Berita Sedih dari Jepang

by drt on January 8, 2008

Kaget sekali membaca posting Mimie-chan soal mahasiswa Indonesia yang diperkosa di Jepang. Berita begini adalah impian buruk buat setiap orang tua yang punya anak putri yang hidup sendiri di kampus, jauh dari orang tua. Setelah menelusuri link yang diberikan Mimie-chan, saya sedih sekali membaca apa yang menimpa diri Bunga, penulis Aib Terbesarku itu. Persoalannya, setahu saya di Jepang, apa yang dilakukan saat mabuk mudah sekali dimaafkan. Di pengadilan pun kalau sang pemerkosa bilang, dia mabuk, tak bisa ingat apa-apa, kemungkinan dia bisa lolos dengan mudah. Apalagi persoalan ini tidak langsung dilaporkan ke polisi, tidak lapor ke lab tempat Bunga studi ataupun ke Kedubes di Tokyo, khususnya ke bagian pendidikan yang mengurusi mahasiswa.

Keadaannya sudah berbeda dengan keadaan 30 tahun lalu, kata seorang teman Jepang waktu saya ceriterakan urusan ini per telpon. Tapi banyak wanita Jepang yang tambah kuat akhir-akhir ini, tambah teman saya. Kalau dulu di KA mereka dirogoh pelakunya bisa bebas*, sekarang banyak lelaki tangan gatal di KA sering mengalami persoalan karena prempuan yang dirogoh bisa berteriak dan menuduh lelakinya. Namun soal pemerkosaan antara kolega menurut teman saya, di antara sesama bangsa Jepang pun sering terjadi. Tetapi kalau sedang mabuk, teman saya pun setuju dengan apa yang saya katakan di atas, pelakunya bisa terhindar dari konsekuensi hukum.

Membaca kisah Bunga, saya bisa merasakan sekali keraguan akan kemungkinan studi lanjutnya yang ikut menentukan langkah yang telah ditempuh. Saya tak tahu apakah Bunga bisa begitu saja melupakan urusan itu seperti yang dia tulis. Saya pikir yang paling baik adalah konsultasi dengan ahli yang tahu persis apa jalan terbaiknya. Biasanya di universitas besar selalu ada Ryugakusei Bu yang khusus mengurusi mahasiswa asing. Kantor ini seharusnya bisa menghubungkan Bunga dengan fihak-fihak kompeten untuk konsultasi hukum, dan berbagai persoalan kejiwaan yang berkaitan dengan kasus perkosaan begini. Tapi sekali lagi, karena pengaruh budaya memaafkan pemabuk, mungkin tidak mudah mendapatkan konsultasi yang dibutuhkan. Barangkali teman-teman yang lama tinggal di Jepang bisa urun rembug, siapa sebaiknya di Jepang yang harus Bunga hubungi. Menurut saya semakin lama dibiarkan, semakin sulit kalau mau mengambil tindakan hukum.

Sebagai seorang ayah, saya pengin lihat kalau lelaki itu mendapatkan ganjaran yang setimpal. Tapi semua itu tergantung jalan apa yang mau ditempuh Bunga. Menurut hemat saya, Bunga saat ini perlu mendapatkan konsultasi hukum dan kejiwaan. Saya tak tahu siapa professor Bunga, dan apakah dia sudah berkeluarga. Biasanya istri sang Professor mungkin tempat pertama untuk menumpahkan isi hati Bunga. Tapi itu sangat bergantung dari usia, kemampuan berbahasa asing dari ibu Professor. Last but not least, saya berharap, semoga studi Bunga tidak terputus gara-gara perbuatan pemabuk terkutuk ini.

*KA Jepang, khususnya di Tokyo penumpangnya selalu berdempetan saking penuh sesaknya.
Catatan: Persoalan Bunga mendapat perhatian khusus karena saya hanya membaca ceritera Bunga berdasarkan referensi Mimie-chan, dan Bunga punya persoalan besar karena latar budaya yang berbeda dan hidup sendiri di rantau. Setelah posting ini saya melihat lagi ke situs Kompas dan cuma bisa tercekam membaca kisah dari penulis lain di sana. Tapi membaca reaksi dari berbagai balasan atas posting Bunga, saya berharap semoga ada jalan keluar yang baik untuk Bunga.

Popularity: 1% [?]

{ 3 comments… read them below or add one }

damyan godho January 13, 2008 at 11:20 pm

Bung Aris, selamat jumpa…apa kabar..lama tk kabar2…kapan datang Kupang?

drt January 14, 2008 at 12:05 am

Bung Damyan, makasih atas kunjungan. Saya pikir untuk pembaca bung Damyan, beberapa posting ini mungkin lebih menarik melihat posting berikut mengenai lintasan ISS di berbagai kota di Indonesia termasuk kota-kota di NTT.
Khusus untuk lintasan kota Kupang, orang Kupang perlu check link berikut, lalu menggunakan petunjuk dari posting untuk melihat ISS dari Berbagai Kota sebagai rujukan untuk dapatkan data buat kota Kupang untuk kapan saja, selama cuaca tidak mendung dan pas ada jadwal melintas hari itu. Soal pulang Kupang? Saya tunggu tiketnya, Bung. :lol:

Nitha M-Soplanit January 18, 2008 at 2:44 am

Oom Aris,saya sudah membaca tentang Bunga di Kompas dan saya betul-betul prihatin dengan situasi ini.saya juga bisa mengerti kenapa Bunga” mendiamkan” kejadian ini karena buat Bunga sama seperti membuka aib sendiri,kasian memang.Mungkin jalan terbaik adalah , curhat dgn Profesor dan (atau) istrinya (sebagai sesama wanita mungkin lebih mudah untuk terbuka) sehingga beban Bunga lebih ringan dan setelah itu mungkin harus Teraphy kejiwaan dia yang pasti saat ini sangat labil,setelah itu tentunya konsultasi hukum sebagai langkah berikutnya.
Doa dari kita tentunya perlu sekali agar Bunga bisa mendapat jalan keluar dan bisa melanjutkan kuliahnya.

Leave a Comment

Previous post:

Next post: