≡ Menu

Catatan Ziarah (5)

Kalau masih ada hari besok,
bagaimana akan kau rias wajahmu?
Kalau tak ada hari besok, wooou,
bagaimana akan kau ungkapkan pamitanmu?

Begitu terjemahan dari lagunya Simon Hsueh yang saya postingkan terjemahannya beberapa waktu lalu di sini.

Saya ingat kembali lyrik ini, bukan karena pertanyaan apakah masih ada hari esok ataukah bakal tak ada hari esok, tetapi gara-gara waktu mau memulai postingan ini muncul pertanyaan, kalau kamu hanya punya dua malam di Kupang, apa yang akan kau kerjakan?

Tentu saja secara manusiawi, tidak banyak.

Tapi di zaman masih jadi mahasiswa dan tinggal di Yogya dulu, saya pernah dengar dari penyair Bakdi Soemanto, kalau dalam hati kita manusia ini ada banyak laci-laci. Semakin kita mengasihi sesama, semakin banyak laci itu. Makanya, walaupun dua malam itu tak lama, saya akan buka kembali laci-laci itu, untuk melengkapi catatan ziarah ini.

Ini ceritera dari laci pertama.

Aci saya Mei Lian hanya berbeda 2 tahun, dan di masa kecil kami sering kerja sama. Di rumah dia dikenal dengan nama Mie, dan adik-adik sekitar termasuk teman-teman sebaya atau yang lebih muda di kampung Solor selalu memanggilnya dengan sebutan aci Mie.

Suatu malam sekitar tahun 71 atau tahun 72, saya lagi berada di kost di daerah Cokrodiningratan Yogya, ketika ibu kost saya, bu Soemo, mengetuk pintu bilang ada tamu dari Semarang sedang mencari saya.

Begitu saya temui, ternyata seorang sopir taxi dari Semarang membawa alamat saya dari amplop surat yang saya kirim ke Kupang dan menanyakan kepastian, apakah itu saya?

Setelah saya mengiakan, dia keluar dari gang untuk menjemput penumpangnya ke jalan Pakuningratan. Ternyata seorang lelaki muda yang hanya bisa berbicara dalam bahasa Mandarin dengan aksen Kongfu (Hong Kong) yang kental sekali. Omong punya omong, dia bilang kalau dia dari Hong Kong dan sedang dalam perjalanan ke Kupang untuk menikahi tacik saya, Mei Lian. Tentu saja ini mengagetkan?

Lha kamu ini siapa koq bisa muncul ke sini?

Saya ikut kapal hewan (kapal pengangkut sapi ekspor dari Timor) dan saya adalah tukang masak di kapal. Saya suka berbelanja ke pasar, dan karena papamu tidak bisa berbahasa Tionghoa maka saya berbicara dengan tacik mu sehingga saya mengenalnya. Ini alamat yang diberikan papamu sambil menyodorkan lagi amplop surat yang dipakai sopir taxi tadi dengan alamat saya yang dilingkari di belakang amplop itu.

Saya ingin ketemu dengan kamu untuk mendapatkan persetujuanmu, katanya melanjutkan.

Begitu dengar sebutan anak kapal, langsung timbul rasa marah. Bayangan saya tentang orang kapal — julukan buat awak kapal di Kupang — tidak terlalu baik. Hampir setiap kali mereka disapa waktu kami ingin jajakan barang dagangan, yang mereka tanya, bukan harga barang dagangan kami tapi di mana tempat untuk mencari prempuan. Iya, semasa kecil saya sering menawarkan barang-barang ke orang kapal kalau mereka berbelanja ke pasar Kampung Solor. Bahkan tak jarang kami membawa barang dagangan sampai ke Pelabukan Kupang. Entah itu selimut tenunan Timor atau burung Kakatua.

Makanya, Yiew Hwa, begitu nama lelaki yang kemudian menjadi ipar saya ini tidak mendapat sambutan baik dalam pertemuan itu. Teman-teman sekost saya juga melihat dia dengan mata penuh curiga.

Kamu jangan main-main. Kakak saya bukan prempuan nakal. Begitu kata saya.

Tidak, saya serius. Saya sudah bicarakan dengan orangtuamu, dan mereka minta saya pulang ke Hongkong, meminta orang tua saya agar meminang saudaramu. Semua itu sudah saya kerjakan lewat surat dalam beberapa bulan ini dan sekarang saya akan ke Kupang untuk menikahi kakakmu.

Wah, ini kejutan, pikir saya. Tanpa terasa saya bilang, pantasan saya dengar kalau kakak saya lagi sakit. Ini pasti gara-gara urusan ini.

Begitu mendengar kata sakit, dia tanya lagi? Sakit apa? Bagaimana keadaannya dengan wajah yang sangat bingung.

Saya masih terheran-heran kalau dengan hanya bermodalkan bahasa Mandarin yang terpatah-patah dengan aksen Kongfu yang kental, dia bisa muncul di Yogya saat kapalnya mampir di pelabuhan Semarang. Malam itu sesudah itu dia pamitan, saya berusaha menulis surat ke rumah.

Berapa hari kemudian saya menerima surat yang dialamat kepada Nanda Aris Tanone, persis seperti yang tertulis pada amplop pengirim yang ditunjukkan Yiew Hwa malam itu. 😆 Pengirimnya, ya Yiew Hwa yang mengabarkan niatnya mencari saya ke Yogya. Tapi dia sampai duluan dari surat itu.

Tak lama kemudian saya mendapat kabar, kalau malam itu Yiew Hwa pulang ke kapalnya di Semarang. Ternyata karena penyakit anthrax sedang berjangkit di Kupang, maka kapalnya akan dibelokkan ke Kalimantan dari tujuan semula ke Kupang. Ada beberapa anak Timor pengantar sapi di kapal yang harus pulang ke Kupang. Yiew Hwa mengajak salah satu dari pengantar sapi itu, membayar tiket bus malam ke Surabaya, terus tiket pesawat dari Surabaya Kupang, dan besok sorenya mereka sudah sampai di Kupang tanpa paspor, karena kapten tidak mengijinkan dia berangkat. Tapi dia nekad.

Tentu saja ini merepotkan. Ayah saya melapor ke Aba Yan, Kepala Desa Solor tetangga kami, lalu dari sana bawa dia melapor ke Imigrasi. Uang yang sedianya mau dipakai untuk pesta kawin habis untuk bayar denda ke Imigrasi termasuk membiayai seorang petugas Imigrasi Kupang ke Semarang untuk mengambil paspornya. Setelah mendapatkan paspor, dan tak perlu masuk penjara imigrasi karena dia ditanggung keluarga saya, kehabisan uang, dia mencari kapal Hongkong yang lain untuk kembali ke Hongkong. Masih belum cukup meriah, kapal yang dia tumpangi sempat terbakar di tengah laut dan semua film yang mau dia bawa pulang ke Hongkong ikut terbakar. Tapi untunglah beberapa minggu kemudian dia bisa tiba dengan selamat di Hongkong.

Kali berikutnya dia tidak ikut kapal hewan, tetapi terbang langsung dari Hongkong ke Jakarta. Kali ini dia meminta saya menjemputnya di Jakarta. Saya masih ingat, bersama bung Yulius Syaranamual almarhum kami pergi ke bandara Halim Perdanakusuma dan menjemputnya di sana lalu bawa dia untuk menginap di hotel di daerah Glodok. Waktu itu saya menginap di rumah bung Yulius di daerah Cipinang Cempedak. Besoknya saya carikan tiket pesawat dan dia langsung terbang ke Kupang.

Sebagai warga negara kelahiran Hongkong, dia pemegang paspor Inggris. Tapi sekali lagi karena buta aturan, dia tidak menguruskan permohonan visa dahulu, jadi setelah menikah, mereka ke Jakarta, Mie tidak bisa ikut langsung ke Hongkong dan harus menunggu di rumah keluarga bung Robert, family kami, sekitar 3 bulan sebelum akhirnya bisa berangkat.

Di awal tahun 80an, Yiew Hwa sempat bekerja sebagai designer baju untuk sebuah perusahaan textil, Sandratex di Jakarta. Anak mereka 3, dua perempuan dan satu lelaki.

Saya baru pulang dari Jepang saat itu dan bekerja sebentar di Jakarta. Saya sempat bertemu dengan Yiew Hwa di pabriknya beberapa kali. Sayang tak lama kemudian dia harus kembali ke Hongkong karena terserang penyakit ginjal. Bulan Agustus 88, dalam perjalanan pulang saya dari Jepang, saya sempat tiliki mereka, dan berapa bulan kemudian Yiew Hwa meninggal dalam usia muda, 38 tahun. Semenjak itu Mie hidup sendiri dan besarkan anak-anaknya. Saat ini ketiga anak mereka sudah berkeluarga dan berdikari di Hong Kong.

Terakhir sebelum ke Amerika, kami mampir dan menginap di Hongkong semalam. Begitu juga ketika pulang 16 tahun lalu saya singgah ke Hongkong, dan Mie ikut bersama saya ke Kupang.

Mie di pojok kanan

Kali ini karena waktu yang ketat, saya tidak mampir ke Hongkong. Tapi sehari sebelum saya berangkat, tiba-tiba ada telpon dari Mie. Besok saya akan terbang ke Kupang katanya. Saya yang semalaman tidurnya tak cukup sempat bertanya dan beradu mulut sebentar. Karena hampir setiap tahun dia pulang Kupang. Kenapa harus buang uang ke sana padahal dia belum lama pulang?

Kata Mie, sudah 16 tahun dia tak bertemu dengan saya. Daripada ke Amerika yang jauh sedangkan dia tak mengerti bahasa Inggris, apa salahnya kalau dia ke Kupang?

Maka itu begitu sampai rumah, Mie juga sudah di sana menunggu dengan senyum lebarnya.

Seperti saya, Mie juga tambah tua. Begitu juga adik-adik dan saudara saya lainnya.

Rúguǒ hái yǒu míngtiān
nǐ xiǎng zěnyàng zhuāngbàn nǐ de liǎn
rúguǒ méiyǒu míngtiān
yào zěnme shuō zàijiàn?

{ 2 comments… add one }
  • Radius Tanone July 6, 2011, 11:24 pm

    Beta sangat terharu membaca catatan ini empe 🙂 . Ini catatan ziarah dan catatan sejarah. Lirik-lirik yang empe tampilkan di catatan ini sungguh menyentuh. Ditunggu catatan ziarah berikutnya empe 🙂

  • Katemak July 8, 2011, 12:22 pm

    Orang basudara tapisa jao e….

Leave a Comment

Next post:

Previous post: