Catatan Ziarah (17)

print

Kalau harus menunggu selama tiga jam di Ngurah Rai, lebih baik keluar sebentar dan kita jalan-jalan ke Kuta.

Begitu kata Yulita saat melihat jadwal saya sebelum saya berangkat ke Kupang dari Denpasar tiga hari sebelumnya. Makanya begitu turun, saya terus keluar dari Bandara dan Yulita sudah menuggu.

Salah satu pojok jalan menuju airport Ngurah Rai.Sur, suaminya yang Dokter Gigi sedang melayani pasien sehingga Yul hanya diantar supir. Dari Airport kami menuju ke Centro Mall, lalu melihat sebentar ke pantai terus masuk ke salah satu restaurant di dalam mall.

Dalam kesempatan yang singkat itu, Yul lalu kemukakan keinginannya bersama adiknya Theresa untuk berbuat sesuatu buat kampung halamannya di Flores.

Apa yang kalian inginkan, tanya saya.

Kami ingin bangun sekolah kejuruan buat mereka yang putus sekolah.

Wah, itu ide bagus sekali. Bagaimana kalau kamu bicarakan hal itu dengan sepupumu yang mantan dekan Fakultas Teknik. Sekarang dia sudah pensiun dan aktif di Gereja. Mungkin ide membangun sekolah kejuruan itu ide yang menarik.

Tentu saja Yulita terbengong-bengong mendengar saya bilang sepupunya yang mantan Dekan.

Kamu tahu empek Tjin Seang, tanya saya?

Iya, tahu.

Nah, itu ponakannya empek Tjin Seang. Putra saudara prempuannya.

Oh, begitu.

Lalu saya mulai mendongenkan ceritera bagaimana saya bertemu dengan sepupunya Yulita yang dia sendiri tak tahu ini.

Tak terasa dua jam sudah berlalu. Yulita sebagai dokter tidak merasa heran melihat saya hanya memakan makanan vegetarian.

Setelah makan saya diantar kembali ke bandara, menanti penerbangan saya ke Surabaya.

Saya ingat beberapa bulan sebelum berangkat, saya sempat temukan buku Eat, Pray, Love: One Woman’s Search for Everything Across Italy, India and Indonesia yang mengisahkan petualang seorang penulis wanita Amerika yang sempat bertualang ke Italy, India dan Bali. Ignasia, putri saya merasa janggal ketika saya ceriterakan bahwa karena kesibukan, walau saya beli buku itu, saya tidak baca dari depan tetapi saya loncati ceritera tentang Italy dan India dan langsung ke bagian akhir yang mengisahkan petualang si Liz, tokoh ceritera itu di Bali.

Saya tertarik buku itu karena kebetulan waktu melewati jajaran buku-buku baru di toko buku, sempat melihat judul dan buka sebentar, koq ada ceritera tentang Indonesia.

Ada perasaan jengkel sewaktu membaca kisah mengenai seorang dukun wanita Bali dalam ceritera itu. Penulisnya menceriterakan bagaimana dukun itu mengatasi persoalan rumah tangga pasiennya, kalau ternyata sang suami mandul. Sang istri yang datang berobat dibiarkan berhubungan intim dengan tukang ojek di dekat rumah dukunnya. Wah? Apa benar seperti begitu ya? Apa masyarakat Bali memang agak terbuka dalam urusan hubungan seksual? Untung di sana belum sampai ada urusan tes DNA ya? Dan itu satu-satunya kesan jelek yang tertinggal dari buku itu. Sebenarnya sudah ada juga versi film buku itu, tapi saya belum sempat nonton.

Ada lagi satu buku tentang sex yang ditulis seorang penulis Amerika, seorang dosen sosiologi sebuah universitas di Seattle, negara bagian Washington, berjudul Prime: Adventures and Advice on Sex, Love, and the Sensual Years atau Prima, Petualangan dan Nasihat tentang Sex, Cinta dan Tahun-tahun Penuh Gairah. Sayang tak banyak lagi yang saya ingat tentang buku itu selain judulnya, dan istilah Kuta Cowboy buat para Gigolo yang mengincar perempuan barat yang kesepian di Bali. Dr. Pepper Schwartz memilih Bali untuk menyelesaikan buku itu, dan ada ceritera bagaimana pengalaman dia saat dipijat oleh empat tangan dan dia sendiri sempat berbugil ria. Seingat saya, waktu kami masih kecil, konon wanita di Bali selalu bertelanjang dada, dan banyak sekali foto-foto wanita Bali saat itu selalu bertelanjang dada. Tapi tentu saja sore itu kami tidak temukan seorang pun dalam persinggahan selama 3 jam itu.

Sewaktu kuliah dan berlibur ke Kupang dulu, pernah saya naik bus malam dari Surabaya ke Denpasar, menyebrangi Banyuwangi ke Gilimanuk dengan ferry, baru terbang ke Kupang dari Denpasar. Setelah itu sesudah bekerja pun, saya seringkali lewat Denpasar tapi hanya mampir sebentar di Airport kalau pulang dari Jawa ke Kupang.

Selain buku Ktut Tantri, Revolusi di Nusa Damai, atau teman-teman asal Bali di Kupang, kesan saya terhadap Pulau Bali tidak begitu mendalam karena waktu saya di Bali hanya sebatas menunggu penerbangan berikut dari perjalan Jawa ke Timor pp.

Mungkin kalau sudah pensiun nanti baru kami akan main ke sana untuk menikmati tarian kecak dan berbagai atraksi kehidupan di Bali seperti yang sering kami lihat lewat film atau majalah maupun dari Internet. Ketika menulis catatan ini, nama seorang guru Yoga yang mengikuti Komodo Tour di awal tahun 60an tiba-tiba muncul dalam ingatan saya. Beliau sempat demonstrasikan berbagai postur Yoga di rumah Pendeta Bali di Kupang, seorang tentara, karena saya minta untuk belajar Yoga pada beliau. Saya malah lupa nama tentara itu tetapi ingat nama guru Yoga itu. I Wayan Suta. Gerakan yang paling mengesankan saya adalah gerakan seperti kalajengking dan bertumpu pada tangannya, kakinya diangkat ke belakng menuju ke arah kepala.

Ada juga kesan jelek pada Bali yang mungkin juga menghambat kerinduan saya akan Bali. Ketika kami pulang dari Jepang dulu, beberapa kotak berisi mainan anak-anak yang kami bawa pulang sempat ditahan berminggu-minggu di kantor bea cukai padahal semua itu mainan bekas dan tak ada nilainya sama sekali. Akhirnya setelah merepotkan teman kelas saya Adi yang sudah jadi dokter di Bali waktu itu, barang-barangnya bisa dikeluarkan setelah membayar denda yang sangat menjengkelkan. Ternyata kali ini tak ada persoalan sama sekali di bea-cukai. Pemeriksaan berjalan lancar.

Bali sudah berubah dan itu pula alasan mengapa saya akan kembali ke Bali lagi. Saya juga janji kepada Yulita, kalau ketemu sepupunya saya akan bicarakan ide itu.

Pulau Bali pulau kesenian,
tempat menghiburkan hati,
di sana banyak kebudayaan
Indonesia yang asli.
….
Pulau Bali pulau mahajaya,
kebanggaan Indonesia,
Pulau rakyatnya hidup bahagia
aman, tentram dan sentausa.