≡ Menu

Di sanakah kamu? (9)

Holy Hill and Nancy's yard from Google Earth

Holy Hill and Nancy’s yard from Google Earth

Keluar dari pekarangan Nancy, kami terus ikuti mobil Rogers. dengan tujuan mampir sebentar ke rumah John. Ternyata seperti kata Rogers, rumahnya memang tak jauh dari rumah Nancy.

Setelah bersalaman, kami pun diajak masuk.

Karena kami sendiri sudah sempat makan siang, makanya waktu Rogers bilang dia mau makan dulu begitu masuk ke ke rumah John, kami bilang silahkan. Rogers terus menggunakan mikrowave di ruang makan untuk panaskan makanan yang dia bawa dan John mempersilahkan kami duduk juga di meja makan menemani Rogers. Lalu John mulai berceritera tentang berbagai mukjizat di Conyers sesekali diselingi Rogers yang terus menyelesaikan makannya.

Waktu itu John ceritera bahwa dia punya satu salib yang dibuat dengan kayu khusus yang dia bawa dari Bermuda. Dia ingin sekali menambahkan patung Tuhan Yesus pada salib itu, tetapi patung yang dia temukan ukurannya tak pernah ada yang pas dengan ukuran salib kayunya.

Pintu Pagar Nancy yang selalu tertutup. Foto dari Google Earth.

Pintu Pagar Nancy yang selalu tertutup. Foto dari Google Earth.

Menurut John, ketika ulang tahun perkawinannya, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu di pagi hari dan menanyakan apakah dia mau patung Yesus yang sudah agak rusak. Orang itu mungkin tahu bahwa John adalah seorang seniman, tapi menurut John sendiri dia tidak mengenal orang itu, tapi dia terima saja patung rusak itu. Kalau tidak, orang itu akan membuang patungnya ke sampah.

Ternyata patung itu pas sekali ukurannya untuk salib kosongnya John, maka dia pun perbaiki patung rusak itu dan dipasangkan ke salibnya.

Menurut ceriteranya waktu itu, salib dengan patung Tuhan Yesus yang sudah diperbaiki itu pernah dititipkan kepada Nancy untuk ditaruh di kamar tidurnya, biar kalau ada penampakkan Bunda Maria atau Tuhan Yesus sendiri, maka patung itu dengan sendiri sudah terberkati langsung.

Walaupun saya sendiri pernah mengalami langsung pengalaman unik di ruang aparisi, maupun urusan ‘perang akan segera berakhir’ yang sudah saya ceriterakan sebelum ini, tetapi ceritera terakhir ini menyentuh otak rasional saya yang secara tidak sadar menyalakan ‘lampu merah’ dalam benak saya, walaupun hal itu tak saya katakan langsung kepada Rogers atau John,

Sementara itu Rogers juga sudah selesai makan. Saya tak tahu apakah itu makan siang atau makan malamnya. Seingat saya seperti kami, dia juga dari luar Georgia, dan masih akan menyetir pulang ke rumahnya, kalau tak salah di negara bagian South Carolina.

Beberapa tahun lalu Rogers pernah telepon ke rumah, bilang dia ketemu nomor kami saat bersihkan kertas-kertasnya. Waktu itu dia sudah pindah ke Kanada, tapi saya tak sempat mencatat nomor telpon dia hari itu, dan sampai sekarang kami tak pernah berhubungan lagi.

Karena Rogers sudah selesai makan, kami pun pamitan, tapi Rogers mengajak kami untuk melihat salib yang diceriterakan itu. Winnie dan saya pun lalu mengikuti John dan Rogers, beranjak dari meja makan ke ruang tamu tanpa ada ekspektasi apapun.

Salibbesar di Holy Hill yang foto udaranya terpampang di atas. Foto koleksi pribadi.

Salibbesar di Holy Hill yang foto udaranya terpampang di atas. Foto koleksi pribadi.

Salib itu tampak tergantung di tembok, sedikit di bawah langit-langit. Tak ada yang menonjol adalah reaksi pertama saya. Tak beda dengan berbagai salib yang banyak terdapat di Gereja atau institusi bahkan rumah keluarga Katholik di mana-mana. Cuma mungkin ukurannya agak sedikit lebih besar dari yang biasa terlihat di kebanyakan rumah,

Begitu melihat ke patung salib itu, tiba-tiba Winnie bertanya:

“Lho, koq sampai kaya begitu?”

Saya mengiayakan saja tanpa menanyakan apa yang dia maksudkan dengan kata ‘sampai begitu’, karena ada rasa ingin tahu, kenapa sih Rogers dan John memberikan perhatian begitu besar pada patung itu sampai Rogers mengajak kami ke sini sekedar untuk melihat salib itu?

Tetapi tak lama setelah saya mengiyakan Winnie, terdengar bunyi seperti ada yang jatuh di samping saya.

Waktu saya tengok, terlihat Winnie sedang membikin tanda salib selagi berlutut. Tak lama kemudian dia mulai membungkukkan badan ke depan, menyentuhkan jidatnya ke tanah seperti saat orang Tionghua lagi ‘paikui’ atau bersujud, sambil menangis.

Tentu saja saya kaget sekali. Pertama, karena ini adalah kali pertama saya melihat Winnie membikin tanda salib setelah kami menikah selama 22 tahun lebih. Kedua, Winnie sedang menyembah dan menangis tersedu-sedu di lantai.

Kalau dua samurai saling beri hormat dalam posisi duduk, mereka membungkuk, tetapi kepala mereka tetap menengadah dan mata mereka tak pernah beranjak dari posisi lawannya. Tapi posisi Winnie bagaikan murid Jepang yang menyembah ke kakek guru dalam perguruan mereka dan jidatnya menyentuh lantai, atau pasrah bongkok. Tak peduli kalau tiba-tiba sang guru melakukan sesuatu gerakan untuk menghajarnya,

Kemudian Winnie cepat-cepat bangun kembali ke posisi duduk berlutut. John dan Rogers terus mendekati kami berdua. Kami pun berdiri masih belum tahu apa yang sedang terjadi. John terus merangkul Winnie yang sudah berdiri, dan kami sempat bicara lagi sebentar sampai mereka yakin bahwa Winnie tak apa-apa, dan kami pun langsung pamitan, naik ke mobil dan menyetir pulang dalam keremangan senja.

Setelah meninggalkan keramaian karena banyaknya kendaraan yang masuk keluar ke Interstate Highway I-20 di sekitar kota Atlanta, jumlah kendaraan ke jurusan Birmingham pun mulai berkurang, dan saya lalu bertanya:

“Tadi kamu kenapa, jo?”

Maksud saya kenapa dia sampai menangis, dan berlutut segala? Jo dari kata bojo adalah sebutan akrab di antara kami berdua.

Winnie bilang, “nggak tahu,” karena dia juga masih belum 100% pulih dari apa yang baru saja dialami, dan masih belum tahu harus dimulai dari mana.

Satu hal yang sudah saya lupakan, ternyata dalam kebingungannya Winnie malah menggumankan lagu Natal, ‘Hark the herald angel sing,…’ sepanjang perjalanan keluar dari Atlanta. Waktu mendiskusikan bagian ini sebelum posting, Winnie ingatkan saya bahwa saat itu dia sadar kalau Natal sudah berlalu, tapi dia tak bisa hilangkan keinginan untuk mendengunkan lagu itu perlahan sepanjang jalan pulang.

…. bersambung.

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment

Next post:

Previous post: