Untuk kurun waktu yang lama, nama pak Ismandar sangat terkenal di kota Kupang. Seingat saya, walaupun tak pernah menjadi murid SMA Negeri, tapi rasanya ijazah SMA saya juga ditandatangani beliau. Tapi karena itu kejadian hampir empat dekade yang silam saya perlu cek lagi kebenaran data ini. Nah, siapakah tokoh yang begitu terkenal di Kupang maupun NTT, sejak ketika Kupang masih kota pelabuhan kecil bisa kita ikuti bersama penulis tamu kita, statistikawati Dr. Haerani Ismandar, yang tak lain adalah putri almarhum pak Ismandar. Terima kasih atas kontribusi Dr. Haerani dalam rubrik Tokoh Sejarah kota Kupang ini. (drt)
Hari ini 19 Agustus 2008 tepat 19 tahun berpulangnya ayah.
Bagi sekian ribu anak didiknya yang kini tersebar di seluruh pelosok dunia, beliau dikenal dengan nama pak Ismandar atau bagi kawan2nya, beliau dikenal dengan panggilan pak Is. Bagi saya, beliau adalah ayah, guru dan sahabat saya.
Ayah adalah sosok yang sangat sederhana, pandai, jujur, tegas dan sangat perhatian kepada orang lain. Lahir di Tulung Agung, Jawa Timur di tahun 1928, dan menghabiskan masa kecilnya disana hingga selesai SMA. Setamat SMA beliau melanjutkan pendidikannya di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Pada saat beliau meninggal, pemakamannya dilakukan dengan upacara militer. Tentu banyak yang bertanya mengapa ayah yang dikenal sebagai pendidik dan juga seorang penduduk sipil dimakamkan secara militer. Tidak banyak yang kami ketahui kecuali apa yang pernah diceriterakan kepada kami, dan juga dari dokumen2 yang kami temukan sepeninggal ayah. Selama menempuh pendidikan di sma, beliau ikut berjuang melawan penjajahan Jepang. Usia ayah saat itu masih sangat muda (sekitar 15 tahun) katanya, tetapi beliau sudah bergabung dengan tentara pelajar di daerah Jawa Timur (TRIP) dan ikut berjuang mengusir penjajahan Jepang dengan bambu runcing. Di tengah perkuliahan nya pula pecah agresi Belanda, dan beliau juga ikut bergabung bergerilya mengusir Belanda dari daerah Yogyakarta. Jadi alasan ayah dimakamkan secara militer adalah karena ayah adalah veteran perang yang juga pernah di anugerahi penghargaan Bintang Gerilya oleh pemerintah.
Di Yogyakartalah ayah bertemu dengan ibu. Ayah dan ibu menikah di tahun 1952. Dari pernikahan ini lahirlah 7 anak2nya (5 perempuan dan 2 laki2), dan saya adalah puteri beliau yang ke empat. Dalam kesehariannya selain mengajar ayah juga aktif sebagai sekertaris Dewan Harian Daerah angkatan 45 propinsi NTT di Kupang. Sebelum ayah meninggalkan kami semua, beliau pernah berpesan bahwa ingin dimakamkan disamping makam ibu. Sehingga pada waktu pemerintah daerah NTT meminta agar ayah dimakamkan di taman makam pahlawan di Kupang, dengan sangat terpaksa tidak bisa kami kabulkan. Sekarang, bila ada yang berkunjung ke makam ayah, pasti melihat ada bambu runcing berwarna kuning yang tertanam di depan makam ayah. Itu adalah tanda penghargaan dari presiden atas nama pemerintah Indonesia kepada ayah atas jasanya ikut berjuang mengusir penjajahan dari bumi Indonesia.
Perhatiannya terhadap dunia pendidikan tidak bisa dipungkiri juga sangat besar. Kariernya sebagai pendidik dimulai dengan mengajar di SMA negeri 1 Singaraja Bali, hingga tahun 1960, sebelum pindah ke Kupang. Beliau mengajar di SMA negeri 173 Kupang (sekarang menjadi SMA negeri 1 Kupang) selama beberapa tahun sebelum akhirnya diangkat sebagai kepala sekolah di tempat yang sama. Dalam kesehariannya memimpin tanpa disadari terlihat sekali kalau ayah adalah bekas tentara, sehingga menaruh perhatian yang sangat besar terhadap kedisiplinan. Selama hampir dua puluh tahun menjadi kepala sekolah, seingat saya ayah tidak pernah terlambat ke kantor. Pukul 7 pagi beliau sudah disekolah, bahkan kadang2 beliaulah yang membuka pintu kantor. Kecintaannya terhadap olah raga terlihat dari keinginannya yang kuat untuk membangun fasilitas olah raga di sekolah. Pada saat itu SMA negeri 173 Kupang tidak banyak mempunyai dana untuk membangun fasilitas olah raga. Ayah sangat menyadari itu sehingga membuat peraturan yang menurut saya sangat aneh. Setiap murid yang bolos sekolah diwajibkan mengumpulkan batu dalam jumlah tertentu. Pada saat itu batu mudah sekali diperoleh dihalaman sekolah. Dengan berjalannya waktu, batu2 tersebut menjadi semakin banyak dan batu2 tersebutlah yang digunakan untuk membangun lapangan basket, lapangan volley dan lapangan bulutangkis. Fasilitas olah raga ini tidak hanya dinikmati oleh murid SMA negeri 173, tetapi juga oleh masyarakat sekitarnya.
Sebagai guru, disekolah beliau tidak pernah membeda-bedakan muridnya. Saya sebagai anaknya tidak pernah mendapat perlakuan istimewa. Bahkan masih segar dalam ingatan saya, suatu hari saya terlambat kesekolah. Saya dihukum lari keliling sekolah beberapa kali. Tentu saja saat itu saya marah, semalaman saya berdiam diri di kamar, tidak mau berbicara dengan siapapun. Tetapi setelah itu sungguh ajaib saya tidak pernah terlambat sekolah lagi. Bukan hanya itu saja dalam memberi nilai ayah selalu fair. Teringat pada saat itu ayah mengajar aljabar, pelajaran pertama di kelas saya. Pagi2 beliau memberikan kuis tanpa pemberitahuan sebelumnya. Hasilnya saya mendapat angka 4 dari skala 10, karena malam sebelumnya saya ke bioskop bersama kakak untuk menonton bintang film favorite saya John Wayne dalam filmnya The Green Berets. Ayah tahu kalau saya tidak belajar malam itu. Dan akibatnya saya harus belajar sangat keras setelah itu untuk menunjukkan kalau saya mampu mendapat nilai baik di kelas ayah.
Kecintaan ayah terhadap NTT nyata sekali terlihat. Pada saat2 senggang beliau dengan gitar kecilnya selalu mencoba menyanyikan lagu2 daerah NTT. Bahkan seingat saya ayah terlebih dahulu hafal lagu2 tersebut dibandingkan kami anak2nya. Sudah menjadi aturan tidak tertulis kalau sebulan sekali kami piknik ke pantai Oesapa. Pantai Oesapa pada waktu itu masih bersih, rindang dan tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami (sekitar satu jam kalau ditempuh dengan jalan kaki). Di rumah kami tidak punya kendaraan kecuali 2 buah sepeda. Jadi setiap piknik kami harus jalan kaki. Adik2 yang lebih kecil dari saya di bonceng sepeda oleh kakak. Saya karena dianggap sudah besar (8 tahun), selalu kebagian berjalan. Tetapi ayah tahu kalau saya tidak kuat jalan, sehingga selalu memdampingi saya berjalan dengan petikan gitarnya. Setiap 15 menit ayah selalu bertanya capek?, kalau saya jawab iya kami langsung mencari batu di tepi jalan dan duduk beristirahat. Jadi setiap piknik ke Oesapa saya dan ayah selalu sampai paling belakang. Sampai saat ini masih teringat lagu2 daerah NTT yang dinyanyikan ayah sepanjang jalan dari kampung baru ke Oesapa.
Saya pernah bertanya kepada ayah, kenapa berubah profesi dari seorang tentara menjadi seorang guru. Saya bertanya begitu karena pada masa itu banyak kawan2 seperjuangan ayah yang sudah menduduki jabatan penting di pemerintahan di Jakarta. Saya ingat ayah hanya tersenyum dan berkata menjadi guru adalah pekerjaan yang paling menyenangkan untuknya di dunia ini karena setiap hari kita tertantang untuk menjadi lebih baik, dan juga kita terpacu untuk menjadi teladan bagi orang lain. Selain itu juga ada kebahagiaan tersendiri kalau melihat kesuksesan anak2 didiknya. Beliau meraih penghargaan sebagai guru teladan tingkat nasional di tahun 1975. Gelar penghargaan lainnya pun banyak diperolehnya, tetapi semuanya tidak membuat beliau besar kepala.
Tidak banyak yang tahu kalau ditengah kesibukannya beliau pandai sekali memasak, bahkan kadang2 sulit bagi kami anak2nya untuk membedakan masakan ayah atau ibu. Masalah masak memasak ini ayah sangat humoris sekali. Teringat pada usia 10 tahun saya belajar masak. Rencana mau masak lodeh, ya menurut saya itu sayur lodeh. Pada waktu dimeja makan komentar ayah adalah, kamu masak apa katanya lodeh tetapi kelihatannya seperti sayur bening dan rasanya seperti sayur sop, apapun rasanya tetap beliau makan. Selain memasak di waktu senggangnya beliau sangat suka membaca dan berolah raga. Pada waktu saya kecil ayah suka sekali bermain sepak bola, tetapi dengan bertambahnya usia olahraga beliau berpindah ke bulutangkis dan tennis lapangan.

Terakhir kali saya melihat ayah adalah seminggu sebelum beliau berpulang dibulan Agustus 1989. Kami semua anak2nya merasa bahwa sejak ibu berpulang di tahun 1984, ayah kelihatan sangat kehilangan gairah hidup. Yang beliau lakukan hanya ke kantor, bermain tennis dan bersepeda dengan cucu2nya. Beliau tidak suka lagi kemana-mana. Seminggu sekali ayah menghabiskan waktu dimakam ibu. Mendengar berita mengenai ayah, saya bermaksud memberikan kejutan dengan berkunjung ke Kupang. Saya tidak memberi tahu siapapun. Sesampainya di bandara El Tari saya menumpang taksi ke rumah. Rumah kami terlihat sepi, saya mengetuk pintu perlahan-lahan dan ayah yang membukakan pintu. Terlihat ekspresi beliau antara senang dan kaget semua bercampur menjadi satu. Beliau memeluk saya, terlihat sekali wajah beliau menjadi lebih tua setelah ditinggal ibu. Malamnya saya dibawa keliling kota Kupang, saya tidak tahu kalau itu adalah saat2 terakhir saya bersama beliau. Sembilan belas tahun sudah ayah meninggalkan kami, dan sekarang jejak2 ayah di Kupangpun mulai memudar. Tapi yang tak pernah pudar sampai kapan pun, beliau adalah ayah, guru dan sahabat saya.
Tags: Guru Teladan, Kupang Timor, Tokoh NTT