≡ Menu

Di sanakah kamu? (8)

Nah, tanggal 13 Februari 1999 pagi itu, kami datang sudah agak siang, dan ruangan aparisi sudah terisi dan hanya ada lima kursi kosong di barisan paling depan, dua di ujung kiri dan tiga di tengah.

Sampai saat itu, Winnie masih seperti sediakala, hanya ikut ke sana untuk menemani saya, dan masih punya rasa cemas begitu memasuki ruang aparisi itu. Winnie sama sekali tidak mengerti doa apa yang mereka sedang daraskan. Dia tahu itu doa Rosario tapi dia belum tahu bagaimana cara berdoanya.

Foto udara the Farm di bulan Oktober 1998. Sumber: Koran ini

Foto udara the Farm menunjukkan bangunan tempat Ruang Aparisi di bulan Oktober 1998. Sumber: Agusta Chronicle

Kami terus masuk, jalan menuju ke barisan terdepan, lalu duduk di dua dari tiga kursi kosong di tengah deretan bangku itu.

Tak lama kemudian masuklah satu keluarga berjumlah tiga orang. Maka kami pun pindah ke dua kursi kosong di ujung kiri membiarkan keluarga itu bisa duduk bersebelahan.

Letak kursi kosong ini tak ada semeter dari tempat berlutut yang memberikan pengalaman unik beberapa minggu sebelumnya. Winnie duduk di ujung deretan itu.

Setelah doa bersama selesai, saya katakan pada Winnie, saya masih ingin berdoa dulu. Winnie bilang dia ingin ke mobil. Saya mau berikan kunci saya, tapi dia bilang, dia juga bawa gerombol kuncinya.

Setelah selesai berdoa saya keluar ke mobil, Winnie tawarkan makanan kecil yang dia bawa dari rumah, tapi akhirnya kami putuskan pergi makan di restoran yang tak jauh dari situ baru kembali lagi karena kami masih ingin ke Holy Hill di belakang rumah Nancy, sekitar 10-15 menit perjalanan dari ruang aparisi. Sampai siang masih banyak orang di sana, namun paling banyak sekitar beberapa puluh orang, tidak sebanyak jumlah tumpah ruah seperti yang tampak pada gambar di atas. Foto ini muncul dalam sebuah artikel tertanggal 10 Oktober 1998, tiga hari sebelum ‘penampakan Bunda Maria yang terakhir kali’ menurut Nancy.

Patung Tuhan Yesus di Holy Hill atau Bukit Suci. Foto koleksi pribadi.

Patung Tuhan Yesus di Holy Hill atau Bukit Suci.
Foto koleksi pribadi.

Sepulang makan saya tidak kembali ke tempat parkir ruang aparisi, tapi belok masuk dan parkir di halaman rumah Nancy yang terletak di jalan besar sebelum belok ke White Road menuju ‘the Farm.’ Lalu kami berjalan mengitari pekarangan sampai ke Holy Hill di belakang rumahnya.

Biasanya pintu pagar depan Nancy selalu ditutup. Tapi hari itu karena tanggal 13 dan banyak pengunjung, maka pintu itu terbuka sehingga kami bisa parkir di sana. Halaman parkir Nancy hanya bisa menampung beberapa mobil.

Dari belakang rumah Nancy, ada jalanan tak beraspal lewat Holy Hill menuju kembali ke ruang aparisi yang kami datangi tadi. Biasanya orang yang berjalan antara kedua tempat ini suka berjalan sambil berdoa Rosario.

Nancy Fowler. Image source: Georgia Bulletin, Archdiocese of Atlanta

Nancy Fowler. Image source: Georgia Bulletin, Archdiocese of Atlanta

Di samping rumah Nancy saya lihat ada beberapa orang yang sedang antri ingin ketemu Nancy, walaupun sudah ada beberapa pengumuman yang ditempel di sekeliling rumah dan pagar, agar para pengunjung tidak mengganggu privasi Nancy.

Melihat yang menunggu tidak terlalu banyak, saya ajak Winnie untuk ketemu Nancy. Biar bagaimana pun, saya toh kepingin tahu seperti apa sih orangnya?

