≡ Menu

Di sanakah kamu? (11)

Waktu menceriterakan kembali hal itu malam ini, Winnie bilang dia sendiri tak mengerti kenapa muncul kedua kata itu di dalam benaknya. Belakangan ini setelah bisa Google macam-macam dengan lebih leluasa, baru dia tahu di mana missing link itu.

Kata Ping An dalam huruf Han. (Hanzi, Kanji) Foto koleksii pribadi.

Kata Ping An dalam Hanzi atau Kanji.
Foto koleksi pribadi.

Ternyata dalam pelajaran di sekolah dulu, kata Ping An cuma berarti selamat, aman, seperti dalam ungkapan “一路平安” (yi lu ping an) atau “semoga aman atau selamat dalam perjalanan”. Sedangkan untuk kata damai, peace, biasanya dipakai kata 和平 (he ping), misalnya dalam ungkapan 世界和平 (shi jie he ping) atau world peace, perdamaian dunia.

Lebih dari 5, 6 tahun sesudah menjadi Katholik baru Winnie sadar, kalau ungkapan ‘Peace be with you’ atau ‘semoga damai Tuhan besertamu’ itu dalam bahasa Tionghuanya disebut “愿你们平安” (Yuan ni men ping an) atau “平安跟随着你” (ping an gen sui zhe ni.) Artinya, baru lima enam tahun setelah kejadian di rumah Nancy itu baru Winnie mengerti, mengapa ada dua kata itu mengambang di otaknya.

Tapi kalau dipikir lagi, itu berarti karena dia masih belum Katholik dan tak tahu ungkapan Salam Damai, Syalom, Peace dsbnya, dia mendapat bisikan kata ‘Ping An’ atau ‘Peace’ hanya karena latar belakang pengetahuan pendidikan sekolah Tionghoanya. Sayang dalam kenyataan waktu itu, Winnie gagal menghubungkan dan memahami maknanya. Alasannya, karena dengan latar belakang kebudayaan Tionghoa Indonesia kami berdua, tak pernah kami gunakan kata ‘peace’, ‘syalom’ dalam menyapa sesama. Padahal kata Assalamu Alaykum misalnya juga punya arti yang sama selalu terdengar sejak kami masih kecil. Saya dibesarkan di kampung Islam. Winnie dibesarkan di dekat kampung Arab. Tapi bagi kami berdua yang bukan Muslim, baru setelah di luar negeri dan ketemu mahasiswa Muslim dari negara lain dan sehari-hari berkomunikasi dengan bahasa Inggris baru kami mengerti kalau kata-kata itu berarti ‘peace be upon you’ atau ‘damai untukmu.’ Ditambah lagi kalau melihat teman-teman orang Yahudi yang suka menggunakan kata ‘Syalom’ kami jadi sadar, alangkah dekatnya ketiga agama besar di Timur Tengah ini, paling tidak dalam cara menyapa sesama. Sebaliknya, datangilah keluarga Tionghua Indonesia yang belum pernah dengar kata syalom, salam damai dan sebutkan kata-kata itu, paling dia cuma akan tersenyum dan menyapa sebisanya. Sedangkan kalau disapa dengan “Salam Alaikum’, malah ada kemungkinan dia akan cepat bereaksi dengan menjawab, “Wa alaikum assalam”. Nah, dengan latar belakang kebudayaan itulah yang menurut saya membuat apa yang diungkapkan Winnie tentang pengalamannya di Conyers ini menggelitik. Koq pakai bahasa Tionghoa segala dalam mengirimkan pesan?

Hanya saja sampai di sini, kalau tidak hati-hati, kita mungkin bisa terperosok, dan terlibat dalam diskusi yang mempertanyakan mekanisme, maupun keabsahan pengertian bahwa ada sesuatu yang misteri yang bekerja di sana.

Buat saya dan Winnie, akan kami hindari diskusi semacam itu. Karena ini adalah bagian dari catatan perjalanan pulang kami, yaitu pulang ke pangkuan Bunda Gereja.

Kami tak minta anda untuk percaya, kami hanya mau share supaya teman-teman kami bisa mengerti kenapa kami buat apa yang kami buat. Setelah kami berdua jalani dan terutama akhir-akhir ini kami juga sempat merefleksi kembali, ternyata kami sudah lama menyerah dalam arti, kami terima bahwa segala kejadian di Conyers yang kami berdua alami adalah sentuhan tangan Ilahi lewat Roh Kudus. Setelah lebih dari 15 tahun ini, dengan segala kerendahan hati kami menerima rahmat ini apa adanya. Tanpa ada keraguan dan kembimbangan. Juga tak ada pertanyaan selanjutnya. It is what it is! Kami terima apa adanya dengan penuh sukacita.

Kembali ke ceritera Winnie soal rentetan kejadian hari itu, maka sesudah bau kemenyan berarti urusan tak ketemu kunci mobil ini adalah keanehan atau misteri atau mukjizat kedua di hari itu. Sedangkan kata ‘ping an’ yang merupakan bisikan Roh Kudus itu kami anggap sebagai bagian dari misteri kehilangan kunci.

Begitulah rekoleksi kami berdua mengingat kembali berbagai pembicaraan dalam perjalanan pulang malam itu. Dan saya masih tetap menyetir karena perjalanan masih cukup jauh, sedangkan malam pun makin bertambah pekat.

“Lha waktu di rumah John kenapa?” tanya saya kemudian.

“Waktu aku lihat salib itu, tubuh Tuhan Yesus berlumuran darah, banyak sekali. Aku tanya kamu, koq sampai gitu ya? Kamu bilang Iya. Ukuran patungnya tidak berubah, tapi tubuh Tuhan Yesus itu koq penuh darah?” Begitu Winnie mulai berceritera

“Lalu di dalam benakku tahu-tahu muncul pikiran, ‘If you want to make the sign of the cross, the time is now!’ (Kalau kamu ingin membuat tanda salib, sekaranglah saatnya!)”

Makanya Winnie terus berlutut dan membikin tanda salib.

“Hatiku sedih sekali, dan dalam hati aku berteriak terus, Oh, my God, oh, my God” (Ya, Tuhanku, ya Tuhanku) mengingat darah itu dan bayangkan sakitnya, walaupun hanya sekelebat.

Lalu sepertinya ada instruksi, “put both of your hands on the floor” (Letakkan kedua tanganmu di lantai).

Dia ikuti.

“Now put your forhead on the floor!” (Sekarang letakkan jidatmu sampai menempel ke lantai!)

“No, no!” kata Winnie di dalam hatinya. “Next time, (lain kali saja)” katanya melawan.

Winnie bilang dia ingat ada Rogers di belakangnya, dan dia tak ingin bersujud karena pantatnya akan mengarah ke Rogers.

“Just do it, just do it!” (Lakukan saja, lakukan saja!) Begitu kata suara di kepalanya.

“No! This is embarrassing!” kata Winnie dalam hatinya. “Next time.” “Tidak, aku malu! Nanti lain kali saja.”

“But when? Just do it now!” (Tapi kapan? Lakukan saja sekarang!)

Iya, ya, kapan lagi baru kami akan ke sini? Maka Winnie pun akhirnya mengalah pada suara bathin itu, terus membungkuk, menyentuhkan jidatnya ke lantai dan menangis terus, tak tahu apa yang harus dia kerjakan.

“You can get up, now” (Kamu boleh bangun, sekarang) lagi-lagi ada suara yang mengingatkan dia dalam bathinnya, sambil ingatkan juga kalau Rogers ada di belakangnya. Langsung dia menegakkan kepala, melihat kebelakang, terus berhenti menangis. Ternyata Rogers sedang berdiri dan semua pada melihat ke dirinya dengan wajah kebingungan.

Kami berdua betul-betul bingung dengan kejadian dahsyat ini.

Besoknya, walaupun hari Minggu, saya mengantar Winnie ke tempat kerjanya, karena Winnie memang kerja di akhir pekan, dan saya ke Misa sendiri. Saya sempat bilang ke Fr. Phil bahwa untuk pertama kalinya saya melihat Winnie membuat tanda salib. Buat saya itu sesuatu yang luar biasa. Tapi buat Fr. Phil yang harus menyalami umat lain di belakang saya, tentu tidak begitu masuk ke dalam perhatiannya.

…. bersambung.

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment

Next post:

Previous post: