≡ Menu

Metode Pengobatan Dengan Qigong (5)

Uraian berikut adalah terjemahan yang saya janjikan. Bila ada pertanyaan, usulan atau koreksi,msilahkan posting dalam komentar di bawah. Sekedar catatan biar tidak membingungkan sewaktu anda membaca bagian akhir postingan ini: Meimen berarti pintu (perguruan) (bunga) plum. Dalam cersil bunga plum dikenal dengan nama bunga bwee.

Bila anda merasa informasi yang ada di sini bermanfaat, dan ingin menerima update setiap saya mengisi postingan baru, silahkan klik di sini lalu tinggalkan alamat email anda di kotak permohonan langganan via email yang ada di situ, dan anda akan menerima email itu tanpa harus mengecek ke blog ini terlebih dahulu. (drt)

Perbedaan antara Qigong dan Olahraga

Pernah ada dua pelatih Yoga yang datang berobat ke klinik karena pinggang sakit. Tadinya saya menyangka cuma kecelakaan olahraga biasa. Ternyata setelah dirontsen, ada pembengkokan tulang belakang yang parah. Yoga sebenarnya adalah Qigongnya India. Tapi sekarang banyak pelatih hanya menganggap Yoga sebagai olahraga, cuma mengejar keindahan postur, meregangkan otot sekuat tenaga, akhirnya postur memang berhasil tapi tulang belakangnya sampai melengkung. Waktu berlatih Qigong harus bisa merasakan ketenangan bathin, dan harus berusaha agar bisa ‘relaks’ alias lemas.

(1) Olahraga hanya meliputi gerak, Qigong meliputi diam maupun gerak.

Semenjak kecil saya sangat gemar berolahraga. Di sekolah dasar saya adalah catcher dari tim bisbol sekolah kami. Waktu di sekolah menengah saya ikut tim rugby, lalu di universitas saya ikut tim bola kaki. Setiap liburan musim panas atau musim dingin, saya mengikuti kegiatan China Youth Corps, daki gunung turun ke laut, sampai ke segala pelosok. Kegiatan berat ini memberikan kesenangan yang luar biasa, sekaligus melatih jiwaraga menjadi tahan banting, sekaligus meninggalkan bekas luka di sekujur tubuh. Baru setelah latihan Qigong saya mulai menyadari bahwa di luar ‘gerak’ masih ada ‘hening’ yang menempati jenjang yang lebih tinggi. Gerak setelah hening bathin, bisa lebih tekun dan memiliki wibawa tersendiri. Para ahli Wusu sering mengatakan, ‘yang hening melatih bathin, yang gerak melatih rasa’. Mereka yang berlatih Qigong boleh dibilang ‘setenang anak perawan, segesit kelinci lepas’.

(2) Olahraga butuh tenaga, Qigong butuh spirit

Olahraga butuh pakai tenaga, juga butuh kecepatan, ketegaran, tapi terkadang menjadi kasar dan tenaga yang kurang atau tenaga yang berlebihan sama jeleknya. Qigong memakai spirit, gemulai dan bisa dikontrol, indah dan tahu kapan berhenti. Tenaga hanya memanfaatkan ‘gwakang’ atau tenaga luar, sedangkan ‘spirit’ adalah penampilan ‘lweekang’ atau tenaga dalam.

(3) Olahraga menuntut kecepatan, Qigong bisa cepat bisa lambat

Hampir semua cabang olahraga menuntut ‘kecepatan’. Para pelomba selalu berharap bisa memecahkan rekor. Yang reaksinya cepat, berkecepatan tinggi bakal jadi pemenang. Qigong juga menuntut kecepatan, tetapi dibalik kecepatan ada persiapan untuk ‘pelan’. Olahragawan kadang suka kebablasan, sedang Qigong bisa cepat bisa lambat, gerakannya selalu tepat.

Suatu ketika sempat bersantap bareng suhu. Suhu terus bilang, banyak orang menyangka Qigong terlalu lambat, tak bisa menolong penderita kanker. Kenyataannya, asal latihan bersungguh-sungguh, tiap hari latihan, belum tiga hari sudah bisa rasakan manfaatnya, dan dalam tiga bulan seakan lahir kembali. Sesungguhnya, enam tahun yang lalu belum sampai tiga bulan berlatih, saya bisa berbalik kembali dari cekaman ketakutan.

(4)olahraga butuh keseimbangan tubuh, Qigong mementingkan keseimbangan jiwaraga.

Olahraga adalah ilmu tenaga luar, setiap gerakan menuntut keseimbangan, tetapi suatu keseimbangan yang bukan alamiah. Maka itu biasanya ada bagian tubuh tertentu dari olahragawan yang sangat berkembang: pemain tenis lengannya kekar, pangkal paha pemain bola kaki bagaikan batang pohon, dada perenang lebar seperti dada katak. Sebaliknya mereka yang berlatih Qigong sosok tubuhnya berimbang, sikapnya indah, bukan hanya pentingkan keseimbangan tubuh, tetapi juga keseimbangan jiwa. Makanya juara olahraga tampaknya sebagai ‘pria garang’ sedangkan yang berlatih Qigong selalu terlihat bersenyum ramah saat berlatih.

(5) Olahraga menghamburkan Qi, Qigong malah menyerap.

Di tahun 1978, buku pelari marathon Jim Fixx, – the Complete Book of Running – menjadi best seller dan menyebabkan maraknya marathon di seluruh Amerika. Siapa nyana beberapa tahun kemudian selagi berlari marathon, Fixx mendapat serangan jantung dan langsung meninggal. Contoh mati mendadak selagi berolahraga bukan cuma itu. Liao Feng De dari Guo Ming Tang atau Partai Nasionalis Taiwan, lalu seorang dokter kepala bagian penyakit dalam sebuah pusat kedokteran, serta seorang pejabat tinggi polisi pada meninggal ketika marathon di pagi hari atau saat mendaki gunung di akhir pekan.
Bila anda diperhatikan, mereka yang berlari di taman, kalau bukan berwajah cemberut, pasti napasnya terengah-engah. Ada yang larinya sampai wajah dan daun telinga sampai merah padam, atau wajahnya pucat pasih, ada yang bahkan semaput dan perlu dilarikan ke RS. Qi semakin pendek, umurnya semakin pendek juga. Qi-nya semakin panjang, umurnya semakin panjang pula. Qigong mengutamakan pernafasan atau ‘tu-na’ (吐吶). Ada masuk, ada keluarnya. Sewaktu latihan Qigong, pernafasan tetap ‘halus, lambat, panjang, merata.’ Sehabis olahraga napasnya bagaikan nafas kerbau, sehabis latihan Qigong wajah merah segar.

(6) olahraga sering Menyebabkan cedera, Qigong sering untuk mengobati cedera.

Cedera sewaktu berolahraga adalah lumrah, tapi yang menguatirkan para atlit adalah, cedera bisa menghalangi kesempatan berprestasi mereka. Qigong kadang juga menimbulkan cedera, tetapi karena mereka yang berlatih memperhatikan tenaga dalam, jiwaraga, pernafasan, maka setelah cedera mereka bisa memanfaatkan pergantian batas atau jenjang, pergantian spirit untuk mengobati cideranya.

Pergelangan kaki saya pernah keseleo dalam suatu pertandingan bola kaki yang sengit. Cedera ini sudah berapa puluh tahun bersamaku, dan sering kambuh sakitnya. Enam tahun lalu sehabis latihan Ping Shuai Gong di sebuah taman, tiba-tiba terasa ada aliran hangat melewati pergelangan kaki saya, dan seketika kaki terasa lemas, dan sejak saat itu luka lama tersebut terus menghilang. Coba bayangkan, ajaib tidak?

(7) Olahraga ada banyak pembatasan, Qigong tak ada yang tabu.

Olahraga butuh teman, tempat, atau peralatan, dan dipengaruhi oleh cuaca juga. Olahraga keras tak sesuai untuk mereka yang sudah lansia, sedangkan yang butuh ketrampilan tak sesuai untuk anak-anak, dan masih ada banyak pembatasan lainnya. Qigong tak punya batasan, cuaca juga tak bakal nengganggu. Baik dalam ruangan atau di alam terbuka, pria wanita, tua muda, semua bisa berlatih. Enam tahun lalu sewaktu menerima terapi radiasi, anus saya bagaikan sakit sampai berjalan pun susah sekali dan setiap masuk ke WC seakan disayat pisau. Dalam kondisi seperti itu, tak ada tempat meneduh, terpaksa sambil duduk di atas toilet langsung berlatih Ping Shuai Gong di dalam kakus. Tak saya sangka ternyata hanya beberapa minggu saja saya pun bisa lewati gerbang kesulitan itu.

(8) Olahraga mengandalkan ilmu pengetahuan, Qigong menggabungkan ilmu dan filsafat.

Sports Medicine atau kedokteran olahraga adalah salah satu spesialisasi di bidang kedokteran. Dalam urusan latihan mereka tekankan bagaimana dengan bantuan sains, atlitnya bisa berlari lebih cepat atau melompat lebih tinggi, sedangkan dalam bidang pengobatan, mereka tekankan bagaimana merawat tulang, otot dan persendian dan mengurangi rasa sakit. Maklum ilmu kedokteran itu materialistik. Qigong sudah diwariskan turun temurun selama ribuan tahun. Bukan saja dalam bidang keilmuan, tetapi juga dalam filsafat, para guru besar Qigong termasuk sebagai ‘penyembuh’, ‘pelaku-tapa’ dan ‘orang bijak’.

(9) Olahraga menekankan materialistik, Qigong menggabungkan idealisme dan materialisme.

Olahraga nampaknya hanya melatih badan agar sehat bugar. Jenjang atau batasan Qigong seperti tak ada batasnya. Begitu memasuki jenjang Qigong sering kali orang bisa merasa kalau jiwa dan raganya menyatu. Yang berlatih bukan saja bisa maju dengan pesat, tapi lebih bisa berjiwa tentram. Seperti motto perguruan Meimen, “perhatikan luar maupun dalam, pikiran dan materi bersatu-padu, melindungi alam semesta, asimilasi dan renovasi” yang menggambarkan perbatasan (jenjang) Qigong.

(10) Semangat olahraga diterapkan dalam disiplin, Qigong bertumpu pada manusia adalah bagian integral dari alam.

Olahragawan selain harus berbadan sehat, masih harus menjunjung tinggi sportivitas. Semangat itu adalah, ‘Teguh tak takut kesulitan,’ ‘taat dan berdisiplin.’ Yang berlatih Qigong malah berada setingkat di atas, karena ‘penyaluran tenaga lewat tantian’ atau ‘pernafasan bawah pusar, ‘ ‘gerak atau hening sesuka hati,’ lalu ‘berintegrasi ke dalam kehidupan’. Seperti yang diungkapkan dalam semangat Meimen, ‘sebarkan moral bangun karakter, surat silat sama unggulnya, lakukan kebajikan terapkan keadilan, mewartakan ajaran yang ada, Bunga Bwe dimana-mana, pantang mundur sepanjang masa, berjaya di seluruh dunia.(宣道立德、文武雙全、行仁化義、普傳有道,梅花遍地、永不退轉,成就大同). Qigong tak ada batasnya!

{ 4 comments… add one }
  • mario November 22, 2016, 7:32 am

    Maaf, sy hanya ingin bertanya apakah ping shuai qong ini sama dengan senam ayun tangan yg disebut swaiso atau shuaiso? Terima kasih.

  • mario November 22, 2016, 7:33 am

    Dan satu lagi. Bagaimana cara mengatur nafas saat berlatih ping shuai qong ini?

  • drt November 25, 2016, 2:48 am

    Penjelasan tentang Shuai shou gong bisa dilihat di video ini. Nampak sekali Master Lee masih sangat muda dalam video itu. Kalau anda di Jakarta bisa kontak Pak. Peter di Kemayoran.
    https://www.youtube.com/watch?v=j-EYOxv8fNM

  • drt November 25, 2016, 3:19 am

    Pak Petrus bisa dihubungi di tempat latihan yang ditunjukkan dalam video ini:
    https://www.youtube.com/watch?v=KArj3jLdmXY

Leave a Comment