Tidak banyak orang Kupang yang masih ingat kata faligir.
Saya sendiri tak tahu asal-usulnya tetapi di kampung dulu, saat saya masih kecil, faligir artinya layang-layang.
Malam ini tiba-tiba saja teringat pengalaman pertama kali bisa membikin faligir atau layang-layang sendiri. Waktu itu saya mungkin berusia sepuluh atau sebelas tahun. Walaupun untuk bisa melayang, faligir pertama saya itu harus dikasih ekor kertas dulu, tapi rasa senangnya luar biasa. Melihat kegembiraan saya dan adik-adik, ayah saya lalu mengambil segulung benang HP dari almari barang jualan di kedai kami, dan berikan ke saya untuk layang-layang pertama buatan saya itu.
Saking gembiranya, cepat-cepat benang itu saya gulungkan ke kaleng susu, lalu ikatkan ujung satunya ke layang-layang itu dan membiarkan layang-layangnya melayang ke atas lagi. Wah, senang sekali sewaktu layang-layangnya bisa melayang tinggi.
Tiba-tiba, eh, benangnya terlepas begitu saja dari tangan saya, dan layang-layangnya pun terbang terbawa angin. Waktu kami kejar sampai ke tempat layang-layang itu jatuh, sudah tidak ketemu lagi karena sudah ada anak lain yang membawa lari layang-layangnya.
Usut punya usut, ternyata karena baru pertama kali punya layang-layang, baru pertama kali dapat benang baru, waktu digulung ke kaleng, ujung benangnya tidak saya tautkan jadi satu. Akibatnya, kalau dibiarkan sampai akhir benangnya, ya benangnya terlepas begitu saja karena tidak terikat ke kaleng susu itu. Ini sama halnya dengan kapal atau perahu yang tak ada anchor atau jangkarnya, ya terang saja layang-layang pertama saya itupun terlepas begitu saja dari tangan.
Kenangan masa kecil ini mengambang di kepala, ketika membaca dua ajakan yang dikirimkan ke milis Bolelebo untuk berpartisipasi menyumbang karya ilmiah ke situs baru Forum Academia NTT .
Benar, saya punya dua pilihan. Saya bisa seperti kedua penulis email itu dan ikut menyumbangkan benang baru biar layang-layang itu terbang semakin tinggi. Atau, saya bisa bilang, ah, layang-layangnya jelek. Masak layang-layang harus pakai ekor segala baru bisa melayang?
Apakah ini berarti saya tidak konsisten? Kenapa kemarin saya memberikan link love untuk proyek Bruder-bruder Karitas dengan nada memuji-muji kerjaan mereka, tapi hari ini seolah-olah menyiram air dingin ke situs yang juga hasil kreasi anggota milis Bolelebo?
Oh, saya konsisten koq dalam memberikan link love.
Kan ini masih merupakan link love dan saya masih menyediakan waktu untuk menulis catatan ini.
Bedanya, pertama, Bruder-bruder Karitas itu punya organisasi resmi. Sedangkan journal studi NTT ini didirikan oleh sekumpulan anak muda NTT yang terpencar di seluruh pelosok dunia. Buat Bruder-bruder itu, saya tidak meragukan kegiatan mereka. Tapi buat sekelompok anak muda ini, tunggu dulu?
Alasan pertama saya, orang-orang NTT seperti Gubernur Piet Tallo, atau Mantan Direktur Bank Sentral Dr. Andrianus Mooy kan dulu juga muda. Lalu, apa yang membedakan angkatan muda sekarang ini dengan angkatan tua tersebut? Apa jaminannya kalau setelah mereka selesai studi di luar negeri dan pulang misalnya, lalu terlibat dalam kegiatan rutin, mereka masih tetap punya waktu meneruskan apa yang sudah mereka rintis selama ini? Jangan-jangan nanti seperti benang bola yang tidak diikat ujungnya, tahu-tahu saja meleset dari tangan nanti. Kalau saja itu terjadi di kampung saya, anak-anak pasti akan berteriak, “nao, nao,…” sambil lari pergi mengejar layang-layang itu tanpa perduli keadaan sekeliling. Lebih celaka lagi kalau ada di antara anak muda yang tergabung di sini terkena juga penyakit NTT seperti disinyalir berapa teman.
NTT = Nanti Tanda Tangan! Mumpung masih punya kesempatan! Apa jaminannya anak-anak muda ini tidak akan melakukan hal yang sama (yang bisa membedakan mereka dengan sebagian, maaf, angkatan tua mereka)? Makanya untuk sementara, saya melihatnya cuma seperti urusan faligir yang ingin terbang tinggi, dan saya ingat faligir pertama buatan saya.
Mau terbang tinggi, itu hak azasi setiap orang. Persoalannya, ibarat layang-layang, benangnya sudah diikat ujungnya belum? Seberapa kuatkah landasan pijakan kalian? Seberapa jauhkah komitment kalian? Apa rencana jangka panjang jurnal ilmiah NTT ini? Apakah betul ini proyek untuk NTT atau proyek Jonathan? Maksudnya, apa yang terjadi kalau setelah Jonathan lulus, dapat jabatan baru dengan kesibukan dan tanggung jawab yang meningkat, siapa yang akan mengurusi jurnal ini? Bagaimana urusan kesinambungannya nanti?
Saya tahu, mungkin jawaban ini sudah tersedia dan benar, saya juga tidak perlu menggunakan nada ini dalam menulis link love ini. Tapi ah, daripada kecepatan senang di waktu awal, tapi nantinya layang-layang kedua ini juga, wuussssss, kayak patung-patung Santa berisi udara yang tiba-tiba ketikam jarum dan mengempis, lebih baik sejak semula saya berteriak sekali lagi, benangnya sudah diikat ke kaleng belum? Jangan-jangan, seperti saya pernah katakan dulu, cuma panas tahi ayam lagi…..Hahaha!
Eh, seandainya satu kata ha berarti umurnya journal ilmiah ini bisa bertahan satu tahun, saya akan ketawa yang puanjang sekali, hahahahahahahahahahahahahahaha….hahahahahaha….ha!
Popularity: 1% [?]



{ 3 comments… read them below or add one }
Salut buat tulisan Om AT. Semoga menjadi picutan yang tetap menghangatkan semangat angkatan muda lainnya yang baru memulai sesuatu …
nulis apaan sih??? kok gak ngeti….:(
Kalau tidak mengerti tulisan di sini, langsung kunjungi saja situs kabar NTT. Tak perlu
karena di sini tak ada soal test.