Sekali lagi terima kasih buat Dr. Haerani yang mau berbagi dengan kita pandangan beliau mengenai soal pernikahan dengan anak-anak di bawah umur lewat posting tamu ini. Selamat menikmati. (drt)
Berita dari Indonesia yang dimuat di detik.com kemarin menurut saya luar biasa, karena bisa membuat saya marah dan jijik sekali.
Kenapa ?
Seorang Kiai yang berusia 43 tahun, menikahi anak kencur berusia 12 tahun yang baru menamatkan SD nya. Tidak tanggung-tanggung, beliau akan menikah lagi dengan dua anak kecil yang masih berusia 9 dan 7 tahun. Hati saya berdarah. Seorang Kiai yang seharusnya menjadi panutan tidak bisa mengontrol syahwatnya dengan berlindung dibalik agama. Inilah gambaran kemunduran bangsa terutama kaum perempuan yang sangat menyedihkan.
Berita ini banyak menuai kecaman dari mana-mana. Tak kurang ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri ikut mengecam pernikahan ini dan mempertanyakan motivasi dibelakangnya. Seorang ahli kandungan juga mengatakan tindakan ini sangat kejam karena anak umur segitu belum siap secara fisik maupun psikis untuk menikah. Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta, juga mengemukakan hal yang sama, dan mengatakan kalau tindakan Kiai ini sangat merendahkan kaum perempuan. Bahkan beliau meminta segera mempidanakan Kiai tersebut.
Yang membuat saya lebih sedih lagi ada anggota DPR (wakil ketua DPR) mengatakan pernikahan itu tidak masalah asal semua tercukupi. Kenapa ada orang gila seperti ini yang duduk di parlemen kita. Parlemen yang membuat undang-undang perkawinan tentang syarat minimal perempuan untuk menikah adalah 16 tahun. Ini jelas melanggar undang-undang perkawinan, kok anggota DPR sendiri mengatakan tidak apa-apa. Apakah beliau tidak pernah membaca undang-undang perkawinan itu ? Silahkan menilai sendiri. Para bapak jangan menetapkan standard ganda begitu, kalau itu menyenangkan laki-laki terus hukumnya menjadi tidak apa-apa … kok enak betul. Dimana perlindungan terhadap anak-anak ?… bukankah ada undang-undangnya juga?.. Kalau tidak salah dalam undang-undang tersebut disebutkan bahwa yang termasuk kategori anak-anak adalah apabila seseorang berusia dibawah 18 tahun. Nah, jelas pak Kiai tersebut menikah dengan anak-anak, lalu apanya yang tidak apa-apa. Jelas sekali banyak aturan yang di langgar oleh pak Kiai tersebut. Kalau seorang anggota DPR yang merupakan wakil rakyat tidak bisa melihat itu siapa yang akan melindungi anak-anak bangsa ini. Beliau lupa kalau beliau berbicara sebagai seorang anggota DPR yang dipilih rakyat, yang dibayar oleh rakyat dan seharusnya berada di pihak rakyat. Kenapa kepentingan anak tidak di perhitungkan sama sekali. Bukankah si anak masih belum bisa mengambil keputusan sendiri, masih butuh tumbuh menikmati masa remajanya. Siapa tahu kelak si anak bercita-cita menjadi orang nomer satu RI, atau bisa menjadi pemenang hadiah nobel yang bisa mengangkat nama bangsa kita?.
Seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya, inilah gambaran nyata negaraku yang tercinta. DPR sibuk bikin undang-undang hampir tiap hari. Kalau sudah di syahkan lalu masuk lemari tidak di utak atik lagi. Soal penerapan kelihatannya tergantung hukum rimba, siapa kuat dia yang menang, siapa punya uang dia yang berkuasa. Akhirnya kembali lagi saya sebagai rakyat dan juga sebagai perempuan mempunyai hak untuk marah tapi tidak bisa apa-apa. Yang bisa saya lakukan untuk saat ini hanyalah menulis dan menulis dan menulis dan menulis …kirim kemana-mana terutama para wakil kita di DPR. Mungkin tidak di baca, tidak apa-apa.
Pernah dengar lagu “Cucakrowo” ? Lagu ini terkenal dinyanyikan oleh Didi Kempot. Liriknya begini:
“saiki jamane jaman edan,
wong tuwo rabi perawan.
Perawane yen bengi nangis wae,
amargo wedhi karo …”
Pertama mendengar lagu ini rasanya lucu, karena memang seperti lagu-lagu Didi lainnya, liriknya bertujuan untuk melucu. Tetapi pagi ini lagu tersebut berarti lain, menjadi kisah memilukan yang nyata di depan mata. Kasihan anak perempuan yang kehilangan masa kecilnya itu.
Popularity: 2% [?]



{ 9 comments… read them below or add one }
Seperti biasa, Mbak Haerani mengangkat issue-issue menarik yang perlu kita pertimbangkan dan diskusikan. Memang jaman sudah menjadi jaman edan (lagi)… mungkin seperti jaman jahiliah dulu ya. Manusia menginterpretasikan ajaran agama seenak perutnya sendiri, demi kesenangan diri sendiri. Yang lebih memprihatinkan, hal ini dilakukan oleh seorang kiai, yang tentunya mempunyai banyak pengikut. Sangat menyedihkan contoh yang dia tunjukkan ke murid2 dan pengikut2nya. Apapun alasannya, menurut saya pernikahan itu tidak layak. Gadis berusia 12 tahun normalnya masih bermain2 dengan teman2nya… bukannya mengurus suami! Belum lagi dampak psikologis yang akan dia alami (diolok2 teman seusia-nya, dll). Apabila alasannya utk menolong keluarga anak ini, saya rasa ‘menolong’ bisa dilakukan dengan cara lain. Yang ada ya niatnya utk memuaskan nafsu-nya saja. Meskipun secara biologis anak ini sudah siap, namun secara psikologis saya yakin dia masih jauh dari siap. Di negara barat, si bapak ini pasti sudah dibawa ke pengadilan, found guilty, masuk penjara, dan di cap child sex offender.
Saya jg sangat prihatin dengan komentar anggota DPR kita (wakil ketua DPR?) tentang masalah kontroversial ini. Hal ini menunjukkan ketidaklayakan beliau menduduki jabatan yang ‘terhormat’ menjadi wakil rakyat.
Tambah sedih lagi membaca artikel yg dimuat di detik.com. Bisa-bisanya si penulis artikel menyebut anak gadis ini termasuk “BERUNTUNG” karena segera setelah dia menikah dgn kiai ‘ngawur’ ini, dia diangkat menjadi ‘general manager’ salah satu perusahaan si kiai. BERUNTUNG???? I hope he’s kidding!!! Atau memang begitu pemikiran (most) laki-laki ya? (given the writer is a guy). Oh, I sure hope not. Geez… jaman memang sudah edan.
Terima kasih Mbak Haerani atas tulisan mengenai kiai yang menikahi anak usia 12 tahun (tepatnya 11 tahun 8 bulan).
Beginilah jadinya kalau para kiai ini bersembunyi dibalik agama. Alasannya kan hanya mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. Bisa nggak dibayangkan kalau seandainya semua kiai berpikiran begitu, apa jadinya anak2 perempuan di negara kita? Menyerah untuk dikawin para kiai?
Sedihnya lagi, menurut wakil ketua DPR, praktek ini sah2 saja menurut hukum agama. Lho negara kita kan nggak hidup dibawah hukum agama, karena NKRI bukan negara yang berdasarkan hukum agama. Agama manapun menurut saya menganjurkan umatnya untuk taat pada hukum pemerintah yang berlaku. Kalau ada UU Perkawinan tentang batas usia seorang gadis menikah 16 tahun, apakah tindakan kiai ini akan ada sanksinya? Atau aturan itu hanya sekedar UU yang tidak perlu dita’ati? Atau mungkin para kiai tidak berada dibawah hukum NKRI? selanjutnya wakil ketua DPR bilang, tindakan ini adalah hal yang biasa di lakukan di pesantren2, malah orang tua si anak akan bangga kalau anaknya dinikahi kiainya. Aduuh mak, kalau tindakan seperti ini dikatakan biasa saja, trus bagaimana nasih anak2 perempuan dimasa mendatang? Pantesan NKRI semakin kacau saja, lha wong para pemimpinnya bicara asbun dan berkedok dibalik agama.
Saya yakin kasus ini kalau tidak ditindak lanjuti akan menyebabkan NKRI kebanjiran pedofil yang ingin memuaskan nafsunya. Lha wong itu halal kok menurut agama. Logikanya begitu kan?
Menurut detik.com Direktur RS Puri Cinere dr Winahyo Hardjoprakoso Sp OG menganggap perilaku itu kejam.
Saya setuju sekali karena anak seumur itu kan masih belum siap. Kalaupun dia sudah datang bulan, bukan berarti alat2 produksinya sudah siap. Secara mental? anak usia 12 tahun? Saya masih suka main gala asing
Saya nggak bisa bayangkan kalau harus menyerahkan anak saya yang usianya 12 tahun untuk kiai yang tidak bisa menahan nafsunya. kalau untuk alasan membantu orang tuanya yang miskin, kan tidak harus menikahi anaknya yang masih kecil. Membantu kok minta pamrih?
Ala maak, bagaimana jadinya kalau NKRI dipenuhi oleh orang2 bejat semacam ini. Sedih saya!
Di situs Foxnew ada berita sepotong yang mereka cuplik dari the Jakarta Post. Saya ragu-ragu apakah ybs bakal dibawa ke pengadilan, dan kalau disidangkan pun dengan dananya yang berlimpah, apakah mungkin dia bakal dihukum ya? Kita tunggu saja.
Setuju sekali, inilah perbuatan bejat yang dialkukan oleh orang yang mengaku hamba Allah. Polda Jawa Tengah bilang akan di usut menggunakan UU Perkawinan dan Perlindungan Anak. Kita tunggu saja, karena biasanya kasus begini (yang melibatkan kiai seperti ini, kaya lagi) hanyalah NATO. Namun hukuman bukan hanya di bumi ini, suatu saat akan ada hukuman lain.
1 kata: MALU
Assalamu’alaikum…
Sejenak saya termenung, bagaimana sebaiknya merayakan peringatan sumpah pemuda. Walau sudah kepala 4, saya masih merasa muda. Trus gimana…?
Apakah dengan jadwal yang super padat layaknya menteri, membuat saya bangga merayakan sumpah pemuda? saya yang mondar-mandir Jakarta/Bogor serta hutan belantara di Kalimantan, Sumatera, Maluku, & mungkin bak celebritries. Tapi entuke mung kesel awake, tapi hati senyum sich karena tambah sedulur lan pengalaman.
Atau… ala Syech Puji yang “merayakan” dengan istri “muda”nya, dengan dalih “kemurnian spirit” menuju tugas sebagai manajer tertentu. Mbuh lah dalihnya opo maneh to… Tapi dari wajahnya, “rona”nya kok keruh cenderung sak karepe dhewe ya…..
Atau… ala Amrozi cs yang menunggu waktu eksekusi dengan kepercayaan diri sangat tinggi. Semangat “muda”?
Atau ala sinetron di tipi-tipi yang selalu menampilkan sosok muda. Bahkan kebablasen, yang memerankan ibune juga jan-jane masih ting-ting. Juga sinetron yang lain….; Semangat muda, hampir semua pemain adalah anak muda?
Atau ketika hampir semua kepanitiaan didominasi anak muda, tetapi saat suksesi kepemimpinan, generasi muda yang mau maju malah dianggap kurang berpengalaman. Semangat doank tanpa pengalaman?
Atau…. para celebrities muda gak tau diri yang ternyata banyak terjungkal saat masuk bursa pilkada.
Dikotomi Muda dan Tua, atau perlu Sumpah Tua?
Salam kenal : M. Nuzulul Sjahrudin
Wassalam.
Nek ra edan ndak KEDUMAN?
yang menyedihkan lagi, ternyata si gadis cilik merasa SEDIH ketika harus ‘bercerai’ dengan sang kiai.
…
Kalau menurut pendapatku, saat ini ya jaman edan. semua ini akibat dari sistem pendidikan yang edan, yang di adopsi dari sistem pendidikan kapitalis. Yaitu semua di lakukan manusia tujukan untuk kepuasan individu . Siapa yang kuat berkuasa, siapa yang kaya diatas. Dalam sistem kapitalis tujuannya hanya materialistis dan hedonis. Jadi kyai cucakrowo itu sebenarnya kyai kapitalis alias dajjal.