Pada hari Jumat tanggal 12 Januari 2007, jam 7:51 pagi, di puncaknya rush hour, seorang pemain biola membentangkan kotak biolanya, lemparkan beberapa lembar dan keping dolar sebagai umpan ke dalam kotak itu terus langsung memainkan biolanya di samping sebuah tong sampah dalam stasiun bawah tanah L’Enfant Plaza di Washington D.C.
Dalam waktu 43 menit, dia sempat memainkan 6 lagu klasik, dan tercatat ada 1097 orang yang melewati pintu stasiun itu.
Setiap komuter di daerah urban pasti sudah terbiasa dengan pengamen jalanan seperti ini. Pertanyaan sekarang: Apakah mereka berhenti untuk menikmati? Apakah mereka melemparkan beberapa keping recehan atau pecahan dolar?
Leonard Slatkin adalah Direktur Musik dari Simphoni Orkes Nasional Amerika dan dia diajukan pertanyaan berikut:
Menurut dia, seandainya ada seorang pemain biola kelas dunia bermain dihadapan 1000 penonton yang sedang mengejar waktu dalam ‘rush hour’, apa yang bakal terjadi?
‘Mari kita andaikan,’ kata Slatkin, ‘bahwa dia tidak dikenal dan hanya dianggap sebagai pengamen musik jalanan. Dia bakal mendapat banyak penonton di Eropa,….tapi, okay, dari 1000 orang, saya perkirankan 35-40 orang akan menyadari kualitas musik itu apa adanya. Mungkin 75-100 akan berhenti untuk menikmati selama sesaat.’
Jadi, bakal ada kerumunan orang?
“Oh, pasti!”
Dan berapa kira-kira hasil ngamen dia?
“Sekitar $150.”
Makasih Master. Ini betul-betul terjadi.
“Bagaimana hasil tebakanku?”
Kami akan beritahukan nanti.
“Siapa musisi itu?”
Joshua Bell.
“NO!!!”
Siapa sebenarnya Joshua Bell?
Dengarkan lagu berikut seperti yang bisa didengar di situsnya atau di youtube, dan anda akan kaget akan kemampuan Joshua bila anda seorang pencinta biola dan tidak tahu siapa sebenarnya Joshua Bell seperti halnya saya yang baru tahu ceritera ini setelah menerima email dari teman.
Dari kejadian pagi itu, apakah kita bisa mengambil kesimpulan bahwa orang-orang yang melewati pintu stasiun pagi itu tidak bisa menikmati keindahan seni? Ataukah ini suatu contoh mengenai prioritas yang berbeda?
Buat yang tertarik akan ceritera ini, terutama masalah filsafat dan kemasyarakatan, silahkan baca laporan dari wartawan Washington Post yang bereksperimen tentang fenomena masyarakat ini, dan meminta bantuan maestro Joshua Bell untuk melakukan eksperimen berikut.
Apakah pohon yang jatuh di hutan tidak berbunyi, ataukah tidak ada yang mendengar bunyi itu? Apakah seorang musisi kenamaan memainkan musik ternama tapi tak ada yang mendengar berarti dia tidak hebat? Apakah eksperimen ini relevan bagi mereka yang terikat pada jadwal acara hari itu?
Anda bisa mencari jawabannya dalam artikel di atas atau menjawab sendiri. Saya tertarik akan kisah ini karena alasan sederhana. Dalam konteks apa harus kita melihat eksperimen ini? Berkali-kali saya suka menulis tentang rumput yang selalu lebih hijau di halaman tetangga. Tanpa mengerti konteks maupun prioritas kami di sini, berkali-kali saya dipersalahkan tidak peduli sesama dan berbagai umpatan lain. Persis seperti mereka yang lagi terburu-buru mengejar jadwal dan disalahi sebagai orang yang tidak bisa menikmati kesenian, atau dalam kasus saya, orang yang tidak punya hati. Betulkan begitu?
Tidak! Saya tidak meminta jawaban anda. Tetapi sebagai penutup mari saya ajak anda, kalau punya waktu, kalau tidak dikejar jadwal, untuk menikmati keahlian Joshua Bell dalam sajian berikut:
Selamat menikmati!
Popularity: 1% [?]



{ 1 comment… read it below or add one }
Biola.. alat musik GESEK mempesona