Feed on
Posts
Comments

Lembaga yang Bikin Bingung

Posting ini pertama muncul di milis Bolelebo, sebuah milis yang anggotanya berasal dari Kupang, Timor dan sekitarnya. Penulisnya adalah statistikawati, alumni SMA Negeri I Kupang, yang mendapatkan  Ph.D.-nya dari Oklahoma State University. Terima kasih saya buat Dr. Haerani Ismandar yang kini bermukim di kota Stillwater, tempatnya Oklahoma State University yang bersedia meluangkan waktu mengisi posting tamu membahas masalah RUU P dari sudut pandang seorang ibu. Selamat menikmati. (drt)

 

 

Lembaga terhormat di negeri kita (DPR) saat ini bikin saya bingung.  Pasalnya RUU P yang sudah di bahas beberapa tahun yang lalu, kemudian hilang, sekarang tiba2 saja mau di syahkan.  Rencananya akan di syahkan tanggal 23 september mendatang. Alasannya terasa sangat di buat2 pertama adalah “katanya” untuk perlindungan terhadap kaum perempuan dan anak2, alasan yang kedua adalah sebagai kado bagi umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Padahal yang terlihat adalah adanya pihak2 yang mempunyai kepentingan tertentu, yang sedang berusaha sekuat tenaga agar RUU P itu lolos tanpa adanya debat publik. Kan lagi bulan puasa, salah ngomong sedikit bisa dibilang tidak menghormati bulan puasa. Wow sudah begitu tidak tahu malunyakah bapak2 itu, menggunakan kesempatan ini?.

Wahai bapak2 yang tercinta, bagaimana ini disebut sebagai kado kalau dengan disyahkan RUU P ini akan menyakiti hati banyak orang. Bagaimana  bisa disebut kado kalau undang2 ini akan memasung kebebasan orang berkreasi.  Bagaimana bisa disebut melindungi kaum perempuan padahal sesungguhnya memasung kebebasan kaum perempuan?.  Bagaimana bisa disebut RUU P kalau bapak2 yang terhormat belum mampu mendefenisikan kata P secara benar?. Lalu apa sebenarnya yang di cari wahai bapak2 yang merasa lebih baik dari orang lain ?

Kenapa saya bilang DPR bikin bingung. Ada beberapa pasal dari RUU P ini yang bisa mendatangkan masalah karena bisa ditafsirkan sesuka yang baca. Lihat, mulai dari pasal satu saja, bisa2 penjara akan penuh.  Mungkin juga termasuk para bapak2 yang membuat RUU P ini.

Orang Bali tidak boleh meliukkan badan lagi kalau menari…., Orang papua bisa dihukum …., Binaragawan bisa dihukum…, Perenang bisa dihukum…., Petinju bisa dihukum…., Pemain volley puteri bisa dihukum…, etc etc etc….

Lalu ada yang bilang, nanti kan akan dibuat perkecualian, weleh2 undang2 kok pilih kasih. Namanya undang2 itu hanya ada dua pilihan antara ya atau tidak. Tidak boleh membuka peluang untuk diskriminasi dalam penerapannya.

Belum lagi kalau kita lihat pasal 5 dan pasal 6 : “barangsiapa ketahuan menyimpan barang p di rumah ….. bisa dikenai pidana “.  Wow sejak kapan DPR ikut ngurusin apa isi lemari kita, dikamar pribadi kita.  Kalau mempertontonkan di depan umum memang wajar kalau dilarang.  Apalagi dengan defenisi yang tidak jelas dan multitafsir seperti yang ada saat ini, akan sangat berbahaya dalam penerapannya.

Lanjut lagi dengan pasal 22, yang membolehkan setiap orang menjadi polisi sipil, bukankah ini akan memicu timbulnya anarkisme ?.  Bayangkan apa yang akan terjadi kalau RUU P ini disetujui dan dijadikan undang2. Banyak kelompok yang merasa lebih suci dari orang lain bisa dengan seenaknya menyerang orang lain, walaupun hanya dengan alasan mencurigai…, dan pasal ini akan melegalkan tindakan mereka. Tanpa pasal ini saja sudah banyak kejadian seperti itu.

Setelah membaca seluruh draf dari RUU P ini, saya tambah bingung lagi, dimana letak perlindungan terhadap perempuan dan anak2 seperti yang di sebutkan diatas. Saya tidak mengerti hukum,  tetapi bukankah hukum itu dibuat dengan tujuan untuk melindungi rakyat ? Terlihat sekali kalau ini adalah pemaksaan kehendak sekelompok orang terhadap yang lainnya. Para bapak yang duduk di senayan mungkin lupa kalau pemaksaan kehendak ini merupakan bibit2 dari disintegrasi bangsa. Jangankan pemaksaaan kehendak dalam skala besar seperti ini, dalam hubungan antara dua manusia saja pemaksaan kehendak satu terhadap lainnya sering menimbulkan masalah.

Sebenarnya sudah banyak undang2 di negara kita, yang kurang adalah law enforcement nya.  Mengapa bukan itu yang diperbaiki dulu. Lihat saja misalnya ketentuan dilarang merokok di tempat2 tertentu di jkt (yang merupakan perda).  Sekali2 lihat kanan kiri, banyak yang merokok di tempat2 yang dilarang,  tetapi siapa yang akan menangkap mereka?  Jawabannya sederhana tidak ada. Kita sebenarnya dari dulu sudah punya undang2 tentang susila yang jauh lebih netral dari RUU P ini mengapa bukan itu yang dimasyarakatkan dulu?. Inilah wajah negara kita tercinta, banyak aturan tetapi tidak ada yang perduli.

Saya tak tahu, seberapa dari pembaca saya selain mereka yang berada di Australia yang kenal dengan nama Jessica Mauboy. Kalau ingin tahu, silahkan cek ke wikipedia tentang Jessica. Yang jelas, ayah Jessica dari Timor, dan itu sebabnya saya ikut tergugah ketika Jessica ikut Australian Idol di tahun 2006.

Saya tak sempat banyak menulis, tetapi sekedar berbagi senyum, saya taruh dua video yang saya temukan semalam di youtube, selagi menikmati lagu-lagu di sana. Semoga video ini memberikan senyum di akhir pekan buat anda sekalian yang tak bisa beranjak dari depan komputer.

Ini bagian pertama video itu:

Ini bagian keduanya:

Sekali lagi, selamat menikmati, dan semoga anda ikut tersenyum bersama dara ayu berdarah Timor ini.

Ayah, Guru dan Sahabat saya

Untuk kurun waktu yang lama, nama pak Ismandar sangat terkenal di kota Kupang. Seingat saya, walaupun tak pernah menjadi murid SMA Negeri, tapi rasanya ijazah SMA saya juga ditandatangani beliau. Tapi karena itu kejadian hampir empat dekade yang silam saya perlu cek lagi kebenaran data ini. Nah, siapakah tokoh yang begitu terkenal di Kupang maupun NTT, sejak ketika Kupang masih kota pelabuhan kecil bisa kita ikuti bersama penulis tamu kita, statistikawati Dr. Haerani Ismandar, yang tak lain adalah putri almarhum pak Ismandar. Terima kasih atas kontribusi Dr. Haerani dalam rubrik Tokoh Sejarah kota Kupang ini. (drt)

Hari ini 19 Agustus 2008 tepat 19 tahun berpulangnya ayah.

Bagi sekian ribu anak didiknya yang kini tersebar di seluruh pelosok dunia, beliau dikenal dengan nama pak Ismandar atau bagi kawan2nya, beliau dikenal dengan panggilan pak Is. Bagi saya, beliau adalah ayah, guru dan sahabat saya.

Ayah adalah sosok yang sangat sederhana, pandai, jujur, tegas dan sangat perhatian kepada orang lain. Lahir di Tulung Agung, Jawa Timur di tahun 1928, dan menghabiskan masa kecilnya disana hingga selesai SMA. Setamat SMA beliau melanjutkan pendidikannya di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Pada saat beliau meninggal, pemakamannya dilakukan dengan upacara militer. Tentu banyak yang bertanya mengapa ayah yang dikenal sebagai pendidik dan juga seorang penduduk sipil dimakamkan secara militer. Tidak banyak yang kami ketahui kecuali apa yang pernah diceriterakan kepada kami, dan juga dari dokumen2 yang kami temukan sepeninggal ayah. Selama menempuh pendidikan di sma, beliau ikut berjuang melawan penjajahan Jepang. Usia ayah saat itu masih sangat muda (sekitar 15 tahun) katanya, tetapi beliau sudah bergabung dengan tentara pelajar di daerah Jawa Timur (TRIP) dan ikut berjuang mengusir penjajahan Jepang dengan bambu runcing. Di tengah perkuliahan nya pula pecah agresi Belanda, dan beliau juga ikut bergabung bergerilya mengusir Belanda dari daerah Yogyakarta. Jadi alasan ayah dimakamkan secara militer adalah karena ayah adalah veteran perang yang juga pernah di anugerahi penghargaan Bintang Gerilya oleh pemerintah.

Di Yogyakartalah ayah bertemu dengan ibu. Ayah dan ibu menikah di tahun 1952. Dari pernikahan ini lahirlah 7 anak2nya (5 perempuan dan 2 laki2), dan saya adalah puteri beliau yang ke empat. Dalam kesehariannya selain mengajar ayah juga aktif sebagai sekertaris Dewan Harian Daerah angkatan 45 propinsi NTT di Kupang. Sebelum ayah meninggalkan kami semua, beliau pernah berpesan bahwa ingin dimakamkan disamping makam ibu. Sehingga pada waktu pemerintah daerah NTT meminta agar ayah dimakamkan di taman makam pahlawan di Kupang, dengan sangat terpaksa tidak bisa kami kabulkan. Sekarang, bila ada yang berkunjung ke makam ayah, pasti melihat ada bambu runcing berwarna kuning yang tertanam di depan makam ayah. Itu adalah tanda penghargaan dari presiden atas nama pemerintah Indonesia kepada ayah atas jasanya ikut berjuang mengusir penjajahan dari bumi Indonesia.

Perhatiannya terhadap dunia pendidikan tidak bisa dipungkiri juga sangat besar. Kariernya sebagai pendidik dimulai dengan mengajar di SMA negeri 1 Singaraja Bali, hingga tahun 1960, sebelum pindah ke Kupang. Beliau mengajar di SMA negeri 173 Kupang (sekarang menjadi SMA negeri 1 Kupang) selama beberapa tahun sebelum akhirnya diangkat sebagai kepala sekolah di tempat yang sama. Dalam kesehariannya memimpin tanpa disadari terlihat sekali kalau ayah adalah bekas tentara, sehingga menaruh perhatian yang sangat besar terhadap kedisiplinan. Selama hampir dua puluh tahun menjadi kepala sekolah, seingat saya ayah tidak pernah terlambat ke kantor. Pukul 7 pagi beliau sudah disekolah, bahkan kadang2 beliaulah yang membuka pintu kantor. Kecintaannya terhadap olah raga terlihat dari keinginannya yang kuat untuk membangun fasilitas olah raga di sekolah. Pada saat itu SMA negeri 173 Kupang tidak banyak mempunyai dana untuk membangun fasilitas olah raga. Ayah sangat menyadari itu sehingga membuat peraturan yang menurut saya sangat aneh. Setiap murid yang bolos sekolah diwajibkan mengumpulkan batu dalam jumlah tertentu. Pada saat itu batu mudah sekali diperoleh dihalaman sekolah. Dengan berjalannya waktu, batu2 tersebut menjadi semakin banyak dan batu2 tersebutlah yang digunakan untuk membangun lapangan basket, lapangan volley dan lapangan bulutangkis. Fasilitas olah raga ini tidak hanya dinikmati oleh murid SMA negeri 173, tetapi juga oleh masyarakat sekitarnya.

Sebagai guru, disekolah beliau tidak pernah membeda-bedakan muridnya. Saya sebagai anaknya tidak pernah mendapat perlakuan istimewa. Bahkan masih segar dalam ingatan saya, suatu hari saya terlambat kesekolah. Saya dihukum lari keliling sekolah beberapa kali. Tentu saja saat itu saya marah, semalaman saya berdiam diri di kamar, tidak mau berbicara dengan siapapun. Tetapi setelah itu sungguh ajaib saya tidak pernah terlambat sekolah lagi. Bukan hanya itu saja dalam memberi nilai ayah selalu fair. Teringat pada saat itu ayah mengajar aljabar, pelajaran pertama di kelas saya. Pagi2 beliau memberikan kuis tanpa pemberitahuan sebelumnya. Hasilnya saya mendapat angka 4 dari skala 10, karena malam sebelumnya saya ke bioskop bersama kakak untuk menonton bintang film favorite saya John Wayne dalam filmnya The Green Berets. Ayah tahu kalau saya tidak belajar malam itu. Dan akibatnya saya harus belajar sangat keras setelah itu untuk menunjukkan kalau saya mampu mendapat nilai baik di kelas ayah.

Kecintaan ayah terhadap NTT nyata sekali terlihat. Pada saat2 senggang beliau dengan gitar kecilnya selalu mencoba menyanyikan lagu2 daerah NTT. Bahkan seingat saya ayah terlebih dahulu hafal lagu2 tersebut dibandingkan kami anak2nya. Sudah menjadi aturan tidak tertulis kalau sebulan sekali kami piknik ke pantai Oesapa. Pantai Oesapa pada waktu itu masih bersih, rindang dan tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami (sekitar satu jam kalau ditempuh dengan jalan kaki). Di rumah kami tidak punya kendaraan kecuali 2 buah sepeda. Jadi setiap piknik kami harus jalan kaki. Adik2 yang lebih kecil dari saya di bonceng sepeda oleh kakak. Saya karena dianggap sudah besar (8 tahun), selalu kebagian berjalan. Tetapi ayah tahu kalau saya tidak kuat jalan, sehingga selalu memdampingi saya berjalan dengan petikan gitarnya. Setiap 15 menit ayah selalu bertanya capek?, kalau saya jawab iya kami langsung mencari batu di tepi jalan dan duduk beristirahat. Jadi setiap piknik ke Oesapa saya dan ayah selalu sampai paling belakang. Sampai saat ini masih teringat lagu2 daerah NTT yang dinyanyikan ayah sepanjang jalan dari kampung baru ke Oesapa.

Saya pernah bertanya kepada ayah, kenapa berubah profesi dari seorang tentara menjadi seorang guru. Saya bertanya begitu karena pada masa itu banyak kawan2 seperjuangan ayah yang sudah menduduki jabatan penting di pemerintahan di Jakarta. Saya ingat ayah hanya tersenyum dan berkata menjadi guru adalah pekerjaan yang paling menyenangkan untuknya di dunia ini karena setiap hari kita tertantang untuk menjadi lebih baik, dan juga kita terpacu untuk menjadi teladan bagi orang lain. Selain itu juga ada kebahagiaan tersendiri kalau melihat kesuksesan anak2 didiknya. Beliau meraih penghargaan sebagai guru teladan tingkat nasional di tahun 1975. Gelar penghargaan lainnya pun banyak diperolehnya, tetapi semuanya tidak membuat beliau besar kepala.

Tidak banyak yang tahu kalau ditengah kesibukannya beliau pandai sekali memasak, bahkan kadang2 sulit bagi kami anak2nya untuk membedakan masakan ayah atau ibu. Masalah masak memasak ini ayah sangat humoris sekali. Teringat pada usia 10 tahun saya belajar masak. Rencana mau masak lodeh, ya menurut saya itu sayur lodeh. Pada waktu dimeja makan komentar ayah adalah, kamu masak apa katanya lodeh tetapi kelihatannya seperti sayur bening dan rasanya seperti sayur sop, apapun rasanya tetap beliau makan. Selain memasak di waktu senggangnya beliau sangat suka membaca dan berolah raga. Pada waktu saya kecil ayah suka sekali bermain sepak bola, tetapi dengan bertambahnya usia olahraga beliau berpindah ke bulutangkis dan tennis lapangan.

Terakhir kali saya melihat ayah adalah seminggu sebelum beliau berpulang dibulan Agustus 1989. Kami semua anak2nya merasa bahwa sejak ibu berpulang di tahun 1984, ayah kelihatan sangat kehilangan gairah hidup. Yang beliau lakukan hanya ke kantor, bermain tennis dan bersepeda dengan cucu2nya. Beliau tidak suka lagi kemana-mana. Seminggu sekali ayah menghabiskan waktu dimakam ibu. Mendengar berita mengenai ayah, saya bermaksud memberikan kejutan dengan berkunjung ke Kupang. Saya tidak memberi tahu siapapun. Sesampainya di bandara El Tari saya menumpang taksi ke rumah. Rumah kami terlihat sepi, saya mengetuk pintu perlahan-lahan dan ayah yang membukakan pintu. Terlihat ekspresi beliau antara senang dan kaget semua bercampur menjadi satu. Beliau memeluk saya, terlihat sekali wajah beliau menjadi lebih tua setelah ditinggal ibu. Malamnya saya dibawa keliling kota Kupang, saya tidak tahu kalau itu adalah saat2 terakhir saya bersama beliau. Sembilan belas tahun sudah ayah meninggalkan kami, dan sekarang jejak2 ayah di Kupangpun mulai memudar. Tapi yang tak pernah pudar sampai kapan pun, beliau adalah ayah, guru dan sahabat saya.

« Newer Posts - Older Posts »