Winnie tak mau, dan dia terus berjalan kembali ke mobil. Saya lalu antri sendiri menunggu giliran di barisan itu. Ternyata ada seorang ibu asal Indonesia yang sudah lama tinggal di bagian selatan Georgia di antara mereka yang menunggu. Kalau tak salah ingat, namanya Elizabeth. Setelah bertukar informasi begitu sampai giliran, kami masuk bersama.

Waktu ketemu Nancy, saya sempat bilang kalau istri saya sedang menunggu di mobil. Nancy bilang, ajak ke sini saja. Saya segera keluar, tapi Winnie tidak kelihatan dan saya masuk lagi.

Setelah bicara sebentar, kami pamit. Nancy mengantar kami sampai ke pintu. Begitu saya lihat ke luar, Winnie sedang berjalan di atas dedaunan kering yang menutupi halaman pekarangan Nancy. Saya menggapai dan Winnie datang. Setelah bersalaman dengan Nancy, kami terus pamitan. Nancy sempat bilang, tanganmu dingin sekali. Winnie bilang, iya, di luar memang dingin. Awal February memang paling dingin dan hari itu baru tanggal 13.

Tak ada kesan mendalam saya tentang pertemuan itu. Kami diberi gambar Bunda Maria dan bayi Yesus seukuran kertas folio. Hari sudah agak sore waktu kami pamitan dan kami masih butuh menyetir sekitar empat setengah sampai lima jam untuk sampai ke rumah.

Nancy Fowler seperti yang ditunjukkan dalam gambar di atas, adalah seorang ibu setengah baya. Menurut biografinya dia hanya 3 tahun lebih tua dari saya, dan waktu ketemu kesan saya Nancy tak beda dengan wanita sebaya yang bisa anda temui di lingkungan kami di sini. Sama sekali tak ada kesan selebriti pada diri Nancy. Dari apa yang saya pernah baca di kemudian hari, ternyata sampai akhir hayatnya, Nancy tetap patuh pada Gereja dan mengikuti semua petunjuk Gereja sehubungan dengan penampakan Bunda Maria ini, termasuk setelah terjadi perpecahan di antara Nancy dan para pendukungnya yang membiayai pembangunan berbagai fasilitas di Conyers.

Rogers Haddad sedang berbicara dengan pengunjung lain di Holy Hill. Pagar rumah yang tampak adalah pagar rumah Nancy. Foto koleksi pribadi.

Rogers Haddad sedang berbicara dengan pengujung lain di Holy Hill. Pagar rumah yang tampak adalah pagar rumah Nancy. Foto koleksi pribadi.

Sewaktu mau masuk ke mobil, seorang teman penziarah asal Lebanon bernama Rogers Haddad lewat di depan mobil dan menyapa. Dia seorang pengunjung tetap dan sudah beberapa kali saya sempat omong-omong dengan dia. Dari ceriteranya, ternyata dia seorang insinyur kimia yang masih rajin ke Gereja. Tapi yang membuat saya agak kaget, ternyata di Timur Tengah, ada juga minoritas Kristen Katholik seperti dia. Bahkan menurut Rogers di Syria masih ada seorang Visionary yang punya Stigmata bernama Maria Kourbert Al-Akhras atau Myrna dari Soufanieh. Sebagai catatan, beberapa tahun kemudian ceritera tentang Myrna saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan masih bisa dibaca di sini. Akhir-akhir ini kalau melihat berita TV tentang perang saudara di Syria, saya suka berpikir, entah bagaimana ya keadaan Myrna di sana?

Rogers menawarkan kami untuk mampir ke rumah John Haber, seorang artis dan tukang cat semua patung yang ada di Holy Hill (Bukit Suci) maupun di dalam Aparition Room (atau ruang aparisi atau penampakan). Menurut Rogers rumah temannya hanya dua blok dari situ. Karena memang searah dengan jalan pulang kami, maka kami tak keberatan untuk mampir. Sama sekali kami tak pernah menyangka kalau ajakan Rogers itu akan merubah perjalan hidup kami selamanya.

… bersambung

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment

Next post:

Previous post: