≡ Menu

Di sanakah kamu (15) – Penutup

Sudah hampir dua tahun saya tak pernah mengisi postingan di sini.

Alasannya sederhana.

Pertama, memang saya sibuk sekali selama dua tahun ini. Kedua, dan ini yang lebih penting. Setelah berkali-kali mencoba untuk menutup catatan perjalanan rohani ini, saya selalu gagal. Saya selalu merasa ada yang tidak sreg. Begitu saya bacakan kepada Winnie, dia pun tidak suka penutup seperti itu.

Dua hari lalu, tiba-tiba Winnie bertanya: Kenapa sih saya menuliskan serial ini?

Saya tak bisa langsung menjawab.

Di tahun 2009, saya pernah menulis tentang sepuluh tahun Winnie kembali ke pangkuan Gereja, lalu saya postkan ke milis Parokinet. Tapi tak ada yang berminat membaca. Saya tak pernah melanjutkan postingan itu lagi.

Dua tahun lalu, dalam memperingati lima belas tahunnya Winnie kembali ke Gereja, saya terus mulai menulis postingan ini. Pengalaman atau perjalanan rohani kami ini saya pusatkan dengan lagu Paskah, ‘Were you there when they crucified my Lord’ yang sudah anda ikuti sampai bagian ke-14.

Kenapa judul lagu hasil karya seorang budak hitam di Amerika ini bisa menjadi judul tulisan ini?

Lagunya sederhana sekali. Hanya terdiri dari empat pertanyaan yang dipisah menjadi empat bait, lalu setiap baitnya pertanyaan yang sama ini diulang dua kali diikuti dengan pekikan ooh yang menyayat, berulang-ulang menyatakan kegemetaran penanya itu, lalu ditutup dengan pertanyaan yang sama.

Berikut ini adalah terjemahan dari empat pertanyaan itu seperti yang bisa ditemukan di Wikipedia:

Di sanakah kamu ketika mereka menyalibkan Tuhanku? (Disanakah kamu?)
Di sanakah kamu ketika mereka memakunya ke pohon?
Di sanakah kamu ketika mereka menikam di lambung-Nya?
Di sanakah kamu ketika mentari menolak untuk bersinar?

Ooh,…. kadang itu menyebabkan saya gemetar, gemetar, gemetar,…..

Ada berbagai versi. Ada yang menambahkan, di sanakah kamu ketika mereka membaringkannya di kuburan? Ada yang menyebutkan bahwa sesungguhnya ada tujuh pertanyaan dalam berbagai versi itu. Lagu yang tadinya berasal dari Gereja Epicospal ini ternyata dalam hymne Gereja Katholik yang dipakai di Paroki kami cuma disingkat jadi tiga bait seperti yang terlihat dalam foto berikut:

Were You There Catholic version

Were You There yang dinyanyikan di Gereja Kami

Reaksi orang atas lagu ini bermacam-macam. Tak urun ada juga yang mengecam kalau lagu ini terlalu menekankan saya, saya, saya yang gemetar terus, seperti yang pernah saya baca dalam salah satu forum diskusi lagu Gereja. Tapi banyak yang terenyuh mendengar lagu ini, terutama ketika mulai dinyanyikan di masa Pra-Paskah.

Dalam seri ini, sudah saya ceriterakan bagaimana reaksi Winnie ketika mendengar lagu ini.

Di rumah, kadang sedang di dapur atau di ruang kerja saya, tahu-tahu saya bersiul dan menyanyikan lagu itu. Tapi begitu mendengar nada sol do mi,….Oops, saya jadi sadar dan banting stiir. Bukannya

5 1 | 3 3 3 2| 1 3 2 1|

Sol do mi mi mi re do me re do,…

"The first line of Were You There"

“The first line of Were You There”

tapi saya teruskan dengan:

sol do mi do sol do mi la sol mi,…..

Dari ‘Were you there,….’ langsung jadi ‘….. sia tanah air hamba.’

Baris pertama lagu Indonesia Tanah Pusaka.

Baris pertama lagu Indonesia Tanah Pusaka.

Kadang, mendengar suara koor di Gereja menyanyikan lagu ‘Were you there,…’ ada keinginan untuk berdiri dan berteriak minta paduan suaranya berhenti menyanyikan lagu itu,….. tapi Winnie sendiri pasti akan malu sekali kalau hal itu terjadi.

Berikut ini adalah bagian yang saya ambil dari penutup yang saya tulis dua tahun lalu tapi tak sempat dipublikasikan.

Di malam Jumat Agung 2014, saat umat maju mencium patung ke depan, tak ada paduan suara, tapi piano dan seruling memainkan lagu itu lagi. Winnie sudah mulai memakai kursi roda saat itu, jadi dia tidak ikut maju ke depan. Kalau saja masih duduk di kursi saya pasti akan menunggu sampai lagu itu selesai. Tapi saat itu saya sudah berdiri dalam antrian, dan saya tak bisa begitu saja batalkan maju ke depan walaupun saya tahu kalau Winnie akan menitikkan air mata lagi.

Malam Paskah 2014.

Malam Paskah 2014.

Dalam perjalanan pulang dari Gereja, saya terus tanya, “kenapa sih kamu mesti nangis setiap mendengar lagu itu?”

Winnie bilang, karena dalam waktu beberapa detik itu, aku merasa berada di sana. I was there! Persis seperti beberapa detik di rumah John dulu, dan aku seperti melihat itu di depan mataku lagi.

Setelah menarik napas dalam-dalam, saya terus bilang, “tapi barangkali orang akan bilang ini semacam gangguan kejiwaan, seperti yang mereka katakan dengan pengunjung ke Jesusalem yang tiba-tiba bertingkah aneh atau Jerusalem Syndrom!”

Masya bodoh, kata Winnie. Kalau lagu itu bilang were you there, yes, I was there,….

Diam-diam saya terus menyetir dan melantunkan lagu itu dalam hatiku tanpa suara:

Were you there, when they crufied my Lord.
Were you there, when they crucified my Lord.
Ouu,…. some times it makes me tremble, tremble, tremble,
Were you there, when they crucified my Lord.

Ruang Aparisi Oktober 2015Ketika kami berkunjung ke Conyers di bulan Oktober 2015, Conyers sudah sangat sepi. Tapi mukjizat di Conyers masih terus berlangsung setidak-tidaknya bagi Winnie dan saya, dalam menghargai kehidupan ini lewat hal-hal kecil sehari-hari, seperti misalnya bahwa kami masih bernafas setiap bangun pagi. Biarlah mukjizat itu berlangsung dan kami akan melangkahi hidup ini yang kalau dalam bahasa Inggris disebut, ‘one day at a time,’ atau meniti hidup ini hari demi hari. Kami bersyukur dan terima-kasih sempat berada di Conyers pada waktu yang tepat yang telah mengubah perjalanan hidup kami hingga hari ini. Bukankah hidup manusia itu sendiri suatu mukjizat?

Terima kasih buat anda semua yang telah membantu hingga tulisan ini bisa rampung. Dengan selesainya tulisan ini, blog ini tak akan saya lanjutkan lagi. Selanjutnya saya akan membuat blog baru berisi pengalaman setelah pensiun. 😀

Selamat hari Pantekosta – 2016.***

{ 2 comments… add one }
  • Imientan September 10, 2016, 12:54 am

    Thank you for your posting….looking forward to read all your experiences after pensiun.

Leave a Comment

Previous post: