Semuanya dia kerjakan dengan kaki, maupun giginya.
Mulai dari tangkap kepiting, masak, menyiapkan makanan buat keluarga, sampai tulis surat, sulam, ganti baju, bisa diselesaikan dengan kaki, gigi dibantu dengan gerakan tubuhnya.
Saya pertama kali melihat video ini bulan Juli tahun lalu, ketika Alice Chious mengirimkan link ke Google via mailing list yang saya ikuti, yang menunjukkan video seorang ibu yang tangguh, tak punya tangan tetapi tidak menunggu belas kasihan orang lain. Malam ini lagi-lagi ada yang kirimkan link itu, makanya sekalian saya taruh videonya di sini.
Setiap melihat video ini, saya ingat om Mes di kampung saya. Seperti ibu ini, om Mes juga tak punya tangan. Konon gara-gara kecelakaan dan kena gilas kereta api. Persisnya saya lupa. Setiap hari om Mes pergi menguras pasir, masukkan ke dalam bakul lalu menjualnya kepada mereka yang butuh pasir untuk membangun rumah. Itu sekitar 40 sekian tahun lalu.
Walaupun pengantar video ini dalam bahasa Kongfu dicampur dengan bahasa daerah Shandong yang harus diberi teks Mandarin untuk penonton dari daerah lain, videonya sendiri cukup bisa menampilkan kehebatan ibu yang dilahirkan tanpa tangan ini. Saya kagum sekali akan keuletan dan ketrampilan ibu Ren ini maupun om Mes yang saya sebutkan di atas.
Dia menikah dengan Lao Li atau pak Li. Kisahnya pak Li itu waktu muda miskin sekali. Makanya suatu hari tantenya bilang, gimana kalau dia menikah saja dengan gadis tak bertangan di kampung tetangga? Waktu dilamar tantenya pak Li, ayahnya Jinmei bilang, soal miskin tak ada masalah. Dia tak menghina anak prempuannya saja sudah baik. Begitulah mereka lalu menikah dan Li sendiri terkejut akan kemampuan istrinya yang sempat membesarkan ketiga anak mereka. Semua itu dapat anda saksikan sendiri.
Semoga keuletannya orang-orang seperti pak Mes maupun ibu Ren ini bisa memberikan semangat buat kita yang lahir dengan anggota badan yang lengkap.
Catatan: Saya tahu nomor urut di blog Indonesia makin membesar, tapi saya tak punya waktu jadi saya biarkan melorot.
Popularity: 1% [?]



{ 1 comment… read it below or add one }
Manusia Pada dasarnya mahluk yang sempurna, tapi seringkali tembok pikiran membuatnya menjadi putus asa