≡ Menu

Di sanakah kamu? (10)

Tak lama kemudian tiba-tiba Winnie bilang: “Sorry Jo, tadi waktu kamu masih mau berdoa lagi di ruangan itu selesai acara doa mereka, aku terpaksa keluar duluan.”

“Nggak apa-apa, karena kamu kan mau makan,” jawabku.

“Bukan! Aku nggak lapar tapi aku mau menghirup udara segar, karena dalam ruangan itu aku pusing. Pusingnya payah sekali! Pusing, hilang, pusing, hilang, bolak-balik terus.”

“Apa?” tanya saya keheranan.

The Most Reverend Robert J. Baker STD, the fourth Bishop of  Birmingham.

Penggunaan kemenyan di dalam Misa. Foto: Koleksi Pribadi,

“Aku tak tahan bau kemenyannya. Koq mereka pakai kemenyan sebanyak itu. Tapi aku nggak lihat ada asap? Di mana sih sebenarnya mereka bakar kemenyannya? Aku rasa seperti kemenyan yang dalam anglo kecil yang diayunkan pastor pada malam Natal atau Paskah itu.

“Apa?” Saya tersentak kaget sampai stir mobil pun terantuk dan ban depan mobil sempat oleng sebentar.

“Eh, hati-hati,” kata Winnie.

“Lho, aku nggak rasa bau kemenyan, dan aku nggak lihat ada yang bakar kemenyan di situ,” kataku.

“Tapi baunya tajam sekali, dan kepalaku selalu sakit tiap kali aku mencium bau itu? Benar-benar menusuk hidungku! Baunya terasa seperti di sekitarku. Masya kamu yang duduk di sampingku nggak merasa?”

“Ah, nggak,” kataku.

“Baunya datang berkali-kali, dan setiap kali bau itu datang, saat pusingnya sudah tak tertahankan, dalam bathin aku mengeluh, ‘Oh my God, koq loro’e koyo ngene?” (Ya Tuhan, koq sakitnya seperti ini?)

Waktu itu campuran bahasa Inggris Jawa ini sama sekali luput dari perhatian kami. Tapi saat membacakan kembali buat Winnie, jadi geli juga. Rupanya bahasa Inggris campur Jawanya Winnie bukan masalah, karena tahu-tahu, begitu saja baunya hilang, sebelum akhirnya datang lagi berulang kali seperti kata Winnie.

Winnie memang alergi terhadap bau wangi. Kalau ada yang pakai parfum di sekitarnya, dia akan sakit kepala.

Setelah percakapan itu kami berdua terdiam sebentar, tenggelam dalam lamunan masing-masing.

Tempat berlutut di ruang Aparisi, Conyers, GA. Foto koleksi pribadi,

Tempat berlutut di ruang Aparisi, Conyers, GA. Foto koleksi pribadi,

Nampaknya pengalaman setiap orang di Conyers berbeda, pikir saya. Karena biarpun waktu itu saya duduk di samping Winnie tak jauh dari pojok kiri depan ruang aparisi dekat tempat berlutut seperti yang tampak di gambar samping, tapi sama sekali tak pernah merasa bau kemenyan itu.

Perhatikan bahwa dalam hal ini, pusat perhatian kami sama sekali tidak pada pesan-pesan dari Bunda Maria lewat Nancy seperti yang banyak diberitakan media pada waktu itu, melainkan kepada pengalaman rohani yang unik di sana.

Waktu ketemu ‘Rest Area’, yaitu tempat istirahat buat para pengguna kendaraan di jalan raya antar negara bagian, saya bilang pada Winnie untuk mampir biar bisa manfaatkan fasilitas WC mereka.

Tempat istirahat ini memang menyediakan ruangan berisi media audiovisual untuk ramalan cuaca daerah sekitar, berbagai peta, hotel dan tempat wisata di negara bagian itu serta mesin penjual makanan/minuman (vending machines). Di siang hari biasanya ada pegawai-pegawai yang menunggui kantor di situ untuk memberikan info tentang negara bagian mereka; sedangkan di malam hari, ada penjaga yang membersihkan fasilitas itu maupun bertindak sebagai petugas keamanan dengan kemampuan bisa segera menghubungi polisi atau ambulance bila ada keadaan darurat.

Udara di luar tambah dingin karena sudah malam, jadi Winnie masukkan tangan ke kantongnya begitu turun dari mobil. Tiba-tiba dia kaget dan bilang:

“Lho, kunciku koq di sini?”

Saya tak mengerti dan tanya, “kuncimu kenapa?”

Dia bilang, sudahlah, nanti baru aku ceriterakan, lalu kami masing-masing berjalan ke WC yang terpisah.

Tanda Lalin Jalan Masuk ke Rest Area. Sumber Foto: Google Earth.

Tanda Lalin Jalan Masuk ke Rest Area. Sumber Foto: Google Earth.

Rest Area yang kami masuki ini terletak di perbatasan Alabama Georgia, sepanjang Interstate Highway I-20 dari arah Georgia masuk ke Alabama. Di jurusan ke Georgia yang dibatasi dengan jalur hijau, ada juga Rest Area milik Georgia buat tamu yang masuk dari perbatasan Alabama. Tempat peristirahatan itu sudah memasuki wilayah Georgia jadi tidak tepat di seberang rest area yang kami masuki tapi agak masuk ke arah yang barusan kami lewati.

Setelah jalannya mobil sudah stabil waktu kami masuk lagi ke highway I-20, Winnie baru berceritera lagi urusan kunci itu.

Ternyata waktu saya masuk ke rumah Nancy, Winnie ingin masuk, nyalakan pemanas dan tunggu di mobil saja biar lebih hangat. Namun kata Winnie, walaupun dia cari kemana-mana, ke kantong jaket, kantong celana, ke dalam tasnya, tapi tak ketemu kumpulan kuncinya. Waktu saya keluar melihat dia berjalan sambil melihat dedauanan kering itu, sebenarnya dia sudah bolak-balik berapa kali, mencari apakah segengam kunci yang tadi dia sempat pakai, jatuh di sana.

Tapi karena saya menggapai dan dia melihat Nancy sudah menunggu di pintu, dia pun berjalan ke arah kami. Namun ada dua kata dalam bahasa Tionghua yang terus mengiang di otaknya waktu dia berjalan ke arah saya, Nancy dan Elizabeth. Ping An, ping an (平安, 平安) yang artinya ‘selamat, atau aman, bebas dari bahaya’ tapi dia tak tahu kenapa kata itu muncul di pikirannya, kata Winnie.

…. bersambung.

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment

Next post:

Previous post: