≑ Menu

Catatan Ziarah (14)

Kalau cuma melihat wajahnya, saya tak pernah akan mengira kalau sepupu saya Lan sedang bergulat dengan kanker payudara.

Ini pagi terakhir di Kupang, tetapi saya masih ingin menemui berapa orang saudara sepupu saya, teman bermain sejak usia dini.

Waktu saya berdiri di pintu pagar rumah Lan, tak lama terlihat seorang ibu setengah baya membuka pintu rumah dan berjalan kearah saya. Setelah dia membuka pintu pagar menyilahkan saya masuk baru saya menyadari kalau itu Lan. Maklum, seperti rambut saya, rambut Lan juga sudah berganti warna dan badannya tidak sekurus dulu.

Ada satu yang tetap sama di wajah Lan. Waktu dia jatuh dari punggung kuda seperti yang saya ceriterakan di postingan ke-7, dia tersenyum. Malah ada satu senyum Lan yang sangat berbekas dalam benak saya jauh ketika Lan dan saya masih sekitar 3, 4 atau 5 tahun.

Kami masih tinggal di Soe dan waktu itu Lan bersama papa mama dan sekeluarga datang dari kampung mereka di Taum dan menginap di rumah kami. Kemungkinan besar sebelum engkoh saya Seong dan engkohnya Lan, Kung, dikirim sekolah ke Kupang di sekitar tahun 1956.

Suatu hari, selagi bermain ramai-ramai di meja makan, ada yang jatuh dan Lan turun mengambil. Tahu-tahu saya merasa ada yang mengorek saya dari bawah meja dan terdengar suara Lan dan saya pastikan dalam bahasa Timor karena sehari-hari di keluarga Ji Moe, mereka berbahasa Timor.

‘La’i fuak sak?’

Begitu mendengar suara Lan setelah korekan itu, saya melihat ke bawah meja dan Lan kelihatan masih dalam posisi merangkak dengan senyuman kemenangan seorang gadis cilik.

‘Ini biji apa?’ maksud pertanyaan Lan di atas dan seingat saya semua dalam ruangan ikut menertawakan setelah menyadari apa yang sedang berlangsung.

Dan itu, kejadian sekitar 55 tahun lalu. Nah pagi itu sebelum meninggalkan Kupang, Lan lagi berdiri di depan saya setelah kami masuk ke ruang tamu. Masih tersenyum.

‘Dong bilang lu sakit, tapi lu kelihatan segar bagini!’ Begitu saya menyapanya dalam logat Kupang.

Iya, lihat ini, kata Lan sambil mengangkat ujung blusnya dan menunjukkan payudaranya.

Bulu kuduk saya langsung berdiri melihat payudara kanannya yang sebagian kulitnya tidak ada lagi, dan sisanya berwarna merah darah kering. Euwww!

Saya ingat di akhir tahun 1961 setelah melahirkan putra pertamanya, kakak sulung saya ci Cuen juga mengalami luka di payudaranya. Lukanya menakutkan buat seorang anak seusia saya. Tapi waktu itu orang belum banyak tahu tentang kanker, dan saya juga tak ingat bagaimana ci Cuen bisa sembuh dan bisa melahirkan begitu banyak keponakan lagi. Walaupun begitu, baik lukanya Lan maupun lukanya ci Cuen menurut saya tidak separah luka ibu Liem yang ditunjukkan dalam situs Dr. David Shu dari Taiwan tentang kemanjuran suplemen ATP-Cell Food.

Ketika menterjemahkan tulisan Dr. Shu ke dalam bahasa Inggris guna membantu sebarkan info penyembuhan kanker dengan bahan pengobatan tradisional, saya memberi peringatan kepada pembaca agar kalau mereka mudah merasa jijik, sebaiknya tidak klik untuk melihat gambar itu, yang saya taruhkan juga di postingan ini sebagai referensi. Awas, jangan klik gambar ini kalau anda tak tahan melihat luka yang menakutkan.

Menurut ceriteranya, Dr. Shu sempat bertanya kepada ibu Liem, kenapa dia tak mau operasi? Kata ibu Liem, sudah 6 kali dia ke rumah sakit minta dioperasi tapi tak ada dokter di Taiwan yang bersedia mengoperasi karena pembuluh darah ada di mana-mana. Akhirnya ibu itu hanya hidup bersama kankernya dan ketika dokter Shu menulis buku beliau, ibu itu sudah hidup dengan luka yang menjijikkan itu selama 6 tahun. Dalam pertemuan dengan Dr. Shu di Atlanta tahun lalu, saya lupa tanya apakah ibu Liem masih ada.

Dengan gambaran yang ada mengenai kanker payudara seperti itu, saya merasa keadaan Lan jauh lebih memadai. Bayangan bahwa saya akan temui Lan yang kesehatannya sudah menurun sama sekali bertentangan ketika melihat keadaan Lan sesungguhnya.

Kemudian Lan membawa sekantong plastik obat-obatan traditional dari dalam kamar. Ini obat-obat Tianshi yang menolong saya. Setelah chemo, saya minum terus obat ini.

Bagus, teruskan berobat ke dokter dan teruskan pakai suplemen itu kalau memang menolong, kata saya kepada Lan. Soalnya saya sendiri percaya bahwa kombinasi antara pengobatan modern dan pengobatan tradisional China ada manfaat seperti terbukti dengan perjalanan hidup Dr. David Shu, seorang dokter bedah otak dari Taiwan. Tapi saya juga tidak buta untuk menyadari bahwa reaksi setiap orang tidaklah sama. Dr. Shu bisa sembuh padahal teman-teman sejawatnya meramalkan paling lama dalam 3 tahun Dr. Shu akan meninggal bila dia menolak operasi. Tapi ada juga tokoh lain yang dikutip dalam tulisan Dr. Shu. Mereka terserang kanker juga, dan akhirnya kanker merenggut jiwa mereka kepagian seperti Simon Hsueh, penyanyi Taiwan yang potongan lyriknya saya kutip dalam catatan pertama serial ini, ataupun Prof. Randy Pausch yang dikutip Dr. Shu di akhir tulisannya ini.

Bagi yang tertarik, bisa dapatkan terjemahan wawancara Dr. Shu di TV Taiwan di sini, yang saya terjemahan dari video hasil wawancara Dr. Shu yang bisa dilihat di Youtube.

Setelah bertukar ceritera dan mengucapkan selamat tinggal, akhirnya kami tinggalkan Lan menuju ke rumah berikut.

Iya, saya lupa tanya Lan, kalau buah dada dalam bahasa Timor, fuak sak? πŸ™‚

Dondong opo salak,
duku cilik-cilik,
Ngangdong opo mbecak,
mlaku timik timik.

{ 3 comments… add one }
  • anni ugut dorrius August 30, 2011, 11:21 pm

    La’i fuak sak
    Tolong jelasin dolo, itu biji apa maksudnya? Lan kecil sepertinya jahil juga ya.

  • drt August 30, 2011, 11:54 pm

    Masya kurang jelas, Anni? πŸ™‚

  • drt January 18, 2012, 7:47 pm

    Kemarin malam waktu sini (pagi di Kupang) saya mendapat kabar kalau sepupu saya Lan menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit. Sewaktu saya telpon ke Kupang adik saya bilang mereka baru saja bawa kembali jenazah ke rumah.

    Saya tepekur dan bersyukur bahwa walaupun hanya sekejab, tetapi kami sempat ketemu dan Lan begitu enthusias kalau luka-lukanya sudah mengering.

    Dari jauh saya hanya bisa panjatkan doa sambil berbisik, selamat jalan adikku,….

Leave a Comment

Next post:

Previous post: