≡ Menu

Lelaki pajangan, Perempuan masochist. (1)

Kangketik.jpgPostingan Tamu Kang Ketik kali ini terdiri atas 3 posting. Judulnya menarik. Ternyata lelaki juga bisa jadi pajangan seperti manekin di jendela toserba, sedangkan prempuan rela membanting tulang, membiarkan suami, bahkan saudara lelaki mereka jadi tukang main perkutut, sabung ayam, sampai jadi fesbuker, dan tetap sedia menyuapi mereka. Membaca seri ini, timbul pertanyaan dalam benak saya. Adakah ini hanya gejala kota metropolitan, ataukah gejala dalam suatu kelompok budaya tertentu, ataukah sudah meluas di seluruh lapisan masyarakat? Saya tak tahu, dan anda mungkin bisa membantu dengan mengisi komentar di akhir postingan ini. Saya sendiri begitu selesai membaca postingan pertama, tak terasa dalam hati sempat melantungkan lagu kanak-kanak ini:

Kasih ibu kepada beta,
tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi, tak harap kembali,
bagai sang surya menyinari dunia,…

Selamat menyimak dan menikmati. (drt)

Judul postingan ini bukan mengada-ada. Ini kenyataan yang banyak ditemui belakangan ini.

imageHidup ini katanya pilihan. Memilih bekerja, atau duduk manis seperti manekin pajangan toko, karena kebutuhan hidup sudah ada yang mencukupi, tidak lagi hak istimewa perempuan. Banyak lelaki sekarang, dengan senang hati memilih jadi pajangan ini, karena kebutuhan hidup lahir batin sudah dicukupi perempuan-perempuan disekelilingnya.

Seorang Ibu sangat menyayangi putra-putrinya, 4 lelaki dan 3 perempuan. Selalu berupaya memenuhi kebutuhan materi mereka sejak kecil.   Suami Ibu ini meninggal saat si bungsu berusia sekitar 10 tahun.   Dan Sang Ibu tidak menikah lagi hingga Tuhan memanggilnya, 4 tahun sebelum usianya tepat seabad.

Semua anak Ibu ini sarjana S1. Namun selepas lulus, anak laki Sulung dan anak laki nomer Lima, tidak pernah sekalipun berupaya untuk kerja mencari upah.   Sejak kecil tiap bulan, Ibunda selalu memberikan uang saku yang mencukupi.   Herannya, setelah mereka lulus S1, mereka tetap menadahkan tangan pada Ibundanya.   Dan ajaibnya, sang Ibu tidak pernah menolak, atau memaksa mereka mencari nafkah sendiri.

Setelah kepulangan Ibu ke Rachmatullah, uang saku dan kebutuhan hidup keduanya ditodongkan pada saudara-saudaranya.   Makin herannya lagi, para saudara kandung ini seperti tekuk lutut, tidak berdaya akan “pungutan” bulanan ini.   Salah satu saudara perempuannya bahkan bangga berujar, “kapan lagi bisa membantu saudara kandung sendiri ?”

Membantu atau Melumpuhkan? Atau malah mengarahkannya untuk menjadi preman?

Dalam kenyataannya sekarang, si Sulung dan si Lima cuwek bebek, tidak perduli, dari mana dan bagaimana cara saudara-saudaranya bekerja banting tulang untuk mendapatkan uang. Yang mereka tau, tiap akhir bulan, atau awal bulan, semua saudara kandungnya, kirim setoran pada mereka. Jadi, apa beda mereka berdua ini dengan preman pasar ?

Seorang Ibu lagi, juga sangat menyayangi Thole anak laki-lakinya – yang sekarang bukan kanak-kanak lagi. Thole sudah S1 juga dari Universitas Negri terpandang. Sudah pernah menikah dua kali, punya dua anak perempuan kandung.

Sekarang Thole kembali membujang. Kenapa ? Dalam dua pernikahannya, dia menggantungkan nafkah sepenuhnya pada mantan istri-istrinya. Para mantan ini kerja rodi, untuk membayari kebutuhan hidup sehari-hari, uang sekolah dan keperluan anak-anak, cicilan rumah, mobil, asuransi, dst, dst.

Dan setelah bercerai, Thole kembali kepangkuan Ibunda tercinta, ikut hidup berteduh dan numpang makan, juga tak lupa ngarepin uang saku bulanan lagi. Sampai kapan yah ? Sampai dia ketemu perempuan kaya raya lainnya, yang sudi menerima dan menafkahi hidupnya.

Kasih Ibu hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Sungguh ideal dan mulia makna lagu anak-anak ini. Tapi Bu, tolong ingatkan bahwa Ibu tidak akan hidup selamanya. Juga tolong persiapkan dan didik anak-anak supaya mandiri sejak kecil. Sehingga pada saatnya dewasa nanti, tidak ada satupun anak yang menjadi preman, atau tukang palak saudara kandung sendiri seperti si Sulung, si Lima juga si Thole.

….bersambung.

Kang Ketik, Hari Kartini, 21 April 2013.

Catatan kaki: Andaikan kisah di atas ada kemiripan dengan jalan hidup seorang teman, keluarga teman atau kenalan atau keluarga anda, maka itu hanyalah kebetulan belaka. Ketikan ini adalah hasil pengamatan dan renungan pribadi yang sudah digarap untuk tidak ada mengaitkan dengan mereka yang masih hidup atau pun yang sudah tiada.

{ 1 comment… add one }
  • drt April 29, 2013, 9:18 am

    Terima kasih Rudy atas koreksi ejaannya.

Leave a Comment