≡ Menu

Metode Pengobatan Dengan Qigong (7)

Ini bagian terakhir dari subseksi Metode Pengobatan Dengan Qigong dan membahas tentang hal-hal yang dapat membahayakan bila berlatih tanpa guru, atau mendapat petunjuk urusan penyakit dari mereka yang tidak punya latar belakang di bidang medis.

Judul subseksi ini dalam bahasa aslinya adalah: 換勁、換境、幻境、患境 yang dibaca(Huàn jìn, huàn jìng, huàn jìng, huàn jìng). Terus terang, kalau tidak melihat huruf aslinya, telinga saya tidak terlatih untuk membedakan intonansi keempat istilah ini. Begitu juga dalam menterjemahkan, saya mengalami kesulitan, karena huruf jin dalam huan jin (換勁) itu artinya tenaga dan tergantung dari pasangan katanya, artinya juga bisa bermacam-macam. Oleh sebab itu, dalam hal ini saya terjemahkan sebagai pergantian jenjang kemampuan dalam Qigong. Sedianya saya akan memakai judul: Pergantian Kemampuan, Pergantian Jenjang, Jenjang Fantasi, Jenjang Penyakit. Tapi agar lebih mudah difahami, saya menggantinya menjadi Naik Tingkat atau Tambah Parah. Saya terbuka kalau ada yang punya usulan lain.

Kalau ada satu butir yang bisa saya ambil dari subseksi ini, saya akan ambil pendapat Dr. Shu bahwa berlatih Qigong bukan untuk mengobatai kanker, tetapi untuk menetramkan pikiran. (drt)

Naik Tingkat atau Tambah Parah

‘Pergantian Kemampuan (換勁), Pergantian Jenjang (換境), Jenjang Fantasi (幻境), Jenjang Penyakit’ (患境) adalah empat gejala umum selama berlatih Qigong. Pergantian kemampuan atau pergantian jenjang atau naik tingkat ibarat ular berganti kulit dan badan bertambah sehat, ilmunya naik setingkat. Tapi jenjang fantasi bisa berbahaya. Untuk organisasi Qigong mandiri, kadang-kadang anggotanya yang berlatih sendiri bisa masuk ke dalam jenjang ini. Kalau tidak punya kemampuan konsentrasi yang memadai atau tidak didampingi mereka yang sudah cukup berilmu yang bisa membantu, sering bisa masuk ke dalam keadaan trance, tidak menyadari sekeliling, bisa tersesat dan merusak diri. Sedangkan jenjang penyakit maksudnya suatu kondisi bertambah parah atau orangnya betul-betul sakit parah. Bagaimana membedakan pergantian jenjang atau jenjang penyakit bertambah parah adalah suatu hal yang sangat penting. Orang yang baru belajar sering menganggap bahwa semua perubahan setelah berlatih berarti ‘pergantian kemampuan’ atau naik jenjangnya dan terus saja berlatih. Pergantian jenjang memang boleh terus berlatih, tetapi masuk ke jenjang penyakit atau tambah parah berarti perlu segera berhenti dan pergi periksa dokter. Berikut ini adalah dua contohnya:

Kasus 1:

Dibulan Mei 2007, seorang penderita kanker endometrium datang dengan memakai mantel besar yang membungkus lehernya erat-erat, dan dengan dibopong suaminya masuk ke dalam klinik saya. Tiga tahun lalu dia terkena kanker itu, takut sekali untuk dioperasi. Karena dia membaca buku saya, tanpa konsultasi, langsung dia mengganti cara makan, lalu mengikuti cara detoksifikasi yang diajarkan Lin Guang Chang serta masuk ke perguruan Meimen untuk berlatih Qigong. Setengah tahun kemudian, kankernya sudah metastasi ke klenjar getah bening subklavia. Setelah 3 bulan ukurannya menjadi sepuluh kali lipat. Suaminya membuka mantel dia, dan saya kaget sekali. Tumor kelenjar beningnya sudah berukuran belasan senti, bengkak dan penuh darah!

Dia bilang: “Dr. Shu, kamu nggak operasi, saya juga tidak operasi. Saya menjadi vegitarian, berlatih Qigong, melakukan detoksifikasi, minum air alkalin, semua sudah saya lakukan!”

Saya balik bertanya: “Bagaimana kamu membiarkan tumornya bertumbuh sebesar itu?”

Dia bilang: “Para suheng dan suci bilang kepada saya jangan pergi kemoterapi, jangan periksa dokter, semua itu tak ada gunanya. Mereka bilang tumornya sudah akan hilang, karena ini adalah ‘pergantian jenjang’, dan mereka bilang tak perlu khawatir.”

Ya Tuhan! Tumornya sudah mau pecah! Saya langsung bilang: “Jangan gila! Tumormu akan pecah, bakal terjadi pendarahan besar! Kamu bisa mati! Ayo, ke RS sekarang juga!”

Hari itu juga dia pergi ke RS Universitas Taiwan, tumornya pecah dan terjadi pendarahan besar. Untung dokter masih bisa tolongi dan selamatkan dia. Kemudian dia mendapat terapi radiasi. Tetapi sebulan kemudian karena tumor dalam rahimnya pecah, terjadi pendarahan besar dan dia pun meninggal.

Kasus ke-2

Di bulan Februari 2007, soerang teknisi pesawat China Airline menderita kanker usus dan datang berobat. Sakitnya persis dengan kasus saya. Waktu itu pihak RS menganjurkan agar dioperasi terus bikin anus buatan. Untungnya sebelum dioperasi dia ketemu saya. Sekuat tenaga saya anjurkan dia menempuh pengobatan alamiah, dan dia menyetujui usul saya. Jadi selain menerima terapi radiasi dan kemo dari RS, dia juga berlatih Qigong ke perguruan Meimen, dan dalam waktu tiga bulan, tumornya pun hilang. Saya gembira sekali bahwa ada orang yang berhasil seperti pada kasus saya.

Setelah beberapa bulan kemudian dia rajin berlatih setiap hari dan selalu pergi periksa ke RS secara teratur.

Setelah setahun dia temukan bahwa dalam tinjanya ada darah, dan anusnya juga sakit. Tetapi para kakak seperguruannya mengatakan ini ‘ganti jenjang’, latihan terus saja. Akan tetapi di RS ternyata mereka temukan tumor yang kambuh sudah sebesar 1.5 cm. Dokter tanya dia mau operasi atau kemoterapi. Dia bingung dan datang minta pendapatku. Karena tumornya masih kecil, saya anjurkan dia meminum Tian Xian Liquid sebisa mungkin dan terus latihan atau terima operasi lewat klonoskop dan potong tumornya. Dia memilih berlatih Qigong dan minum Tian Xian Liquid. Tetapi kakak seperguruan mereka merasa bahwa Tian Xian Liquid bukan vegetarian, jadi tak boleh dimakan. Makanya dia tidak meminum Tian Xian Liquid, tapi berlatih terus. Saat itu saya sudah melihat wajahnya yang bermuram durja. Istrinya diam-diam bilang kepada saya, sikap suaminya berubah jadi kasar, kadang tanpa sebab bisa marah-marah, selalu tegang dan tidurnya tidak tentram. Saya mulai khawatir dia mulai masuk ke jenjang dimana penyakit bertambah parah.

Setengah tahun kemudian dia datang berobat lagi. Kali ini keadaannya sama sekali berubah. Kondisinya semakin memburuk, sakit di anusnya semakin parah, dan buang airpun susah sekali. Perasaannya jelek sekali. Waktu periksa, dia tiba-tiba bertanya: “Kenapa ya, kencing saya juga berdarah?” Begitu mendengarnya saya cuma pikir, cilakak! Tumornya sudah menyerang ke kandung kemihnya. Saya anjurkan dia harus segera ke RS untuk diperiksa, dia malah bilang:”Selama ini para kakak seperguruan pada bilang cuma pergantian jenjang, saya tenang saja.” Dengan tegas saya bilang pada dia:”Ini tambah parah, bukan pergantian jenjang!”

Dia pulang dengan sedih, sebulan kemudian saya telpon, dia bilang tumornya sudah besar sekali, harus segera dioperasi. Tapi para kakak seperguruan bilang sama sekali tak boleh operasi, karena sekali masuk rumah sakit tak bakal keluar lagi. Saya tanyakan bagaimana kondisi badannya, dia bilang sudah seminggu tidak bisa buang air besar. Tak bisa makan, anusnya sakit, dan sama sekali tak bisa tidur. Berat badannya juga sudah berkurang sekitar 10 kg. Dari penuturan dia berarti ususnya sudah tersumbat. Kalau saja bisa sembuh hanya dengan berlatih Qigong tentu tak perlu operasi, tapi keadaan dia sudah dalam keadaan darurat.

Akhirnya dia putuskan untuk pergi operasi. Sewaktu dioperasi dokter temukan bahwa kankernya sudah tembusi usus besar masuk ke kandung kemihnya. Masih untung bisa dipotong buang. Dua bulan setelah operasi, saya telpon tanya keadaannya. Dia bilang badannya lemah, tetapi sudah mulai bisa makan seperti biasa. Setelah tiga bulan kemudian saya hubungi dia lagi, dia bilang sedang menerima kemoterapi. Saya ingatkan dia agar jangan lupa latihan Qigong, dia bilang untuk berdiri saja susah, tak mungkin bisa latihan. Jawaban dia mengingatkan saya akan percakapan kita sebelumnya: “Kenapa mau latihan Qigong?” Jawaban dia, “Untuk obati kanker dong!” Ini adalah pandangan yang keliru. Latihan Qigong bukan untuk mengobati kanker tetapi mengobati pikiran.

Sekarang tumornya timbul lagi dan dia harus menerima pengobatan yang menyakitkan. Tampaknya niat untuk berlatih dia sudah punah sama sekali. Jiwanya dalam keadaan bahaya. Apakah bisa selamat, hanya membikin khawatir saja!

Ini adalah kesalahan menganggap ‘jenjang sakit’ (患境 huan jing) sebagai ‘ganti jenjang’ ( 換勁 huan jing). Perbedaan keduanya memang pada mulanya sukar dibedakan. Akan tetapi kalau mau diteliti secara saksama, bisa ditemukan perbedaan masing-masing seperti berikut:

  1. Kalau sekedar pegal, sakit, kram, gatal, bengkak dan berbagai gangguan pada otot, atau gejala di kulit misalnya gatal, timbul bintik-bintik merah yang tidak mengganggu fungsi jeroan, bisa dianggap sebagai ‘ganti jenjang’ atau naik tingkat.
  2. Kalau muntah, mencret dan berbagai gejala saluran pencernaan, akan tetapi setelah episode muntaber badannya terasaa segar, itu berarti ‘ganti jenjang’. Sebaliknya setelah muntaber, badannya terasa lemas, kadang pusing dan mau semaput, harus dianggap ‘sakitnya tambah parah’, harus segara beristirahat, dan kalau tidak membaik harus pergi berobat.
  3. Kalau terjadi pendarahan, tumornya membesar, pasti itu ‘jenjang penyakit’-nya bertambah parah, harus segera periksa dokter.
  4. Kalau sakitnya lama tak hilang, dan kadang semakin sakit rasanya, untuk pasien kanker, kemungkinan besar tumornya kambuh lagi, harus segera periksa dokter.
  5. Kalau pusing, sakit kepala dan berbagai gejala di otak, dan tidak berkurang dalam waktu dua hari atau malah tambah parah, juga harus segera periksa dokter. Apalagi kalau tiba-tiba kepalanya sakit sekali, ada kemungkinan pendarahan di otak, harus segera periksa ke dokter bedah syaraf.

Nomor HP saya, 0910743919 selalu siap 24 jam sehari. Sewaktu-waktu bisa dikontak.

Melawan Kanker Secara Santai Bersama Dr. Shu

Seorang ibu rumah tangga yang berasal dari Tainan, terkena kanker usus pada bulan May 2006. Setelah tercekam dalam ketakutan akhirnya pada bulan Agustus datang berobat ke klinik saya. Setelah mendengar penjelasan panjang lebar saya, akhirnya dia menerima cara pengobatan koktail alamiah saya. Pertama dia membeli alat penyaring air AQ1400, lalu ikut berlatih Qigong ke perguruan Meimen. Belum tiga bulan tumornya sudah mengecil. Seharusnya dia mesti dioperasi dan memakai anus buatan, tetapi akhirnya dokter hanya memotong tumornya dan tak diapa-apakan anusnya. Setelah operasi dia menjalani kemoterapi, tetapi belum sebulan, sudah merasakan kengerian kemoterapi, dan perlahan-lahan dia putuskan untuk menolak kemoterapi sama sekali. Suaminya ikut mendukung dia dan sama-sama mengikuti latihan di perguruan Meimen. Sampai sekarang sudah dua tahun lebih dan tampaknya semua berlangsung dengan baik. Sebelum perayaan tahun baru Tionghoa tahun 2009, saya telpon untuk mengecek keadaannya. Keduanya sangat berterimakasih atas rekomendasi saya untuk perguruan Meimen dan alat saringan air, sehingga mereka bisa terbebas dari lembah gelap penderita kanker, dan terhindar dari siksaan yang harus dialami penderita kanker.

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment