≡ Menu

Di sanakah kamu? (6)

Limabelas tahun sudah berlalu, sejak peristiwa mengejutkan saya di Conyers seperti yang diungkapkan dalam seri sebelum ini.

Bila anda mengikuti seri ini dari awal, mestinya tak sulit buat anda simpulkan kalau seri ini tak lain adalah catatan perjalanan rohani kami, yang sebenarnya sudah dimulai sejak penerimaan berkat pernikahan kami di Gereja St. Petrus, Pekalongan, tanggal 13 November, 1976. Kami sendiri tidak sadari akan awal perjalanan ini sampai sekarang, saat menulis seri ini.

Ketidaksadaran tentang titik awal ini mudah dimaklumi, karena selama 22 tahun sejak pernikahan kami, hampir tak ada yang istimewa dalam perjalanan rohani kami. Anak-anak lahir, dibaptis, terima komuni, konfirmasi dan semua berjalan dengan biasa walaupun Winnie masih belum resmi menjadi anggota gereja. Kalaupun ada hal-hal istimewa, kami berdua – Winnie dan saya selalu melihatnya dari konteks pengalaman pribadi bukan perjalanan rohani.

imageKesadaran akan adanya ‘sesuatu’ dalam perjalanan rohani itu baru mulai terasa ketika kami kembali ke Gereja sehari setelah ulang tahun ke 22 perkawinan kami, tanggal 13 November, 1998. Tapi baru setelah limabelas tahun kemudian, terlihat adanya sambungan di antara titik titik dalam perjalanan hidup kami yang tampaknya selalu berputar sekitar tanggal 13.

Setiap potongan ceritera di sini ibarat sebuah stasion kereta dalam perjalanan rohani kami lewat perjalanan darat, atau sebuah pelabuhan dalam perjalanan laut.

Seperti halnya dalam kehidupan di dunia nyata, ada stasion kecil yang hampir tak ada apa-apa selain sebuah tempat untuk berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang; ada juga stasion megapolitan yang begitu rumit, sehingga tanpa bimbingan orang yang mengerti seluk-beluk stasion itu, orang akan tersesat tak tahu bagaimana keluar dari sana.

Itulah perasaan saat mengenang kembali pengalaman di Conyers.

Saya selalu merasa tak berdaya, memahami apa sesungguhnya yang terjadi di Conyers setelah datang sendiri dan mengalami sendiri pengalaman yang unik sekali.

Dengan bekal pengetahuan teologi yang minim dan dengan latar belakang sains dan teknology, sangat sulit buat saya untuk mengerti apa yang sedang terjadi di sana lewat berbagai pesan yang katanya berasal dari Bunda Maria atau Tuhan Yesus yang disampaikan lewat almarhum Nancy Fowler, dan dicatat oleh para pembantu setia di samping Nancy, kala peristiwa penampakan sedang berlangsung.

Holy Hill. Foto: Koleksi Pribadi.

Holy Hill. Foto: Koleksi Pribadi.

Kemampuan teologis yang minim, dan tak pernah dididik dalam penelitian bidang sosial, saya betul-betul tidak siap menghadapi kejadian di Conyers, dalam arti tak berdaya untuk menjelaskan. Makanya jangan kaget kalau anda tidak akan temukan interpretasi dan pemahaman saya akan apa yang sedang terjadi di Conyers sewaktu kami di sana dalam seri ini. Anda mungkin akan lebih berhasil untuk menemukan tulisan mengenai apa yang terjadi di sana, bila anda mencari berbagai rujukan di Internet tentang penampakkan Bunda Maria di Conyers.

Oleh sebab itu, harapan saya semoga anda tidak membaca seri ini dengan harapan untuk menemukan suatu kisah atau analisis tentang penampakan Bunda Maria di Conyers, atau kejadian yang menimpa saya dari kacamata analisis teologi.

Saya hanya menyajikan catatan-catatan lepas tentang pengalaman perjalanan rohani kami, – yang akhirnya mulai terlihat keterikatannya,- selagi ingatan kami masih mendingan, sebelum usia menggerogoti ingatan kami berdua. Kalau seri ini diberi sub-judul, mungkin jadinya seperti ini: Di sanakah kamu? – Sebuah catatan perjalan, pulang!

Pulang ke mana?

Pulang ke rumah atau a journey home. Pulang ke pangkuan bunda Gereja.

Berbahagialah mereka yang tidak melihat tapi percaya!

… bersambung.

Jumat Agung, 2014.

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment

Next post:

Previous post: