Kamus Bahasa Timor, Inggris, Indonesia

by drt on January 19, 2008

Sekitar tanggal 1 Februari 2003, untuk menghilangkan rasa sedih yang mencekam di hari naas itu, saya mengajak teman-teman di milis saya untuk menuliskan sesuatu tentang bahasa Timor atau Uab Meto sekedar untuk mengalihkan perhatian saya dari tragedi yang sedang berlangsung.

Bahasa Timor mempunyai berbagai nama. Pertama kali mendengar orang menyebutnya sebagai bahasa Dawan saat saya tinggal di Asrama Timor di daerah Demangan Baru, Yogyakarta. Saya agak heran ketika mendengar nama itu karena yang saya tahu sejak kecil kami menyebutnya Uab Meto. Benar, saya sendiri dibesarkan dalam lingkungan Uab Meto, tetapi tidak beruntung untuk bisa menguasai bahasa itu, padahal antara orang tua saya dan sebagian besar famili, apalagi ketika kami masih tinggal di kota kelahiran saya, sebagian besar berbahasa Timor. Namun kami anak-anak dilarang berbahasa Timor. Di hari tua, saya bisa memaklumi dan memaafkan ketidakadilan orang tua saya, karena dalam konteks yang sama, saya sebaliknya bisa dengan mudah menguasai bahasa Tionghoa yang akhirnya sangat membantu waktu saya belajar bahasa Jepang. Setidaknya kemampuan membaca saya dalam bahasa Tionghoa dan Jepang adalah akibat dari pengekangan berbahasa sewaktu kami masih kanak-kanak. Makanya di hari tua, dalam kekesalan tidak berkesempatan mempelajari bahasa Timor di kandang sendiri, saya lalu mengajak teman-teman di milis berbahasa Kupang untuk memulai sesuatu yang sangat sederhana untuk membahas dan memperkenalkan bahasa Timor, bahasa leluhur saya yang tak sempat saya kuasai. Itu kejadian sekitar 5 tahun lalu, tepatnya di bulan Februari 2003. Sehabis kirimkan email pada hari itu, saya coba tanya Gus Goog kata “Uab Meto” dan ketemu situs menarik dari Yohanes Manhitu. Wah, tak terlukiskan kegembiraan saya. Fikiran saya waktu itu, kalau orang ini bukan Pastor, mungkin anak Timor dari daerah Timor Tengah Utara atau Belu dan kemungkinan besar jebolan Seminari di Halilulik, Belu, Timor atau di Ledalero, Flores, karena semenjak dari Yogya, saya mengenal banyak sekali ex seminarian dari kedua Seminari itu yang sangat hebat kemampuan bahasa mereka.

Tapi berikut ini jawaban Yohanes setelah akhirnya saya berhasil menemukan dan mengajak dia bergabung dengan milis kami. Dalam kata perkenalannya dengan dialek Kupang Yohanes menulis:

Beta memang dari Kefa, pernah tinggal di Kupang selama lima tahun, dan mulai awal Maret tahun ini nanti kembali tinggal di Kupang, Kota Karang yang mengesankan. Beta bukan pastor atau ex siswa seminari; kalau tampang mungkin mirip……..heheheh. Beta orang awam. Bapak dari Noemuti, mama dari Oinlasi, dan dulu tinggal di enclave Oecusse (Ambeno, Timor Leste).“. (Tue Feb 4, 2003)

Selama 5 tahun setelah mengenal Yohanes lewat Internet, pada setiap kesempatan, saya selalu berusaha mendorong Yohanes untuk melanjutkan studi untuk meraih gelar doctor dalam bidang bahasa. Hasil kerja Yohanes atau lebih sering dipanggil John oleh teman-teman di milis ini terlalu banyak untuk dikomentari dan saya malah tidak mampu mengomentari tulisan, puisi, terjemahan John dari atau ke bahasa asing lain seperti Portugis, Esperanto, Spanish, Perancis atau Inggris. Yang paling mengenaskan, saya tidak bisa membaca tulisan John dalam Uab Meto, karena kemampuan saya hanya sebatas kalimat kasar seperti Ho kanan sa? (siapa namamu?), Ho hen nao me? (kau mau kemana?) dan beberapa kata-kata jorok kalau memaki orang. :lol: Masih beruntung saya masih ingat arti lagu Au Ana Feto Mese atau Putri Tunggalku karena begitu populernya lagu itu zaman saya masih kecil.

Di tahun 2001, dalam artikel yang berjudul: Bahasa dan Sastra Dawan – Riwayatmu Kini, John menulis:

PADA suatu sore yang cerah di penghujung tahun 2001, saya secara kebetulan berjumpa dengan seorang mahasiswa asal Suku Dawan di sebuah bilangan kota Jogja. Segera setelah tahu bahwa kami berasal dari suku yang sama, saya mencoba mengawali percakapan kami dalam bahasa Dawan, khususnya dialek asal kenalan baru ini. Tapi sayang, ia menolak dengan alasan ia pernah menetap kurang lebih tiga tahun di Dili sehingga sudah lupa bahasa Dawan. Ia lalu memancing saya dengan bahasa Tetun Prasa. Walaupun akhirnya percakapan pada sore itu berlangsung dalam bahasa nasional Timor-Leste ini, saya tetap menyimpan satu pertanyaan: apa yang bakal terjadi pada nasib bahasa Dawan bila semakin banyak orang berperilaku seperti saudara sesuku ini?

Tiga hari lalu saya mendapat kiriman dua file. Satunya berujudul:

Kamus Ringkas Indonesia-Inggris-Dawan

atau:

Concise Indonesian-English-Dawan Dictionary

Sedangkan satunya lagi berjudul:

Tabel Verba Uab Metô, Indonesia, ma Inglés atau “Tabel Kata kerja bahasa Dawan, Indonesia, dan Inggris” atau “Table of Dawan, Indonesian, and English Verbs”

John sangat konsekuen dengan apa yang dia tulis dalam artikel di tahun 2001 itu, dan dengan bangga dia membuatkan situs berbahasa Timor pertama di Internet. “Hon tui uab meto, au ka nabei sa ‘tae! Leok leuf, Uis-ana!” :lol:

Saya sangat gembira mendapat kiriman dari John dan juga ikut senang dengan berita mengenai hubungan John dengan calon promotor yang ingin agar John melanjutkan studinya di lembaga mereka.

Selamat John.

Popularity: 9% [?]

{ 10 comments… read them below or add one }

marsel manek July 2, 2008 at 7:37 am

halo salam jumpa beta sekarang tinggal di Kupang. B asli putera Timor yang sangat berminat dalam bidang linguistik khususnya berminat untuk menelusuri lebih dalam tentang kekayaan bahasa dawan yang hingga kini belum begitu dikaji secara lebih mendalam.
Bagaimana caranya untuk bergabung di Milis Timor?
thanks alot
salam nekaf mese ansaof mese tafean hit lasi.
marcel

marsel manek July 2, 2008 at 7:40 am

saya sangat senang dengan diterbitkannya kams uab meto karena sebagai pemula peminat bahasa mungkin kamus tersebut akan sangat membantu dalam hal pengkajian bahasa daerah.

drt July 2, 2008 at 8:02 am

Sdr. Marcel, silahkan cek ke http://groups.yahoo.com/group/bolelebo. Makasih.

Marlon.Nino September 28, 2010 at 9:04 pm

Slm kenal. B asli org timor. Hanya lahir di kota kupang ko su sonde tau bhasa daerah. Pdahal su balajar ma masi pasif. B talalu senang mo balajar bahasa yg da di timor samua ( kususnya Dawan n Belu. B harap kaka bisa kasi tau cara tuk bisa gabung di kaka dong pu millis.ok makasi e.

roedant October 20, 2010 at 12:30 am

Saya sangat tertarik dengan kebudayaan timor, saya bukan orang timor, ibu saya jakarta, dan ayah saya solo..
Saya mengenal seseorang dan ternyata dya orang timor, setau saya, wataknya sangat keras, tetapi dy sangat peduli dengan orang lain,
Saya pernah menonton film “tanah air beta” dan itu membuat saya sangat tertarik dengan budaya timor.
Dimana saya bisa mengakses ato berhubungan dengan orang-orang timor?
Mohon bimbingannya…
Tx

irma November 23, 2010 at 12:51 am

benar2 mnakjubkan….timor dengan keanekaragaman bhasa dan budaya…
saya sangat tertarik blajar linguistik bahasa dawan khususnya bahasa dawan r di daerah belu,dan trima kasih telah membantu saya dalam mendalami linguistik.

Esen Ce December 8, 2010 at 3:14 am

yuhu…senang sekali…lama mencari akhirnya ketemu dengan orang2 yang mau peduli dan melestarikan bahasa dawan. membaca kisah di atas…dan melihat kisahku sepertinya mirip. bahkan perbendaharaan bahasa saya mulai banyak saat sudah berada di Jojga. aneh juga ya…kenapa kita tidakk di ajarkan berbahasa dawan ya..? he…he…

Stefen May 10, 2011 at 8:01 pm

Trim,s atas upaya anda dalam menulis kamus bahasa dawan……saya bangga tapi di barengi dengan rasa bingung dgn terjemahan ke bhs Indonesia karena sebagai sesama orang Timor yg sedikit tahu bahasa dawan atau uab meto, jd yg digunakan “dialek” mana??????????? sebab ada berapa vokal dan konsonan yg di pakai dlm bahasa dawan????????

lidwina woro October 21, 2011 at 1:28 pm

saya asli jogja,tetapi jodoh saya mendapt orang dawan campuran flores jadi saya ingin belajar bahasa dawan

Daniel Nino December 12, 2011 at 9:28 am

saya,org timor dawan,saya siap membatu kalo ada yang ingin menyusunn kamus bahasa dawan

Leave a Comment

Previous post:

Next post: