Oat bran dan Capres, Apa Hubungannya?

by drhi on June 14, 2009

Serba-serbi Survey dan Statistik Dalam Kehidupan Sehari-hari.

Seperti tulisan saya sebelumnya, dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menerima informasi dari berbagai media mengenai hasil penelitian, hasil dari survey-survey, dan hasil dari jajak pendapat (polls). Suka atau tidak kita dihujani dengan data statistik tersebut. Mulai dari yang sangat sederhana sampai yang canggih. Misalnya siapa yang akan terpilih sebagai presiden Indonesia untuk masa jabatan 5 tahun mendatang, atau mengapa kaum perempuan lebih menyukai kosmetik merek tertentu, atau informasi jumlah penduduk yang masuk dalam kategori miskin di Indonesia,  dan lain-lain.

Salah satu informasi yang cukup menarik perhatian masyarakat di pertengahan tahun 1980 an adalah, ditemukannya hubungan antara penyakit jantung dan tingkat kolesterol yang tinggi. Saya akan sedikit mengulas masalah ini sebagai contoh yang saya kutip dari “Tainted Truth” karangan Cynthia Crossen. Dari hasil temuan diatas tentunya orang akan bertanya bagaimana caranya menurunkan kolesterol agar bisa hidup sehat. Walaupun pada saat itu ada pilihan dengan menggunakan obat, para peneliti juga mulai mencari alternative lain yaitu bagaimana mengontrol kolesterol kita dengan makanan. Salah satu hasil yang ditemukan saat itu adalah oat bran (oatmeal) dapat menurunkan kolesterol.

Dengan informasi ini kita mempunyai beberapa pilihan: mempercayai informasi itu, atau mempertanyakan kebenarannya, atau membiarkan saja informasi itu berlalu lalang tanpa berbuat apa-apa. Toh pada saat kita membaca survey tersebut, mungkin belum terasa dampaknya kedalam kehidupan kita. Semua ini akan mulai berguna kalau suatu saat kita butuhkan. Seperti contoh diatas, kalau kita ingin kolesterol kita rendah dan bisa hidup sehat, kita akan memperhatikan hasil penelitian tersebut. Lalu mengikuti anjuran mereka yaitu makanlah oat bran.

Apakah kita termasuk orang yang mudah percaya lalu mulai mengganti konsumsi sehari-hari dengan oat bran. Ataukah kita termasuk orang yang skeptis lalu mencari informasi lebih lanjut. Informasi-informasi tersebut misalnya, apakah semua makanan yang mengandung oat bran bisa menurunkan kolesterol, atau bagaimana cara mengkonsumsinya. Seberapa banyak batas maksimum yang boleh dikonsumsi dalam satu hari dan seterusnya. Setelah itu ternyata kolesterol kita tidak membaik apakah lalu kita bisa menyalahkan hasil penelitian tersebut?

Ada beberapa cara yang bisa kita pakai dalam menyeleksi apakah hasil suatu penelitian bisa dipercaya. Yang pertama adalah menggunakan common sense. Dalam suatu penelitian biasanya pihak-pihak yang terlibat adalah: sponsor yang membiayai penelitian tersebut, peneliti dan media masa yang menyebarkan hasil dari penelitian itu. Pertanyaan pertama adalah siapa yang berada dibelakang penelitian ini? Ini penting sekali karena banyak contoh yang menunjukkan kalau pesan sponsor dapat mempengaruhi hasil dari suatu survey atau penelitian. Contoh berikut ini adalah survey yang bisa kita lihat siapa sponsor dibelakangnya.

Hasil survey yang heboh saat ini yaitu mengenai elektabilitas dari calon presiden dan wakil presiden kita. Dua lembaga survey yaitu LRI (Lembaga Riset Informasi) dan LSI (Lembaga Survey Indonesia), mengeluarkan hasil yang berbeda, dan keduanya mengklaim kalau hasil surveynya benar. Hasil survey yang dikeluarkan oleh LRI , elektabilitas SBY-Boediono saat ini sebesar 33,02 persen, disusul JK-Wiranto 29,29 persen, dan Mega-Prabowo 20,09 persen. Berbagai media masa menyebutkan kalau LRI adalah organisasi sayap dalam tim sukses pasangan JK-Wiranto. Hasil survei yang dikeluarkan oleh LRI ini agak berbeda dengan hasil survei yang dilakukan LSI yang dibiayai Fox Indonesia, yang adalah konsultan politik SBY-Boediono. Menurut LSI, elektabilitas SBY-Boediono mencapai 71 persen, Mega-Prabowo 16,4 persen, dan JK-Wiranto 6 persen (Kompas, 4 Juni 2009).

Secara common sense kita bisa melihat bahwa ada yang aneh dengan hasil survey-survey ini. Mengapa ? Karena “seandainya” kedua methoda survey tersebut sama, harusnya hasilnya tidak akan jauh berbeda, walaupun tidak sama persis. Hasil survey “kelihatannya” sesuai dengan kepentingan sponsor. Sebelum melangkah lebih jauh dan mempercayai hasil survey tersebut, sebaiknya kita bertanya sejenak, apakah memang begitu?

Kalau kita tidak mampu melihat siapa sponsor dibalik suatu survey, kita bisa masuk selangkah lebih dalam lagi. Biasanya hasil survey berdasarkan atas dua hal yaitu methodology dan data. Semua informasi ini ada dalam apa yang disebut technical index. Ada peneliti yang murah hati melampirkan semuanya, ada yang menyembunyikan sebagian dan ada yang sama sekali tidak mau memperlihatkan apa yang dilakukannya itu. Kalau peneliti tidak mencantumkan secara detail bagaimana hasil survey mereka diperoleh, artinya kita tidak perlu mempercayai hasil survey tersebut. Jangan buang waktu untuk mendalami survey-survey seperti itu.

Kembali pada masalah oat bran. Beberapa waktu setelah hasil penelitian masalah oat bran tersebut dipublikasikan ada dua orang peneliti independent yang meneliti masalah oat bran ini. Kesimpulan yang diperoleh adalah oat bran tidak ada bedanya dengan makanan lainnya, karena walaupun dapat menurunkan kolesterol tetapi tidak sebesar yang di klaim oleh kelompok peneliti pertama. Setelah di telusuri ternyata sponsor peneliti pertama adalah salah satu produsen oat bran terbesar. Jadi sekali lagi, sponsor, sadar atau tidak ikut mempengaruhi hasil dari suatu survey. Masalah oat bran ini akhirnya berakhir di pengadilan.

Tentu saja yang kita harapkan, sama sekali tidak ada hubungan antara berbagai survey mengenai Capres dengan survey pesan sponsor ala oat bran ini. Tapi itu tergantung, apakah LSI dan LRI akan berani membuka secara transparant bagaimana mereka memperoleh hasil surveynya? Mari kita tunggu. (drhi)

Popularity: 1% [?]

{ 3 comments… read them below or add one }

Henny P June 16, 2009 at 10:19 am

Jelang pileg yang lalu dan pilpres mendatang, memang marak sekali survey yang dilakukan oleh lembaga- lembaga survey ataupun polling pendapat di berbagai media cetak ataupun elektronik di Indonesia. Hasilnyapun beraneka ragam di mana masing-masing meng-klaim, paling akurat. Sebagaimana yang diuraikan oleh DR Haerani tersebut di atas, saya sependapat bahwa seandainya methoda survey yang dipakai oleh lembaga survey adalah sama maka seharusnya hasil yang diperoleh juga sama atau paling tidak “beda-beda tipis”. Jadi, jika pada hasil survey terlihat ada perbedaan yang siknifikan, apakah survey oat bran dan survey pilpres sama-sama tergantung pada “pesan sponsor”-nya? Kita lihat nanti, Juli 2009.

Rihi Here Wila June 18, 2009 at 11:02 am

Saya kira kuncinya adalah metodologi apa yang digunakan dan mestinya semua penelitian ilmiah harus terbuka untuk bisa diuji dengan metodologi yang sama oleh orang/lembaga lain (tapi apakah survai LSI/LRI ini diakui sebagai penelitian ilmiah tidak?). Kalau bukan sebagai penelitian ilmiah ya nggak usah dipercaya. Selesai khan? Soal seperti oat brand itu mestinya dilakukan randomized controlled trial yang juga masih mungkin untuk “dimainkan” oleh statistician tapi bisa di telusuri melalui ‘critical appraisal’ terhadap laporan hasil penelitiannya (begitu khan Dek?).
Soalnya adalah survei seperti yang dilakukan oleh LSI/LRI apakah bisa dibuat dengan cara tersebut (Randomized Controlled Trial, sebagai jenis penelitian ilmiah yang paling baik?). Jadi kesimpulannya, saya setuju dek Titien.. lupakan saja survei-survei tersebut sementara ini.

duratia June 21, 2009 at 5:19 am

Sebenarnya, kaget juga sih, pas tau LSI ternyata didanai Fox Indonesia, ya hasilnya diragukan keakuratannya. Soalnya, buat apa bayar mahal-mahal dan diumumkan kalau ternyata hasilnya menang pasangan lain. Sama saja seperti test produk di majalah teknologi, biasanya ada barang “titipan” juga. Lebih baik, hentikan saja survey-survey seperti itu. Kalau pun mau di survey, jangan diumumkan ke publik, karena pasti menjadi propanda.

Leave a Comment

Previous post:

Next post: