengan petikan gitarnya. Setiap 15 menit ayah selalu bertanya capek?, kalau saya jawab iya kami langsung mencari batu di tepi jalan dan duduk beristirahat. Jadi setiap piknik ke Oesapa saya dan ayah selalu sampai paling belakang. Sampai saat ini masih teringat lagu2 daerah NTT yang dinyanyikan ayah sepanjang jalan dari kampung baru ke Oesapa.

Saya pernah bertanya kepada ayah, kenapa berubah profesi dari seorang tentara menjadi seorang guru. Saya bertanya begitu karena pada masa itu banyak kawan2 seperjuangan ayah yang sudah menduduki jabatan penting di pemerintahan di Jakarta. Saya ingat ayah hanya tersenyum dan berkata menjadi guru adalah pekerjaan yang paling menyenangkan untuknya di dunia ini karena setiap hari kita tertantang untuk menjadi lebih baik, dan juga kita terpacu untuk menjadi teladan bagi orang lain. Selain itu juga ada kebahagiaan tersendiri kalau melihat kesuksesan anak2 didiknya. Beliau meraih penghargaan sebagai guru teladan tingkat nasional di tahun 1975. Gelar penghargaan lainnya pun banyak diperolehnya, tetapi semuanya tidak membuat beliau besar kepala.

Tidak banyak yang tahu kalau ditengah kesibukannya beliau pandai sekali memasak, bahkan kadang2 sulit bagi kami anak2nya untuk membedakan masakan ayah atau ibu. Masalah masak memasak ini ayah sangat humoris sekali. Teringat pada usia 10 tahun saya belajar masak. Rencana mau masak lodeh, ya menurut saya itu sayur lodeh. Pada waktu dimeja makan komentar ayah adalah, kamu masak apa katanya lodeh tetapi kelihatannya seperti sayur bening dan rasanya seperti sayur sop, apapun rasanya tetap beliau makan. Selain memasak di waktu senggangnya beliau sangat suka membaca dan berolah raga. Pada waktu saya kecil ayah suka sekali bermain sepak bola, tetapi dengan bertambahnya usia olahraga beliau berpindah ke bulutangkis dan tennis lapangan.

Terakhir kali saya melihat ayah adalah seminggu sebelum beliau berpulang dibulan Agustus 1989. Kami semua anak2nya merasa bahwa sejak ibu berpulang di tahun 1984, ayah kelihatan sangat kehilangan gairah hidup. Yang beliau lakukan hanya ke kantor, bermain tennis dan bersepeda dengan cucu2nya. Beliau tidak suka lagi kemana-mana. Seminggu sekali ayah menghabiskan waktu dimakam ibu. Mendengar berita mengenai ayah, saya bermaksud memberikan kejutan dengan berkunjung ke Kupang. Saya tidak memberi tahu siapapun. Sesampainya di bandara El Tari saya menumpang taksi ke rumah. Rumah kami terlihat sepi, saya mengetuk pintu perlahan-lahan dan ayah yang membukakan pintu. Terlihat ekspresi beliau antara senang dan kaget semua bercampur menjadi satu. Beliau memeluk saya, terlihat sekali wajah beliau menjadi lebih tua setelah ditinggal ibu. Malamnya saya dibawa keliling kota Kupang, saya tidak tahu kalau itu adalah saat2 terakhir saya bersama beliau. Sembilan belas tahun sudah ayah meninggalkan kami, dan sekarang jejak2 ayah di Kupangpun mulai memudar. Tapi yang tak pernah pudar sampai kapan pun, beliau adalah ayah, guru dan sahabat saya.

Popularity: 2% [?]

{ 23 comments… read them below or add one }

aRin August 24, 2008 at 11:03 am

TFS !! … jadi lebih tau n kenal Pak Ismandar, nama/tokoh yg sering saya dengar waktu masih di Kpg. Walaupun waktu saya SMA bukan Pak Is lagi yg kepsek tapi namanya tetap berkumandang.

