≡ Menu

Kali ini, maaf, giliran kamu!

Kali ini, maaf, giliran kamu! 

Itu kalimat pertama yang muncul di kepala, ketika saya menerima email berisi berita dari Pos Kupang dengan judul Bantuan Mulai Berdatangan ini.

Saya pertama kali mendengar istilah ‘Donation Fatigue’ atau kelelahan donasi sehabis tragedi Katrina dan Rita di New Orleans dua tahun silam. Waktu itu saya sempat bertugas di Pusat Telepon yang melayani pertanyaan dari pegawai tempat kerja saya di daerah bencana dan walaupun tidak banyak, ya sempat menyumbang sana-sini.

Nah, sebelum itu saya pernah berusaha kampanye untuk membantu biaya operasi Lukas Mbira yang kadang saya pikir akhir-akhir ini, barangkali tidak perlu karena dia sudah punya sponsor. Tapi setelah usaha itu. saya agak rikuh kalau harus mengumpulkan langsung dana dari teman-teman atau kenalan sekitar saya mengingat urusan kelelahan donasi tadi. Sumbangan sosial di sini biasanya dikordinasi dari kantor lewat badan-badan sosial seperti United Way dsbnya. Tapi dari teman kerja seringkali juga masih ada donasi dsbnya kadang tidak langsung dalam bentuk uang tetapi sumbangan hari pakansi karena bisa dipakai ybs untuk merawat keluarga yang sakit misalnya. Dan kejadian begini berlangsung sepanjang bulan sepanjang tahun selama kita ini hidup dalam suatu lingkungan yang saling memperhatikan sesama seperti dalam masyarakat Amerika. Saya tahu gambaran di luar negeri kadang berbeda tentang lingkungan hidup kami di sini.

Pengalaman pertama mencari dana sumbangan di rantau di mulai sekitar akhir tahun 80an.

Waktu terjadi peristiwa 4 Juni di Tian-an Men di Beijing, saya lihat mahasiswa Tiongkok daratan mendapat banyak sumbangan dari masyarakat sekeliling kampus. Tempat fotocopy berikan fotokopi cuma-cuma buat pamflet mereka dan donasi dalam bentuk uang juga ada.

Satu atau dua tahun kemudian ketika terjadi gempa besar di Maumere, dengan bekal surat berbahasa Inggris dari Romo Alex, pendiri Parokinet, dengan penuh semangat saya datangi Gereja Paroki kami. Gedungnya megah, pasti mereka akan suka rela menyumbang buat saudara seiman mereka yang lagi menderita di Maumere, Flores. Eh, ternyata saya mendapat guyuran air dingin yang pertama. Urusan beginian harus lewat keuskupan, kata pastor paroki, dan biasanya ditangani oleh Catholic Charities tambahnya. Oh!

There is no free lunch, atau tidak ada makan siang pordeo!

Orang Amerika sangat menghargai upaya orang dalam mencari dana, dan ini jelas sekali di saat liburan musim panas, ketika gerombolan anak-anak sekolah menengah berdiri dengan poster, cuci mobil $5 untuk band sekolah yang akan pergi bertanding ke luar kota, atau alasan lain. Mereka meminta bantuan dari toserba di daerah mereka yang mengizinkan mereka menggunakan air ledeng dari toserba dan mencuci mobil para penyumbang. Toserba sih senang karena itu juga suatu upaya advertensi yang bisa menambah pengunjung ke toserba mereka selagi anak-anak itu mencuci mobil. Sama-sama untunglah. Tapi yang jelas, anak-anak itu tidak meminta prodeo atau merasa punya hak untuk mendapat sumbangan itu. Mereka meminta sumbangan dan sebagai imbalannya mereka lakukan sesuatu kegiatan yang anda hargai.

Atas dasar itu, waktu cari dana buat Lukas dahulu, saya pergi ke toko, beli coklat dalam jumlah lumayan lalu datangi setiap ruangan di kantor atau cegat teman di tempat parkir dengan menyodorkan mereka coklat. Poster mengenai Lukas sudah saya terjemahkan dan beberapa teman menempelkan di tempat-tempat strategis di kantor kami. Kalau dilihat dari hasilnya, mungkin jauh lebih menghemat waktu dan tenaga kalau saya kirim saja uang yang dipakai untuk beli coklat itu ketimbang jualan coklat. Hasilnya nggak cucuk, kata orang Jawa. Coklatnya banyak yang tersisa di lemari es di rumah dan ikut kontribusi untuk ketambahan berat badan saya.

Gara-gara kelelahan donasi ini, sudah lama saya tidak berurusan dengan urusan sumbangan. Terus terang, keluarga saya di Kupang pun banyak yang masih membutuhkan sumbangan kalau saya bisa kumpulkan. Bagaimana bisa sempat  memikirkan orang lain tanpa diomeli sanak keluarga sendiri?

Tapi kadang kala, ada yang tak bisa kita hindari.

Sekitar sebulan lalu, ada yang meneruskan surat dari milis alumni Biologi Gadjah Mada tentang seorang mahasiswi, EDR yang mau di-d/o dari Fisipol UGM. Teman-teman di milis asuhan saya ada juga yang tergerak dan sempat terkumpul uang sedikit yang akhirnya bisa dikirim ke Yogya. Walaupun tidak terlibat langsung, tetapi agar tidak ada kesalahan langkah, saya sempat telpon sana-sini untuk konfirmasi.

Surat dari seorang ayah yang dikirim ke milis asuahan saya ternyata membuat saya tidak bisa tahan tanpa berbuat apa-apa. Ketika di saat-saat sulit sebelum tahu uang itu akan datang dari mana, seorang mantan boss yang dalam posting berbahasa Inggris saya sebut Om Nakmofa sempat bilang, kalau dalam mendekati orang meminta sumbangan, kadang kita tidak sadari seberapa banyak tekanan bathin yang kita timpakan kepada orang-orang itu. Saya bisa maklumi sekali pernyataan Om Nakmofa ini karena itulah tekanan paling berat yang saya rasakan, saat saya tak tahu harus dapatkan dari mana dananya.

Syukurlah manusia berusaha, tetapi masih ada kekuatan di luar kemampuan manusia yang mengatur semua ini. Makanya dalam suasana yang sudah kepepet itu, akhirnya datang juga dewa penyelamat yang mau menghubungkan kegiatan saya itu kembali ke Gerejanya di Jakarta. Untuk itu saya hanya bisa tepekur dan panjatkan doa, atas uluran tangan tak berwujud yang akhirnya bisa menyelesaikan masalah biaya operasi putri keluarga Winston dan Desy Rondo ini. Saya hanyalah sebuah simpul kecil di tengah belantara dunia cyber ini, dan ketika Gratia selesai operasi, saya pun merasa capek sekali.

Siang tadi membaca ceritera tentang Ing Berek di Pos Kupang yang dikirim lewat email, saya cuma ingin bilang sekali lagi. Kali ini, giliran kamu!

Semua yang pernah saya kerjakan dalam upaya pengumpulan dana ini dapat ditemukan dari arsip di Internet. Seperti anak-anak Amerika yang mau pergi cuci mobil, kalian harus berani berbuat sesuatu untuk mencari dana bantuan seperti ini. Jangan seenak saja teruskan berita lalu pikir itu bukan urusan kalian lagi. Lihatlah ke sekeliling, apa saja yang kalian bisa kerjakan untuk mengumpulkan dana, tak peduli sekecil apapun yang bisa kalian kumpulkan.

Mau alasan sibuk? Memangnya saya di sini sudah pensiunan dan tak ada kerjaan yang harus saya beresi?

Cobalah usaha kecil-kecilan yang kreatif, misalkan kumpulkan beberapa teman. Terjemahkan ceriteranya Ing Berek, usahakan minta fotonya, lalu kumpulkan beberapa mahasiswa Indonesia di kampus, cobalah, buatlah sesuatu.

Tak usah bicara effisiensi, buatlah sesuatu dan rasakan manis dan pahit usahamu itu. Tabuhlah genderang, bangunkan orang dari tidur. Siapa tahu ada dewa/i penyelamat yang melihat keseriusan usahamu dan mau merogoh koceknya.

Itu batas bantuan yang saya bisa berikan kali ini. Dan untuk ketiga kalinya saya bilang, kali ini, giliran kamu!

It’s your turn, now! Pick up the ball, man!

Catatan kecil: Barusan sudah saya ganti thema Template dan sempat juga mampir ke Blog Indonesia. Terima kasih saya untuk Blog Indonesia yang sudah masukkan blog ini dalam list mereka.

{ 1 comment… add one }
  • astria October 21, 2008, 10:36 pm

    sebenarnya, kanker bisa disembuhkan tanpa operasi. saya mempunyai kenalan saat seorang saudara saya membutuhkan bantuan dan kami pergi kepada seorang praktisi pengobatan china dan juga seorang praktisi medis di jambi dengan biaya yang murah namun memang harus telaten makan obat, bisa sembuh sampai sekarang. temukan akar penyakitntya jangan cuma gejalanya yang diobati atau dipotong.

Leave a Comment