≡ Menu

Catatan Ziarah (4)

Kalau namanya ada dalam daftar di Garuda Singapore,
bagaimana bisa tak muncul di Denpasar?

Pagi-pagi, ponakan Winnie, Eric dan Suwanti serta ketiga putra-putrinya sudah datang menjenguk. Saya tak ingat, kapan terakhir ketemu Eric. Kemungkinan besar sewaktu kami pertama kali tinggalkan Indonesia, 23 tahun lalu atau waktu saya pulang 16 tahun yang lalu.

Untuk memperpanjang waktu pertemuan, akhirnya kami putuskan bahwa Eric dan keluarganya yang akan mengantar saya ke bandara, dan kami berangkat sedikit kepagian untuk menghindari kemacetan lalu lintas, walaupun semua berpendapat bahwa minggu pagi itu jalannya tidak akan terlalu macet.

Semalam dalam perjalanan dari bandara Ngurah Rai ke rumah Yul dan Sur, sudah ada perasaan tak enak akan kepadatan lalu lintas di Bali. Pagi ini Eric sempat tersenyum melihat reaksi saya setiap kali ada sepeda motor yang memotong jalan mobil Eric seenaknya. Eric bilang, putra saya Albert juga menunjukkan reaksi yang sama waktu dia mampir ke Bali dan duduk di samping Eric waktu mereka bermobil di Bali.

Saya hanya katakan kepada Eric bahwa saya tak berani menyetir dengan kondisi trafik seperti ini. Ada perasaan ngeri melihat trafik yang begitu padat.

Eh, begitu sampai di loket Garuda, drama yang sama seperti di Singapore berulang lagi.

– Nama bapak koq tak ada dalam daftar, pak.
+ Lha petugas Garuda di Singapore kemarin sore bilang ada tuh?
– Tapi gak ada di sini, pak. Coba saya tanya manajer saya.

Hm, kalau namanya ada di Garuda Singapore, bagaimana bisa tak muncul di Denpasar? Tapi petugas Garuda maupun manajernya tak bisa menjawab pertanyaan itu.

Hasilnya, nama saya tetap tidak ada dan email di iPhone yang saya tunjukkan ke petugas itu juga tak menolong. Terpaksa sekali lagi harus rogoh kocek untuk membayar tiket ke Kupang. Untung mereka tidak mengharuskan uang kontan. Jadi sementara saya bayar pakai kartu kredit. Tak ada jalan lain. Eric, Suwanti dan anak-anak sudah pulang setelah turunkan saya di bandara tadi. Saya hanya punya waktu dua malam di Kupang. Semua sudah dijadwalkan.

Anehnya, ada perasaan seperti ada yang jaili, 😆 tapi tak sampai mematikan hanya sedikit merepotkan. Bayangkan kalau saya tak jadi berangkat, dan tertunda sehari. Acara saya akan tambah carut-marut.

Di pesawat, saya duduk bareng dua turis Jerman yang kini bekerja di Shanghai. Tujuan mereka Alor untuk menyelam. Tak banyak yang kami percakapkan. Sejak awal di dalam ruang tunggu saya sudah coba melihat ke sekeliling. Tak ada yang saya kenal. Tetapi waktu antri mau naik ke pesawat, pas di belakang saya, ada wajah seorang teman yang tiba-tiba terlihat dalam wajah bapak yang berdiri di belakang saya.

– Dr. Servas Parera?

+ Siapa ya? Beliau balas bertanya.

– Aris Tanone, Yogyakarta tahun 1970an. Asrama Timor Yuana Putra di Demangan Baru.

+ Oh,…. dan kami sempat mengobrol sebentar mengenang pertemuan terakhir saya sekitar tahun 1980an di kantor beliau di Kupang dalam salah satu kunjungan saya ketika saya masih di Jakarta. Kemudian kami juga ceritera tentang teman-teman dari Yogya dahulu.

Saya sudah pensiun, kata Dr. Parera. Bagaimana dengan teman-teman seperti Dr. Alex Un, Dr. Rini, pak Frans Scheira, pak Jan Kauro, Anton dan Frans Lake, Felix, Drh Gabriel, pak Herman, dan teman-teman lain? Kami terus mengobrol sampai akhirnya naik ke pesawat dan terpisah tempat duduknya.

Senang sekali akhirnya pesawat bisa mendarat di Kupang.

Adik saya Yance, dan aci (tacik) saya Lien sudah menunggu di depan. Begitu keluar dan setelah saling melepas rindu, mereka terus mengajak saya lewat jalan baru yang tentu saja saya tidak tahu. Yang saya kenal adalah jalan lewat pantai menuju Oesapa. Cabang Penfui adalah nama yang begitu merekat sewaktu masih di Kupang dulu. Tapi Kupang sudah berubah. Berubah jauh sekali, dan saya jadi bengong.

Ini bukan Kupang yang saya kenal. Tapi inilah Kupang.

Saya kenal sekali itu jenis batu karang dan tumbuhan sepanjang jalan. Saya kenal bentuk Tanjung Kurung maupun Gunung Fatule’u atau Pulau Kera di ujung horison. Dan badan saya juga ingat panasnya Kupang.

Akhirnya, setelah ribuan miles dan berbagai kesulitan, inilah Kupang yang saya rindukan siang dan malam.

Halo Kupang, beta su a disini! 🙂

{ 2 comments… add one }
  • Katemak July 5, 2011, 1:06 pm

    botong berselisih beberapa minggu Om Kribo, kalo sonde bisa katumu.

  • drt July 5, 2011, 1:33 pm

    Iya. Beta tak sempat ke mana-mana gara-gara mesti urus tiket yang beta akan tuliskan dalam catatan berikut. Sempat cari om dong di depan rumah, tapi kelihatannya dong sudah pindah.

Leave a Comment

Next post:

Previous post: