≡ Menu

Di sanakah kamu? (5)

Patung Our Loving Mother. From my own collections.

Patung Our Loving Mother. Koleksi Pribadi.

Ketika keluarga-keluarga di Amerika merayakan perayaan Thanksgiving di hari Kamis keempat di bulan November untuk menyatakan perasaan syukur mereka di akhir tahun itu, saya menerima pink slip, atau surat PHK dari kantor seperti yang sudah menjadi kabar angin sebelumnya.

Tak ada kejadian istimewa selama masa pencarian kerja lagi. Setiap hari saya rajin memeriksa iklan lowongan kerja di koran, hubungi head hunters atau teman-teman lewat telpon, kirim lamaran, interview sampai akhirnya Hari Natal pun tiba.

Malam Natal, sehabis misa, begitu melihat saya, pastor kami Fr. Phil menggapai lalu mengambil satu amplop dari ruang ganti baju dan bilang, “Ini ada titipan dari seorang ibu di Gereja untukmu.” Saya hanya bisa berterimakasih saja.

Natal siang, sehabis Misa, saya bilang kepada Winnie, “ayo jalan-jalan ke Conyers yok!”

Winnie okay saja, ayo, sekalian jalan-jalan dengan anak-anak?

Amplop dari Fr. Phil malam itu berisi $50 dan itu cukup untuk mengisi bensin penuh tangki, dan masih cukup untuk makan buat kami berlima waktu pergi dan pulang. Maka berangkatlah kami sekeluarga menuju Conyers yang sekitar 240 miles atau 384 km dari rumah.

Putra kedua kami Riki saat itu sedang ke New Zealand mengunjungi temannya yang dia kenal lewat IRC, atau Internet Relay Chat, jauh sebelum ada media sosial yang begitu marak sekarang. Albert yang kuliah di Connecticut pulang libur ke rumah, karena toh kampus akan kosong selama liburan akhir tahun.

Waktu kami tiba di Conyers hari masih siang, dan banyak sekali pengunjungnya.

Ada patung Bunda Maria yang menggendong bayi Tuhan Yesus di halaman ‘the Farm’ atau ‘Ladang.’

Anak-anak dan Winnie tak ada yang tertarik untuk masuk ke dalam, cuma mau tunggu di mobil yang saya parkir di bawah pohon rindang di halaman tempat tinggal Nancy Fowler, visionaris yang mendapat banyak pesan dari Bunda Maria itu. Hanya saya yang masuk ke bangunan yang dinamakan Apparition Room atau Ruangan Penampakan Bunda Maria.

Ada satu tempat berlutut untuk berdoa di pojok kiri depan ruangan, dan ketika orang di depan saya selesai berdoa, saya beranjak maju dan berlutut lalu mulai berdoa dengan melakukan tanda salib.

Tiba-tiba, saya kaget sekali!

Ada sekujur rasa nyaman yang mengalir dari ubun-ubun sampai ke kaki, begitu selesai saya membuat tanda salib.

Hal itu mengejutkan sekali, terutama buat saya yang bulan Oktober lalu, masih menggunakan kata-kata ‘stupid catholics’ buat mereka yang percaya akan Penampakan Bunda Maria di Conyers. Ternyata, penampakkan tanggal 13 Oktober 1998 itu merupakan penampakan terakhir.

Penampakan terakhir, 13 Oktober, 1998. Image Source: the Atlanta Journal of Constitution.

Penampakan terakhir, 13 Oktober, 1998. Image Source: the Atlanta Journal of Constitution.

Dua setengah bulan setelah saya mencemoh Katholik-katholik goblok yang berkumpul di Conyers dan menurut catatan berkisar 100,000 orang itu, entah ditarik kekuatan apa, saya kembali ke Gereja dan saat itu berada dalam ruangan penampakan di Conyers. Saya sedang merasakan ada yang mengguyur saya dengan perasaan nyaman dari kepala sampai ujung kaki. Persis keadaan kalau kita berhasil masuk ke tingkat meditasi dan dibawa ke dalam perasaan tenang dan nyaman itu.

Tak terasa saya menitikkan air mata, dan lupa apa yang mau saya doakan. Dengan perasaan nyaman itu, saya hanya bisa bersyukur dan berdoa buat menyatakan rasa syukur dan terima kasih saya akan pengalaman yang menyejukkan itu.

Itu bukan urusan percaya kepada Nancy Fowler atau peristiwa penampakkan Bunda Maria itu, melainkan ini adalah pengalaman pribadi yang saya tak bisa jelaskan tapi tak bisa begitu saja saya pungkiri, karena saya mengalaminya sendiri saat berlutut dan berdoa.

Bagaimana mungkin saya mengatakan pada diri sendiri, kalau saya termasuk salah satu idiot yang saya tertawai bulan Oktober yang lalu setelah mengalami sendiri begini?

Patung Tuhan Yesus di Holy Hill atau Bukit Suci. Foto koleksi pribadi.

Patung Tuhan Yesus di Holy Hill atau Bukit Suci.
Foto koleksi pribadi.

Karena pengalaman unik ini maka kenapa dalam belasan tahun ini, kejadian itu hanya tersimpan dalam lubuk hati dan tidak pernah saya ceriterakan kepada orang banyak selain beberapa kawan dekat. Tapi semua kejadian yang saya alami di sini berkaitan dengan Conyers saya curahkan setiap detailnya kepada Pater M di Filipina lewat email, dan kemudian setelah Winnie sendiri mengalami kejadian yang menakjubkan, saya makin mengurangi penuturan ceritera ini sampai sekarang.

Paling, di masa Prapaskah tahun 2010, ketika ada seorang teman postkan lagu ‘Were you there when they crucified my Lord,’ saya sempat mengatakan bahwa saya tak leluasa menyanyikan lagu itu di rumah karena bahkan kalau dinyanyikan oleh koor di Gereja pun, Winnie akan diam-diam meneteskan air mata.

Selesai berdoa saya keluar menuju tempat parkir untuk mengajak Winnie dan anak-anak. Mereka tetap tak mau masuk. Saya ceriterakan apa yang terjadi, mereka makin takut. Winnie akhirnya ikut masuk, mungkin iba melihat mata saya yang merah dan tiga anak tak ada yang mau ikut.

Di kemudian hari Winnie sempat bilang kalau sewaktu dalam ruangan, dia takut sekali. Winnie juga ingatkan, kalau sebelum kenal saya dia cuma pernah sekali saja ke Gereja Katholik, saat masih di TK. Tapi pengalaman itu meninggalkan rasa takut yang mendalam, karena dalam hati kecilnya dia merasa Tuhan berada di belakang altar itu.

Setelah duduk sebentar dan berdoa di ruangan penampakan, akhirnya kami pun pulang tanpa banyak ceritera.

Jauh setelah kunjungan pertama itu baru kami tahu kalau Dioses Atlanta pernah mengirim surat ke seluruh Gereja Katholik di Amerika yang intinya melarang kunjungan ke Conyers diorganisir lewat mimbar. Keuskupan Agung Atlanta sendiri merasa pesimis dengan kejadian di Conyers yang menurut data, sudah berlangsung sejak akhir tahun 1980an.

…. bersambung

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment

Next post:

Previous post: