≡ Menu

Di sanakah kamu? (13)

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. (Pkh 3:1)

Di tahun 2009, dalam memperingati 10 tahun kami kembali ke Gereja, saya pernah coba menulis catatan perjalanan rohani ini. Tapi mungkin belum waktunya, niat itu tak pernah kesampaian.

Musim berganti, waktu juga berlalu dengan pesat. Ternyata hari-hari ini saya sudah hampir menyelesaikan bagian terakhir dari catatan perjalanan rohani kami, dalam rangka memperingati 15 tahun saya kembali dan Winnie bergabung ke pangkuan Bunda Gereja.

Rupanya dalam mengumpulkan bahan catatan perjalanan rohani ini, otak kami juga mulai tak suka diajak bekerjasama. Ada berbagai kenangan dari masa itu mendadak muncul di otak tidak selalu dalam urutan kronologisnya.

Yeh 47:12 Foto Koleksi Pribadi,

Yeh 47:12
Foto Koleksi Pribadi,

Misalnya, kemarin pagi waktu sarapan, Winnie tiba-tiba bertanya, “Apakah kamu ingat tentang pohon-pohon di pinggir sungai yang disebutkan dalam Ezekiel?”

Iya, karena Winnie menjadi Katholik di Gereja Amerika, tentu saja semua istilah Gerejani pakai bahasa Inggris, kecuali beberapa doa yang saya ajarkan. Tak heranlah kalau Winnie lebih mengenal nama-nama bahasa Inggris berbagai buku dalam Alkitab itu.

Waktu saya bilang lupa urusan pohon-pohon di pinggir kali, Winnie lalu mengingatkan saya begini.

Menurut Winnie, setelah saya putuskan untuk kembali ke Gereja menjelang ulang tahun pernikahan kami di tahun 1998, malamnya saya sempat berdoa Rosario.

– “Hah?” Saya malah sudah tak ingat sama sekali urusan doa itu waktu saya memulai catatan perjalanan rohani ini.

Kata Winnie, setelah selesai berdoa, saya lalu berceritera kepada Winnie, apa yang terbaca sewaktu saya buka Alkitab secara acak, dan membaca tepat di halaman yang saya buka itu.

Saya terpaksa memeras otak dan setelah mengingat-ngingat lagi, iya, ya, rasanya hal itu memang pernah terjadi.

Menurut Winnie, ceritera tentang pohon yang saya baca waktu itu membawa ingatannya pulang ke Salatiga, ke hari-hari menjelang keberangkatan kami ke Amerika. Winnie bilang, dia pernah baca ayat itu dalam majalah HIDUP dan hal itu tidak bisa dia lupakan, karena reaksinya setelah membaca.

Setelah saya cek sebentar ke komputer, rupanya yang Winnie maksudkan adalah Yeh 47:12.

Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat.

Sedangkan reaksi Winnie adalah: “Ya Tuhan, kalau semua orang pindah ke tepi sungai itu, bukankah lama-lama buahnya akan habis? Buahnya habis, daunnya habis, jangan-jangan ikan di sungaipun akan habis, kalau banyak manusia yang menuju ke sana.” Ada kaitan imajiner yang menghubungkan ayat di atas dengan Amerika dalam bayangan Winnie. Kasarannya, kalau semua orang bilang Amerika bagus, lama-lama banyak yang bakal tidak kebagian.

Kemudian Winnie tambahkan lagi bagian yang sudah hampir terhapus dalam ingatan saja, dan ini yang agak mengejutkan. Seperti saya katakan, dalam banyak hal, ingatan Winnie jauh lebih baik ingatan saya.

Begitulah, saya terus membacakan kelanjutan ayat di atas, dan ketika saya mulai membacakan tentang air yang mencapai pergelangan kaki, lutut dan pinggang, Winnie terus bilang dalam bahasa Tionghoa. “回头是岸.” (hui tou shi an). Arti harafiahnya “putarkan kepala adalah (terlihat) pantai,” sebuah ungkapan yang mengajak bertobat.

Bertobatlah! Image source: pic18.nipic.com

Bertobatlah!
Image source: pic18.nipic.com

Mendengar kata-kata Winnie saya tambahkan, “悬崖勒马,回头是岸” (xuan ya le ma, hui tou shi an). Ini adalah pepatah Tionghoa seperti yang sering diulang-ulang pak Zhang di kelas kami dulu, entah di kelas 4 atau kelas 5, SR Tionghoa di kota Kupang.

Tahan kekang di tebing curam,
Putarkan kepala terlihat pantai.

Keduanya adalah ajakan bertobat di saat paling genting! Bertobatlah menurut petuah Tionghua kuno, sama saja dengan menahan kekang kuda saat sudah berada di puncak tebing yang terjal atau tak perlu berlayar lagi, putarkan kepalamu, di belakang sana ada pantai.

“Tapi apa hubungan dengan keadaan kita saat itu?”

“Coba kamu resapkan kembali,” kata Winnie. Mula-mula air hanya setinggi pergelangan kaki, maju lagi, naik sampai lutut, maju lagi air itu akan menenggelamkan kamu.

“Aku tak bilang apa-apa kepadamu waktu kamu ceriterakan kepadaku selesai doa malammu, karena aku toh tak mengerti sama sekali urusan gereja. Tapi melihat kamu mau ke Good Shephard, dan kamu bicara tentang ayat itu, aku merasa kayaknya jalanmu adalah jalan benar dengan kembali ke Gereja. Kalau waktu itu kamu paksakan dan maju terus ikuti maunya darah tinggimu, aku rasa kamu bakal kelelap dan kita bakal susah.”

Lamat-lamat saya ingat lagi, dan saya merasa tambah yakin bahwa saya memang pernah bicara soal ayat itu dengan Winnie. Tapi baru pagi itu saya mendengar pendapat Winnie urusan ke Gereja berarti bertobat dan tidak bakal kelelap dan mati tenggelam. Dengan pengetahuan tentang Gereja yang begitu minim di peringatan ulang tahun perkawinan kami yang ke-22, ternyata jalan pikirannya waktu itu agak masuk akal menurut saya, 15 tahun sesudah kejadian itu.

Beberapa hari setelah kejadian doa malam yang Winnie ingatkan itu, dan setelah dipermainkan oleh homili seperti yang saya ceriterakan di awal tulisan ini, saya terus bertobat, sempat ketemu dan meminta maaf kepada Fr. Phil atas surat berisi kecaman yang saya layangkan kepada beliau, dan kembali lagi ke Gereja setelah hampir tiga tahun bolos. Iya, iya, tentu saja saya harus mengaku dosa dulu. 🙂

Yang Winnie dan saya tak pernah bayangkan bahwa dalam waktu singkat tak sampai 6 bulan setelah kejadian itu, bukan saja saya yang kembali ke Gereja, tetapi Winnie pun akhirnya juga pulang dan bergabung dalam pangkuan Bunda Gereja.

Menulis sampai sini tiba-tiba ingat ceritera tentang seorang penumpang yang terjun dari atas kapal untuk menolong penumpang lain yang baru saja terjatuh ke laut waktu kapal itu masih berlayar di tengah lautan, dan tak ada yang mau menolong orang yang terjatuh itu.

Semua penumpang dan awak kapal sangat memuji keberanian dan kebaikan penumpang yang bersedia menolong orang lain dalam bahaya tanpa memperdulikan keselamatan diri sendiri. Akibat hal itu, Kapten kapal merasa perlu memberikan penghargaan khusus kepada penumpang ini.

Begitu selesai menerima piagam penghargaan, penumpang yang berani ini diminta untuk membeirikan sambutan, bagaimana dia sampai rela berkorban untuk menolong orang lain. Tapi bukan pidato, penumpang ini cuma mau mengajukan satu pertanyaan kepada seluruh penumpang dan awak kapal.

“Saya cuma pengin tahu satu hal,” kata penumpang itu terbata-bata, “siapa sebenarnya yang mendorong saya sampai kecebur tadi?”

Ada perasaan penuh tanda tanya, “siapa sih yang mengatur semua ini limabelas tahun yang lalu, yang seakan menceburkan kami ke dalam lautan pertobatan, dan merenangi lautan karunia Tuhan?”

Bayangkanlah, semua itu dimulai dari adanya keinginan kembali ke Gereja di ulang tahun pernikahan kami, saat roda kehidupan sedang berputar ke bawah. Kemudian terus mendengar homili pertama Fr. Phil tentang lelaki Yahudi dengan Rabinya, lalu homili tentang patung Kristus yang loyo. Sesudah itu malah dapat $50 untuk uang makan dan bensin buat ajak sekeluarga ke Conyers, padahal dua bulan sebelumnya, saya masih memaki-maki puluhan ribu pengunjung Conyers sebagai Katholik bego?”

“Hayo, anda kenal siapa perencana agung ini?”

… bersambung

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment

Next post:

Previous post: