โ‰ก Menu

Catatan Ziarah (16)

Kalau tidak segera ditulis, sebentar lagi kamu bakal lupa detail ceriteranya.

Begitulah setiap hari saya suka ingatkan diri, setiap duduk di depan komputer. Akan tetapi kesibukan betul-betul menyita seluruh waktu saya, makanya catatan ini tak sempat saya lanjuti. Tapi daripada detil ceritera perjalanan saya menguap begitu saja bersama lalunya waktu, saya akan berusaha menulis seseingat saya, untuk merekam kembali catatan perjalanan singkat saat menapaki jalan kenangan tiga bulan yang lalu.

Ketika mobil kami tiba di Bandara Eltari, semua saudara dan ponakan-ponakan maupun anak mereka sudah pada menunggu di sana. Tiba-tiba ada satu pertanyaan yang menyelinap, saat saya melihat gerombolan itu.

Siapa saja ya yang mengantar ke bandara yang waktu itu hanya dikenal dengan nama Penfui, waktu saya pertama kali tinggalkan Kupang?

Saya masih ingat, waktu itu saya berangkat bersama teman kelas di SMA Giovanni, Adi, yang juga teman sejak Kelas Nol atau TK di Sekolah Tionghoa dulu. Kami berdua terbang ke Surabaya. Di sana kami dijemput kakaknya Adi, yang kemudian menjadi teman kuliah saya di UGM hanya berlainan Fakultas. Saya di FIPA Fisika, dia di Teknik Kimia. Padahal kakaknya dulu teman sekelas dengan almarhum kakak saya dan mereka empat tahun di atas saya dan Adi. Kami di TK, mereka sudah kelas 4. Bedanya, dalam proses perpindahan dari Sekolah Tionghoa ke Sekolah Indonesia, Adi dan saya meloncat kelas, kakaknya harus mengulang kelas yang sama dan sempat cuti tidak sekolah begitu ada keributan penutupan semua sekolah Tionghoa di Indonesia setelah tragedy bangsa di tahun 1965.

Saya hanya tinggal di Surabaya untuk melihat ke ITS (Institut Teknologi Surabaya), tetapi dua hari kemudian terus ke Yogya dengan menumpang bus DAMRI.

Itu, akhir tahun 1969. Saya lupa tanggalnya. Tapi tentu saja saya ingat, waktu itu saya malah belum genap berusia 19 tahun. ๐Ÿ™‚

Sampai beberapa tahun lalu saya masih menyimpan ingatan bahwa keberangkatan kami di bulan November. Saya malah merasa pasti bahwa kami tinggalkan Kupang pada tanggal 3 November. Tapi tahun kemarin dari Facebook saya melihat Enny mencantumkan tanggal lahirnya 21 Oktober. Saya perrlu cek lagi Ijazah SMA saya untuk lihat tanggalnya. Saya merasa dari tanggal 21 Oktober sampai 3 November, waktunya terlalu singka untuk proses ujian sampai dapatkan ijazah. Apakah Enny lahir saat kami ujian? Saya tak ingat persis lagi.

Apalagi bulan November! Banyak tanggal yang mengganggu pikiran saya tentang bulan November. Ulang tahun pernikahan kami di pertengahan November. Sekarang saya malah suka berpikir, apa betul kami berangkat tanggal 3 November? Kenapa tanggal 3 dan bukan tanggal 24 atau 29? Tapi apa artinya sebuah tanggal, dan artinya perbedaan hari dalam sebulan kalau kita melihat ke rentang waktu empat puluh dua tahun yang lebih dari 14,000 hari? Saya cuma bisa mengangkat bahu.

Tapi ada yang mengganggu di hati. Dari kumpulan foto bersama di bandara maupun foto-foto selama dua malam di Kupang, selain senyuman kegembiraan mereka, saya juga melihat garis-garis ketuaan yang telah menggerogoti wajah-wajah mereka. Ada satu kesedihan jauh dalam lubuk hati yang sulit saya jelaskan. Selain kebanggaan mereka akan keberhasilan saya di rantau, apa saja yang sudah saya perbuat untuk mereka? Perasaan itu sudah lama menggangu saya terutama setelah beberapa insiden kecil ketika mereka tahu saya aktif dalam urusan menggalang dana karitas.

Tahu-tahu, ponakan saya Mimie – kakaknya Enny yang jauh-jauh datang dari Soe bersama keluarganya untuk menemui saya, menyodorkan telponnya sambil bilang, dari Om Unu. Bung Unu adalah cucu ponakan Nenek saya dari keluarga besar Tahun di Soe. Tentu saja saya berterimakasih sekali, karena beliau mau buang waktu menelpon saya. Malam sebelumnya saya telah menelpon meminta maaf bahwa saya tak bisa datang ke Soe berhubung masalah tiket pesawat yang tertunda dan waktu saya yang cuma dua hari. Saya hanya bisa pamitan lewat telpon, tapi saya berterima kasih bahwa paling tidak saya tak sampai diomeli, seperti kejadian dengan teman-teman yang tahu kalau saya sempat ke Kupang tapi tidak sempat temui mereka. Mereka mengomel ke adik saya. ๐Ÿ™‚

Setelah foto bersama, saya pamitan dan terus masuk ke ruang tunggu. Mereka bilang akan melihat saya dari luar gedung. Tapi sampai masuk pesawat saya tak tahu mereka berdiri di sebelah mana.

Selain itu, masih ada satu hal yang memberatkan hati saat berangkat. Tacik saya Lien harus operasi untuk mengeluarkan tumor dalam tubuhnya. Itu sebabnya saya ambil kesempatan waktu ziarah ke makam mertua dan mampir ke Kupang dahulu untuk menemui cik Lien. Dia tujuh tahun lebih tua dari saya, dan semasa kecil saya paling dimanjakannya. Tapi daripada memikiri yang bukan-bukan, saya alihkan pikiran ke tujuan berikut, Denpasar terus ke Surabaya.

Berbeda dengan waktu dari Denpasar ke Kupang, kali ini tak ada yang mengenal saya di pesawat atau tak ada yang saya kenal seperti pertemuan dengan Dr. Servas Parera waktu itu. Saya duduk di antara para Manager dari sebuah BUMN di Kupang yang akan menghadiri rapat di Bali. Saya akan punya waktu 3 jam di Denpasar menunggu penerbangan berikut ke Surabaya. Makanya begitu turun sudah ditunggui Yulita. Tapi itu adalah catatan berikut dan sekarang waktu untuk tidur.*

Daylight โ€“
I must wait for the sunrise.
I must think of a new life
And I mustnโ€™t give in.
When the dawn comes tonight will be a memory too.
And a new day will begin.

…. dari Memorinya Cat si Kucing.

{ 2 comments… add one }
  • Katemak October 1, 2011, 3:57 am

    Om Kribo pung refleksi ni bikin beta ‘tatoa’. Beta ingat satu waktu wawancara satu orang Imam dari Dili, dan meminta komentarnya terhadap kesulitan dia jawab: โ€œ This is very big problem but unfortunately I have no solution, also I know this is one reality.โ€

    Selalu meninggalkan dilema yang mendalam. Siapakah yang harus kita bantu pertama kali? Ini pertanyaan terlalu susah memang untuk dijawab, jadi kalo ‘minta top’ memang wajar.

    Apalagi kalo kita sudah dianggap berhasil, dan mampu. Orang tentu berharap ‘kita bisa bikin sesuatu’. Ketidakmampuan mewujudkan ‘harapan orang lain yang sangat kita cintai’ tentu meninggalkan goresan di dinding rasa. Apalagi kalau kita terbiasa optimis. Tetapi memang tidak mungkin juga kita menyelesaikan seluruh persoalan.

    Dengan nalar, orang biasa bilang ‘tentukan prioritas’, tetapi kalo pakai nalar saja ‘reaksi spontan’ sebagai manusia juga diabaikan. Beta rasa di sisi ini memang susah. Dan seperti biasa, diam merupakan momentum untuk mencari jawaban. Diam bukan karena antipati, tetapi itu masalah yang memang sulit dipecahkan. Sebab tuntutan keluarga ada benarnya, dan tindakan membantu ‘orang lain’ juga ada benarnya. Kalau semua benar, apa ada ‘kebaikan yang lebih tinggi’.

    Jadi orang Kristiani, jadi misionaris ke berbagai tempat sudah jadi tradisi. Banyak orang berkorban, dan tidak pernah melihat keluarganya. Termasuk ide soal ‘belajar’ merantau ke tempat lain, membuat kita jarang ketemu keluarga.

    Kesulitan-kesulitan itu bikin kita bertanya ulang, apa artinya belajar, merantau, dll, kalau kesulitan dalam keluarga tidak mampu kita tangani.

    Beta berpikir banyak soal yang sama. Tapi kembali lagi, beta serahkan ‘apa yang tidak mampu beta pecahkan dalam jangkauan kemampuan manusia’ kepada Pencipta. Mungkin sikap asketik ini membantu. Adanya internet membuat arus informasi juga makin cepat. Tidak jarang bikin botong ‘berdoa’ di depan facebook. Tahu ada kesulitan di seberang, tapi tidak mampu untuk selesaikan. Doa jadi cara untuk membantu, meskipun kalo ingat tuntutan Marx, bahwa ‘harus ada yang bisa dibikin’ membuat kita juga bertanya ‘Apa saja yang belum dilakukan?’

    Ini beta punya pertanyaan tesis yang beta sedang kerjakan….masih jauh dari jawaban. hehehe. Tapi harus selesai, jadi refleksi harus ditutup. Dan harus bikin sesuatu.

  • drt November 7, 2011, 10:42 pm

    El, maaf baru malam ini sempat melihat kembali catatan ini dan baca komentarmu. Benar, banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab dalam hidup ini. Tapi ada ungkapan bahasa Tionghoa (้—ฎๅฟƒๆ— ๆ„ง wen xin wu kui) yang membuat saya tabah menghadapi semua persoalan ini, termasuk salah tanggap, bahkan tuduhan yang bukan-bukan. Wen xin berarti tanya ke hatimu, tanya ke nuranimu. Wu kui maksudnya tak ada yang memalukan. Makanya dalam urusan yang saya singgung di atas, biarlah waktu yang menjadi juri terbaik. Makasih atas kunjungan dan komentar-komentarmu.

Leave a Comment

Next post:

Previous post: