Catatan Ziarah (15)

print

Kalau kita ke sana sekarang, kemungkinan bisa ketinggalan pesawat.

Itu yang adik saya ingatkan, ketika saya sebutkan nama-nama mereka yang masih ingin saya temui.

Akhirnya kami mampir sebentar ke toko ponakan saya, Lan dan Hing, putri tertua dan menantunya Cie Lien. Dari sana kami terus menuju Oepura, ke rumah sepupu saya, Tjin Kae atau sehari-hari dikenal dengan nama Koet.

Ada yang menarik dari nama Tionghoa dan saya tak yakin apakah generasi keturunan Tionghoa sekarang mengerti bagaimana aturan nama Tionghoa dahulu.

Nama Tionghoa pada umumnya terdiri dari 3 huruf, walaupun kadang ada yang cuma dua huruf saja. Huruf pertama dari nama Tionghoa menunjukkan marga seseorang. Itu universal. Hampir semua suku bangsa mengenal marga. Yang beda mungkin cara penempatan, apakah di depan atau di belakang. Perbedaannya, nama Tionghoa menaruh marga di depan, seperti Tan dalam Tan Joe Hok atau Soe dalam Soe Hok-Gie, sedangkan nama barat menaruh marga di belakang.

Tidak semua marga Tionghoa berhuruf tunggal. Dari sekian ratus nama keluarga Tionghoa yang tercatat, hanya ada berapa yang berhuruf dua. Para penggemar cersil karya Chin Yung (atau Jin Yong dalam pinyin) tentu masih ingat nama Auyang Hong si racun dari barat. Di Indonesia juga ada yang bermarga ganda Auyang ini, yaitu almarhum Auwyong Peng Koen atau P.K. Ojong, pendiri harian Kompas.

Yang belum pernah saya temui dalam nama etnik atau suku bangsa lain adalah jenjang generasi yang dikandung dalam huruf kedua atau ketiga. Misalnya, ada keluarga yang anak-anaknya diberi nama dengan huruf yang sama di tengah atau huruf yang sama di bagian akhir. Memang ada kecendrungan untuk memberi nama anak tanpa nama generasi sehingga banyak teman-teman dari China hanya mempunyai nama seperti Li Hong atau Zhou Ping saja. Dalam kedua nama ini saya menggunakan ejaan pinyin yang lazim dipakai di China.

Untuk contoh nama generasi, saya akan ambil nama Tionghoa Indonesia yang pada umumnya menggunakan ejaan Hokkian. Katakanlah ada encek Lim Ban Pit dengan nama generasi Ban. Saudara-saudara encek Ban Pit mungkin bernama, Lim Ban Leng, Lim Ban Liong, Lim Ban Teng. Sedangkan anak-anak mereka mungkin nama generasi bukan di huruf kedua tetapi huruf ketiga, dan semua berakhiran dengan huruf Seng. Sehingga bisa jadi semua anak dari Om Ban Pit, Ban Leng, Ban Liong dan Ban Teng akan bernama: Lim Kian Seng, Lim Kiat Seng, Lim Kang Seng, Lim Bun Seng, Lim Tek Seng dan Lim Sam Seng.

Saya masih ingat, waktu kecil, kalau ada yang menanyakan asal usul kami, papa saya suka mengulang-ngulang nama-nama berikut: Kian, Hiong, Seong, Foh. Baru setelah di Amerika, seorang sepupu saya, koh Tjin Wu mengirimkan copy dari batu nisan dari kuburan cikal-bakal kami yang ke Timor dan saya menyadari kalau apa yang papa sebutkan itu ternyata adalah nama 4 generasi sampai generasi papa saya.

Generasi pertama dari leluhur kami, Tjung Nam Tjang (Zhong Nan-Chang 钟南长) yang datang ke Timor ada empat anak lelaki, semua dengan nama generasi Kian (谦) di huruf ketiga. Anak mereka mempunya nama generasi Hiong (勋). Generasi ini ada 8 orang. Generasi ketiga nama generasinya Seong(祥), dan ada 8 orang juga pada saat itu. Sedangkan untuk generasi Foh (和) papa saya, sampai tahun 1894 ketika batu nisan leluhur saya dipasang saat mereka memperbaiki kuburan itu, hanya tercatat 7 orang bersaudara, belum termasuk 3 bersaudara papa saya, maupun sepupu segenerasi mereka yang lahir setelah batu nisan itu dipasang.

Nah, kedua generasi Seong dan Foh ini masih ada berapa yang tidak ada dalam batu nisan yang isinya saya cantumkan dalam gambar di bawah, berdasarkan data yang koh Tjin Wu salinkan dari batu nisan engkongtaitai, Nam Tjang itu.

Berapa hari lalu*, saya sempat bicara dengan seorang yang termasuk satu generasi dengan papa saya, om Tjung Djun Nyan. Beliau sekarang menetap di Sydney Australia. Dari beliaulah saya dapatkan lagi, kalau ketika leluhur saya datang, mereka datang dua bersaudara. Sampai sekarang sudah tak jelas lagi siapa kakak siapa adik. Tapi leluhur om Nyan ini bernama Tjung Tjung Tjang. (Zhong Cong-Chang 钟聪长). Entah mengapa nama generasi anak-anaknya tidak sama, tapi dari turun temurun, generasi bernama tengah Djun (云) ternyata satu generasi dengan generasi Foh. Seperti juga generasi saya, kami masih sempat diberi nama generasi Tjin di huruf kedua dan anak-anak keturunan Djun mendapat nama generasi Liang di huruf ketiga.

Menurut ceritera koh Tjin Wu, sebenarnya buku keluarga berisi nama berbagai leluhur kami dipegang oleh ayahnya saat menjadi guru sekolah Tionghoa di Ende, Flores. Tapi karena rumah mereka terbakar, buku keluarga itu pun ikut hangus. Nah, sewaktu menyusun catatan ini dan saya telpon ko Tjin Wu, kami berdua sama-sama menyesal, karena saat ini ko Tjin Wu sudah di atas usia 70an, sedangkan saya juga sudah masuk ke kepala 6. Sewaktu orang tua semua masih hidup, kami tak pernah tanyakan urusan silsilah ini. Jadi nampaknya tiada jalan lain, kecuali kalau ada di antara kami yang masih mengerti tulisan Tionghoa bisa menelusuri batu nisan yang ada dari anak cucu leluhur kami Tjung Nam Tjang ini atau saling bertukar info dengan generasi lansia untuk mengumpul data sebelum mereka dipanggil pulang Bapa di surga.

Yang tercantum dalam daftar itu yang masih terekam dalam ingatan saya adalah seorang empek atau pakde yang menurut ceritera papa saya, tinggal di Banyuwangi. Sewaktu masih kecil, sampai sekitar tahun 60an, dari tumpukan foto kuno di rumah, saya sempat melihat foto peti jenazahnya Empek Tjung Kung Foh atau Tjiong Kung Ho serta pasfoto dua putranya yang masih kecil dari generasi Tjin seperti saya. Ada juga kartu tahun baru dari Pome atau Bude dengan alamat di Jalan Stadion 22, Banyuwangi. Yang saya tak pernah sangka, ketika saya bertemu seorang Professor Fisika saat saya studi di Program Pasca Sarjana Bidang Optoelektroteknika dan Aplikasi Laser di Universitas Indonesia pada awal tahun 80an, kami sempat mengobrol tentang asal usul. Setelah saya tahu beliau berasal dari Banyuwangi, saya bilang kalau ada empek (pakde) saya di Banyuwangi tapi tak pernah kembali ke Timor sampai meninggal di awal tahun 50an. Anaknya mempunyai nama generasi tengah Tjin dan bermarga Tjung. Oh, Tjin Siang dan Tjin Wei, itu teman sekolah saya kata Profesor itu. Saya agak lupa-lupa ingat, seingat saya di sekitar tahun 70an saat masih kuliah di Yogya, saya pernah ketemu sebentar dengan koh Tjin Siang di Surabaya.

Selain itu yang saya tahu persis, dari engkong kami ada 4 bersaudara papa saya, dari dua ibu. Lalu masih ada lagi sepupu papa saya dari om-nya yang saya ingat ada 3 bersaudara. Tapi ada berapa anak laki dari generasi Seong, dan ada berapa lagi dari generasi Foh, sudah tak ada catatan.

Setelah keluar dari rumah sepupu saya Koet, kami mampir ke rumah om Djun Foh yang papahnya bernama generasi Seong, asal Amfoang, Timor, tapi kemudian pindah ke Kupang. Dari Engkong Tjung Tjong Seong yang di tahun 60an tinggal di daerah Naikoten ini seingat saya ada 5 atau 6 anak lelaki. Bagian mana silsilah mereka saya tidak sempat tanya sewaktu engkong Tjong Seong masih hidup. Yang jelas, data keturunanan leluhur saya, Tjung Nam Tjang betul-betul sudah hampir punah.

Dulu, sebelum PD II, di Jalan Siliwangi Kupang sekarang, ada sebuah Klenteng Marga Tjung yang megah. Sampai awal tahun 70an, bekas bangunan itu masih ada dan saya mengenal om Piet, kakaknya om Djung Foh yang menjaga bangunan ini. Sekitar tahun 1967, saya masih ingat ada papan besar berisi silsilah keluarga Tjung di Timor Kupang. Saya tak tahu, siapa yang memegang catatan itu sekarang, dan apa ada yang masih bisa membaca catatan itu selain beberapa sepupu saya yang usianya rata-rata sudah di atas 70an. Generasi setelah saya pada umumnya buta aksara Tionghoa.

Ko Tjin Wu misalnya bersaudara lelaki 5 orang, Tjin Yue, papanya Yulita, lalu koh Tjin Wu, Tjin It, Tjin Siong dan Tjin Kae yang saya kunjungi. Saya tak tahu apa nama anak-anak mereka setelah badai gantinama dipaksa negara. Selain nama anak-anak ko Tjin Yue yang memakai marga Tjundawan atau nama saya dan adik-adik yang memakai nama Tanone dari marga ibunya papa, yang Timor asli, saya sudah tidak tahu lagi nama marga sanak famili keturunan leluhur kami Tjung Nam Tjang ini.

Kebetulan sempat sempat mengenyam pendidikan sekolah Tionghoa, saya merasakan keunikan budaya ini. Tapi dari teman-teman yang datang dari China daratan, terlihat bahwa mereka tidak terlalu memperhatikan lagi nama generasi di sana. Di tahun 2001, melalui forum Hakka, teman-teman di forum sempat menemukan desa leluhur yang tercantum dalam bompai atau batu nisan leluhur di atas. Menurut mereka, di kampung tersebut masih ada sekitar 200 keluarga bermarga Tjung atau Zhong dalam pinyin.

Saya sendiri melihat ini adalah suatu perubahan zaman yang tak mungkin diputar kembali, bagaikan mesin tik yang kini sudah terganti dengan komputer. Sistem pemberian nama berisi urutan generasi yang tadinya mudah ditelusuri, kini sudah tak mungkin lagi, terutama bila marga yang sama, sudah berubah berdasarkan lokalitas. Siapa yang akan menyangka misalnya kalau Jonathan Lassa dan Aris Tanone, dua anak Timor yang sempat mengenyam pendidikan tinggi, kemungkinan turun dari kakek buyut, dua bersaudara Tjung yang datang ke Timor sekitar 300 tahun lalu? Siapa yang menyangka kalau seorang mantan Dekan di sebuah Fakultas ternama di Jawa ternyata punya kakek yang berasal dari Kupang, dan tak lain adalah empek atau pakde saya?

Urusan nama itu yang muncul dalam benak saya setelah mengunjungi teman kelas saya Tjeang Kae atau sehari-hari dikenal dengan nama Encek Mea, sebelum pulang ke rumah untuk berangkat menuju ke Airport.

Masih ada dua tempat yang tidak sempat saya kunjungi. Pertama, Panti Asuhan Roslinnya Captain Budi Soehardi di desa Matani, dan Ronik Children Librarynya ibu Nanik Trickey di Jl. Lantana. Saya hanya bisa bilang maaf, nanti lain waktu, seperti juga halnya saya tidak sempat kunjungi sanak keluarga di Soe, maupun beberapa keluarga family dan teman-teman saya di Kupang.

Dengan rasa bersalah tak punya waktu mengunjungi teman-teman ini, akhirnya kami menuju ke Lapangan El Tari dan sempat berfoto bersama saudara/i dan ponakan-ponakan saya sebelum masuk ke ruang tunggu. Tentu saja, saya masih ingin kembali untuk bertemu dengan mereka yang masih belum sempat bertemu, dan pada kesempatan itu, tentu saya akan berziarah mencari kuburan-kuburan leluhur kami. Mungkin dari batu nisan mereka saya masih sempat mengumpul lagi catatan keluarga, sebelum akhirnya data-data itu ditelan zaman.

Kalau ada sumur di ladang,
bolehlah beta menumpang mandi,
kalau ada umur yang panjang,
bolehkan kita berjumpa lagi.

*Saya mulai menulis catatan ini tgl 9 Agustus lalu, tetapi karena masih mencari data, baru malam ini terselesaikan.