≡ Menu

Catatan Ziarah (15)

Kalau kita ke sana sekarang, kemungkinan bisa ketinggalan pesawat.

Itu yang adik saya ingatkan, ketika saya sebutkan nama-nama mereka yang masih ingin saya temui.

Akhirnya kami mampir sebentar ke toko ponakan saya, Lan dan Hing, putri tertua dan menantunya Cie Lien. Dari sana kami terus menuju Oepura, ke rumah sepupu saya, Tjin Kae atau sehari-hari dikenal dengan nama Koet.

Ada yang menarik dari nama Tionghoa dan saya tak yakin apakah generasi keturunan Tionghoa sekarang mengerti bagaimana aturan nama Tionghoa dahulu.

Nama Tionghoa pada umumnya terdiri dari 3 huruf, walaupun kadang ada yang cuma dua huruf saja. Huruf pertama dari nama Tionghoa menunjukkan marga seseorang. Itu universal. Hampir semua suku bangsa mengenal marga. Yang beda mungkin cara penempatan, apakah di depan atau di belakang. Perbedaannya, nama Tionghoa menaruh marga di depan, seperti Tan dalam Tan Joe Hok atau Soe dalam Soe Hok-Gie, sedangkan nama barat menaruh marga di belakang.

Tidak semua marga Tionghoa berhuruf tunggal. Dari sekian ratus nama keluarga Tionghoa yang tercatat, hanya ada berapa yang berhuruf dua. Para penggemar cersil karya Chin Yung (atau Jin Yong dalam pinyin) tentu masih ingat nama Auyang Hong si racun dari barat. Di Indonesia juga ada yang bermarga ganda Auyang ini, yaitu almarhum Auwyong Peng Koen atau P.K. Ojong, pendiri harian Kompas.

Yang belum pernah saya temui dalam nama etnik atau suku bangsa lain adalah jenjang generasi yang dikandung dalam huruf kedua atau ketiga. Misalnya, ada keluarga yang anak-anaknya diberi nama dengan huruf yang sama di tengah atau huruf yang sama di bagian akhir. Memang ada kecendrungan untuk memberi nama anak tanpa nama generasi sehingga banyak teman-teman dari China hanya mempunyai nama seperti Li Hong atau Zhou Ping saja. Dalam kedua nama ini saya menggunakan ejaan pinyin yang lazim dipakai di China.

Untuk contoh nama generasi, saya akan ambil nama Tionghoa Indonesia yang pada umumnya menggunakan ejaan Hokkian. Katakanlah ada encek Lim Ban Pit dengan nama generasi Ban. Saudara-saudara encek Ban Pit mungkin bernama, Lim Ban Leng, Lim Ban Liong, Lim Ban Teng. Sedangkan anak-anak mereka mungkin nama generasi bukan di huruf kedua tetapi huruf ketiga, dan semua berakhiran dengan huruf Seng. Sehingga bisa jadi semua anak dari Om Ban Pit, Ban Leng, Ban Liong dan Ban Teng akan bernama: Lim Kian Seng, Lim Kiat Seng, Lim Kang Seng, Lim Bun Seng, Lim Tek Seng dan Lim Sam Seng.

Saya masih ingat, waktu kecil, kalau ada yang menanyakan asal usul kami, papa saya suka mengulang-ngulang nama-nama berikut: Kian, Hiong, Seong, Foh. Baru setelah di Amerika, seorang sepupu saya, koh Tjin Wu mengirimkan copy dari batu nisan dari kuburan cikal-bakal kami yang ke Timor dan saya menyadari kalau apa yang papa sebutkan itu ternyata adalah nama 4 generasi sampai generasi papa saya.

Generasi pertama dari leluhur kami, Tjung Nam Tjang (Zhong Nan-Chang 钟南长) yang datang ke Timor ada empat anak lelaki, semua dengan nama generasi Kian (谦) di huruf ketiga. Anak mereka mempunya nama generasi Hiong (勋). Generasi ini ada 8 orang. Generasi ketiga nama generasinya Seong(祥), dan ada 8 orang juga pada saat itu. Sedangkan untuk generasi Foh (和) papa saya, sampai tahun 1894 ketika batu nisan leluhur saya dipasang saat mereka memperbaiki kuburan itu, hanya tercatat 7 orang bersaudara, belum termasuk 3 bersaudara papa saya, maupun sepupu segenerasi mereka yang lahir setelah batu nisan itu dipasang.

Nah, kedua generasi Seong dan Foh ini masih ada berapa yang tidak ada dalam batu nisan yang isinya saya cantumkan dalam gambar di bawah, berdasarkan data yang koh Tjin Wu salinkan dari batu nisan engkongtaitai, Nam Tjang itu.

Berapa hari lalu*, saya sempat bicara dengan seorang yang termasuk satu generasi dengan papa saya, om Tjung Djun Nyan. Beliau sekarang menetap di Sydney Australia. Dari beliaulah saya dapatkan lagi, kalau ketika leluhur saya datang, mereka datang dua bersaudara. Sampai sekarang sudah tak jelas lagi siapa kakak siapa adik. Tapi leluhur om Nyan ini bernama Tjung Tjung Tjang. (Zhong Cong-Chang 钟聪长). Entah mengapa nama generasi anak-anaknya tidak sama, tapi dari turun temurun, generasi bernama tengah Djun (云) ternyata satu generasi dengan generasi Foh. Seperti juga generasi saya, kami masih sempat diberi nama generasi Tjin di huruf kedua dan anak-anak keturunan Djun mendapat nama generasi Liang di huruf ketiga.

Menurut ceritera koh Tjin Wu, sebenarnya buku keluarga berisi nama berbagai leluhur kami dipegang oleh ayahnya saat menjadi guru sekolah Tionghoa di Ende, Flores. Tapi karena rumah mereka terbakar, buku keluarga itu pun ikut hangus. Nah, sewaktu menyusun catatan ini dan saya telpon ko Tjin Wu, kami berdua sama-sama menyesal, karena saat ini ko Tjin Wu sudah di atas usia 70an, sedangkan saya juga sudah masuk ke kepala 6. Sewaktu orang tua semua masih hidup, kami tak pernah tanyakan urusan silsilah ini. Jadi nampaknya tiada jalan lain, kecuali kalau ada di antara kami yang masih mengerti tulisan Tionghoa bisa menelusuri batu nisan yang ada dari anak cucu leluhur kami Tjung Nam Tjang ini atau saling bertukar info dengan generasi lansia untuk mengumpul data sebelum mereka dipanggil pulang Bapa di surga.

Yang tercantum dalam daftar itu yang masih terekam dalam ingatan saya adalah seorang empek atau pakde yang menurut ceritera papa saya, tinggal di Banyuwangi. Sewaktu masih kecil, sampai sekitar tahun 60an, dari tumpukan foto kuno di rumah, saya sempat melihat foto peti jenazahnya Empek Tjung Kung Foh atau Tjiong Kung Ho serta pasfoto dua putranya yang masih kecil dari generasi Tjin seperti saya. Ada juga kartu tahun baru dari Pome atau Bude dengan alamat di Jalan Stadion 22, Banyuwangi. Yang saya tak pernah sangka, ketika saya bertemu seorang Professor Fisika saat saya studi di Program Pasca Sarjana Bidang Optoelektroteknika dan Aplikasi Laser di Universitas Indonesia pada awal tahun 80an, kami sempat mengobrol tentang asal usul. Setelah saya tahu beliau berasal dari Banyuwangi, saya bilang kalau ada empek (pakde) saya di Banyuwangi tapi tak pernah kembali ke Timor sampai meninggal di awal tahun 50an. Anaknya mempunyai nama generasi tengah Tjin dan bermarga Tjung. Oh, Tjin Siang dan Tjin Wei, itu teman sekolah saya kata Profesor itu. Saya agak lupa-lupa ingat, seingat saya di sekitar tahun 70an saat masih kuliah di Yogya, saya pernah ketemu sebentar dengan koh Tjin Siang di Surabaya.

Selain itu yang saya tahu persis, dari engkong kami ada 4 bersaudara papa saya, dari dua ibu. Lalu masih ada lagi sepupu papa saya dari om-nya yang saya ingat ada 3 bersaudara. Tapi ada berapa anak laki dari generasi Seong, dan ada berapa lagi dari generasi Foh, sudah tak ada catatan.

Setelah keluar dari rumah sepupu saya Koet, kami mampir ke rumah om Djun Foh yang papahnya bernama generasi Seong, asal Amfoang, Timor, tapi kemudian pindah ke Kupang. Dari Engkong Tjung Tjong Seong yang di tahun 60an tinggal di daerah Naikoten ini seingat saya ada 5 atau 6 anak lelaki. Bagian mana silsilah mereka saya tidak sempat tanya sewaktu engkong Tjong Seong masih hidup. Yang jelas, data keturunanan leluhur saya, Tjung Nam Tjang betul-betul sudah hampir punah.

Dulu, sebelum PD II, di Jalan Siliwangi Kupang sekarang, ada sebuah Klenteng Marga Tjung yang megah. Sampai awal tahun 70an, bekas bangunan itu masih ada dan saya mengenal om Piet, kakaknya om Djung Foh yang menjaga bangunan ini. Sekitar tahun 1967, saya masih ingat ada papan besar berisi silsilah keluarga Tjung di Timor Kupang. Saya tak tahu, siapa yang memegang catatan itu sekarang, dan apa ada yang masih bisa membaca catatan itu selain beberapa sepupu saya yang usianya rata-rata sudah di atas 70an. Generasi setelah saya pada umumnya buta aksara Tionghoa.

Ko Tjin Wu misalnya bersaudara lelaki 5 orang, Tjin Yue, papanya Yulita, lalu koh Tjin Wu, Tjin It, Tjin Siong dan Tjin Kae yang saya kunjungi. Saya tak tahu apa nama anak-anak mereka setelah badai gantinama dipaksa negara. Selain nama anak-anak ko Tjin Yue yang memakai marga Tjundawan atau nama saya dan adik-adik yang memakai nama Tanone dari marga ibunya papa, yang Timor asli, saya sudah tidak tahu lagi nama marga sanak famili keturunan leluhur kami Tjung Nam Tjang ini.

Kebetulan sempat sempat mengenyam pendidikan sekolah Tionghoa, saya merasakan keunikan budaya ini. Tapi dari teman-teman yang datang dari China daratan, terlihat bahwa mereka tidak terlalu memperhatikan lagi nama generasi di sana. Di tahun 2001, melalui forum Hakka, teman-teman di forum sempat menemukan desa leluhur yang tercantum dalam bompai atau batu nisan leluhur di atas. Menurut mereka, di kampung tersebut masih ada sekitar 200 keluarga bermarga Tjung atau Zhong dalam pinyin.

Saya sendiri melihat ini adalah suatu perubahan zaman yang tak mungkin diputar kembali, bagaikan mesin tik yang kini sudah terganti dengan komputer. Sistem pemberian nama berisi urutan generasi yang tadinya mudah ditelusuri, kini sudah tak mungkin lagi, terutama bila marga yang sama, sudah berubah berdasarkan lokalitas. Siapa yang akan menyangka misalnya kalau Jonathan Lassa dan Aris Tanone, dua anak Timor yang sempat mengenyam pendidikan tinggi, kemungkinan turun dari kakek buyut, dua bersaudara Tjung yang datang ke Timor sekitar 300 tahun lalu? Siapa yang menyangka kalau seorang mantan Dekan di sebuah Fakultas ternama di Jawa ternyata punya kakek yang berasal dari Kupang, dan tak lain adalah empek atau pakde saya?

Urusan nama itu yang muncul dalam benak saya setelah mengunjungi teman kelas saya Tjeang Kae atau sehari-hari dikenal dengan nama Encek Mea, sebelum pulang ke rumah untuk berangkat menuju ke Airport.

Masih ada dua tempat yang tidak sempat saya kunjungi. Pertama, Panti Asuhan Roslinnya Captain Budi Soehardi di desa Matani, dan Ronik Children Librarynya ibu Nanik Trickey di Jl. Lantana. Saya hanya bisa bilang maaf, nanti lain waktu, seperti juga halnya saya tidak sempat kunjungi sanak keluarga di Soe, maupun beberapa keluarga family dan teman-teman saya di Kupang.

Dengan rasa bersalah tak punya waktu mengunjungi teman-teman ini, akhirnya kami menuju ke Lapangan El Tari dan sempat berfoto bersama saudara/i dan ponakan-ponakan saya sebelum masuk ke ruang tunggu. Tentu saja, saya masih ingin kembali untuk bertemu dengan mereka yang masih belum sempat bertemu, dan pada kesempatan itu, tentu saya akan berziarah mencari kuburan-kuburan leluhur kami. Mungkin dari batu nisan mereka saya masih sempat mengumpul lagi catatan keluarga, sebelum akhirnya data-data itu ditelan zaman.

Kalau ada sumur di ladang,
bolehlah beta menumpang mandi,
kalau ada umur yang panjang,
bolehkan kita berjumpa lagi.

*Saya mulai menulis catatan ini tgl 9 Agustus lalu, tetapi karena masih mencari data, baru malam ini terselesaikan.

{ 34 comments… add one }
  • Djemi lassa October 13, 2011, 11:20 am

    Wowwww amazing!
    Kapan bs reuni ya? Biar bs kenalan dengan semua rumpun keluarga yg d sebutkan d atas?

  • drt November 7, 2011, 10:45 pm

    Djemi, dengan Jon gimana hubungannya? Kalau bisa dapatkan silsilah keluarga, akan sangat membantu upaya penelusuran saya. Makasih dan maaf baru sekarang sempat berkomentar.

  • tjung sen ren July 31, 2013, 11:53 pm

    Menurut papa saya, koh ini anak dari TJUNG TIT FOH, apakah betul?
    Kalau betul, berarti papa saya pangkatnya asuk, dan saya pangkat nya adik..
    Papa saya TJUNG TAT HAN/ZHONG DA HAN.. Kita dari Kupang-Timor..
    Bertempat tinggal di toko Sudimampir, Jln. Jendral Sudirman No.8..
    Mohon balasannya..

  • Zhong Liang Hin August 6, 2013, 10:20 am

    Permisi, mau tanya, benarkah marga yang dimaksud diatas adalah marga 钟 zhōng ? sekedar informasi, mungkin berhubungan dengan keluarga saya, kung2 saya(Tjung Tjuk Kin) asli org hakka/khek, kurang lebih dari sekitar Guangdong, apoh (Tjhia Tjin Siu) dari Muntok, Bangka, papa saya Tjung Jin Tjoi, saya diberi nama dari apoh saya Tjung Liang Hin. Apakah ada hubungan keluarga Tjung di Bangka dgn keluarga Tjung di Timor?
    Mohon balasannya

  • drt August 6, 2013, 12:49 pm

    Benar . Itu marga yang Saya maksudkan. Soal hubungan satu-satu yang bisa ditelusuri mungkin Dari bongpai leluhur saudara. Apakah mereka berasal Dari kampung yang sama? Terima kasih atas kunjungan anda.

  • Zhong Liang Hin August 6, 2013, 8:31 pm

    Kalau soal itu saya tidak tahu sama sekali, saya lahir sesudah kung2 saya meninggal, papa saya pun tidak tahu menahu tentang leluhurnya dan kampung asal kung2 saya, karena memang masa kecil papa saya tidak hidup bersama kung2. Kalau boleh tahu, keluarga Tjung di Timor berasal dari desa mana, mungkin papa saya bisa tahu sedikit2, apak dan asuk saya bisa beritahu tentang asal leluhur saya. Thk

  • santo December 31, 2013, 11:27 pm

    sy jg bermarga cung,….tp domisili di pontianak

  • drt January 1, 2014, 2:23 am

    Apa tahu nama kampung leluhurnya, Santo, misalnya lewat batu bongpai?

  • zhong cen yong June 18, 2014, 10:32 am

    Saya juga marga zhong.saya lahir dimedan,akong saya dl kerja dikapal laut.seyau w akong saya lahir diguangdong.

  • daniel tagu dedo August 16, 2014, 5:24 am

    Luar biasa catatan ziarah yang disampaikan. Beta baca karena sedang penasaran bahwa Oma Saya Caroline Adjid – Theedens, yaitu Mama dari Mama saya Fransisca Maria Adjid; ternyata Mamanya adalah keturunan Tionghoa dari Atambua dengan Marga Tjung. Beta iseng2 ketik di Google “Tjung Silsilah di Timor” dan muncul web ini.

