Catatan Ziarah (20)

by drt on April 21, 2012

Kalau ditanya, kenapa Solo adalah tujuan kedua saya di Jawa, jawabannya sederhana sekali.

Winnie hanya mempunyai seorang kakak, koh Beng Yan, dan sudah lama koh Yan sekeluarga tinggal di Solo. Bahkan untuk pertama kalinya saya ketemu Winnie juga terjadi di Solo, hampir 40 tahun yang lalu.

Ketika kereta Sancaka akhirnya tiba di Solo, koh Yan dan putra bungsunya Yofin sudah menunggu di peron. Selama di KA saya tidak makan karena kesulitan memesan makanan vegetarian. Makanya begitu keluar dari stasiun, koh Yan langsung mengajak mampir ke Gudeg Adem Ayem. Itu adalah makanan vegetarian yang bisa ditemukan malam-malam begitu. :)

Pertemuan dengan Shao-shao atau Engso Yan agak mengharukan, karena selama dua tiga tahun terakhir mamah mertua saya tinggal bersama koh dan engso Yan. Saya datang dan mama sudah tiada. Tapi akhirnya kami sama-sama menyadari bahwa mamah sudah berada di tempat kedamaian abadi, jauh dari hiruk-pikuk dan kedukaan duniawi.

Rumah koh Yan sudah jauh berbeda dengan rumah mereka, ketika saya pertama kali ketemu dengan Winnie di sana. Saya tak akan lupa ekspresi di wajah Shao-shao ketika saya mengetuk pintu dan Shao-shao yang membuka, dan melihat saya untuk pertama kalinya. Ada rasa kaget yang terpancar dari mata Shao-shao yang sampai sekarang pun masih terpatri di dalam bayangan saya. :) Sorry, Shao!

Lama setelah kami menikah, kalau ceritera kembali soal itu, kami semua sempat tertawa geli. Pasalnya, teman-teman kuliah saya memanggil saya dengan sebutan Jimmy Hendrick. Ada yang panggil dengan sebutan ‘Beringin’ yang menjadi lambang Golkar sewaktu jaya-jayanya Golkar di tahun-tahun itu. Ada yang panggil saya dengan sebutan ‘Kribo’ yang sampai sekarang sering saya pakai, walaupun rambut sudah makin menipis.

Winnie baru akan tiba beberapa saat lagi. Saya tiba kepagian dari Yogya sore itu. Makanya saya pamitan lagi dan baru kembali setelah saya pastikan lewat telepon dari tempat penginapan, kalau Winnie sudah tiba.

Ternyata, dari ceritera Winnie lama setelah kami menikah, baru saya tahu bahwa setelah saya tiba sore itu, koh Yan sempat menelpon papa dan mamah Winnie di Pekalongan untuk melaporkan kalau temannya Winnie ternyata berambut gondrong. Rupanya papa dan mama tak perduli, dan bilang, biarkan saja. Kalau memang bukan jodoh, ya tak bakalan jadi.

Itu keberuntungan punya calon mertua yang menikah atas pilihan mereka sendiri. Di kemudian hari, setelah menikah, baru dengar kisah cinta kedua mertua dan jadi terharu juga. Pernikahan mereka ditentang habis-habisan oleh pihak keluarga mama mertua saya, karena beliaunya kelahiran Tiongkok sedangkan papa mertua saya kelahiran Indonesia. Untung mama mertua saya keras kepala dan nekad. Walaupun jiwa mereka terancam, dengan bantuan kepala sekolahnya, mereka akhirnya bisa menikah walau ditentang habis-habisan. Makanya, dalam urusan kami, mereka jauh lebih terbuka.

Kartun berikut ini adalah salah satu dari kumpulan kartun papa mertua saya dalam serial si A Piao. Kalau melihat kartun ini, saya suka geli sendiri. Saya yakin bahwa papa mertua saya pasti tidak pernah membayangkan ketika menggambar kartun ini, bahwa mereka bakal punya menantu keriting seperti anak Irian yang dijadikan fokus dalam kartun ini?

Waktu masih di Kupang, saya tak pernah merasa ada diskriminasi urusan rambut keriting. Sampai ke pelosok manapun di Timor, saya akan dipanggil babah, sebutan buat anak-anak keturunan Tionghoa. Di sekolah, saya bintang pelajar. Ada beberapa kenalan orang tua yang saya masih ingat, misalnya encek Shia Kim Sui dari Jalan Siliwangi. Kalau mampir ke rumah beliau suka bilang kepada orang tua saya, “Seandainya kalian harus tidak makan pun, anak ini harus kalian sekolahkan setinggi mungkin.” Ada lagi encek A Sam yang sering dipanggil Asam Ko atau engkoh A Sam yang tinggalnya di Kongsi Lay, kelentengnya keluarga Lay di belakang Losmen Kong Hoo milik keluarga Ong dulu di depan terminal Kupang di Jalan Soekarno dulu. Karena saya pernah masuk rumah sakit akibat anemia, encek Asam mengajari mama saya bagaimana cara memasak obat Tionghoa untuk menambah darah. Lagi-lagi pesan mereka agar saya harus dibiarkan sekolah setinggi mungkin. Sampai sekarang saya masih ingat wajah encek Asam(ko), dengan kuah hati babi yang diberi beras merah terus sedikit ramuan obat Tionghoa dari beliau, dan waktu masak harus memasukkan cincin emas yang baru diambil setelah masakannya masak. Rasa kuah itu masih melekat di lidah sampai sekarang. :) (Terima kasih abah S. Amaradja dan koh Teddy yang memberikan alamat Kongsi Lay).

Tapi tanpa dibilangi pun orang tua saya memang sangat memperhatikan urusan sekolah anak-anak mereka. Papa saya adalah anak ketiga dari empat bersaudara dengan dua ibu. Dua dari istri Tionghoa engkong, dua dari nenak saya. Ketiga saudaranya sempat merantau untuk studi. Satunya sempat pulang belajar ke Tiongkok, kemudian kembali menjadi guru sekolah Tionghoa di Flores dan Timor. Satunya tinggal dan berkeluarga di Banyuwangi, Jawa Timur. Dan saudara kandung papa merantau sampai ke Jember, dan kabar terakhir meninggal di sana. Itu sebabnya papa saya tidak diizinkan untuk pergi berlayar, dan tentu saja sekolahnya cuma sampai kelas tiga sekolah rakyat dan tak bisa berbahasa Tionghoa. Makanya sebelum pemberontakan Permesta, kami dibawa ke Kupang biar anak-anaknya bisa masuk ke sekolah Tionghoa yang ada di Kupang. Di tahun 1956, engkoh saya sudah dikirim ke Kupang untuk sekolah tapi sebagai orang tua, mereka tidak tega melepaskan anaknya merantau dalam usia dini untuk sekolah. Kami pindah ke Kupang dan tinggal di Kampung Solor tahun berikutnya. Tak lama kemudian timbul aturan PP-10 yang melarang berbagai kegiatan orang Tionghoa di daerah pedalaman. Sekolah Tionghoa di kota kelahiran kami juga ditutup saat itu.

Dari keluarga Tionghoa di Kupang dari peranakan sampai yang totok, tak ada satupun yang mempersoalkan kecinaan saya. Atau, kalau pun ada tidak pernah terang-terangan. :) Tapi begitu sampai ke Yogya, ada dua hal yang sangat mengganggu jiwa muda saya.

Pertama, seperti kata Wid, seorang mahasiswa Psikologi yang saya temui di tahun kedua di Yogya waktu saya ikut menjadi anggota PMKRI, organisasi mahasiswa Katholik. “Wah, saingan di Yogya terlalu berat,” kata Wid. Menurut ceritera Wid, dia juara kelasnya di salah satu kota kabupaten di Jawa Tengah. Tapi begitu sampai di UGM, jadi pusing karena saingannya hebat-hebat semua.

Kalau begitu, sama saja, kata saya. Sejak kecil saya selalu juara di kelas. Tapi karena di kelas 2 dan 3 SMA saya pindah sekolah dan jarang masuk karena kecewa kedaan sekolah yang tak begitu terurus, sewaktu kuliah, sangat terasa kalau latar belakang keilmuan saya kalah dengan teman-teman kelas di UGM.

Saya tak tahu, apakah kalau baca ceritera ini, temanku Wid masih ingat obrolan kita saat bersepeda lewat depan RS Panti Rapih waktu kembali dari Marga Siswa ke Kampus waktu itu atau sudah lupa. Tapi ini hal pertama yang mengganggu pikiran saat jadi mahasiswa di Yogya. Saya harus menghabiskan banyak waktu di tahun-tahun pertama, hanya untuk mengejar ketertinggalan saya dari pelajaran di SMA dulu.

Kedua, saya berada dalam posisi maju kena, mundur kena. Nama tiga bunyi yang saya miliki sejak lahir sudah diganti menjadi nama Timor, tapi rambut keriting saya tak bisa saya luruskan. Di satu sisi ada perasaan takut, kalau bakal terdiskriminasi bila ketahuan asal usul Tionghoa saya. Tapi tidak selamanya saya bisa sembunyikan fakta bahwa saya keturunan, dan akhirnya ada juga teman-teman suku Jawa saya yang tahu kalau saya bahkan bisa berbahasa Mandarin dan mampu baca-tulis. Sedihnya, itu malah sering jadi bahan guyonan, dan dengan nada yang mengejek ada teman yang sempat bertanya dalam bahasa Jawa – lho, sampeyan Cino toh?

Itu belum apa-apa. Dari teman-teman saya yang Tionghoa juga banyak yang melihat saya dengan kacamata yang penuh kecurigaan. Si Brindil koq bisa berbahasa Mandarin ya?

Beberapa tahun lalu, ada seorang teman di milis parokinet yang sempat bilang, ‘Ris, aku ketemu teman kuliahmu di UGM dulu. Mereka heran, kalau kamu saya bilangi Cino?’ Tapi tentu, itu sudah tak ada efek apa-apa setelah usia saya juga sudah lebih dari setengah abad. Apalagi sekarang saya sudah bisa ikut memilih dan mendepak Presiden Amerika lewat pemilu di sini, kalau orangnya brengsek dan tidak saya senangi. :)

Yang sangat menyakitkan saat itu, ada adik kelas yang saya incari malah dilarang orang tuanya tak boleh berhubungan dengan saya setelah dia tunjuki foto saya seperti yang terlihat di samping ini. Saya lupa apakah foto itu dijepret oleh Mas Mardjuki almarhum atau mas Julius Pour, dua wartawan kawakan dari Yogya saat itu. Foto itu dijepret di Parangtritis, waktu saya ikuti Pesta Urakannya penyair dan dramawan WS Rendra di awal tahun 70an. Alasan kedua orang tua teman saya, rambut saya yang berindil bakal menyusahkan cucu-cucunya kelak. Apa sih kategori suku cucu mereka nanti? :(

Saya memang keturunan, 50% darah Timor dari kedua nenek baik dari fihak papa maupun mama saya. Lalu 50% darah Tionghoa dari kedua engkong saya. Apa mau dikata? Memangnya saya bisa memilih?

Saya ingat, dalam salah satu buku filsafat saya pernah baca mengenai titik strategi. Bila kamu ingin menyerang dan menghancurkan musuhmu, seranglah titik strategi dan akan berantakanlah sistem pertahanannya. Dalam urusan saya waktu itu, rasa rendah diri mengenai urusan keriting dan berada pada posisi marjinal yang tidak diterima di dua fihak itu adalah titik strategik saya. Begitu diserang, hancurlah pertahanan saya.

Makanya saat bertemu dengan shao-shao, saya sudah tidak kaget lagi. Saya sudah melewati berbagai cobaan, bahkan sudah sempat patah hati, jadi saya tak peduli dan hanya ingin ketemu dengan Winnie. :).

Que Sera Sera!

Begitulah lamunan saya yang terus mengambang saat berbaring di kamar yang dihuni mama sebelum meninggal di rumah koh Yan dan Shao-shao di Solo,….

{ 0 comments… add one now }

Leave a Comment

Previous post:

Next post: