<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Inpres Desa Tertinggal, Kilas Balik Masalah Kemiskinan</title>
	<atom:link href="http://28oktober.net/inpres-desa-tertinggal-kilas-balik-masalah-kemiskinan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://28oktober.net/inpres-desa-tertinggal-kilas-balik-masalah-kemiskinan/</link>
	<description>Gado-gado dari U.S.A. - Sekedar Berbagi Info</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 May 2012 03:53:49 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
	<item>
		<title>By: beta</title>
		<link>http://28oktober.net/inpres-desa-tertinggal-kilas-balik-masalah-kemiskinan/comment-page-1/#comment-684</link>
		<dc:creator>beta</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 15:23:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://28oktober.net/?p=234#comment-684</guid>
		<description>syalom saudara
selamat malam beta mau kasih pendapat sedikit sa banyak hal mengatakan In donesia timur masih kategori KEMISKINAN tapi jangan itu sebagai patokan ok
kemiskinan sudah berada sejak kita dijajah belanda , dari sabang sampai Merouke jadi : inpres desa tertinggal ada di indonesia bahkan dibelahan dunia yang lae, khusus NTT kita sesama orang NTT harus berpikir bagaimana memajukannya , membuat program2 yang berguna :
kalau desa tertinggal seperti di : TTS, TTU di belahan NTT semua sudah maju kehidupannya bagaimana tinggal berjalan trus denganwaktu yang ada ,tarus kita dikupang masih lebih maju dari Tim-tim yang sudah memisahkan diri dari indonesia 
jadi kita saling melengkapi ok</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>syalom saudara<br />
selamat malam beta mau kasih pendapat sedikit sa banyak hal mengatakan In donesia timur masih kategori KEMISKINAN tapi jangan itu sebagai patokan ok<br />
kemiskinan sudah berada sejak kita dijajah belanda , dari sabang sampai Merouke jadi : inpres desa tertinggal ada di indonesia bahkan dibelahan dunia yang lae, khusus NTT kita sesama orang NTT harus berpikir bagaimana memajukannya , membuat program2 yang berguna :<br />
kalau desa tertinggal seperti di : TTS, TTU di belahan NTT semua sudah maju kehidupannya bagaimana tinggal berjalan trus denganwaktu yang ada ,tarus kita dikupang masih lebih maju dari Tim-tim yang sudah memisahkan diri dari indonesia<br />
jadi kita saling melengkapi ok</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: haerani ismandar</title>
		<link>http://28oktober.net/inpres-desa-tertinggal-kilas-balik-masalah-kemiskinan/comment-page-1/#comment-658</link>
		<dc:creator>haerani ismandar</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 20:56:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://28oktober.net/?p=234#comment-658</guid>
		<description>Dear Yuyun, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk urun pendapat. Memang betul bahwa ada hubungan yang sangat erat antara kemiskinan dan kebodohan. Sayang sekali para pengambil keputusan tidak menyadari atau pura2 tidak menyadari hal ini. Kebijakan2 yang di keluarkan sedikit sekali yang berpihak ke rakyat kecil. Contohnya saja sistem pendidikan yang ada saat ini. Kalau saja Ki Hajar Dewantoro masih hidup beliau akan menangis, karena tujuan pendidikan sekarang bukan lagi untuk mencerdaskan bangsa. Pendidikan menjadi sangat mahal, sehingga rakyat kecil hanya bisa mimpi untuk bisa mengenyam pendidikan. Bagaimana mereka akan keluar dari kemiskinan kalau untuk bersekolah saja tidak mampu. Masalah anak2 dengan gizi buruk ini juga misalnya, dari beberapa tulisan yang saya baca memang kadang2 dicuatkan agar supaya pemerintah daerah mendapat bantuan (dari dalam dan luar negeri)  Tetapi begitu memperoleh bantuan, hanya sedikit bantuan tersebut yang sampai ke anak2 yang membutuhkan. Saya hanya bisa mengurut dada, apa yang salah dengan mentallity para pengambil keputusan sehingga anak2 kecil pun di jadikan alat untuk mengeruk harta yang bukan miliknya. Dimana hati nurani mereka?  Jadi memang betul untuk memperbaiki ini semua selain program2 pengentasan kemiskinan, program pendidikan juga harus mendapat perhatian yang serius. Dan keduanya harus berjalan ber-sama2. Lalu seperti kata Yuyun program sebagus apapun tidak akan jalan kalau pemerintahan kita masih seperti yang ada sekarang ini, dimana lembaga yang paling kita hormati saja tidak malu2 menerima uang suap. 
Yun, bagaimana Illinois apa sudah mulai mengajar.  Salam untuk Billy dan Jessy.

haerani</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Yuyun, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk urun pendapat. Memang betul bahwa ada hubungan yang sangat erat antara kemiskinan dan kebodohan. Sayang sekali para pengambil keputusan tidak menyadari atau pura2 tidak menyadari hal ini. Kebijakan2 yang di keluarkan sedikit sekali yang berpihak ke rakyat kecil. Contohnya saja sistem pendidikan yang ada saat ini. Kalau saja Ki Hajar Dewantoro masih hidup beliau akan menangis, karena tujuan pendidikan sekarang bukan lagi untuk mencerdaskan bangsa. Pendidikan menjadi sangat mahal, sehingga rakyat kecil hanya bisa mimpi untuk bisa mengenyam pendidikan. Bagaimana mereka akan keluar dari kemiskinan kalau untuk bersekolah saja tidak mampu. Masalah anak2 dengan gizi buruk ini juga misalnya, dari beberapa tulisan yang saya baca memang kadang2 dicuatkan agar supaya pemerintah daerah mendapat bantuan (dari dalam dan luar negeri)  Tetapi begitu memperoleh bantuan, hanya sedikit bantuan tersebut yang sampai ke anak2 yang membutuhkan. Saya hanya bisa mengurut dada, apa yang salah dengan mentallity para pengambil keputusan sehingga anak2 kecil pun di jadikan alat untuk mengeruk harta yang bukan miliknya. Dimana hati nurani mereka?  Jadi memang betul untuk memperbaiki ini semua selain program2 pengentasan kemiskinan, program pendidikan juga harus mendapat perhatian yang serius. Dan keduanya harus berjalan ber-sama2. Lalu seperti kata Yuyun program sebagus apapun tidak akan jalan kalau pemerintahan kita masih seperti yang ada sekarang ini, dimana lembaga yang paling kita hormati saja tidak malu2 menerima uang suap.<br />
Yun, bagaimana Illinois apa sudah mulai mengajar.  Salam untuk Billy dan Jessy.</p>
<p>haerani</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yuen A.S.</title>
		<link>http://28oktober.net/inpres-desa-tertinggal-kilas-balik-masalah-kemiskinan/comment-page-1/#comment-657</link>
		<dc:creator>Yuen A.S.</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 19:12:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://28oktober.net/?p=234#comment-657</guid>
		<description>Beberapa tahun mengenal Mbak Haerani, selalu ada hal baru yang bisa saya pelajari dari beliau. Membaca tulisan beliau tentang kilas balik masalah kemiskinan di Indonesia betul-betul mengingatkan saya akan salah satu masalah terbesar yang dihadapi bangsa kita. Kemiskinan... 

Berbicara masalah kemiskinan di Indonesia sepertinya tidak akan ada habis-habisnya (semoga bangsa kita akan bisa mencapai titik dimana kalimat ini tidak relevan lagi). Meskipun tidak pernah terlibat langsung dalam proyek-proyek pemberantasan kemiskinan yang dibicarakan Mbak Haerani di atas, saya sedikit familiar dengan beberapa program yang beliau bicarakan (IDT, JPS, etc). Menurut pendapat saya, ide dasar program-program tersebut sangat bagus. Namun demikian masih banyak kekurangan dalam pelaksanaannya, mulai dari kekurangan dalam hal komunikasi, kekurangan tenaga pendamping dengan keahlian yang relevan, sampai dengan kekurangan dalam hal pengawasan pengaliran dana (hal ini berkaitan dengan masalah birokrasi, korupsi, dsb). 
Pada dasarnya saya sangat setuju dengan Dr Mubyarto bahwa untuk memberantas kemiskinan, kita harus mengentaskan masyarakat dari kebodohan. Usaha pengentasan kemiskinan harus dimulai (atau berjalan seiring) dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (atau pemberantasan kebodohan). Maka, sependapat dengan Mbak Haerani, pemerintah harus mulai memberikan perhatian serius terhadap peningkatan sektor pendidikan. 

Last but not least, pemerintahan yang bersih adalah syarat mutlak untuk mengentaskan bangsa kita dari kemiskinan. 

Sekian dulu tanggapan saya. 

YAS</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun mengenal Mbak Haerani, selalu ada hal baru yang bisa saya pelajari dari beliau. Membaca tulisan beliau tentang kilas balik masalah kemiskinan di Indonesia betul-betul mengingatkan saya akan salah satu masalah terbesar yang dihadapi bangsa kita. Kemiskinan&#8230; </p>
<p>Berbicara masalah kemiskinan di Indonesia sepertinya tidak akan ada habis-habisnya (semoga bangsa kita akan bisa mencapai titik dimana kalimat ini tidak relevan lagi). Meskipun tidak pernah terlibat langsung dalam proyek-proyek pemberantasan kemiskinan yang dibicarakan Mbak Haerani di atas, saya sedikit familiar dengan beberapa program yang beliau bicarakan (IDT, JPS, etc). Menurut pendapat saya, ide dasar program-program tersebut sangat bagus. Namun demikian masih banyak kekurangan dalam pelaksanaannya, mulai dari kekurangan dalam hal komunikasi, kekurangan tenaga pendamping dengan keahlian yang relevan, sampai dengan kekurangan dalam hal pengawasan pengaliran dana (hal ini berkaitan dengan masalah birokrasi, korupsi, dsb).<br />
Pada dasarnya saya sangat setuju dengan Dr Mubyarto bahwa untuk memberantas kemiskinan, kita harus mengentaskan masyarakat dari kebodohan. Usaha pengentasan kemiskinan harus dimulai (atau berjalan seiring) dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (atau pemberantasan kebodohan). Maka, sependapat dengan Mbak Haerani, pemerintah harus mulai memberikan perhatian serius terhadap peningkatan sektor pendidikan. </p>
<p>Last but not least, pemerintahan yang bersih adalah syarat mutlak untuk mengentaskan bangsa kita dari kemiskinan. </p>
<p>Sekian dulu tanggapan saya. </p>
<p>YAS</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: haerani ismandar</title>
		<link>http://28oktober.net/inpres-desa-tertinggal-kilas-balik-masalah-kemiskinan/comment-page-1/#comment-643</link>
		<dc:creator>haerani ismandar</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 03:55:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://28oktober.net/?p=234#comment-643</guid>
		<description>Dear mbak Rien, terima kasih atas komentarnya. Sayang sekali waktu keliling di Indonesia dulu saya belum sampai ke NTB, tetapi kalau kita lihat statistik ekonomi dan kependudukannya NTB dan NTT hampir sama.  Makanya kasus busung lapar yang mencuat kepermukaan banyak berasal dari kedua propinsi ini. Saya merasa memburuknya perekonomian di Indonesia ini selain karena kita sedang resesi ( kata sebagian besar pakar ), juga karena di tetapkannya otonomi daerah. Saya pribadi berpendapat kalau otonomi daerah yang diterapkan saat ini sangat terburu-buru sehingga daerah belum siap dengam SDM nya yang mengakibatkan perencanaan secara makro di daerah amburadul (ingat nggak waktu kita diskusi dengan pak Harry dari DPR beberapa tahun yang lalu).  Ada daerah yang kaya, dan punya uang tetapi tidak tahu mau diapakan uangnya sehingga yang terpikir pertama kali adalah komsumsi.  Gedung2 megah dibangun, mobil mewah berkeliaran tetapi mereka lupa SDM nya pun seharusnya diperbaiki. Akibatnya ya seperti ini banyak raja kecil di daerah tetapi rakyat miskin semakin miskin. Kalau mau diteruskan masih banyak lagi ceriteranya. Sekian dulu, terima kasih juga untuk Oom Aris yang memberi kesempatan saya untuk mengunggkapkan pendapat, semoga bermanfaat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear mbak Rien, terima kasih atas komentarnya. Sayang sekali waktu keliling di Indonesia dulu saya belum sampai ke NTB, tetapi kalau kita lihat statistik ekonomi dan kependudukannya NTB dan NTT hampir sama.  Makanya kasus busung lapar yang mencuat kepermukaan banyak berasal dari kedua propinsi ini. Saya merasa memburuknya perekonomian di Indonesia ini selain karena kita sedang resesi ( kata sebagian besar pakar ), juga karena di tetapkannya otonomi daerah. Saya pribadi berpendapat kalau otonomi daerah yang diterapkan saat ini sangat terburu-buru sehingga daerah belum siap dengam SDM nya yang mengakibatkan perencanaan secara makro di daerah amburadul (ingat nggak waktu kita diskusi dengan pak Harry dari DPR beberapa tahun yang lalu).  Ada daerah yang kaya, dan punya uang tetapi tidak tahu mau diapakan uangnya sehingga yang terpikir pertama kali adalah komsumsi.  Gedung2 megah dibangun, mobil mewah berkeliaran tetapi mereka lupa SDM nya pun seharusnya diperbaiki. Akibatnya ya seperti ini banyak raja kecil di daerah tetapi rakyat miskin semakin miskin. Kalau mau diteruskan masih banyak lagi ceriteranya. Sekian dulu, terima kasih juga untuk Oom Aris yang memberi kesempatan saya untuk mengunggkapkan pendapat, semoga bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Baiq Rien Handayani</title>
		<link>http://28oktober.net/inpres-desa-tertinggal-kilas-balik-masalah-kemiskinan/comment-page-1/#comment-642</link>
		<dc:creator>Baiq Rien Handayani</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 00:08:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://28oktober.net/?p=234#comment-642</guid>
		<description>Selamat ulang tahun mbak Haerani!!!!!!! Beberapa tahun mengenal penulis membuat saya mengerti betapa pedulinya penulis tentang kondisi tanah air saat ini.

Saya setuju mengenai tulisan beliau tentang kemiskinan di atas. Sebagai orang yang berasal dari salah satu propinsi termiskin di Indonesia (NTB), saya bisa memahami, bahwa problem kemiskinan ibarat gunung es. Memangkas kemiskinan di permukaan tetap akan  menyisakan sebagian besar problem kemiskinan dengan sejumlah permasalahan ikutannya.

Saya setuju dengan program IDT, karena saya termasuk orang yang merasakan nilai positive program tersebut. Tempat tinggal saya sejak tahun 1994 adalah termasuk daerah IDT padahal hanya berbatas sungai dengan Kota Mataram.  Dengan program tersebut yang membangun dan memperbaiki infrastruktur  sekarang tempat tinggal saya menjadi daerah terdekat dan terpadat yang diminati orang2 yang bekerja di Mataram dan sekitarnya. Perekonomian penduduk terlihat meningkat meskipun memang kemiskinan tetap ada. Yach setidaknya bantuan  program IDT tersebut ibarat pintu gerbang untuk kehidupan yang sedikit lebih baik bagi warganya.

Setuju juga jika program2 sejenis di aktifkan kembali. Jauh lebih baik memberi kail daripada memberi ikan. Bantuan2 cash pemerintah termasuk bantuan beras, hanya menyelesaikan satu 2 hari perut kosong tetapi tidak membuat warga miskin keluar dari lingkaran kemiskinan.  Banyak yang bisa dilakukan pemerintah tetapi sejauh ini hanya janji2 saja. Mudah2an dengan niat yang kuat dan keinginan yang tulus untuk membangun negeri kita, sedikit demi sedikit kita akan keluar dari kemiskinan jika tidak kita akan berada pada kondisi sebaliknya &quot;tenggelam dalam kemiskinan&quot; selamanya.

Itu dulu deh comment hari ini, lain kali disambung.
Salam hangat dari Stillwater

Rien HS</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat ulang tahun mbak Haerani!!!!!!! Beberapa tahun mengenal penulis membuat saya mengerti betapa pedulinya penulis tentang kondisi tanah air saat ini.</p>
<p>Saya setuju mengenai tulisan beliau tentang kemiskinan di atas. Sebagai orang yang berasal dari salah satu propinsi termiskin di Indonesia (NTB), saya bisa memahami, bahwa problem kemiskinan ibarat gunung es. Memangkas kemiskinan di permukaan tetap akan  menyisakan sebagian besar problem kemiskinan dengan sejumlah permasalahan ikutannya.</p>
<p>Saya setuju dengan program IDT, karena saya termasuk orang yang merasakan nilai positive program tersebut. Tempat tinggal saya sejak tahun 1994 adalah termasuk daerah IDT padahal hanya berbatas sungai dengan Kota Mataram.  Dengan program tersebut yang membangun dan memperbaiki infrastruktur  sekarang tempat tinggal saya menjadi daerah terdekat dan terpadat yang diminati orang2 yang bekerja di Mataram dan sekitarnya. Perekonomian penduduk terlihat meningkat meskipun memang kemiskinan tetap ada. Yach setidaknya bantuan  program IDT tersebut ibarat pintu gerbang untuk kehidupan yang sedikit lebih baik bagi warganya.</p>
<p>Setuju juga jika program2 sejenis di aktifkan kembali. Jauh lebih baik memberi kail daripada memberi ikan. Bantuan2 cash pemerintah termasuk bantuan beras, hanya menyelesaikan satu 2 hari perut kosong tetapi tidak membuat warga miskin keluar dari lingkaran kemiskinan.  Banyak yang bisa dilakukan pemerintah tetapi sejauh ini hanya janji2 saja. Mudah2an dengan niat yang kuat dan keinginan yang tulus untuk membangun negeri kita, sedikit demi sedikit kita akan keluar dari kemiskinan jika tidak kita akan berada pada kondisi sebaliknya &#8220;tenggelam dalam kemiskinan&#8221; selamanya.</p>
<p>Itu dulu deh comment hari ini, lain kali disambung.<br />
Salam hangat dari Stillwater</p>
<p>Rien HS</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: haerani ismandar</title>
		<link>http://28oktober.net/inpres-desa-tertinggal-kilas-balik-masalah-kemiskinan/comment-page-1/#comment-637</link>
		<dc:creator>haerani ismandar</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 05:18:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://28oktober.net/?p=234#comment-637</guid>
		<description>Sekedar menambahkan kalau hari ini di harian Kompas (8/11) Prof Dr Ir Ali Khomsan MS, ahli gizi anak dari Institut Pertanian Bogor dan juga Tb Rachmat Sentika Tim Ahli Anak dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia mengatakan kalau saat ini ada sejumlah 4 juta anak yang menderita kekurangan gizi yang kalau tidak ditangani secara serius akan jatuh ke kategori gizi buruk. Akar permasalahannya adalah kemiskinan. Ini keadaan yang perlu mendapat perhatian SANGAT serius dari pemerintah karena saat ini dari 700 ribu anak penderita gizi buruk hanya 39 ribu yang bisa tertangani oleh pemerintah. Lalu siapa yang akan menolong mereka kalau bukan pemerintah.  Usul kedua pakar diatas untuk mengaktifkan kembali posyandu sangat saya setujui. Karena pengalaman masa lalu menunjukkan dengan adanya posyandu angka penderita gizi buruk berkurang.  Yang menjadi tantangan utama sekarang adalah pengatifan posyandu perlu melibatkan banyak instansi tidak hanya dept kesehatan saja.  Lalu apakah pemerintah mau dengan serius mengalokasikan dana kesana. Saya dari hati yang paling dalam berdoa semoga pemimpin kita terbuka mata hatinya melihat kondisi anak2 kita yang juga adalah generasi penerus bangsa dan bisa mengeluarkan mereka dari kondisi mereka yang sekarang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sekedar menambahkan kalau hari ini di harian Kompas (8/11) Prof Dr Ir Ali Khomsan MS, ahli gizi anak dari Institut Pertanian Bogor dan juga Tb Rachmat Sentika Tim Ahli Anak dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia mengatakan kalau saat ini ada sejumlah 4 juta anak yang menderita kekurangan gizi yang kalau tidak ditangani secara serius akan jatuh ke kategori gizi buruk. Akar permasalahannya adalah kemiskinan. Ini keadaan yang perlu mendapat perhatian SANGAT serius dari pemerintah karena saat ini dari 700 ribu anak penderita gizi buruk hanya 39 ribu yang bisa tertangani oleh pemerintah. Lalu siapa yang akan menolong mereka kalau bukan pemerintah.  Usul kedua pakar diatas untuk mengaktifkan kembali posyandu sangat saya setujui. Karena pengalaman masa lalu menunjukkan dengan adanya posyandu angka penderita gizi buruk berkurang.  Yang menjadi tantangan utama sekarang adalah pengatifan posyandu perlu melibatkan banyak instansi tidak hanya dept kesehatan saja.  Lalu apakah pemerintah mau dengan serius mengalokasikan dana kesana. Saya dari hati yang paling dalam berdoa semoga pemimpin kita terbuka mata hatinya melihat kondisi anak2 kita yang juga adalah generasi penerus bangsa dan bisa mengeluarkan mereka dari kondisi mereka yang sekarang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: novita guerra</title>
		<link>http://28oktober.net/inpres-desa-tertinggal-kilas-balik-masalah-kemiskinan/comment-page-1/#comment-636</link>
		<dc:creator>novita guerra</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2008 19:00:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://28oktober.net/?p=234#comment-636</guid>
		<description>That&#039;s really interesting. Very in-depth and detailed. It touches subject that are rarely touched. My mom&#039;s writings are always very generous in information that I think people skip out in life. I have learned a lot from her writings. Give her a subject, and surely she can articulate a great piece for you. HAPPY BIRTHDAY MOM!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>That&#8217;s really interesting. Very in-depth and detailed. It touches subject that are rarely touched. My mom&#8217;s writings are always very generous in information that I think people skip out in life. I have learned a lot from her writings. Give her a subject, and surely she can articulate a great piece for you. HAPPY BIRTHDAY MOM!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