    Sedangkan Theedens pertama kali ada di Indonesia adalah Gubernur Jendral Belanda di Indonesia tahun 1741-1743 di Batavia dan meninggal di Batavia. Belum dapat hubungannya kenapa ada Theedens di Timor, bahkan yang kuburannya ada di Atapupu.

    Demikian sekedar info. Mudah-mudahan upaya mencari silsilah leluhur ini dapat memperkuat tali persaudaraan kita umat manusia.

  • drt August 16, 2014, 8:47 am

    Bung Daniel. Terima kasih sudah mampir. Ini bung Daniel anggota pak Laru Bolelebo dulu? Sudah lama ya sejak pertukaran info di Paklaru Bolelebo ya? Maklum sejak maraknya FB, saya sudah hampir tak pernah ke sana lagi.

    Soal Tjung dari Atambua, saya tidak punya kontak sama sekali. Tapi yang pasti, Atambua itu kebanyakan masyarakat Tionghoa berasal dari suku Kek atau Hakka, dan keluarga Tjung di sana pasti Tjung dari Hakka dan bukan Tjung dari Hokkian, seperti misalnya keluarga Tjung yang punya pabrik Es di Kupang dulu. 🙂 Itu paling tidak yang saya ingat dari ceritera orang tua.

    Baru-baru ini saya mendapat info dari keluarga Lake. Rupanya leluhur kami itu sama saja. Kemana-mana yang diincar anak Meo atau Raja. Makanya ada turunan Tanone-Tjung, juga ada turunan Lake-Tjung dari TTU sana. Jadi kalau bung Daniel sempat, coba tolong cek dengan pak Anton Lake, kalau tak salah pensiunan dari kantor Gubernur, atau pun pak Frans Lake. Beliau berdua dulu senior-senior saya di GAMA di tahun 70-an. Baru tahun belakangan ini saya tahu kalau ada Lake-Tjung juga. Siapa tahu dari sana bung Daniel bisa ketemu info tentang keluarga Lake di Atambua.

    Semoga berhasil. Tolong kasih nomor HP di sini. Postingnya baru akan muncul kalau saya loloskan, makanya nomor HP bung Daniel aman. 🙂 Nanti kapan-kapan saya telpon ya.

  • La Ode Husain January 17, 2015, 5:38 am

    dalam silsilah masih ada moyang kami dr tionghoa, bersudara 7 org 1 perempuan n singkatx mereka naik perahu dr negerix sampai terdampar di kupang tepatx dirote n kemudian mrk berpencar ada yg di ambon, di dumai, dikupang, surabaya, bau2 dll n konon dikupang msh ada duplikatx perahu mrk disimpan n turunanx disana setiap tahunx diperingati peristiwa bersejarah tsb utk mengenang skaligus ajang silaturahmi bg turunan marga TAN.
    menyimak silsilah diatas bisa jadi masuk generasi ke-3 krn menurut penuturan nenek kami dulu sebelum meninggal kami adalah generasi ke-5 dalm marga Tan, tetapi tuk penyebutan generasi kami sangat tak ngerti, klo tak salah namanya di buton adah baba sule

  • La Ode Husain January 17, 2015, 5:45 am

    minta tolong siapa saja nama-nama dari generasi Foh yg hanya tercatat 7 orang bersaudara tersebut, n dimana saja anak cucunya skarang berdomisili

  • La Ode Husain January 17, 2015, 5:52 am

    maaf kami blom kenal nama mandarin kakek/nenek kami krn waktu di binongko kami masih berusia 7 tahun. nomor kontak person saya 085270776668, sedangkan kakak saya abdul kasim nomor kontak personya 085255195354, kakak saya inilah yg sedikit lebih mengerti tentang marga tan dan generasi kami

  • La Ode Husain January 17, 2015, 11:02 am

    maaf salah ketik, “BABA SULI” tinggal di Binongko (Kepulauan Tukang Besi/ Wakatobi) Sulawesi Tenggara

  • Suryadi Rahmat August 23, 2016, 6:38 pm

    Nama Tionghoa sy, Tjung fat Yung, papa Tjung Kim Tjong, Kakek Tjung muk liong….. selanjutnya tidak tau lg drmana keturunan sy berasal….Oya papa pernah bilang kl kami dr suku kek dan Kakek berasal dr nankin Kakek dl menetap di daerah Sepatan Tangerang…sy tdk tahu lg siapa saudara-saudara yg satu keturunan marga Tjung ini….

  • drt August 23, 2016, 9:35 pm

    Sdr. Suryadi,

    Biasanya pada kuburan Tionghoa, batu nisannya berisi informasi tentang asal usul yang dikuburkan di situ. Kalau kuburan kakek sdr ada batu nisan yang masih menggunakan huruf Tionghoa, kemungkinan berisi info tersebut. Seandainya tak ada yang bisa bacakan, mungkin anda bisa postkan foto tersebut dan saya yakin masih banyak yang bisa membantu anda. Oh, ya. website ini sudah tidak saya update tetapi kalau ada komentar seperti ini sebisa mungkin saya cari waktu menjawab.

  • Tjung cie cheng September 3, 2016, 11:23 am

    Nama saya tjung cue cheng ataw hakka bilang tjung cie sang.papa saya tjung jie phin.atas lgi tjung djun sem.atas lagi tjung kho ju.latar belakang lebih ke kalimantan.mgkin ada yg kenal.klo ga salah saya di generasi 21.minta petunjuknya.krn saya ingin sekali tau asal usul marga tjung/zhong ini.

  • drt September 3, 2016, 5:45 pm

    Cie Chen, usul saya, coba periksa bongpai leluhurnya, mungkin masih bisa ditelusuri asal usul kampung leluhurnya. Kalau sudah tak bisa baca huruf Tionghoanya, silahkan posting ke sini. Saya yakin banyak yang bisa bantu.

  • Denny January 2, 2017, 12:20 am

    Selamat siang, salam kenal, saya Denny Erwan, papa saya juga bermarga Tjung dan namanya Tjung Tat Seong dari Kuonino, Kupang. Beliau dulu adalah seorang marinir di Surabaya, kini papa sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Yang mau saya tanyakan yaitu tentang nama anak2x papa saya itu pake nama apa ya? Bisakah saya di beri info tentang hal ini, karena saya mau memegang tradisi ini sampe keketurunan saya berikutnya. Mohon di bantu ya Om?

  • drt January 3, 2017, 12:24 am

    Denny,

    Coba baca komentar adik Tjung Seng Ren tertanggal 31 July, 2013 di atas. Dari info yang saya dapat, Kungnya Seng Ren dan kungnya Denny itu kakak beradik. Entah apakah asuk Tat Han masih menyimpan buku urutan nama. Coba kontak dengan Seng Ren, entah siapa yang lebih tua. Tapi itu masih saudaramu dari Kuanino. Bisa tulis surat ke alamat di atas, atau bisa cari ke FB. Kalau keluarga mereka masih menyimpan buku nama, pasti pertanyaanmu bisa terjawab.

    Seingat saya dulu di Kongsi Macam, ada juga silsilah keluarga Tjung di Kupang. Tapi itu dari sekitar tahun 1967. Sekarang Kongsi Macan sudah tidak ada lagi. Mungkin keluarga adik Seng Ren menympan copynya.

    Selamat mencoba. Semoga berhasil.

  • Benny Tjundawan March 10, 2017, 10:36 pm

    Wah ini sudah jadi catatan sejarah yg berharga ini suk. Tidak sangka sangka asuk membuat catatan ini, jadi kita di generasi selanjutnya bisa mendapat pengetahuan, terimakasih suk atas karjanya diwaktu lampau^^

  • drt March 11, 2017, 12:44 pm

    Informasi bongpai itu dapat langsung dari almarhum Empek Tjing Wu yang khusus ke kuburannya dan copykan data itu pakai tangan lalu berikan ke saya. Siapa lagi di antara anak cucu yang tahu di mana letak kuburan para leluhur? 😀

  • Feny March 17, 2017, 5:46 am

    Selamat sore Suk, saya Feny, kebetulan, sejauh ini saya masih penasaran dan masih mencari saudara2 leluhur saya, kakek saya bernama (鍾) Tjung Loi Sen generasi ke 23, papa saya bernama Tjung Nyan Phin generasi ke 24, dan saya sendiri Tjung Su Ling generasi ke 25. Kampung leluhur kami di Guangdong. Awal datang ke Indonesia, singgah di Kalimantan, Apa saya bisa memperoleh informasi lebih lanjut? Barangkali saya bisa ketemu dan mengenal lebih lanjut saudara-saudara saya.

  • Feny March 17, 2017, 5:52 am

    Salam kenal, saya Tjung Su Ling, Saya mau tanya Zhong cen yong generasi ke berapa ya? Leluhur saya juga sama dari Guangdong.

  • drt March 17, 2017, 9:51 am

    Su Ling, terima kasih sudah mampir. Maaf ya, saya tak tahu referensi perhitungan generasi. Seperti sudah saya katakan, info terbaik ada di batu nisan leluhur. Tanpa info itu saya juga tak tahu bagaimana menelusurinya. Maay ya.

  • yanti tjung March 20, 2017, 4:46 am

    Zhong Liang Hin : Ko, saya Yanti. kalau dibaca dari komen ko Zhong liang Hin , sepertinya keturanannya mirip dengan daftar keturunan papa saya. Papa saya sedang mencari informasi juga soal keturunan marga Tjung dan sangat ingin berjumpa dengan saudaranya. Papa saya Tjung Lip Fui , anak laki-laki dari papa saya diberikan nama tengan Tjin(sin) contoh nama Tjung Tjin Cu, cucu laki papa saya diberikan nama tengan Liang (liong ) contoh nama Tjung Liang Fu, generasi selanjutnya yang akan datang urutannya nama tengahnya thao , pit , ni , yun . asal kami dari bangka belinyu , kakek saya alm. Tjung Lung Tham asal Guang dong .Saya terima kasih untuk Ko DRT atas blog nya yang sangat bermanfaat untuk mencari informasi soal silsilah marga Tjung. hp : 081281909291 .

  • drt March 21, 2017, 12:50 am

    Yanti,

    Kalau ada huruf Tionghoanya, bisa sangat membantu. Apalagi kalau ada foto Bongpai leluhur, bisa-bisa ada nama kampungnya di sana. Bagus sekali generasi anda sekalian masih punya silsilah. Silsilah keluarga kami ikut terbakar waktu rumah empek saya terbakar zaman dahulu. Kalau boleh tahu nama tengah Tjin saudara laki-lakimu itu huruf Tjin yang artinya apa ya?
    Saya harap sdr. Zhong Liang Hin masih sempat baca posting ini dan bisa hubungi Yanti. Maklum itu posting dari tahun 2013. Kalau sempat saya cari email ybs.

  • Tjung Fen Lie May 18, 2017, 2:50 pm

    Ayo marga Tjung kumpul. Leluhur dari moyan guandong sampai di bangka mentok. Kung2 saya Tjung ten ngian ayah saya tjung chiu khin dan saya Cung Fen Lie koko saya Cung fen Choi. Anak saya skrng Cung Yiu Kim. Add facebook biar saling kenal Hendra Zhong

  • Amon Fernand June 24, 2017, 12:08 pm

    Hi
    Keluarga besar saya juga marga Zhong dan sudah menemukan kuburan leluhur 5 generasi diatas saya, apakah saya bisa mendapatkan e-mail anda, thanks

  • drt June 24, 2017, 4:50 pm

    Sdr Amon, silahkan email ke aris@28oktober.net. Berhubung saya sedang di luar kota, saya akan usaha jawab sebisa saya. Terima kasih.

  • cenyong August 12, 2017, 10:26 pm

    saya kurang tau dari generasi brp.kamu ada WA.Whats App saya 087869688858.spya bs reunian

  • cenyong August 12, 2017, 10:28 pm

    kita saling tukaran WA.spya bs kmpul sesama narga zhong.WA 087869688858.email.cenyong8181@gmail.com

  • cenyong November 14, 2017, 9:46 am

    saya generasi ke3.kakek.hbs itu bapak saya cong tek min.baru kami .nama saya cong cen yong

Leave a Comment

Next post:

Previous post: