≡ Menu

Di sanakah kamu ? (4)

[Pengantar] Ini adalah bagian terakhir perjalanan rohani kami, sebelum kami manapaki jalan berikutnya yang membuat mata hati kami terbuka, dalam merasakan cinta kasih ilahi lewat pengalaman yang betul-betul baru bagi kami berdua. Tujuan saya, biar kami bisa berbagi pengalaman ini sebelum termakan usia. Silahkan mengisi tanggapan anda, kalau ada, agar bisa berbagi dengan semua pembaca postingan ini. (drt)

Image Source: www.freedigitalphotos.net

Image Source: www.freedigitalphotos.net

Hari Minggu itu saya datang sendiri.

Soalnya acara Winnie selalu padat. Hari Senin menjadi volunter di sekolah anak-anak. Selain itu untuk membantu hidup kami, Winnie malah kerja di dua tempat. Partime di Toko Grocery selama 3 hari, lalu full time di pabrik elektronik di akhir pekan. Oh, dan tentu saja, full time ibu rumah tangga tanpa pembantu. 😀 Tapi Winnie mengerti sekali, konsekuensi untuk tidak pulang ke tanah air setelah saya selesai studi. Semua itu demi masa depan anak-anak. Dia tak pernah mengeluh akan kesulitan hidup. Padahal dari setelah di-phk, gaji saya malah turun. Walaupun disertasi saya mengenai peralatan yang dibiayai oleh fihak militer, begitu selesai dan laporan penelitiannya masuk ke mereka yang membiayai lewat kontrak dengan universitas, materi itu terus menjadi materi rahasia. Harus ada clearance dari pemerintah untuk akses bahan penelitian yang saya lakukan selama di Universitas. Dan hasil penetian itu ada di pangkalan militer di sini. Tapi sebagai pemegang Green Card saya tidak punya clearance untuk akses, dan tidak bisa bekerja di bidang itu. Ajakan teman untuk pindah ke California selalu saya tampik. Karena Winnie bilang, ‘Capek, pindah terus!’ Sejak kami menikah, setahun di Yogya, terus itu ke Jepang, pulang dia di Pekalongan, saya di Salemba sampai 3 tahun, lalu pindah ke Jakasampurna, Salatiga, terus di Pennsylvania, lalu akhirnya menetap di Hunstville.

Saat itu, Huntsville termasuk kota yang paling lama kami tinggali dibandingkan kota-kota yang telah disebutkan di atas. Saya tentu ikut saja kemauan Winnie, karena kasian juga anak-anak yang sebentar-sebentar ganti teman sekolah.

Winnie tak pernah mengeluh akan semua kesulitan ini. Malah ketika bicara urusan kerja ke Pantai Barat Amerika, Winnie ingatkan lagi. Saya pernah pergi interview ke Oregon. Oh ya, saya lupa. Menurut Winnie, waktu itu doa dia sederhana sekali walaupun dia secara resmi belum dibaptis dan tidak tahu cara berdoa Kristiani.

“Ya, Tuhan, kalau ini memang jalan terbaik, biarlah dia dapatkan kerjaan itu. Tapi kalau bukan, tolong distop.”

Rupanya Tuhan kabulkan doa Winnie saat itu. Saya agak menyesal tak dapat pekerjaan itu tapi Winnie malah senang. Makanya saya yang suka mengomel, tak puas dengan keadaan kami menjelang phk yang kedua kalinya, persis seperti orang Yahudi yang ribut terus ke Rabbinya itu.

Lucunya, kalau ada teman yang tanya pada Winnie, apakah kamu senang kota Huntsville, jawabannya selalu tidak! Kenapa? Karena setiap kali aku mulai jatuh cinta dengan kota itu, maka tak lama lagi kami akan pindah, kata Winnie. Biasanya saya hanya manggut-manggut, mengingat akan semua kota yang pernah kami tinggali dan saya anggap kota yang bagus.

*

Di Gereja pagi itu, saya mencari kursi di barisan agak depan. Dalam Homilinya, Fr. Phil berceritera tentang seorang pemahat dari pantai barat Amerika.

Pemahat itu diminta untuk membuat patung Yesus ukuran besar di halaman Gereja dekat pantai. Patungnya kelihatan gagah sekali dan semua yang melihat memuji kemampuan si pemahat. Tapi anehnya, setelah ditinggal semalam, besok pagi patungnya kelihatan seperti orang lesu.

Pemahat itu memperbaiki pahatannya, dan sekali lagi, patung Yesus yang gagah berdiri dengan megahnya di halaman Gereja.

Eh, besok pagi, patungnya sudah berubah, menampilkan Yesus yang bermuram dan lesu, mungkin juga karena bantuan kelembaban di pinggir pantai.

Image Source: www.freedigitalphotos.net

Image Source: www.freedigitalphotos.net

Karena penasaran, malam itu sehabis memahat, dia menunggu di samping patung yang sudah dia perbaiki. Tapi saking capeknya, dia tertidur.

Nah, dalam tidurnya dia bermimpi kalau patung itu menjadi hidup dan turun lalu berbicara padanya dalam mimpi dia.

– Aku tidak segagah dalam patungmu, karena aku datang untuk mereka yang capek dan penuh beban.

Begitu dia terbangun, patungnya sudah berubah jadi lesu sekali.

Dari situ dia putuskan untuk tidak mengubah lagi patung Yesus menjadi lelaki ganteng yang gagah, tetapi lelaki sederhana dengan potongan tubuh yang termakan terik derita kehidupan. Selain itu di kaki patung itu dipahatkan kalimat berikut yang diambil dari bacaan Injil hari itu:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Mendengar sampai di situ, saya hanya diam membisu.

Saya sedang letih dan lesu, dan terlalu berat beban yang sedang saya pikul.

Tak terasa saya terus berlutut, dan mataku basah. Apalagi yang ingin saya cari untuk membuktikan bahwa semua ini kebetulan? Tak ada!

Saya mengerti bahwa ada yang memanggil saya untuk datang mendengar kedua homili itu di saat saya paling membutuhkan dukungan moril.

Selesai misa, saya ketemu Fr. Phil, meminta waktu untuk ketemu. Fr. Phil keluarkan buku catatan beliau dan saya dijadwalkan untuk ketemu beliau hari Rabu depan.

Pertemuan itu sendiri berlangsung sekitar satu jam.

Setelah saya jelaskan siapa saya, beliau ingat akan surat yang saya tulis. Saya juga baru sadar kalau nama beliau itu bukan Kennedy, tetapi O’Kennedy seperti lazimnya nama Irlandia.

Saya bilang, kalau tiga tahun lalu perusahaan kami dibeli orang lain. Semua pegawai di-phk. Saya jengkel setiap bulan dapat surat dari Gereja yang bilang kalau kontribusi kami bulan ini nol. Saya marah, pikir koq Gerejanya mata duitan. Orang lagi kena phk, masih tagih uang? Fr. Phil mengatakan beliau masih ingat akan surat itu, tapi tak usah dibawa ke hati.Di Gereja toh tak ada yang tahu kamu di-phk perusahaanmu.

Lalu kami bicara tentang status kerjaan saya sekarang dan beliau minta agar saya membawa resume saya ke Kantor Paroki, karena ada sukarelawan yang membantu para pegawai phk untuk mencari kerja lagi.

Setelah keluarkan semua uneg-uneg, akhirnya Fr. Phil memberikan berkatnya, dan saya pun pulang. Dan begitulah, setelah dua tahun lebih tinggalkan Gereja, tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba ada keinginan untuk ikut Misa, bukan di Gereja Holy Spirit, tetapi ke Gereja Good Shephard.Tentu saja sebagai seorang Katholik, saya menjalani semua langkah untuk kembali menerima komuni.

Nah, kembalinya saya ke Gereja Good Shephard itu suatu kebetulan? Bagaimana menurut anda? Bukankah saya bisa pergi ke Holy Spirit seperti sudah-sudah, dan mungkin akan mendengar homili yang lain?

Saya merasa perlu memberikan latar belakang ini, sebelum memasuki babak baru yang menyebabkan Winnie berubah seratus delapan puluh derajat. Dari pasif perlahan-lahan menjadi aktif di Gereja.

Oh ya, beberapa hari setelah pertemuan itu, ketika orang Amerika selesai merayakan peringatan Thanksgiving yang jatuh pada hari Kamis keempat di bulan November, akhirnya saya terima surat phknya.

…. bersambung.

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment

Next post:

Previous post: