Bayangkan, suatu hari mbak Sri dari Solo telpon seorang temannya yang kawin dengan seorang mahasiswa asal Kupang yang sekarang sudah menetap di Solo setelah mereka menikah.
Begitu telpon diangkat dan tahu kalau penerima telpon adalah suami temannya, mbak Sri langsung tanya: “Bisa bicara dengan bu Pe’u?”
Dari ujung sana mbak Sri mendapat jawaban:”Ini siapa ya? Saya Pe’u.”
“Saya Sri, temannya bu Pe’u sejak di SD mas. Bisa bicara dengan bu Pe’u?”
“Teman saya dari SD? Saya dari SD Frater di Kupang, dan tidak ada teman yang bernama Sri?”
“Bukan, saya tidak maksudkan mas Pe’u. Maksud saya jeng Anni, istrinya mas Pe’u.”
“Oh!,…”
Ketika akhirnya ibu Pe’u angkat telpon, terpaksa harus tersenyum geli sambil menjelaskan kepada mbak Sri kalau di Kupang, bu itu juga panggilan buat lelaki. Makanya jangan kaget kalau di Kupang ketamuan bu Ishak, ternyata bu Ishaknya berkumis brewokan.
Rupanya bung Pe’u yang selalu dipanggil bu Pe’u ketika masih di Kupang lupa kalau yang telpon bukan orang Kupang, dan bu Pe’u yang dimaksudkan teman istrinya itu maksudnya ibu Pe’u, istrinya.
Catatan: Sebutan ‘bu’ di Kupang bisa berarti ibu, tetapi lebih banyak dipakai sebagai sebutan buat lelaki yang lebih tua dari yang mengajak bicara. Saya duga, kata ‘bu’ adalah kontraksi dari kata bung, sehingga orang Kupang terutama yang lebih muda akan panggil saya dengan sebutan bu Aris. Terima kasih buat bu H yang beri ide ceritera ini dan bu
Yohanes Manhitu yang sudah berkomentar di Sapi Maen Bola. Komentar itu yang mengingatkan saya akan draft setelah mendapat inspirasi dari bu H tapi tak sempat saya publikasikan.
Popularity: 1% [?]


