≡ Menu

Di sanakah kamu? (9)

Holy Hill and Nancy's yard from Google Earth

Holy Hill and Nancy’s yard from Google Earth

Keluar dari pekarangan Nancy, kami terus ikuti mobil Rogers. dengan tujuan mampir sebentar ke rumah John. Ternyata seperti kata Rogers, rumahnya memang tak jauh dari rumah Nancy.

Setelah bersalaman, kami pun diajak masuk.

Karena kami sendiri sudah sempat makan siang, makanya waktu Rogers bilang dia mau makan dulu begitu masuk ke ke rumah John, kami bilang silahkan. Rogers terus menggunakan mikrowave di ruang makan untuk panaskan makanan yang dia bawa dan John mempersilahkan kami duduk juga di meja makan menemani Rogers. Lalu John mulai berceritera tentang berbagai mukjizat di Conyers sesekali diselingi Rogers yang terus menyelesaikan makannya.

Waktu itu John ceritera bahwa dia punya satu salib yang dibuat dengan kayu khusus yang dia bawa dari Bermuda. Dia ingin sekali menambahkan patung Tuhan Yesus pada salib itu, tetapi patung yang dia temukan ukurannya tak pernah ada yang pas dengan ukuran salib kayunya.

Pintu Pagar Nancy yang selalu tertutup. Foto dari Google Earth.

Pintu Pagar Nancy yang selalu tertutup. Foto dari Google Earth.

Menurut John, ketika ulang tahun perkawinannya, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu di pagi hari dan menanyakan apakah dia mau patung Yesus yang sudah agak rusak. Orang itu mungkin tahu bahwa John adalah seorang seniman, tapi menurut John sendiri dia tidak mengenal orang itu, tapi dia terima saja patung rusak itu. Kalau tidak, orang itu akan membuang patungnya ke sampah.

Ternyata patung itu pas sekali ukurannya untuk salib kosongnya John, maka dia pun perbaiki patung rusak itu dan dipasangkan ke salibnya.

Menurut ceriteranya waktu itu, salib dengan patung Tuhan Yesus yang sudah diperbaiki itu pernah dititipkan kepada Nancy untuk ditaruh di kamar tidurnya, biar kalau ada penampakkan Bunda Maria atau Tuhan Yesus sendiri, maka patung itu dengan sendiri sudah terberkati langsung.

Walaupun saya sendiri pernah mengalami langsung pengalaman unik di ruang aparisi, maupun urusan ‘perang akan segera berakhir’ yang sudah saya ceriterakan sebelum ini, tetapi ceritera terakhir ini menyentuh otak rasional saya yang secara tidak sadar menyalakan ‘lampu merah’ dalam benak saya, walaupun hal itu tak saya katakan langsung kepada Rogers atau John,

Sementara itu Rogers juga sudah selesai makan. Saya tak tahu apakah itu makan siang atau makan malamnya. Seingat saya seperti kami, dia juga dari luar Georgia, dan masih akan menyetir pulang ke rumahnya, kalau tak salah di negara bagian South Carolina.

Beberapa tahun lalu Rogers pernah telepon ke rumah, bilang dia ketemu nomor kami saat bersihkan kertas-kertasnya. Waktu itu dia sudah pindah ke Kanada, tapi saya tak sempat mencatat nomor telpon dia hari itu, dan sampai sekarang kami tak pernah berhubungan lagi.

Karena Rogers sudah selesai makan, kami pun pamitan, tapi Rogers mengajak kami untuk melihat salib yang diceriterakan itu. Winnie dan saya pun lalu mengikuti John dan Rogers, beranjak dari meja makan ke ruang tamu tanpa ada ekspektasi apapun.

Salibbesar di Holy Hill yang foto udaranya terpampang di atas. Foto koleksi pribadi.

Salibbesar di Holy Hill yang foto udaranya terpampang di atas. Foto koleksi pribadi.

Salib itu tampak tergantung di tembok, sedikit di bawah langit-langit. Tak ada yang menonjol adalah reaksi pertama saya. Tak beda dengan berbagai salib yang banyak terdapat di Gereja atau institusi bahkan rumah keluarga Katholik di mana-mana. Cuma mungkin ukurannya agak sedikit lebih besar dari yang biasa terlihat di kebanyakan rumah,

Begitu melihat ke patung salib itu, tiba-tiba Winnie bertanya:

“Lho, koq sampai kaya begitu?”

Saya mengiayakan saja tanpa menanyakan apa yang dia maksudkan dengan kata ‘sampai begitu’, karena ada rasa ingin tahu, kenapa sih Rogers dan John memberikan perhatian begitu besar pada patung itu sampai Rogers mengajak kami ke sini sekedar untuk melihat salib itu?

Tetapi tak lama setelah saya mengiyakan Winnie, terdengar bunyi seperti ada yang jatuh di samping saya.

Waktu saya tengok, terlihat Winnie sedang membikin tanda salib selagi berlutut. Tak lama kemudian dia mulai membungkukkan badan ke depan, menyentuhkan jidatnya ke tanah seperti saat orang Tionghua lagi ‘paikui’ atau bersujud, sambil menangis.

Tentu saja saya kaget sekali. Pertama, karena ini adalah kali pertama saya melihat Winnie membikin tanda salib setelah kami menikah selama 22 tahun lebih. Kedua, Winnie sedang menyembah dan menangis tersedu-sedu di lantai.

Kalau dua samurai saling beri hormat dalam posisi duduk, mereka membungkuk, tetapi kepala mereka tetap menengadah dan mata mereka tak pernah beranjak dari posisi lawannya. Tapi posisi Winnie bagaikan murid Jepang yang menyembah ke kakek guru dalam perguruan mereka dan jidatnya menyentuh lantai, atau pasrah bongkok. Tak peduli kalau tiba-tiba sang guru melakukan sesuatu gerakan untuk menghajarnya,

Kemudian Winnie cepat-cepat bangun kembali ke posisi duduk berlutut. John dan Rogers terus mendekati kami berdua. Kami pun berdiri masih belum tahu apa yang sedang terjadi. John terus merangkul Winnie yang sudah berdiri, dan kami sempat bicara lagi sebentar sampai mereka yakin bahwa Winnie tak apa-apa, dan kami pun langsung pamitan, naik ke mobil dan menyetir pulang dalam keremangan senja.

Setelah meninggalkan keramaian karena banyaknya kendaraan yang masuk keluar ke Interstate Highway I-20 di sekitar kota Atlanta, jumlah kendaraan ke jurusan Birmingham pun mulai berkurang, dan saya lalu bertanya:

“Tadi kamu kenapa, jo?”

Maksud saya kenapa dia sampai menangis, dan berlutut segala? Jo dari kata bojo adalah sebutan akrab di antara kami berdua.

Winnie bilang, “nggak tahu,” karena dia juga masih belum 100% pulih dari apa yang baru saja dialami, dan masih belum tahu harus dimulai dari mana.

Satu hal yang sudah saya lupakan, ternyata dalam kebingungannya Winnie malah menggumankan lagu Natal, ‘Hark the herald angel sing,…’ sepanjang perjalanan keluar dari Atlanta. Waktu mendiskusikan bagian ini sebelum posting, Winnie ingatkan saya bahwa saat itu dia sadar kalau Natal sudah berlalu, tapi dia tak bisa hilangkan keinginan untuk mendengunkan lagu itu perlahan sepanjang jalan pulang.

…. bersambung.

{ 0 comments }

Di sanakah kamu? (8)

Nah, tanggal 13 Februari 1999 pagi itu, kami datang sudah agak siang, dan ruangan aparisi sudah terisi dan hanya ada lima kursi kosong di barisan paling depan, dua di ujung kiri dan tiga di tengah.

Sampai saat itu, Winnie masih seperti sediakala, hanya ikut ke sana untuk menemani saya, dan masih punya rasa cemas begitu memasuki ruang aparisi itu. Winnie sama sekali tidak mengerti doa apa yang mereka sedang daraskan. Dia tahu itu doa Rosario tapi dia belum tahu bagaimana cara berdoanya.

Foto udara the Farm di bulan Oktober 1998. Sumber: Koran ini

Foto udara the Farm menunjukkan bangunan tempat Ruang Aparisi di bulan Oktober 1998. Sumber: Agusta Chronicle

Kami terus masuk, jalan menuju ke barisan terdepan, lalu duduk di dua dari tiga kursi kosong di tengah deretan bangku itu.

Tak lama kemudian masuklah satu keluarga berjumlah tiga orang. Maka kami pun pindah ke dua kursi kosong di ujung kiri membiarkan keluarga itu bisa duduk bersebelahan.

Letak kursi kosong ini tak ada semeter dari tempat berlutut yang memberikan pengalaman unik beberapa minggu sebelumnya. Winnie duduk di ujung deretan itu.

Setelah doa bersama selesai, saya katakan pada Winnie, saya masih ingin berdoa dulu. Winnie bilang dia ingin ke mobil. Saya mau berikan kunci saya, tapi dia bilang, dia juga bawa gerombol kuncinya.

Setelah selesai berdoa saya keluar ke mobil, Winnie tawarkan makanan kecil yang dia bawa dari rumah, tapi akhirnya kami putuskan pergi makan di restoran yang tak jauh dari situ baru kembali lagi karena kami masih ingin ke Holy Hill di belakang rumah Nancy, sekitar 10-15 menit perjalanan dari ruang aparisi. Sampai siang masih banyak orang di sana, namun paling banyak sekitar beberapa puluh orang, tidak sebanyak jumlah tumpah ruah seperti yang tampak pada gambar di atas. Foto ini muncul dalam sebuah artikel tertanggal 10 Oktober 1998, tiga hari sebelum ‘penampakan Bunda Maria yang terakhir kali’ menurut Nancy.

Patung Tuhan Yesus di Holy Hill atau Bukit Suci. Foto koleksi pribadi.

Patung Tuhan Yesus di Holy Hill atau Bukit Suci.
Foto koleksi pribadi.

Sepulang makan saya tidak kembali ke tempat parkir ruang aparisi, tapi belok masuk dan parkir di halaman rumah Nancy yang terletak di jalan besar sebelum belok ke White Road menuju ‘the Farm.’ Lalu kami berjalan mengitari pekarangan sampai ke Holy Hill di belakang rumahnya.

Biasanya pintu pagar depan Nancy selalu ditutup. Tapi hari itu karena tanggal 13 dan banyak pengunjung, maka pintu itu terbuka sehingga kami bisa parkir di sana. Halaman parkir Nancy hanya bisa menampung beberapa mobil.

Dari belakang rumah Nancy, ada jalanan tak beraspal lewat Holy Hill menuju kembali ke ruang aparisi yang kami datangi tadi. Biasanya orang yang berjalan antara kedua tempat ini suka berjalan sambil berdoa Rosario.

Nancy Fowler. Image source: Georgia Bulletin, Archdiocese of Atlanta

Nancy Fowler. Image source: Georgia Bulletin, Archdiocese of Atlanta

Di samping rumah Nancy saya lihat ada beberapa orang yang sedang antri ingin ketemu Nancy, walaupun sudah ada beberapa pengumuman yang ditempel di sekeliling rumah dan pagar, agar para pengunjung tidak mengganggu privasi Nancy.

Melihat yang menunggu tidak terlalu banyak, saya ajak Winnie untuk ketemu Nancy. Biar bagaimana pun, saya toh kepingin tahu seperti apa sih orangnya?

Winnie tak mau, dan dia terus berjalan kembali ke mobil. Saya lalu antri sendiri menunggu giliran di barisan itu. Ternyata ada seorang ibu asal Indonesia yang sudah lama tinggal di bagian selatan Georgia di antara mereka yang menunggu. Kalau tak salah ingat, namanya Elizabeth. Setelah bertukar informasi begitu sampai giliran, kami masuk bersama.

Waktu ketemu Nancy, saya sempat bilang kalau istri saya sedang menunggu di mobil. Nancy bilang, ajak ke sini saja. Saya segera keluar, tapi Winnie tidak kelihatan dan saya masuk lagi.

Setelah bicara sebentar, kami pamit. Nancy mengantar kami sampai ke pintu. Begitu saya lihat ke luar, Winnie sedang berjalan di atas dedaunan kering yang menutupi halaman pekarangan Nancy. Saya menggapai dan Winnie datang. Setelah bersalaman dengan Nancy, kami terus pamitan. Nancy sempat bilang, tanganmu dingin sekali. Winnie bilang, iya, di luar memang dingin. Awal February memang paling dingin dan hari itu baru tanggal 13.

Tak ada kesan mendalam saya tentang pertemuan itu. Kami diberi gambar Bunda Maria dan bayi Yesus seukuran kertas folio. Hari sudah agak sore waktu kami pamitan dan kami masih butuh menyetir sekitar empat setengah sampai lima jam untuk sampai ke rumah.

Nancy Fowler seperti yang ditunjukkan dalam gambar di atas, adalah seorang ibu setengah baya. Menurut biografinya dia hanya 3 tahun lebih tua dari saya, dan waktu ketemu kesan saya Nancy tak beda dengan wanita sebaya yang bisa anda temui di lingkungan kami di sini. Sama sekali tak ada kesan selebriti pada diri Nancy. Dari apa yang saya pernah baca di kemudian hari, ternyata sampai akhir hayatnya, Nancy tetap patuh pada Gereja dan mengikuti semua petunjuk Gereja sehubungan dengan penampakan Bunda Maria ini, termasuk setelah terjadi perpecahan di antara Nancy dan para pendukungnya yang membiayai pembangunan berbagai fasilitas di Conyers.

Rogers Haddad sedang berbicara dengan pengunjung lain di Holy Hill. Pagar rumah yang tampak adalah pagar rumah Nancy. Foto koleksi pribadi.

Rogers Haddad sedang berbicara dengan pengujung lain di Holy Hill. Pagar rumah yang tampak adalah pagar rumah Nancy. Foto koleksi pribadi.

Sewaktu mau masuk ke mobil, seorang teman penziarah asal Lebanon bernama Rogers Haddad lewat di depan mobil dan menyapa. Dia seorang pengunjung tetap dan sudah beberapa kali saya sempat omong-omong dengan dia. Dari ceriteranya, ternyata dia seorang insinyur kimia yang masih rajin ke Gereja. Tapi yang membuat saya agak kaget, ternyata di Timur Tengah, ada juga minoritas Kristen Katholik seperti dia. Bahkan menurut Rogers di Syria masih ada seorang Visionary yang punya Stigmata bernama Maria Kourbert Al-Akhras atau Myrna dari Soufanieh. Sebagai catatan, beberapa tahun kemudian ceritera tentang Myrna saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan masih bisa dibaca di sini. Akhir-akhir ini kalau melihat berita TV tentang perang saudara di Syria, saya suka berpikir, entah bagaimana ya keadaan Myrna di sana?

Rogers menawarkan kami untuk mampir ke rumah John Haber, seorang artis dan tukang cat semua patung yang ada di Holy Hill (Bukit Suci) maupun di dalam Aparition Room (atau ruang aparisi atau penampakan). Menurut Rogers rumah temannya hanya dua blok dari situ. Karena memang searah dengan jalan pulang kami, maka kami tak keberatan untuk mampir. Sama sekali kami tak pernah menyangka kalau ajakan Rogers itu akan merubah perjalan hidup kami selamanya.

… bersambung

{ 0 comments }

Di sanakah kamu? (7)

Rentetan kejadian semenjak saya kembali ke Gereja dan pengalaman di Conyers sangat mempengaruhi diri saya di hari-hari berikutnya.

Tanggal 1 Januari 1999, adalah liburan Tahun Baru. Saya ingat bahwa sore hari itu saya harus menjemput Riki yang akan tiba dari New Zealand di bandara kota Birmingham. Letak bandara ini sekitar satu setengah sampai dua jam perjalanan dari rumah tergantung padat tidaknya lalin di highway. Sedangkan dari Birmingham ke Conyers, hanya butuh sekitar 2 jam. Karena itu saya terus ambil kesempatan itu dan berangkat pagi hari ke Conyers dulu, baru pulangnya mampir jemput Riki di Birmingham.

Jalan masuk ke 'the Farm'. Photo dari Google Map.

Jalan masuk ke ‘the Farm’. Photo dari Google Map.

Karena sudah pernah datang, begitu tiba di Conyers saya langsung menuju ruang aparisi dan langsung berdoa di pojok kiri depan ruangan itu. Tak ada kejadian aneh-aneh kali ini. Selesai berdoa saya pungut fotocopy lama pesan Bunda Maria kepada Nancy yang ada di sekitar tempat berdoa itu dan bawa keluar terus duduk di dekat patung besar Bunda Maria di halaman dan mulai membukanya. Begitu buka, di salah satu halaman yang terlihat pertama adalah judul ‘The War is going to end soon’ atau ‘Perang akan segera berakhir.’

Mungkin ini pesan lama dari saat perang Teluk Pertama sekitar tahun 1993. Saya sendiri sudah tak ingat lagi kejadian persisnya saat itu. Tapi waktu omong-omong dengan Winnie, dia ingatkan bahwa sewaktu saya menjemput dia pulang kerja hari Minggu setelah kunjungan saya ke Conyers dua hari sebelumnya itu, saya ceriterakn kalau sehabis Misa di Gereja paginya saya sempat omong dengan Fr. Phil. Menurut Winnie, dia masih ingat ceritera saya bahwa karena saat itu tak ada perang, Fr. Phil bilang, mungkin itu berarti perang pribadi (personal war) saya yang akan berakhir. Huh, saya sendiri malah sudah lupa, Winnie masih ingat sekali. Memang, ingatan Winnie jauh lebih baik dari saya akhir-akhir ini.

Patung Bunda Maria di halaman 'the Farm' yang kelihatan juga dari jalan masuk. Foto koleksi pribadi.

Patung Bunda Maria di halaman ‘the Farm’ yang kelihatan juga dari jalan masuk. Foto koleksi pribadi.

Lalu Winnie ingatkan lagi dalam pembicaraan kita baru-baru ini bahwa setelah kejadian itu, pada hari Senin berikut yang jatuh padatanggal 4 Januari, kami terima surat panggilah karena salah satu lamaran kerjaan saya diterima. Ya ampun, kalau tak diingatkan Winnie, tentu saja saya sudah lupa. Begitu diingatkan, saya baru sadar dan ingat. Iya, dalam surat itu saya diminta datang memberesi urusan adminstrasi untuk mulai kerja tanggal 13 Januari. Tapi ibu rumah tangga siapa yang tak bakal ingat tanggal suaminya mendapat pekerjaan lagi setelah terkena PHK? Winnie masih mengingatnya saat saya sudah tak begitu ingat lagi.

Karena baru saja mulai bekerja lagi, maka kunjungan berikutnya ke Conyers bersama Winnie baru terjadi sebulan kemudian, yaitu pada hari Sabtu 13 Februari 1999. Saya libur tapi Winnie harus ambil cuti hari itu karena memang dia bekerja di akhir pekan.

Setiap tanggal 13 selalu ada acara doa di Conyers walaupun ‘pesan terakhir Bunda Maria’ sudah berakhir 13 Oktober 1998. Tanggal 13 adalah hari peringatan pesan bulanan kepada Nancy yang sudah berlangsung sekian tahun.

Seperti yang sudah saya katakan, ada suatu kesulitan saya mencerna apa yang disebut pesan Bunda Maria atau pesan Tuhan Yesus kepada Nancy. Dengan pengetahuan teology yang nol, saya tak bisa mengerti, apakah itu pesan yang benar, sesuai ajaran Gereja atau pesan yang secara teology sangat sulit dipertahankan? Tapi ada sesuatu dari Conyers yang sulit dijelaskan dengan akal sehat saya sendiri.

Contohnya, pengalaman pertama yang saya alami sendiri ketika disirami rasa nyaman saat berdoa, di mana perasan sejuk itu masuk dari ubun-ubun terus menjalar sampai ujung kaki yang membuat saya menangis saat berlutut di pojok ruangan aparisi. Begitu pula judul pesan tentang perang yang akan berakhir yang baru saya sebutkan di atas, dan Fr. Phil katakan mungkin perang pribadi saya akan berakhir; lalu hari Senin berikutnya saya langsung terima surat yang memberitahu lamaran kerjaan saya diterima dan saya bisa langsung bekerja.

Pertama, sulit saya bantah fakta ini. Ada yang kaitkan dengan Jerusalem syndrome, tapi setelah baca apa itu Jerusalem syndrome, saya tetap yakin apa yang saya terima adalah sentuhan kasih ilahi lewat roh kudus. Sedangkan urusan kedua, setelah sekian tahun, saya hanya bisa bertanya, kalau itu hanya kebetulan, kenapa ya begitu banyak kebetulan yang terjadi dengan saya dan Winnie di Conyers?

Ambillah urusan tanggal 13. Terlepas dari tanggal 13 adalah saat Nancy menerima pesanan dari Bunda Maria, kenapa ya banyak sekali ‘kebetulan’ tanggal 13 yang berkaitan dengan perjalanan rohani kami? Bagaimana saya harus menerangkan soal begitu banyak kebetulan?….

…. bersambung.

Paskah, 2014.

{ 0 comments }

PASKAH

Setelah absen beberapa saat, hari ini Monsieur Rerasan kembali muncul dengan postingan berjudul PASKAH. Mari kita sambut tulisan ini sambil mengucapkan Selamat PASKAH buat semua yang merayakan. Begitu juga buat Monsieur Rerasan dan Mevrouw serta keluarga besar Monsieur Rerasan di Yogya. (drt)

masBakdi5JUSTRU di hari Kemis Putih, Monsieur Rerasan harus menguji seorang promovenda dari ISI Yogyakarta, yang menulis disertasi tentang wayang Potehi. Berangkat ke kampus diampirin Dr. Nur Sahid, M.Hum yang datang dengan mobil dan membawakan oleh-oleh ayam goreng dari Bakule Semen. Wah, matur nuwun. Makanya, ia tak bisa ngikut ngibadat yang pukul 5; Mevrouw usul ikut yang pukul 8 di Gereja Pringwulung. Duduk beberapa saat di deret tengah nunggu misa mulai, lewatlah bu Kristin bergegas-gegas. Ia mau ikut koor. Wah, hebat sekali. Seharian lari di atas pelana bebek Yogya-Prambanan, masih bisa nyanyi. Bagus lagi!

​Selama masa Paskah, dari Kemis hingga Minggu, banyak peristiwa terjadi. Di Jalan Kakap, seorang istri bersuka-ria, menciumi suaminya beberapa ribu kali karena dibeliin mobil baru, walaupun dengan kredit. Tapi di Mrican, seorang istri gugur karena sakit yang cukup lama. Ada seorang mahasiswa ekonomi yang sedih bertumpuk-tumpuk: nilai papernya D, dompetnya ilang, motornya dipinjam teman ke Borobudur sejak lima hari belum kembali. Dan masih ada lagi, pacarnya dilarikan adiknya sendiri. Tetapi di tempat lain seorang cewek bergembira-ria karena nilai paper pacarnya A-; bea siswanya diperpanjang, dan tahun depan ke Cambridge. Begitulah hidup; ada yang sedih dan ada yang gembira. Seorang penyair pemeluk agama Buddha menulis sajak: yang sedih kita syukuri, yang gembira kita terima. Di dunia fana tak ada yang kekal…

​Pada hari Jumat Adi, ketika Yesus wafat dan Krishna & Detty merayakannya dengan nyanyian passio, seorang teman dari Bali, yakni mas Wayan, nanya sama Rerasan. “Itu kematian Yesus koq sangat memberi inspirasi diriku, ya” Katanya.

​“O, ya ta. Tapi situ kan pemeluk Hindu?” Bertanya Toeminggoes.

​“Apa nggak boleh?” Tanya Wayan.

​“Yang melarang siapa? Tapi ada baiknya situ lapor pada pak RT, RW dan Pak Lurah,” kata Rerasan.

​“Koq bisa mendapat inspirasi dari wafatnya Yesus itu piye?” Nyah Karso Bali bertanya.

​“Elho, Yesus itu kan orang baik-baik saja. Lalu ditangkap, diadili, dibunuh…dan kematiannya dimaksudkan untuk menebus yang percaya kepada Beliau.” Wayan menjelaskan. “Ia mengorbankan nyawanya untuk sesamanya yang mempercayainya.”

​“Lha Kangjeng Paman itu, sudah sepuh, umurnya hampir 80 tahun. Tapi masih suka kasih kursus bahasa Belanda. Dan uangnya untuk cucu-cucunya. Ini kan juga hebat?” Yu Gregel berteriak.

​“Betul! Mevrouw ya gitu. Tiap hari, mulai pagi-pagi sampai jauh malam menterjemahkan novel, buku sejarah, buku politik…dan uangnya dicelengi, untuk beliin mainan Raia di Ustrali,” Kata Rerasan lagi.

​“Hampir semua orang tua begitu. Korban untuk anak cucunya,” Kata Yu Gregel lagi. “Celakanya, anak-anak yang dibelani kagak tahu..Kagak punya perasaan balas budi kepada orang tuanya.” Sambungnya.

​“Mungkin sudah harus begitu. Ingat kisah Begawan Bagaspati? Ia mati demi anaknya, Pujawati yang gandrung kepada Narasoma…” Kangjeng memotong. “Semoga yang berkorban tetap bahagia dan ikhlas seperti Yesus…”****

{ 0 comments }

Di sanakah kamu? (6)

Limabelas tahun sudah berlalu, sejak peristiwa mengejutkan saya di Conyers seperti yang diungkapkan dalam seri sebelum ini.

Bila anda mengikuti seri ini dari awal, mestinya tak sulit buat anda simpulkan kalau seri ini tak lain adalah catatan perjalanan rohani kami, yang sebenarnya sudah dimulai sejak penerimaan berkat pernikahan kami di Gereja St. Petrus, Pekalongan, tanggal 13 November, 1976. Kami sendiri tidak sadari akan awal perjalanan ini sampai sekarang, saat menulis seri ini.

Ketidaksadaran tentang titik awal ini mudah dimaklumi, karena selama 22 tahun sejak pernikahan kami, hampir tak ada yang istimewa dalam perjalanan rohani kami. Anak-anak lahir, dibaptis, terima komuni, konfirmasi dan semua berjalan dengan biasa walaupun Winnie masih belum resmi menjadi anggota gereja. Kalaupun ada hal-hal istimewa, kami berdua – Winnie dan saya selalu melihatnya dari konteks pengalaman pribadi bukan perjalanan rohani.

imageKesadaran akan adanya ‘sesuatu’ dalam perjalanan rohani itu baru mulai terasa ketika kami kembali ke Gereja sehari setelah ulang tahun ke 22 perkawinan kami, tanggal 13 November, 1998. Tapi baru setelah limabelas tahun kemudian, terlihat adanya sambungan di antara titik titik dalam perjalanan hidup kami yang tampaknya selalu berputar sekitar tanggal 13.

Setiap potongan ceritera di sini ibarat sebuah stasion kereta dalam perjalanan rohani kami lewat perjalanan darat, atau sebuah pelabuhan dalam perjalanan laut.

Seperti halnya dalam kehidupan di dunia nyata, ada stasion kecil yang hampir tak ada apa-apa selain sebuah tempat untuk berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang; ada juga stasion megapolitan yang begitu rumit, sehingga tanpa bimbingan orang yang mengerti seluk-beluk stasion itu, orang akan tersesat tak tahu bagaimana keluar dari sana.

Itulah perasaan saat mengenang kembali pengalaman di Conyers.

Saya selalu merasa tak berdaya, memahami apa sesungguhnya yang terjadi di Conyers setelah datang sendiri dan mengalami sendiri pengalaman yang unik sekali.

Dengan bekal pengetahuan teologi yang minim dan dengan latar belakang sains dan teknology, sangat sulit buat saya untuk mengerti apa yang sedang terjadi di sana lewat berbagai pesan yang katanya berasal dari Bunda Maria atau Tuhan Yesus yang disampaikan lewat almarhum Nancy Fowler, dan dicatat oleh para pembantu setia di samping Nancy, kala peristiwa penampakan sedang berlangsung.

Holy Hill. Foto: Koleksi Pribadi.

Holy Hill. Foto: Koleksi Pribadi.

Kemampuan teologis yang minim, dan tak pernah dididik dalam penelitian bidang sosial, saya betul-betul tidak siap menghadapi kejadian di Conyers, dalam arti tak berdaya untuk menjelaskan. Makanya jangan kaget kalau anda tidak akan temukan interpretasi dan pemahaman saya akan apa yang sedang terjadi di Conyers sewaktu kami di sana dalam seri ini. Anda mungkin akan lebih berhasil untuk menemukan tulisan mengenai apa yang terjadi di sana, bila anda mencari berbagai rujukan di Internet tentang penampakkan Bunda Maria di Conyers.

Oleh sebab itu, harapan saya semoga anda tidak membaca seri ini dengan harapan untuk menemukan suatu kisah atau analisis tentang penampakan Bunda Maria di Conyers, atau kejadian yang menimpa saya dari kacamata analisis teologi.

Saya hanya menyajikan catatan-catatan lepas tentang pengalaman perjalanan rohani kami, – yang akhirnya mulai terlihat keterikatannya,- selagi ingatan kami masih mendingan, sebelum usia menggerogoti ingatan kami berdua. Kalau seri ini diberi sub-judul, mungkin jadinya seperti ini: Di sanakah kamu? – Sebuah catatan perjalan, pulang!

Pulang ke mana?

Pulang ke rumah atau a journey home. Pulang ke pangkuan bunda Gereja.

Berbahagialah mereka yang tidak melihat tapi percaya!

… bersambung.

Jumat Agung, 2014.

{ 0 comments }

Di sanakah kamu? (5)

Patung Our Loving Mother. From my own collections.

Patung Our Loving Mother. Koleksi Pribadi.

Ketika keluarga-keluarga di Amerika merayakan perayaan Thanksgiving di hari Kamis keempat di bulan November untuk menyatakan perasaan syukur mereka di akhir tahun itu, saya menerima pink slip, atau surat PHK dari kantor seperti yang sudah menjadi kabar angin sebelumnya.

Tak ada kejadian istimewa selama masa pencarian kerja lagi. Setiap hari saya rajin memeriksa iklan lowongan kerja di koran, hubungi head hunters atau teman-teman lewat telpon, kirim lamaran, interview sampai akhirnya Hari Natal pun tiba.

Malam Natal, sehabis misa, begitu melihat saya, pastor kami Fr. Phil menggapai lalu mengambil satu amplop dari ruang ganti baju dan bilang, “Ini ada titipan dari seorang ibu di Gereja untukmu.” Saya hanya bisa berterimakasih saja.

Natal siang, sehabis Misa, saya bilang kepada Winnie, “ayo jalan-jalan ke Conyers yok!”

Winnie okay saja, ayo, sekalian jalan-jalan dengan anak-anak?

Amplop dari Fr. Phil malam itu berisi $50 dan itu cukup untuk mengisi bensin penuh tangki, dan masih cukup untuk makan buat kami berlima waktu pergi dan pulang. Maka berangkatlah kami sekeluarga menuju Conyers yang sekitar 240 miles atau 384 km dari rumah.

Putra kedua kami Riki saat itu sedang ke New Zealand mengunjungi temannya yang dia kenal lewat IRC, atau Internet Relay Chat, jauh sebelum ada media sosial yang begitu marak sekarang. Albert yang kuliah di Connecticut pulang libur ke rumah, karena toh kampus akan kosong selama liburan akhir tahun.

Waktu kami tiba di Conyers hari masih siang, dan banyak sekali pengunjungnya.

Ada patung Bunda Maria yang menggendong bayi Tuhan Yesus di halaman ‘the Farm’ atau ‘Ladang.’

Anak-anak dan Winnie tak ada yang tertarik untuk masuk ke dalam, cuma mau tunggu di mobil yang saya parkir di bawah pohon rindang di halaman tempat tinggal Nancy Fowler, visionaris yang mendapat banyak pesan dari Bunda Maria itu. Hanya saya yang masuk ke bangunan yang dinamakan Apparition Room atau Ruangan Penampakan Bunda Maria.

Ada satu tempat berlutut untuk berdoa di pojok kiri depan ruangan, dan ketika orang di depan saya selesai berdoa, saya beranjak maju dan berlutut lalu mulai berdoa dengan melakukan tanda salib.

Tiba-tiba, saya kaget sekali!

Ada sekujur rasa nyaman yang mengalir dari ubun-ubun sampai ke kaki, begitu selesai saya membuat tanda salib.

Hal itu mengejutkan sekali, terutama buat saya yang bulan Oktober lalu, masih menggunakan kata-kata ‘stupid catholics’ buat mereka yang percaya akan Penampakan Bunda Maria di Conyers. Ternyata, penampakkan tanggal 13 Oktober 1998 itu merupakan penampakan terakhir.

Penampakan terakhir, 13 Oktober, 1998. Image Source: the Atlanta Journal of Constitution.

Penampakan terakhir, 13 Oktober, 1998. Image Source: the Atlanta Journal of Constitution.

Dua setengah bulan setelah saya mencemoh Katholik-katholik goblok yang berkumpul di Conyers dan menurut catatan berkisar 100,000 orang itu, entah ditarik kekuatan apa, saya kembali ke Gereja dan saat itu berada dalam ruangan penampakan di Conyers. Saya sedang merasakan ada yang mengguyur saya dengan perasaan nyaman dari kepala sampai ujung kaki. Persis keadaan kalau kita berhasil masuk ke tingkat meditasi dan dibawa ke dalam perasaan tenang dan nyaman itu.

Tak terasa saya menitikkan air mata, dan lupa apa yang mau saya doakan. Dengan perasaan nyaman itu, saya hanya bisa bersyukur dan berdoa buat menyatakan rasa syukur dan terima kasih saya akan pengalaman yang menyejukkan itu.

Itu bukan urusan percaya kepada Nancy Fowler atau peristiwa penampakkan Bunda Maria itu, melainkan ini adalah pengalaman pribadi yang saya tak bisa jelaskan tapi tak bisa begitu saja saya pungkiri, karena saya mengalaminya sendiri saat berlutut dan berdoa.

Bagaimana mungkin saya mengatakan pada diri sendiri, kalau saya termasuk salah satu idiot yang saya tertawai bulan Oktober yang lalu setelah mengalami sendiri begini?

Patung Tuhan Yesus di Holy Hill atau Bukit Suci. Foto koleksi pribadi.

Patung Tuhan Yesus di Holy Hill atau Bukit Suci.
Foto koleksi pribadi.

Karena pengalaman unik ini maka kenapa dalam belasan tahun ini, kejadian itu hanya tersimpan dalam lubuk hati dan tidak pernah saya ceriterakan kepada orang banyak selain beberapa kawan dekat. Tapi semua kejadian yang saya alami di sini berkaitan dengan Conyers saya curahkan setiap detailnya kepada Pater M di Filipina lewat email, dan kemudian setelah Winnie sendiri mengalami kejadian yang menakjubkan, saya makin mengurangi penuturan ceritera ini sampai sekarang.

Paling, di masa Prapaskah tahun 2010, ketika ada seorang teman postkan lagu ‘Were you there when they crucified my Lord,’ saya sempat mengatakan bahwa saya tak leluasa menyanyikan lagu itu di rumah karena bahkan kalau dinyanyikan oleh koor di Gereja pun, Winnie akan diam-diam meneteskan air mata.

Selesai berdoa saya keluar menuju tempat parkir untuk mengajak Winnie dan anak-anak. Mereka tetap tak mau masuk. Saya ceriterakan apa yang terjadi, mereka makin takut. Winnie akhirnya ikut masuk, mungkin iba melihat mata saya yang merah dan tiga anak tak ada yang mau ikut.

Di kemudian hari Winnie sempat bilang kalau sewaktu dalam ruangan, dia takut sekali. Winnie juga ingatkan, kalau sebelum kenal saya dia cuma pernah sekali saja ke Gereja Katholik, saat masih di TK. Tapi pengalaman itu meninggalkan rasa takut yang mendalam, karena dalam hati kecilnya dia merasa Tuhan berada di belakang altar itu.

Setelah duduk sebentar dan berdoa di ruangan penampakan, akhirnya kami pun pulang tanpa banyak ceritera.

Jauh setelah kunjungan pertama itu baru kami tahu kalau Dioses Atlanta pernah mengirim surat ke seluruh Gereja Katholik di Amerika yang intinya melarang kunjungan ke Conyers diorganisir lewat mimbar. Keuskupan Agung Atlanta sendiri merasa pesimis dengan kejadian di Conyers yang menurut data, sudah berlangsung sejak akhir tahun 1980an.

…. bersambung

{ 0 comments }