Bahoro Faliger

by drt on September 12, 2009

Bulan puasa di Kampsolo berarti musim faliger.

Paling tidak itu yang tersisa dari kenangan masa kanak-kanak. Biasanya sambil menunggu waktu berbuka-puasa, teman-teman muslim sebaya saya akan beramai-ramai menonton orang-orang dewasa yang lagi ‘bahoro faliger.’

Beberapa kali saya coba bertanya ke milis Pak Laru buat teman-teman asal Kupang, tapi selain angkatan ‘senapan tumbuk’ seusia saya, kebanyakan belum pernah dengar kata ‘faliger‘ atau yang ada dalam ingatan saya, ‘faligir‘. Baru kemarin waktu mau menulis ini, saya tanya ke Gus Goog, dan temukan daftar nama dalam berbagai bahasa. Dari daftar ini akhirnya saya berkesimpulan bahwa kata ‘faligir‘ atau ‘faliger‘ itu ternyata berasal dari bahasa Belanda Vlieger untuk layang-layang.

Bahoro adalah versi Melayu Kupang kata berhorok. Horok seperti dalam horok papan atau gergaji papan. Jadi ‘bahorok faliger’ tidak lain adalah mengadu layang-layang untuk memutuskan layang-layang lawan dengan menggunakan benang gelasan.

Memang adu layang-layang adalah permainan menarik dan kalau dicari ke Internet, banyak video di youtube misalnya yang mempertunjukkan permainan layang-layang dan bahoro faligir dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu contoh seperti dalam video di bawah dari seorang imigran Afganistan yang kini tinggal di California. Video ini juga mengingatkan kembali bahwa berburu faliger putus hasil bahoro faliger bisa mencelakakan anak-anak. Seringkali anak-anak itu tak peduli keadaan sekeliling seperti lalu-lintas yang rame saat mereka berburu layang-layang putus. Itu bisa saja berakibat fatal.

Nah, Bahoro Faliger ini adalah tambahan kosakata bahasa Melayu Kupang kita hari ini.

Buat teman-teman yang sedang menunggu bunyi beduk sambil menonton orang bahoro faliger, saya ucapkan ‘Selamat menunaikan ibadah puasa.’

Popularity: 1% [?]

{ 4 comments… read them below or add one }

Rihi Here Wila September 12, 2009 at 10:33 am

Kalau saya seumur Om Kribo waktu itu hanya bisa mengejar layangan yang putus akibat kalah “bahoro” itu sambil melihat benang gelasan dari layangan yang kalah itu. Kalau bisa dijangkau, benang itu saya tahan dan bila orang yang punya terus berusaha menggulung benangnya, akan putus dan bagian yang putus itu menjadi “milik” saya untuk digunakan sebagai tambahan yang saya dapat sebelumnya dari punya orang lain, sehingga saya bisa melakukan kegiatan “bahoro” layangan. Saya bisa membuat layangan yang sangat baik untuk urusan “bahoro” tapi tidak mampu membeli benang “kelos” untuk dibuat benang gelasan. Kenangan yang indah dan menyenangkan kami anak kecil tapi menjengkelkan orang lebih tua yang kalah “bahoro” layangan.

Henny P September 12, 2009 at 11:19 am

Om Aris dan om Dokter,
Yang beta ingat dari bahoro faligir adalah pada waktu layangan itu putus maka tanpa ada komando anak-anak akan berlari sambil bersorak-sorak : ” Nao….nao……!!”

drt September 12, 2009 at 12:41 pm

Makasih Ama Rihi dan mambo’i Henny. Ternyata banyak kenangan manis urusan bahoro faliger ya. :-)

yanes October 2, 2009 at 10:05 pm

iyo beta ingat ungkapan “mera nao” untuk layangan warna merah yang kalah, sekitar tahun 1980 an …

Leave a Comment

Previous post:

Next post: