Jahe dan Kunyit bisa mengurangi rasa sakit otot

print

Sewaktu kecil, saya selalu heran kenapa setiap memasak ayam, kakak saya suka menaruh irisan jahe ke dalam panci. Waktu saya tanyakan, dia hanya bilang, biar kalau dikencingi kaki seribu kita tidak sampai keracunan. 🙂 Dari suaminya yang asal Surabaya, irisan jahe yang biasa dipakai untuk masak ayam itu malah dimasukkan ke dalam air mendidih, setelah itu diseduh lalu dikasih gula. Itu pengalaman pertama saya dengan yang namanya wedang jahe di akhir tahun 50-an zaman kakak saya masih pacaran, dan calon ipar saya waktu itu ingin memamerkan kemampuan membuat minuman buat keluarga di rumah yang lagi kena batuk pilek. Seberapa manjurnya saya tidak ingat, tapi dari situlah saya dapatkan kebiasaan meminum wedang jahe jauh sebelum saya ke Yogya.

Sewaktu tinggal di asrama mahasiswa asing di Sapporo, di awal tahun 78, seorang dokter gigi kelahiran Singapore mengajarkan saya cara menggoreng ayam dengan irisan jahe. Potongan paha dan sayap ayam direndam dengan kecap asin dan manis, lalu dikasih potongan jahe secukupnya, terus diberi cuka, anggur masak, minyak wijen, bawang putih dan merah, garam secukupnya dan direndam beberapa jam lalu digoreng atau dipanggang.

Itu satu-satunya masakan ayam yang masih sering saya suguhkan kalau ada acara kumpul-kumpul di rumah atau di rumah teman-teman sekantor. Terakhir saya mencampurkan bumbu ini musim panas yang baru lalu sebelum saya menjadi vegetarian. Teman-teman selalu memberi komentar menyenangkan akan ayam jahe panggang yang saya suguhkan.

Di toko-toko grocery di sini, product wedang jahe asal Indonesia, Malaysia, Thailand sampai China bisa dibeli dengan mudah. Bahkan di toko herbal alami juga banyak dijual kapsul bubuk jahe. Minggu lalu, setelah bereaksi atas ratursan surat protes yang diterima gara-gara menjelekkan suplemen Glucosamin dan Condroitin yang katanya tidak berguna, Dr. Rosenfeld menambahkan bahwa Jahe (ginger) dan kunyit (turmeric) yang kita kenal ini ternyata secara medis telah dibuktikan bisa mengurangi rasa sakit otot.

Berikut ini adalah video yang saya maksudkan.

Menurut Dr. Rosenfeld, 500 mg bubuk jahe per hari atau 400 mg, 3x sehari bubuk kunyit bisa mengurangi rasa sakit itu. Dr. Rosenfeld malah mengaitkan kenapa orang India tidak banyak yang terkena penyakit Alzheirmer, gara-gara banyak makan kunyit.

Advertisement

Sebagai pemakai Glucosatrin untuk meningkatkan fleksibilitas lutut, saya sendiri juga ingin protes kalau dibilangi Glucosatrin tak ada gunanya. Kelebihan Glucosatrin ini karena tidak mengandung Condroitin. Ada hasil penelitian yang mengatakan bahwa kalau keduanya dicampur hasilnya akan saling menihilkan. Tapi saya turuti nasehat Dr. Rosenfeld, bahwa kalau suplemennya memang bermanfaat ya diteruskan saja, karena tanpa bantuan suplemen termasuk Glucosatrin, tak mungkin di usia sekarang saya masih bisa ikut program berlari-lari di luar.

Setelah mendengar video ini, saya cari ke situs pubmed dari National Institute of Health di America. Ternyata ada beberapa referensi misalnya dari tahun 2001 dan tahun 2009 yang menunjukkan bahwa jahe memang punya kegunaan mengurangi rasa sakit yang terbukti dalam percobaan klinis. Sedangkan kalau dicari dengan kata ‘turmeric pain’, maka pada hari ini, tanggal 2 Oktober 2010, bisa ditemukan sebanyak 32 artikel di situs pubmed. Sedangkan turmeric atau kunyit atau kunyir ini juga dikaitkan dengan penelitian di bidang Alzheimer’s Disease. Semoga para peneliti muda di bidang biologi dan kedokteran bisa memanfaatkan data-data ini.