Catatan Ziarah (19)

by drt on November 3, 2011

Kalau saja WC-nya diperbaiki, perjalanan dengan kereta api akan terasa lebih nyaman. Begitu perasaan saya saat keretaapi dari Surabaya makin dekat ke Solo.

Sebenarnya ada penerbangan dari Surabaya ke Solo tetapi harus melalui Jakarta. Makanya setelah bicara dengan Andry sewaktu saya mengurusi tiket jauh hari sebelum berangkat dari Amerika, saya putuskan untuk menaiki KA saja untuk ruas penerbangan Surabaya Solo.

Pagi hari terakhir di Surabaya, saya sempat menyicipi gado-gado. Siangnya, dalam perjalanan ke Stasiun Gubeng kami sempat makan lagi masakan Surabaya.

Ketika kereta mulai merayap meninggalkan peron, saya melambai lewat jendela, melihat sosok Rudy, Getty dan cucu mereka Brandon yang terus tertinggal sampai tak kelihatan lagi. Banyak kenangan masa kanak-kanak kami di So’e terus mengambang selama saya menutupi mata sambil bersandar ke kursi menikmati perjalanan KA itu. Tapi perasaan itu juga dibarengi perasaan lain yang mengingatkan, betapa jauhnya waktu telah berlalu. Tiga puluh, empat puluh, bahkan lima puluh tahun telah berlalu tanpa banyak cincong.

Waktu terus bergulir. Tahu-tahu kami berdua sudah memasuki kepala 6, bahkan Rudy dan Getty malah sudah punya cucu. Kedua orang tua kami juga sudah lama berpulang. Ketika di Naomsain dulu, gara-gara lupa mengambil kunci ke bangunan makam, kami hanya bisa lewat depan makan papa mama angkat saya, kedua orang tua Rudy. Akhirnya kami hanya mampir ke rumah kakaknya Rudy dan sempat berdoa sebentar di hapadan meja abu mereka.

Perjalanan dengan KA Cepat Sancaka ternyata cukup menyenangkan. Kalau saja bukan persoalan toilet yang saya ungkapkan di awal tulisan ini, saya akan kasih acungan bintang 4 atau bintang 5. Sayang, WC-nya kotor, tak begitu terurus seperti terlihat di foto-foto berikut. Bahkan kertas toilet sudah tidak tersisa sebelum KA tiba di Solo.

Sebenarnya saya senang melihat selain WC jongkok, ada juga toilet yang baik untuk lutut tua yang sudah jarang berjongkok selama seperempat abad lebih. Tapi apakah WC-nya tak bisa lebih bersih lagi? Seberapa susahnya sih menyediakan dan memelihara toilet yang memadai di KA?

Akhir-akhir ini saya banyak membaca tentang perbaikan di PLN lewat Direkturnya yang sekarang malah diangkat jadi Menteri. Mungkinkah perbaikan di PLN ini berjangkit juga ke bidang perkeretaapian dan kita bisa mendapatkan pelayanan KA klas Eksekutif dengan WC yang tidak menjijikkan seperti dalam gambar-gambar di atas? Selain untuk wisatawan tentu akan merupakan alternatif pesawat terbang untuk transpotasi lokal.

Dengan pengalaman kali ini, kalau ada kesempatan melintasi Jawa lagi dan waktu saya mengizinkan, saya akan pilih kereta api ketimbang naik pesawat. Tentu saja asal tidak bertepatan dengan saat mudik hari raya. :) Antara tahun 82 – 85, setiap dua minggu saya akan berkereta dari Jakarta ke Pekalongan. KA Senja waktu itu tidak senyaman KA Sancaka, tetapi saya mengharapkan masih ada perbaikan buat KA Sancaka lagi. Semoga.

Naik kereta api,
tut, tut, tut,…
siapa hendak turut?
ke Bandung, Surabaya,
……
ayo temanku lekas naik,
keretaku tak berhenti lama.

{ 4 comments… read them below or add one }

Hans Mandala November 7, 2011 at 9:17 pm

Alinea pendek beribu makna….
“Tapi Perasaan itu juga dibarengi perasaan lain yang mengingatkan, betapa jauhnya waktu telah berlalu. Tiga puluh, empat puluh, bahkan lima puluh tahun telah berlalu tanpa banyak cincong.”
Mudah2an sekali kelak terbit buku “Catatan Ziarah A. Tanone”. Catatan2 ini memuat banyak cerita jujur yang enak dijadikan referensi, mungkin bagi banyak generasi muda, beta salah satunya, tampah perasaan takut terhadap kesalahan. Hal yang paling beta hindari adalah pemborosan logika untuk mencari kebenaran dari sebuah tulisan. Selamat menulis DR. AT

drt November 7, 2011 at 10:26 pm

Bung Hans,

Maaf karena ketatnya jadwal, beta tidak sempat kontak bung Hans dan teman-teman lain. Moga-moga ketong bisa ketemu di kesempatan lain.

Terima kasih atas kunjungan ke sini dan salam untuk keluarga di Bojonegoro. Saya lihat di peta, nampaknya KA tidak lewat Bojonegoro. Dan kalau lewat pun tidak sempat turun. :)

Jauhari April 9, 2012 at 10:47 am

wah kalau mas ke Indonesia… saya mau bersua… … terima kasih atas segala motivasinya…

drt April 17, 2012 at 1:56 am

Duh, mohon maaf mas Jauhari. Tahun kemarin waktu saya mepet sekali. Moga-moga lain kali ada kesempatan kalau saya punya waktu satu dua hari di Surabaya. :)

Leave a Comment

Previous post:

Next post: