Seringkali para ibu-ibu berusia senja yang kedatangan anak-cucunya suka berbagi ceritera di antara sesama. “Senang ya bila mereka datang, tapi senang juga ya bila mereka pergi.”
Tentu saja dalam hal ini maksudnya, paling tidak begitu mereka pergi, berarti ‘sarang burung’ akan kembali kosong lagi, dan sang induk tak perlu sibuk menyediakan makanan kesukaan mereka, cuci piring mangkok yang menumpuk dan berbagai kesibukan melayani berbagai permintaan khusus yang cuma bisa mereka dapatkan dari induk di sarang mereka.
Tapi malam ini, begitu putra dan menantu kami dan kedua anjing kesayangan mereka berangkat, tak terasa ada semacam perasaan yang mengganjal di hati. Tak ada ungkapan ceria bilang senang melihat mereka pergi.
Bagi saya, malam ini bahkan mengingatkan kembali akan judul sebuah buku tua Motinggo Bosje – “Sepi, Semakin Sepi!” Itu buku yang saya baca entah di akhir tahun 60an sebelum meninggalkan rumah, atau di tahun-tahun pertama waktu menjadi mahasiswa di Yogya dulu. Ceriteranya sudah lupa, selain judul dan gambar pasangan tua di sampul buku itu. Yang jelas, malam ini tidak ada ceritera tentang senang melihat anak-anak pergi. Bahkan walaupun tak diutarakan, dalam hati ada semacam perasaan, alangkah baiknya kalau mereka bisa tinggal berapa hari lagi? Itulah sebabnya begitu terima kiriman link tentang Idola dari Inggris ini dan mendengar lagu lama Cats yang berjudul Memory ini, berkali-kali saya sempat memutar ulang videonya dan coba mencerna liriknya.
Saya masih ingat bagaimana Susan Boyle, penyanyi gereja kampung berusia 47 tahun ini, ketika menjawab pertanyaan juri dan mengatakan dia bercita-cita untuk bisa setenar Elaine Paige, sempat dicibiri seluruh penonton dalam acara pemilihan idola dari Inggris itu. Namun begitu dia mengangkat suara, seluruh ruangan tiba-tiba seperti terhipnotis dan semua penonton akhirnya memberikan sambutan yang meriah sekali. Makanya setelah menemukan liriknya, sekalian saya taruh bersama videonya di sini dengan terjemahan ala kadarnya.
Memory
Midnight.
Not a sound from the pavement.
Has the moon lost her memory.
She is smiling alone.
In the lamplight the withered leaves collect at my feet
And the wind begins to moan.
Memori.
T’ngah M’lam
Takada suara dari trotoar
Adakah bulan udah hilang ingatan
sampai tersenyum sendirian
dedaunan kering mengumpul di kaki
dalam keremangan lampu
mengikuti rintihan angin….
Every street lamps
seems to beat a fatalistic warning.
Someone mutters and
a streetlamp gutters and
soon it will be morning
Setiap lampu jalanan
seperti menyuarakan peringatan maut
ada yang berbisik
dan lampujalanan pun meredup
taklama lagi pagi pun tiba
Daylight –
I must wait for the sunrise.
I must think of a new life
And I mustn’t give in.
When the dawn comes tonight will be a memory too.
And a new day will begin.
Siang hari -
Harus kutunggu fajar menyinsing
Harus kupikirkan hidup baru
dan aku pantang menyerah.
Tatkala subuh tiba malam ini pun tinggal kenangan
dan hari pun berganti baru
Touch me –
it’s so easy to leave me.
All alone with the memory
Of my days in the sun.
If you touch me
youll understand what happiness is.
Look a new day has begun.
Sentuhlah daku -
mudah sekali meninggalkanku
sendirian bersama kenangan
akan hari-hari di bawah mentari
bila kau sentuh aku
kau kan mengerti apa arti kebahagiaan
Lihat, hari pun sudah berganti.
Bagi saya, setiap kali mendengar lagu begini dan berusaha menterjemahkan seperti di atas, saya selalu teringat bagaimana sehabis menonton film ‘The Graduate’ dulu, ketika saya masih seorang mahasiswa muda, mentor saya, seorang penyair kawakan dari Yogya sempat menterjemahkan lirik ‘The Sound of Silence.’
Oh, alangkah indahnya kalau lagu ini bisa diterjemahkan mentor saya seperti kala beliau membacakan ‘Senja di Pelabuhan Kecil’ dan membicarakan tentang tiang dan temali perahu yang walaupun terikat tetapi tak berperasaan atau mendiskusikan Cemara berderai sampai jauhnya Chairil. Apalah artinya kegundahan sesaat ini? Apa artinya berita bahwa anak-anak akan pergi jauh ke ujung dunia?
Saya sendiri tinggalkan rumah ketika belum genap berusia 19 tahun. Kini, setelah empat dekade, anak-anak pun bakal terpencar ke segala pojok dunia. Adakah ini yang namanya ‘payback time?’
Entahlah!
Namun, seperti kata lirik di atas, bila subuh datang, malam ini pun hanya akan tinggal berupa kenangan,….Bukankah hidup ini memang begitu?
Makanya daripada bergundah hati, mari kita nikmati lagu Memory ini bersama Susan Boyle, dan terima kasih banyak buat T yang sudah mengirim linknya.
Popularity: 1% [?]


