Saya pikir setiap alumni Yogya asal luar pulau pasti punya kisah sendiri tentang ungkapan ‘Ini Jangan, dimakan,’ khususnya mereka yang tidak tahu kalau ‘jangan’ itu adalah ‘sayur’ dalam bahasa Jawa.
Kisah ini kadang sudah seperti kaset tua yang selalu diputar ulang setiap ketemu teman sekampung yang pernah tinggal di Yogya lama setelah saya tinggalkan Yoyga. Setiap kali, bayangan tentang ibu kost atau tukang masak dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata menyuguhkan sayur ke mahasiswa pendatang baru sambil bilang:”Ini jangan, dimakan” atau variasinya ‘iki jangan, monggo didahar,…’ sudah bagaikan film lama saja yang muncul kembali setiap ada yang mengungkit-ngungkit ceritera ini.
Kadang saya pikir, sebenarnya banyak contoh jenaka dari bahasa lokal yang bisa membikin geli para pendatang atau tuan rumah sebelum mereka mengerti duduk persoalannya. Seorang teman bule saya misalnya pernah ceritera sambil bernostalgia tentang pengalaman waktu tinggal di Jakarta. Kata dia, waktu ke tukang cukur dia minta tukang cukur untuk ‘potong rumput saya’, karena dia kacaukan kata ‘rumput’ dan ‘rambut’.
Tapi dua contoh ini rasanya belum cukup untuk membangkitkan senyum di wajah orang Kupang, dibandingkan ceritera tentang masakan Yogya yang menggunakan kacang tolo. Untuk pastikan bahwa nama itu menggunakan satu dan bukan dua ‘l’, malam ini saya tanyakan ke Goos Gug, dan cuma bisa tersenyum sendiri melihat situs ‘kacang tolo lembut‘ ini.
Saya tidak tahu apa yang ada di benak mahasiswa baru dari Timor, terutama anak Kupang yang baru pertama kali ke Yogya, lalu disuguhi makanan dan ibu kostnya bilang, ‘ini jangan, ini sambal goreng kacang tolo. Monggo’
Kalau anaknya tukang celoteh, mungkin dia akan tanya lagi: “Sambal goreng kacang apa, ibu?”
Saya sendiri tidak tahan geli membayangkannya. Karena dalam serba-serbi bahasa Kupang kemarin, saya bilang bahwa dalam bahasa Kupang, tak ada huruf yang dibuang sebelum kata itu menjadi kata ‘konto.’ Soalnya dalam bahasa Kupang sudah ada istilahnya sendiri. Tapi kalau ada yang masih mau main potong satu huruf, sudah ada pasangan kata yang setelah menjadi bahasa Kupang, sama juga seperti kata ‘konto’ berubah artinya dan tak ada hubungan dengan kata asal dalam bahasa Melayunya. Kata yang saya maksudkan itu adalah kata ‘Tolol’ yang kalau sudah dibuang huruf terakhir, maka jadilah kata dalam bahasa Kupang yang tak ada hubungan dengan kata tolol maupun kacang tolo di Jawa, atau kacang tolo lembut dari Serawak seperti dalam situs di atas. Tapi percayalah, kalau anak Kupang di Yogya yang ditawari ‘sambal goreng kacang tolo’ cuma tersenyum bingung, saya harap kalau anda masuk warung di Kupang, anda tidak akan pesan ke pelayan wanita atau ibu pemilik warung, minta sambal goreng krecek kacang tolo, karena di Kupang orang bilang kacang buncis, bukan kacang Tolo. Salah pakai kata itu, malah bisa kena papoko*.
*papoko = gebuk.
Popularity: 2% [?]



{ 4 comments… read them below or add one }
wakakaka, sebenarnya ngantuk dan iseng baca2 blognya anak2 kupang, dan ngantuknya langsung hilang.hehehe
Om Aris,
Jangan coba-coba minta sambel goreng kacang tolo di Kupang, bukan cuma kena papoko tapi babonteng sampe biru balauw.Memang betul kata pepatah : “Lain padang lain belalang, lain lubuk lain inkannya”. Berbagi pengalaman juga, semasa tugas di Manado beberapa tahun yang lalu, saat saya minta dibuatkan sayur patola, mendadak sontak si tukang masak loncat dari tempat duduknya dan berkata setengah berteriak : “Nyanda, kita ni mau masak akang tu patola”.Usut punya usut ternyata patola yang di Kupang adalah sejenis sayur (gambas-Jawa) ternyata di Manado adalah ular besar.
Makasih buat ceritera tentang patola mambo’i Henny.
waha ha keren…