Ide ini muncul dibenak saat menatap piring kosong sehabis makan siang. Iya, saya baru makan siang, sendiri. Di rumah. ![]()
Beberapa hari lalu setelah membaca postingnya John Chow tentang Program ‘Beri satu dapat satu’ laptop gratis, saya lalu menulis tentang program itu di sini. Tapi sehabis makan siang ini dan menatap piring kosong di meja, tiba-tiba foto-foto dari halaman di blog Panti Asuhan Roslin ini mengambang di benak saya.
Kalau anda punya pilihan antara memberikan laptop gratis kepada 10 anak atau bisa memberikan bahan makanan untuk 10 kampung, apa pilihan anda?
Saya tidak punya jawaban. Apa anda punya? Ah, nggak apa-apa biarpun jawaban anda itu EGP. Cuma pengin tahu doang. ![]()
Popularity: 1% [?]



{ 3 comments… read them below or add one }
Kalau saya milih yang ke 2 aja deh. Alasannya apa? Gampang saja, anak yang diberi 10 lap-top gratis itu mungkin masih bisa makan, sedangkan memberikan bahan makanan untuk 10 kampung lebih penting, karena mungkin saja di 10 kampung tersebut banyak penduduknya yang pergi tidur perutnya masih keruyukan alias masih lapar karena nggak ada makanan di piring
)
Terima kasih atas komentarnya, ibu. Ide itu timbul karena tiba-tiba ingat jumlah uang yang dibutuhkan untuk beli laptop dalam jumlah yang besar. Saya jadi ingat kegiatan pak Budi dan ibu Peggy di panti asuhan Roslin. Seperti saya katakan, saya tidak punya jawaban. Entah bagaimana pendapat teman-teman lain. Saya lihat di posting yang lain baru ada komentas mas Yudhis dari Yayasan Tunas Cendekia yang dulu membantu Panti Asuhan Roslin dengan Mobil Perpustakaan. Nah, kalau dikerjakan oleh Yayasan swasta begini dan tidak ada campur tangan para pencari kesempatan dalam kesempitan, mungkin program kecil-kecilan bisa memberikan manfaat buat beberapa anak yang akan merubah seluruh jalan hidupnya.
Agak rumit juga, ya, Pak, pilihannya. Wah, agaknya saya sependapat dengan Bu Casper nih, Pak. Soalnya, di Indonesia masih banyak kampung yang kekurangan bahan makanan, hehehe