Handoko Ismandar August 25, 2008 at 12:22 am

Ma kasih banget mbak karena udh memulai sesuatu yang terlupakan oleh saya akan sejarah orang tua kita……

Nanik August 25, 2008 at 1:22 am

Mbak Titien,
Saya masih ingat waktu sering diajak piknik ke pantai Nunsui di Oesapa :)

ibach77 August 26, 2008 at 2:14 am

mengharukan dan membanggakan …

haerani ismandar August 26, 2008 at 6:21 am

Dik nanik terima kasih, kita memang punya banyak kenangan bersama waktu masih kecil. Yang paling saya ingat waktu dik nanik baru datang dari malang, dan mulai belajar naik sepeda. Tiap jatuh terus dik nanik ngomel pakai bhs jawa…. kelihatannya cute sekali. Terima kasih sekali lagi udah membaca tulisan ini.

yanti ismandar kupang August 26, 2008 at 11:18 am

Mbak Tien lupa ya tgl lahir romo/bapak : 22 Mei 1928, beta jadi ingat kita dulu sering piknik ke pantai Oesapa namanya pantai Paradiso, skrg sdh jadi pasar ikan/kampung nelayan. Dua minggu sebelum romo meninggal mantan murid2nya yg kebetulan waktu itu menduduki jabatan Danrem, Kasrem. Dandim, Ketua DPRD tkI, Bupati n Walikota beserta istri. mereka semua datang ke rumah untuk bersilaturahmi dan berfoto bersama. Pada tgl 17 agustus 1989 /2 hari sebelum romo meninggal pada acara resepsi kenegaraan di rumah jabatan Gubernur NTT romo diberi kehormatan dengan menerima potongan nasi tumpeng oleh Gubernur NTT. Ini sedikit tambahan dari beta.

Rien HS August 26, 2008 at 5:01 pm

Mbak Haerani,
Saya jadi tercenung membaca tulisannya kali ini. Pantas saja begitu bangganya mbak memiliki ayah seperti beliau, karena memang apa yang dimiliki beliau adalah harapan semua anak kepada ayahnya. Ayah yang tidak hanya menjadi tauladan keluarganya tetapi juga bagi masyarakat dimana saja dia berada. Seharusnya begitulah kita. Beliau benar2 menerapkan “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” dijunjungnya kupang setinggi mungkin dengan pengabdian, sehingga apa yang dilakukan masih juga terkenang hingga kini. Mudah2an semua kita yang masih hidup bisa memetik suri tauladan yang beliau tunjukkan semasa hidup. Semoga beliau mendapat tempat yang terbaik di sisiNya.

“Selamat juga buat mbak dan seluruh saudara atas karunia Allah SEORANG AYAH yang dalam ukuran saya adalah LUAR BIASA dan seorang muslim serta imam keluarga yang sejati”.

Rihi Here Wila August 28, 2008 at 6:48 am

Tidak terasa, air mata saya menetes ketika membaca tulisan dek Titien. Bapak yang saya kenal: sangat disiplin, benar sekali. Ketika akan upacara Senin pagi, selalu bapak yang terlihat dahulu di sekolah; bapak yang mau agar kami belajar setiap saat (bukan kebut semalam) dengan cara tiba-tiba memberi soal aljabar untuk dikerjakan; bapak yang pernah memberikan saya hadiah “bogem” di kantor sekolah karena saya memukul seorang teman saya di kelas; bapak yang mengenal nama muridnya satu persatu melebihi wali kelas. Bapaklah yang kami lebih bersemangat untuk belajar: aljabar, ilmu ukur ruang, ilmu ukur sudut, kimia dan sejarah Indonesia serta budipekerti dan kewarganegaraan. Itulah sebabnya sampai saat ini, saya masih tetap bisa melafalkan dengan tanpa salah, Pembukaan Undang-undang Dasar Negara RI tahun 1945 (saya masuk SMAN Kupang tahun 1967 dan lulus tahun 1969), karena hampir setiap 1 bulan sekali (hari Senin) saya diberi tugas untuk membacanya di lapangan upacara SMAN Kupang. Saya sangat menyesal tidak mendengar berita tentang meninggalnya bapak dan dimana dikebumikan; saya ingin mengunjungi makam beliau, mohon berita dari dek Titien lewat japri aja.
Semoga amal ibadah beliau membawa manfaat bagi bangsa Indonesia dan rakyat NTT, serta beliau diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Yuen A.S. August 30, 2008 at 12:37 am

Dear Mbak Haerani,

Dari tulisan Mbak tentang Pak Ismandar, saya jadi mengerti bagaimana Mbak bisa menjadi sosok yang bijaksana dan pekerja keras. Memang pendidikan dan arahan yg kita dapat orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan kita.

Terus terang selama tujuh tahun saya mengenal Mbak, bagi saya Mbak ini sosok “SUPER MOM”. Masih tidak terbayangkan bagaimana Mbak bisa melalui program PhD dengan sukses dikala Mbak juga harus mengasuh dan membesarkan anak-anak. Rupanya Mbak telah terlatih sejak kecil untuk selalu berusaha keras dan tidak pantang menyerah. Sungguh pelajaran yang amat sangat berharga dari orang tua Mbak.

Semoga saya bisa memetik pelajaran dari pengalaman dan cerita Mbak tentang perjalanan hidup dan perjuangan Pak Ismandar. Pak Ismandar adalah tauladan sejati, bukan hanya bagi putra-putridan anak-anak didiknya yang tersebar di seluruh dunia, namun juga bagi orang-orang yang tidak pernah mengenal beliau secara langsung (termasuk saya).

Mbak Haerani, thanks for sharing this story with us.

Love,
YS

haerani ismandar August 30, 2008 at 3:13 pm

Dear Yuyun dan mbak Rien, terima kasih sudah meluangkan waktu membaca kenangan saya terhadap almarhum ayah. Saya juga selalu bersyukur karena saya selalu di kelilingi teman2 yang baik seperti Yuyun dan mbak Rien, yang bisa diajak serius berdiskusi bila tiba waktunya, ataupun camping, hiking, atau hanya sekedar ngobrol ke utara ke selatan untuk menghilangkan ketegangan hidup di rantau orang. Sekali lagi terima kasih, sampai ketemu lagi di tulisan yang akan datang… mudah2an.

Oom Rihi, terima kasih juga sudah meluangkan waktunya mengikuti kenangan saya bersama ayah. Mudah2an tulisan saya bisa mebawa kembali kenangan 2 baik mengenai ayah dalam hidup Oom Rihi di Kediri.

salam dari Stillwater

Handoko Ismandar August 31, 2008 at 3:23 am

Mbak Titien….kita lagi ngumpul di bogor (mbak Tut, Noniek, dik Hari dll) semuanya membaca tulisan mbak…mereka akan memberi komentar dan pengalaman mrk dengan Romo ibu….selamat menjalankan ibadah puasa yaaa…

gentry amalo August 31, 2008 at 1:52 pm

perkenalkan saya Gentry, dari generasi yang berbeda dengan mbak. Membaca cerita ini yang luar biasa ini, ijinkan saya menyampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya atas ketulusan dan keikhlasan pengabdian yang luar biasa dari alm. Ayah embak sekeluarga.
Tanpa bermaksud berlebihan, tetapi tulisan ini lebih dari cukup untuk menggambarkan sekaligus mengajarkan kepada kami apa arti sebuah pelayanan dan pengabdian pada bangsa dan negara, khususnya NTT tercinta.
Berbeda dengan para pemimpin saat ini yang lebih menonjolkan dan mementingkan diri sendiri.
Mudah-mudahan ketulus-ikhlasan alm. Pak Is untuk melayani dan mengabdi tanpa mementingkan diri sendiri dan kelompoknya tetap menjadi teladan bagi semua anak muda yang belum tahu apa-apa tentang negeri ini.
salam hormat,..

GA,

Nitha Müller-Soplanit September 1, 2008 at 11:00 am

Mbak Titin,
Tulisan yang indah sekali,buat beta Pak Ismandar sudah menjadi bagian dari sejarah pendidikan di Kupang.Beliau sudah pergi 19 tahun yang lalu tapi namanya tidak pernah memudar.
Salam buat semua keluarga.

Nitha Müller-Soplanit
Switzerland

hadi prasetyo September 1, 2008 at 11:19 am

ass…

bude titien ini dgn hadi putra dari pak harisetijono….
makasih atas tulisan yang menceritakan tentang eyang…
hadi senang dan bangga punya eyang yang jasanya sangat besar…
sedih rasanya ketika membaca tulisan tentang eyang…
mungkin hadi belum merasakan bagaimana didikan eyang secara langsung tapi hadi bisa merasakan itu semua dari didikan dari bude iin yang sebagian besar merupakan contoh didikan eyang ke anak2nya…
didikan yang begitu disiplin,berprilaku baik dan tegas…
namun karena didikan itu juga hadi bisa seperti ini sebagai seorang siswa SMA…
mungkin eyang sudah tiada tapi eyang selalu ada di hati cucu2nya..
hadi selalu mendoakan semoga eyang selalun mendapat lindungan dan rahmat dari Allah SWT serta mendapat tempat yang indah disana…

doa kami semua selalu ada untukmu eyang kami tercinta…

buat bude titien selamat menjalankan ibadah puasa dan salam sayang dari keluarga di bogor untuk semua disana…

mitri September 3, 2008 at 11:06 am

Titien, hebat sekali Ayah Titien, bener2 pahlawan yg berjuang utk kepentingan orang banyak. Semoga jaman sekarang masih ada orang2 spt beliau. Ditunggu tulisan2 Titien yg lain.

ika siubelan September 12, 2008 at 6:51 am

Assalamualaikum Wr. Wb.
Dear Tante Titien..
Senang bgt baca tulisan tante titien..Ika jadi terkenang dua puluh thn yg lalu,waktu eyang kakung ngajarin ika nyanyi lagu2 daerah,jln2 naik mobil Datsun,camping bareng.Eyang kakung sering bgt bawa oleh2 jika beliau baru pulang dari Jawa,entah itu coklat,buah atau barang2 kecil yang membuat kami (Ika,Mb Nani,Mb Nana,Ms Ninok) cucu2nya senang.Kl bulan puasa gini yg ika plg inget adalah ketika eyang kakung mengimami kami sholat tarawih bersama di rumah.Hmmm….kenangan yg ga akan ika lupakan seumur hidup..Kalau mengingat2 kenangan tersebut rasanya ingin sekali kembali ke masa kecil yang menyenangkan itu.Banyak yang bilang kalau ika itu cucu kesayangan eyang kakung,pdhl mnrt ika, eyang kakung selalu bersikap adil kpd cucu2nya.Jadi mnrt ika anggapan itu pastilah salah.Bagaimanapun juga Eyang Kakung adalah eyang kesayangan ika.Kehilangan beliau adalah kehilangan terbesar yang pernah Ika rasakan.Kehilangan sesosok eyang yang penuh semangat,penuh rasa humor dan penyayang..I Miss U,yangkung..

ika November 21, 2008 at 12:43 am

Mba Titien, mgkin saya memang tdk pernah mengenal bapak atau Romo Ismandar, tapi yang saya tau pasti dan yakin, pastilah beliau org yang sangat bersahaja……bangga spertinya memiliki seorg ayah yang penyayang dan memiliki anak2 yang slalu mengingat dan bangga akan kedua orgtuanya.

David E. Latupeirissa March 29, 2010 at 10:30 pm

Dear Ibu Titien.
Saya sangat senang membaca tulisannya tentang Bapak (alm) Pak Ismandar. Terus terang saya katakan bahwa bagi saya beliau adalah sosok yang sangat saya hormati dan saya kagumi. Sampai dengan saat ini saya sering menceriterakan perihal kedisiplinan dan ketegasan beliau kepada teman2 maupun istri dan anak2 saya. Sampai saat ini saya masih penasaran kalau mengingat-ingat pelajaran ilmu Falak yang beliau bawakan. Pernah beliau menceriterakan mengapa gelombang laut selatan itu lebih ganas dibandingkan laut utara. Saya lupa dan masih penasaran sampai saat ini tentang penjelasan beliau waktu itu, dan karena itulah saya sampai saat ini senang sekali memperhatikan kejadian2 alam sekeliling. Terus terang saya katakan semua itu karena kesan saya terhadap pelajaran beliau dulu di ilmu Falak. Saya yakin semua amal bakti Bapak (alm) telah tercatat dengan tinta emas oleh Sang Pencipta.
Salam dan hormat saya untuk Mbak Iin, Mbak Tutut dan lain-lainnya.
Satu pertanyaan saya, Ibu Titien dulu waktu di SMA sekelas dengan Ibu Evy Uly yaaa…?

Ismiii, siswaa SMANZHAQ October 29, 2010 at 4:33 am

kakak, ayah kakak jadi kepsek dengan masa jabatan terlama di sekolah saya loooh…:DD

sayaaa kaguuuuuuuum sekali dengan ayah kakak, karena masa jabatan beliau yang cukup lamaa…..

meskipun tidak begitu mengenal siapa ayah kakak, tapi pati beliau adalah pribadi yang baik, hangat, ramah, dan penuh perhatiaan…

smangaaat eaa kkak, jalani harii.hariii kakak dengan penuh semangat agar memperoleh kesuksesan supaya menyenangkan beliau di atas sana…:D

Fecky Messah September 21, 2011 at 11:55 pm

………. sonde terasa, saya tenggelam dalam lamunan masa lalu sepanjang menapaki kisah skaligus pengalaman bersejarah yang dirilis oleh putrinya. Dan, saya sepakat untuk mengatakan, beliau adalah pribadi yang memiliki KETOKOHAN dan KEBAPA-AN yang sangat luar biasa. Mengapa????Jangankan kepada keluarganya, kami sekeluarga, juga sangat beliau kenal bahkan paham siapa kakak saya, siapa adik saya dan singkatnya saya harus mengatakan bahwa beliau juga adalah orang tua kami dalam hal membentuk karakter dan kepribadian untuk menjadi orang apa adanya seperti keseharian beliau semasa hidup. Terima kasih Bapak Ismandar… jasamu selalu dikenang sepanjang hayat kami…

Titien… trims ya…. selamat berkarya, kamu tidak sendirian.. masih ada teman2 dan sahabat2 yang selalu berdampingan dalam perjalanan kekaryaanmu.

Salam hormat buat Suami dan anak-anak.

julius kendjoe September 22, 2011 at 6:11 am

Pertama sekalih kami ucapkan Terima Kasih Kepada ABBAH JAPPY P
yg senantiasa mengingatkan kita …tentang Tokoh – Tokoh NTT melalui FB
Paling tidak saya kami dapat meneruskan ke Generasi berikutnya ternyata Flobamora ….
tanah airku tercinta…!

titien September 22, 2011 at 11:25 pm

Terima kasih buat rekan-rekan yang sudah meluangkan waktu untuk membaca kenangan saya terhadap alm Bapak Ismandar (Ayah saya). Masih banyak kenangan saya tentang beliau yang sebenarnya ingin saya tulis suatu saat nanti, untuk mengenang para pendahulu kita yang berani berkecimpung dan meletakkan fondasi di dunia pendidikan di NTT dengan segala keterbatasannya. Banyak sekali tokoh pendidikan lainnya di NTT yang sangat berdedikasi untuk memajukan dunia pendidikan di NTT di tahun 60 an dan 70 an, yang kini mulai dilupakan orang. Mudah2an kita bisa belajar banyak dari sejarah.

salam hormat.

Katemak October 1, 2011 at 3:17 am

Berkunjung ke tulisan Om Kribo, bikin beta ingat ‘bakalai’ sekian tahun silam. I was mad. Untuk Tante Titin beta minta maaf, dan juga Om Kribo.

Leave a Comment

Previous post:

Next post: