Sore ini ada 3 email dari Elcid di Inbox saya dan saya pilih untuk buka yang kedua, karena subject-nya mengenai wawancara Asahan Aidit di Tempo. Sambil berpikir, apalagi ceritera dari Pak Tua yang suka marah-marah ini, saya langsung buka email itu. Eh, betapa terkejut waktu dalam wawancara itu ada kalimat tentang meninggalnya kakak beliau, pak Sobron Aidit. Lho, kapan meninggalnya?
Saya langsung cek ke Google, ketemu berita tanggal 11 Februari di Kompas. Waduh, koq sudah hampir setahun ya?
Pak Sobron dan saya ketemu dalam dunia maya ini di milis Budaya Tionghua di yahoogroups. Beberapa kali saya sempat mengomentari puisi-puisi Tiongkok kuno terjemahan beliau atau terjemahan orang lain yang beliau cantumkan dalam tulisannya, dan responsnya selalu simpatik. Tapi karena kesibukan, sudah lama saya jarang periksa ke situs Budaya Tionghua. Sebenarnya kesibukan itu juga gara-gara waktu luang saya sejak akhir tahun lalu sampai bulan Maret banyak terbuang dalam mempelajari bagaimana membuat blog sendiri dan meningkatkan trafik. Akhirnya sekitar bulan Mei, kegiatan pokok di kantor semakin sibuk dan kegiatan blog pun otomatis menurun. Dengan sendiri, kunjungan saya ke situs-situs diskusi seperti di yahoogroups juga tambah berkurang. Apalagi kadang kalau baca sesuatu di sana yang bikin konslet, darah tinggi saya cepat kumat jadi lama-lama malas ke sana. Terkadang kalau singgah pun, paling saya scan satu dua halaman dan lihat apakah ada judul atau subject yang menarik. Seingat saya di pertengahan tahun ini sempat ada perasaan, kenapa ya sudah lama nggak lihat tulisan pak Sobron?
Pernah suatu saat ada yang bilang bahwa tulisan beliau di Budaya Tionghua kadang tidak relevan dengan Budaya Tionghua, dan ada yang mengusulkan bagaimana kalau yang senang tulisan pak Sobron, pergi baca saja tulisan-tulisan itu di situs Aksara Sastranya di yahoogroup? Saya ikut daftar ke sana karena saya senang baca tulisan-tulisan dan cerpen beliau di berbagai situs. Tetapi, seperti juga beberapa situs diskusi yang lain, saya hanya daftar saja tapi jarang mampir. Apalagi waktu mulai gemar mainan blog, saya lebih jarang lagi mampir ke group diskusi. Makanya waktu saya temukan berita di Kompas tanggal 11 Februari tadi setelah membaca separuh dari email Elcid berisi wawancara di Tempo itu, saya lihat lagi ke situs Budaya Tionghua dan situs Aksara Sastra khususnya posting-posting di sekitar bulan Februari dan saya tak kuat membacanya.
….
Sore ini saya ikut istri ke Misa sore. Biasanya saya jarang ikut Misa Harian begini.
Rumah-rumah tetangga sudah pada dihias dengan lampu warna-warni. Advent sudah dekat dan sebentar lagi Natalan. Tapi sepanjang jalan kami tak banyak bicara.
Satu lagi sahabat, kali ini yang hanya saya kenal lewat tulisan-tulisan, sudah pergi. Daftar nama dalam catatan tentang daun musim gugur bertambah satu lagi.
Aneh tetapi nyata. Di satu pihak kita bilang kebanjiran informasi, di fihak lain, kaca mata kuda kita bisa begitu besar, sampai-sampai kejadian di sekitar ibarat angin lalu yang tak meninggalkan bekas dalam ingatan,… dan di luar dedaunan pohon semakin memenuhi halaman.
Selamat beristirahat di taman abadi, Pak Sobron. Maaf, setelah hampir setahun baru dengar beritanya.
Popularity: 1% [?]



{ 2 comments… read them below or add one }
Bapak ternyata suka baca cerpen dan puisi juga, yak! Apalagi, karya Pak Sobron yang memang dikenal sebagai sosok sastrawan bernyali besar dan konsisten dalam menjaga prinsip hidupnya.
*Salut nih, Pak!*
Saya senang baca tetapi belum mampu seperti pak Sawali menulis karya sastra. Apalagi seperti pak Sobron yang kumpulan ceriteranya begitu banyak dan dalam merespon orang, seperti juga tulisan-tulisannya enak dibaca. Mungkin gara-gara pengaruh Dale Carnegie yang borjuis itu atau memang dari sononya sudah begitu.