≡ Menu

Catatan Ziarah (13)

Kalau rokok bisa bikin impoten, kenapa ya anak-anak muda tidak peduli dan istri mereka tak pernah mengeluh?

Ketika kami tiba, doa syukuran sudah selesai dan para tamu sedang makan.

Kami kebagian tempat duduk di ruang makan, dan sempat tukar ceritera dengan keluarga Afa, baik papa, mama maupun tantenya. Selesai makan, sebentar-sebentar ada yang minta foto bersama, termasuk anak-anak, menantu-menantu serta cucu-cucu Cie Lien.

Namanya juga pesta, jadi ada makanan, ada musik. Tapi ada dua hal yang menyebabkan saya ingin keluar dari ruang pesta. Pertama, asap rokok. Kedua, ini malam terakhir di Kupang dan saya masih ingin menghabiskan waktu bicara dengan ponakan-ponakan yang masih duduk di bangku sekolah.

Saya coba pindah ke rumahnya Fonny, yang hanya berseblahan. Eh, ponakan-ponakan pada ikut saya ke sana. Tapi aduh, rokoknya. Satu, dua kali saya bilang tak tahan asap rokok, minta mereka matikan. Tapi koq makin lama makin banyak yang ikut saya ke sana tapi semua pada menjepit rokok di tangan.

Di kota kami dan di hampir semua kota di Amerika, rokok dilarang di tempat-tempat umum seperti restaurant, bioskop, kendaraan umum, dan kantor-kantor. Di kampus perusahaan kami, malah tidak diizinkan merokok sama sekali biarpun di halaman kantor. Perusahaan kami bersedia membantu mereka yang ingin berhenti merokok dengan memberikan biaya terapi. Kebetulan saya tidak bertugas di kampus perusahaan melainkan di fasilitas milik Pemerintah Federal Amerika, dan di kampus-kampus pemerintah ini rokok juga dilarang. Tapi di sini peraturannya lebih lunak buat para perokok karena mereka masih bisa merokok di luar gedung, asal tidak dekat-dekat pintu masuk atau lubang angin yang akan membawa asap rokok ke dalam gedung. Nah, kalau musim dingin, saya merasa kasihan pada para perokok ini. Sudah batuk-batuk, masih harus kedinginan hanya untuk memuaskan ketagihan akan nikotin mereka.

Saya suka menulis tentang pengaruh buruk rokok dan selalu memakai gambar di samping ini untuk mengingatkan mereka yang masih muda agar hati-hati dengan rokok karena bisa membuat rokok mereka seperti foto cowboy di samping ini. 😆 Moga-moga para ibu muda bisa mengerti efek rokok ini, sehingga tidak cepat menuduh suami suka jajan di luar padahal suaminya sudah bersumpah dan siap jalan di atas bara menyala kalau dia tidak jajan. Moga-moga setelah melihat gambar ini, para ibu muda juga mau alihkan kemarahan mereka mengamuki suami agar segera berhenti merokok. Sedangkan kalau ibu muda sendiri itu suka merokok, hm, kayaknya rokoknya yang perlu diganti. 🙂

Akhirnya dengan alasan mau cari angin, saya keluar dan mengajak tiga ponakan yang masih sekolah, Rio dan adiknya Nia, serta Reynol dan kami sempat mengobrol beberapa saat sebelum akhirnya didatangi segerombolan ponakan lain.

Pertanyaan pertama yang saya ajukan kepada Rio mereka adalah, mereka pengin jadi apa kelak? Setelah mendapat gambaran cita-cita mereka, lalu saya menceriterakan sedikit pengalaman perjuangan saya maupun sepupu mereka Dr. Yulita.

Dari situ saya lalu menceriterakan tentang bagaimana orang membangun rumah yang sering saya dengar dalam berbagai ceramah di Amerika dan apa kaitan dengan cita-cita mereka.

Orang membangun rumah, minimal dalam 3 tahap sebelum rumah itu akhirnya berdiri.

Pertama, dia bangun di otaknya. Rumah seperti apa, berapa kamar, berapa luasnya, bentuk seperti apa, atapnya apa, halamannya seperti apa, semua itu digambar dalam otaknya.

Kedua, dia bangun di atas kertas. Dengan bantuan arsitek, dibikin gambarnya, diperinci keperluan bahan bangunan dan biayanya.

Ketiga, berdasarkan rancangan arsitek dan dibuatlah rumah itu.

Saya mau mereka percaya, bahwa apa pun yang bisa mereka impikan dan percaya, apapun yang mereka gambarkan dalam otak mereka seperti orang yang mau membangun rumah, maka impian itu pasti bisa terlaksana. Kata-kata Napoleon Hill, Whatever the mind of man can conceive and believe, it can achieve itu yang ingin saya tanamkan dalam otak muda mereka. Seperti kata Dr. Yulita, mereka harus sejak dini punya gambaran di otak bahwa mereka harus lebih berhasil dari orang tua mereka.

Dan malam terakhir di Kupang ini berakhir dengan pesta syukuran di rumah Enny. Sebenarnya saya sempat ikut menyumbang suara, menyanyikan lagu kesukaan saya Shiretoko Ryojo tanpa iringan musik. Tapi saya tak bisa membendung emosi ketika mendengar lyrik lagu itu dan akhirnya lagu itu tak saya selesaikan.

Saya juga senang bisa sempat telpon dan bicara dengan bung Unu, dan informasikan beliau serta memohon maaf kalau saya tak bisa terus ke Soe. Saya juga memohon beliau untuk bisa menyampaikan permohonan maaf saya kepada keluarga di Soe.

Saya lupa jam berapa kami sampai di rumah. Sampai sekarang, kalau ingat wajah ponakan saya Rio, saya seperti melihat potret diri saya di tahun-tahun terakhir di SMA. Bukan, bukan urusan rupa. Tapi penampilannya.

Wakare no hi wa kita
Ra-u-su no mura ni mo
kimi wa de te yu ku
toge wo ko-e te
wasure cha ya da yo
ki magure karasu-san
watashi wo nakasu na
shiroi kamome yo,
shiroi kamome yo……

{ 2 comments… add one }
  • Indriatno Hardiyanto July 21, 2011, 8:07 am

    Kakak ipar saya meninggal baru-baru ini karena kanker paru-paru. Itu adalah akibat sbg perokok pasif dari suaminya perokok berat yg sdh meninggal.
    Seorang teman gereja juga terkena kanker paru-paru stadium 4, dia bukan perokok, tapi lingkungan ditempat bekerja adalah perokok.
    Saya pikir kita tidak melakukan gugatan Class Action saja, thd perusaahaan rokok.
    Repotnya kalau di Indo, pemerintah gamang karena mereka penyumbang pajak terbesar melalui cukai rokok.

  • drt July 21, 2011, 8:33 am

    Terima kasih atas komentarnya bung Indriatno. Memang di sana rokok itu jadi masalah rumit, karena di samping pajak juga masalah lapangan kerja bagi ribuan pegawai tukang menggulung rokok dan petani tembakau bukan? Atau apakah Sekarang sudah diupdate dan diganti dengan mesin penggulung rokok? Sulitnya kesadaran masyarakat akan bahaya industry pembunuh ini juga begitu minim, jadi mungkin makin banyak info seperti ini yang perlu kita sebarkan. Sulitnya, banyak pejuang kemanusiaan kita malah ternyata perokok berat. Tapi Terima kasih atas sharing anda.

Leave a Comment

Next post:

Previous post: