≡ Menu

Di sanakah kamu ? (4)

[Pengantar] Ini adalah bagian terakhir perjalanan rohani kami, sebelum kami manapaki jalan berikutnya yang membuat mata hati kami terbuka, dalam merasakan cinta kasih ilahi lewat pengalaman yang betul-betul baru bagi kami berdua. Tujuan saya, biar kami bisa berbagi pengalaman ini sebelum termakan usia. Silahkan mengisi tanggapan anda, kalau ada, agar bisa berbagi dengan semua pembaca postingan ini. (drt)

Image Source: www.freedigitalphotos.net

Image Source: www.freedigitalphotos.net

Hari Minggu itu saya datang sendiri.

Soalnya acara Winnie selalu padat. Hari Senin menjadi volunter di sekolah anak-anak. Selain itu untuk membantu hidup kami, Winnie malah kerja di dua tempat. Partime di Toko Grocery selama 3 hari, lalu full time di pabrik elektronik di akhir pekan. Oh, dan tentu saja, full time ibu rumah tangga tanpa pembantu. 😀 Tapi Winnie mengerti sekali, konsekuensi untuk tidak pulang ke tanah air setelah saya selesai studi. Semua itu demi masa depan anak-anak. Dia tak pernah mengeluh akan kesulitan hidup. Padahal dari setelah di-phk, gaji saya malah turun. Walaupun disertasi saya mengenai peralatan yang dibiayai oleh fihak militer, begitu selesai dan laporan penelitiannya masuk ke mereka yang membiayai lewat kontrak dengan universitas, materi itu terus menjadi materi rahasia. Harus ada clearance dari pemerintah untuk akses bahan penelitian yang saya lakukan selama di Universitas. Dan hasil penetian itu ada di pangkalan militer di sini. Tapi sebagai pemegang Green Card saya tidak punya clearance untuk akses, dan tidak bisa bekerja di bidang itu. Ajakan teman untuk pindah ke California selalu saya tampik. Karena Winnie bilang, ‘Capek, pindah terus!’ Sejak kami menikah, setahun di Yogya, terus itu ke Jepang, pulang dia di Pekalongan, saya di Salemba sampai 3 tahun, lalu pindah ke Jakasampurna, Salatiga, terus di Pennsylvania, lalu akhirnya menetap di Hunstville.

Saat itu, Huntsville termasuk kota yang paling lama kami tinggali dibandingkan kota-kota yang telah disebutkan di atas. Saya tentu ikut saja kemauan Winnie, karena kasian juga anak-anak yang sebentar-sebentar ganti teman sekolah.

Winnie tak pernah mengeluh akan semua kesulitan ini. Malah ketika bicara urusan kerja ke Pantai Barat Amerika, Winnie ingatkan lagi. Saya pernah pergi interview ke Oregon. Oh ya, saya lupa. Menurut Winnie, waktu itu doa dia sederhana sekali walaupun dia secara resmi belum dibaptis dan tidak tahu cara berdoa Kristiani.

“Ya, Tuhan, kalau ini memang jalan terbaik, biarlah dia dapatkan kerjaan itu. Tapi kalau bukan, tolong distop.”

Rupanya Tuhan kabulkan doa Winnie saat itu. Saya agak menyesal tak dapat pekerjaan itu tapi Winnie malah senang. Makanya saya yang suka mengomel, tak puas dengan keadaan kami menjelang phk yang kedua kalinya, persis seperti orang Yahudi yang ribut terus ke Rabbinya itu.

Lucunya, kalau ada teman yang tanya pada Winnie, apakah kamu senang kota Huntsville, jawabannya selalu tidak! Kenapa? Karena setiap kali aku mulai jatuh cinta dengan kota itu, maka tak lama lagi kami akan pindah, kata Winnie. Biasanya saya hanya manggut-manggut, mengingat akan semua kota yang pernah kami tinggali dan saya anggap kota yang bagus.

*

Di Gereja pagi itu, saya mencari kursi di barisan agak depan. Dalam Homilinya, Fr. Phil berceritera tentang seorang pemahat dari pantai barat Amerika.

Pemahat itu diminta untuk membuat patung Yesus ukuran besar di halaman Gereja dekat pantai. Patungnya kelihatan gagah sekali dan semua yang melihat memuji kemampuan si pemahat. Tapi anehnya, setelah ditinggal semalam, besok pagi patungnya kelihatan seperti orang lesu.

Pemahat itu memperbaiki pahatannya, dan sekali lagi, patung Yesus yang gagah berdiri dengan megahnya di halaman Gereja.

Eh, besok pagi, patungnya sudah berubah, menampilkan Yesus yang bermuram dan lesu, mungkin juga karena bantuan kelembaban di pinggir pantai.

Image Source: www.freedigitalphotos.net

Image Source: www.freedigitalphotos.net

Karena penasaran, malam itu sehabis memahat, dia menunggu di samping patung yang sudah dia perbaiki. Tapi saking capeknya, dia tertidur.

Nah, dalam tidurnya dia bermimpi kalau patung itu menjadi hidup dan turun lalu berbicara padanya dalam mimpi dia.

– Aku tidak segagah dalam patungmu, karena aku datang untuk mereka yang capek dan penuh beban.

Begitu dia terbangun, patungnya sudah berubah jadi lesu sekali.

Dari situ dia putuskan untuk tidak mengubah lagi patung Yesus menjadi lelaki ganteng yang gagah, tetapi lelaki sederhana dengan potongan tubuh yang termakan terik derita kehidupan. Selain itu di kaki patung itu dipahatkan kalimat berikut yang diambil dari bacaan Injil hari itu:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Mendengar sampai di situ, saya hanya diam membisu.

Saya sedang letih dan lesu, dan terlalu berat beban yang sedang saya pikul.

Tak terasa saya terus berlutut, dan mataku basah. Apalagi yang ingin saya cari untuk membuktikan bahwa semua ini kebetulan? Tak ada!

Saya mengerti bahwa ada yang memanggil saya untuk datang mendengar kedua homili itu di saat saya paling membutuhkan dukungan moril.

Selesai misa, saya ketemu Fr. Phil, meminta waktu untuk ketemu. Fr. Phil keluarkan buku catatan beliau dan saya dijadwalkan untuk ketemu beliau hari Rabu depan.

Pertemuan itu sendiri berlangsung sekitar satu jam.

Setelah saya jelaskan siapa saya, beliau ingat akan surat yang saya tulis. Saya juga baru sadar kalau nama beliau itu bukan Kennedy, tetapi O’Kennedy seperti lazimnya nama Irlandia.

Saya bilang, kalau tiga tahun lalu perusahaan kami dibeli orang lain. Semua pegawai di-phk. Saya jengkel setiap bulan dapat surat dari Gereja yang bilang kalau kontribusi kami bulan ini nol. Saya marah, pikir koq Gerejanya mata duitan. Orang lagi kena phk, masih tagih uang? Fr. Phil mengatakan beliau masih ingat akan surat itu, tapi tak usah dibawa ke hati.Di Gereja toh tak ada yang tahu kamu di-phk perusahaanmu.

Lalu kami bicara tentang status kerjaan saya sekarang dan beliau minta agar saya membawa resume saya ke Kantor Paroki, karena ada sukarelawan yang membantu para pegawai phk untuk mencari kerja lagi.

Setelah keluarkan semua uneg-uneg, akhirnya Fr. Phil memberikan berkatnya, dan saya pun pulang. Dan begitulah, setelah dua tahun lebih tinggalkan Gereja, tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba ada keinginan untuk ikut Misa, bukan di Gereja Holy Spirit, tetapi ke Gereja Good Shephard.Tentu saja sebagai seorang Katholik, saya menjalani semua langkah untuk kembali menerima komuni.

Nah, kembalinya saya ke Gereja Good Shephard itu suatu kebetulan? Bagaimana menurut anda? Bukankah saya bisa pergi ke Holy Spirit seperti sudah-sudah, dan mungkin akan mendengar homili yang lain?

Saya merasa perlu memberikan latar belakang ini, sebelum memasuki babak baru yang menyebabkan Winnie berubah seratus delapan puluh derajat. Dari pasif perlahan-lahan menjadi aktif di Gereja.

Oh ya, beberapa hari setelah pertemuan itu, ketika orang Amerika selesai merayakan peringatan Thanksgiving yang jatuh pada hari Kamis keempat di bulan November, akhirnya saya terima surat phknya.

…. bersambung.

{ 0 comments }

Di sanakah kamu? (3)

Lha apa sih isi Homilinya? Bukankah pertanyaan itu yang ada di benak anda?

Ini adalah garis besar yang masih tertinggal dalam rekoleksi saya.

Ada seorang lelaki Yahudi suatu hari datang ketemu Rabbinya. Selain anak istri, di rumah mereka masih ada kedua mertua dan hidup mereka menurut lelaki itu terasa semrawut sekali.

– Rabbi, Rabbi, hidup ini koq susah sekali ya. Tolong kasih petunjuk dulu Rabbi, apa yang harus saya lakukan?

Selesai dia menjelaskan persoalannya, sang Rabbi bilang begini:

+ Ah, sudah pulang saja, singgah di pasar lalu beli satu ekor ayam dan biarkan ayam itu tinggal bersama kalian. Bukan di kandang, tapi di dalam rumah.

Images source: www.freedigitalphotos.net

Images source: www.freedigitalphotos.net

Minggu depan, datang lagi orang Yahudi itu.

– Rabbi, Rabbi, ayam sudah saya masukkan ke dalam rumah, tapi koq makin parah?

+ Pulanglah saja, tapi mampir ke pasar dan belilah seekor bebek, lalu lepaskan bebek itu seperti ayam biarkan dia bebas juga berlari dalam rumahmu.

Wah, tambah runyam. Minggu berikutnya, sudah bisa diduga, datang lagi orang Yahudi itu.

– Rabbi, Rabbi, bebek sudah, malah kotorannya kemana-mana.

+ Sudah, pergi beli seekor anjing lagi, lalu biarkan anjing itu ikut bersama ayam dan bebeknya.

Setiap minggu begitu orang ini muncul, Rabbinya akan mengusulkan untuk ke pasar dan beli lagi satu ekor binatang baru. Setelah anjing, tambah kambing. Setelah kambing, nggak tanggung-tanggung, disuruh tambah sapi sekalian. Semua bukan di kandang tapi harus dimasukkan ke dalam rumah.

Rumah kecil mereka sekarang selain penghuni tetap yang terdiri atas keluarga sampai mertuanya, masih harus ditambah lagi dengan ayam, bebek, anjing, kambing, sampai sapi yang berlari ke sana ke mari dan hancurkan banyak perabotan. Belum lagi kotoran binatang dan sisa-sisa makanan tersebar di mana-mana yang membuat setiap orang di rumah serasa mau jadi gila saja.

– Rabbi, Rabbi, langit sudah mau runtuh, saya tak tahan lagi, Rabbi! Tolong saya, Rabbi! Rumah kami sekarang benar-benar sudah berantakan.

Rabbinya terdiam sejenak, waktu orang itu datang mengadu kepadanya di minggu berikut. Akhirnya Rabbi itu bilang:

+ Sudahlah, sekarang kamu pulang, lalu ayam, bebek, kambing, anjing dan sapi itu kamu lepaskan semua. Sana, pergi kerjakan!

Minggu depan orang Yahudi itu kembali ke Rabbinya lagi dengan wajah cerah dan senyum lebar.

+ Gimana? Tanya Rabbinya.

– Waduh, terima kasih sekali Rabbi. Luar biasa! Alangkah tentramnya kehidupan keluarga kami sekarang.

Nah, sewaktu bicara tentang langit yang akan runtuh, saya merasa seakan Fr. Phil lagi menyindir kepada saya. Bukankah tak lama lagi saya akan di-phk oleh perusahaan dan langit kami pun akan runtuh?

Image source: www.freedigitalphotos.net

Image source: www.freedigitalphotos.net

Hal itu membuat saya berpikir. Kondisi sebelum diisi binatang dan setelah binatang-binatang itu dibiarkan pergi tetap tidak berubah. Artinya setelah merasakan tekanan tambahan yang lebih parah, kehidupan mereka terasa malah terasa begitu tenang begitu beban penekan itu dibuang?

Bukankah ini sekedar petunjuk, kalau asal bisa bertahan, badai pasti akan berlalu? Bukankah ini berarti, semua kesulitan, banyak ditimbulkan oleh bagaimana kamu melihat masalah itu sendiri?

Tentu saja, ide ini betul-betul merasuk ke dalam hati, kalau tidak, tentu saya sudah tidak ingat lagi setelah belasan tahun berlalu.

Tapi ada satu keinginan untuk memastikan bahwa itu bukan GR, kegedean rumongso saya saja. Masya Tuhan koq tiba-tiba ajak guyonan dengan saya, kasih contoh mengisi rumah dengan binatang biar tambah porak poranda?

Itu yang sempat membuat saya seakan lagi mendengar suara tokek imajiner. Iya? tidak? iya? tidak? Iya tidak kalau Tuhan bukan lagi guyonan dengan saya?

Selain itu Winnie juga merasakan seolah homili itu ada kaitan dengan situasi kami, seolah Tuhan sedang bilang, jangan takut! Apa yang ada urusan langit akan runtuh kan cuma pikiranmu, semacam topan di dalam gelas. Tapi saya masih ingin pastikan, kalau ini bukan suatu kebetulan saja.

Homili itu kan ditujukan kepada semua umat. Kenapa saya harus menganggap itu untuk saya?

Tapi ada yang tak bisa saya jelaskan. Saya sudah lama tak ke Gereja gara-gara saya surati dan memaki Gereja mata duitan. Kenapa saya tiba-tiba ingin kembali ke gereja, diajak pergi ke paroki tetangga saya bersikeras mau datang ke sini? Lalu kenapa homilinya koq menyerempat keadaan kami?

Itu yang membuat saya putuskan, minggu depan saya akan kembali lagi. Saya ingin pastikan, apa iya sih, Tuhan senang bergurau juga? Apa benar ini bukan suatu kebetulan saja? 😀

Karena Winnie kerja juga di akhir pekan, saya akan datang sendiri.

…. bersambung

Images source: www.freedigitalphotos.net

{ 0 comments }

Di sanakah kamu? (2)

Ingatan sudah agak kabur tentang waktu kembalinya kami ke Gereja di tahun 1998.

Saya periksa tanggalan lama. Benar, 14 November 1998 adalah hari Sabtu sehingga kami datang ke Misa sore, karena paginya Winnie harus kerja.

Kami duduk di barisan paling belakang karena ingin langsung pulang begitu selesai pemberkatan tanpa menunggu Pastornya keluar.

Bacaannya saya tidak ingat, tapi homilinya hari itu seperti mengili-kili saya.

– What?

Itulah kata-kata yang keluar dari mulut saya selama Fr. Phil melakukan homili.

– Apakah kau menyindir saya, Tuhanku?

Tentu saja saya tak bilang apa-apa kepada Winnie tapi membatin terus mengikuti homili.

*
Seperti yang saya katakan, kami menikah dengan Dispensasi dari Keuskupan, dan Winnie dan saya harus datang ketemu Pastor Paroki untuk memenuhi segala persyaratan sebelum mendapatkan dispensasi.

Here comes the groom!Yang saya ingat sempat kena semprot berapa kali dari Winnie selama masa persiapan perkawinan dan harus menghadap Pastor Paroki. Tapi akhirnya saya merasa bahagia sekali, karena Winnie bersedia untuk menerima pemberkatan di Gereja. Yang lebih menggembirakan lagi, mas Bakdi Soemanto yang adalah tetangga kami di Asrama Timor dulu, bersedia menjadi saksi di Gereja. Itu suatu kehormatan luar biasa bagi saya waktu itu yang hidup jauh di rantau, dan saya tak bisa cuma mengharapkan teman-teman kost saya yang seusia. Mas Bakdi Soemanto masih mengajak pak Soetardjo, yang waktu itu dosen Bahasa Indonesia, kalau tak salah ingat di UN Solo jadi beliau berdualah yang menjadi saksi kami. Beliau berdua adalah dewa penolong pinjam istilah dari ceritera silat, dalam urusan dengan Gereja.

Yang tak terpikirkan waktu itu adalah foto. Ada tukang foto di acara penandatangan Akta Perkawinan di malam hari. Ada tukang foto untuk pesta besok harinya. Tapi yang tak teringat sama sekali adalah foto di Kantor Pastor Paroki, di Gereja Santo Petrus Pekalongan. Tentu saja tak ada juga acara KTB.

Mungkin anda pengin tahu, apa itu KTB?

Kata orang sini, ‘kiss the bride.’

Boro-boro, seperti kata Winnie. Sedang waktu dia menjawab pastor bilang, – Iya, saya bersedia, – saja, nggak melihat ke saya. Mana ada pikiran Kiss the Bride?

Tentu saja membuat kami berempat pada ketawa.Bukan tidak ada pikiran, tapi masih ada dua acara lagi itu yang bikin bingung.

Tapi itulah kenangan manis yang masih terekam dalam ingatan saya, tatkala foto-foto kawin kami sudah pada pudar warnanya.

Sesuai janji waktu mendapatkan dispensasi itu, Winnie tidak pernah merasa diwajibkan untuk segera mengikuti pelajaran agama. Saya akan tunggu sampai kapan Winnie sudah siap. Sebaliknya, Winnie selalu bersedia ikut saya ke Misa, dan anak-anak semua sudah pada dibaptis waktu kami di Amerika.

*
Good Shepherd Catholic ChurchSambil mendengar homili Fr. Phil hari itu, pikiran saya melayang tak keruan. Bukankah Fr. Phil lagi bicara tentang saya?

Janji juga tidak, datang cuma karena dorongan hati yang tiba-tiba muncul menjelang peringatan ulang tahun perkawinan kami, kenapa ya koq apa yang diungkapkan seperti gambaran keluarga kami saat itu?

Tapi sekali lagi timbul keraguan, ah masyak? Apakah betul Tuhan sedang berbicara dengan saya?

Dan suara bathin yang menentang juga terasa semakin kuat, ‘Hush! Kamu siapa? Koq GR sekali’

Jadi usai homili saya bagaikan orang yang lagi menghitung, ‘tokek, ya, tokek, tidak,…..’

Pertanyaan itu memutar terus di dalam otak.

Di mobil waktu pulang, Winnie bilang, – Hm, bukankah Pastornya bicarakan keadaan kita?

Nah, lu!

Tapi otak fisikus saya bilang kagak! Itu pasti cuma kebetulan. Makanya saya putuskan, minggu depan saya akan pergi Misa sendiri karena Winnie masuk kerja.

Lha apa sih isi homilinya?

….. bersambung.

{ 0 comments }

Di sanakah kamu? (1)

Ada yang selalu menjadi ganjalan hati dalam masa prapaskah begini.

Saya tak senang sama koornya, khususnya seperti pagi tadi ketika mereka mulai melagukan, ‘Were you there, when they crucified my Lord?‘ (Di sanakah kamu, tatkala mereka menyalib Tuhanku?).

Were you there when they crucified my Lord?

Were you there when they crucified my Lord – image source: jinu03?

Selama belasan tahun, lagu itu terasa biasa seperti lagu gerejani lainnya.

Zaman mahasiswa dan tinggal di Asrama Mahasiswa Asal Timor, Yuana Putra di Yogya milik Keuskupan Atambua, saya suka ikut dalam kelompok paduan suara asrama kami dan menyanyi di Gereja Mrican dalam Kampus IKIP Sanatha Dharma waktu itu. Sampai di Amerika, banyak lagu yang cuma ganti bahasa dan tak sulit untuk dinyanyikan, apalagi lagunya toh itu-itu saja.

Tapi sejak Winnie dibaptis dan diterima dalam Gereja 16 tahun yang lalu, dalam 15 tahun berikut lagu yang satu ini sangat mengganggu ketenangan Winnie, setiap dinyanyikan tim paduan suara di Gereja kami.

Tak ada yang tahu, tak ada yang memperhatikan. Karena semua ini terjadi ketika umat lain pada sibuk menyanyi, sedangkan Winnie akan selalu menunduk dan rambutnya akan menutup kedua sisi kepala, sehingga kalau tidak ada yang benar-benar perhatikan wajahnya, tak akan terlihat kalau sebentar-sebentar dia akan mengusap air mata dan hidungnya; tak bakal ada yang tahu kalau Winnie menangis sepanjang lagu itu dinyanyikan. Di saat begitu, saya hanya bisa merangkul bahunya, dan diam seribu bahasa.

Semua ini gara-gara kejadian di suatu senja, bulan Februari tahun 1999 di rumah seorang teman, John, di daerah Conyers, Georgia.

Our Loving Mother - image courtesy: www.urlovingmother.org

Our Loving Mother – image source: www.urlovingmother.org

Sekitar bulan Oktober tahun 1998, di CNN ada berita tentang penampakan Bunda Maria, atau di sini disebut the Apparition of the Blessed Mother, dan orang Katholik dari seluruh Amerika maupun Amerika Selatan pada berbondong-bondong membanjiri kota kecil di pinggiran kota Atlanta, Georgia itu selama beberapa hari kala penampakan itu berlangsung. Kerumunan orang itu jelas dalam layar TV.

Saat itu, gara-gara pertengkaran dengan Pastor Paroki, sudah hampir tiga tahun saya hanya ke Gereja dua kali setahun. Itu pun di paroki tetangga, karena memang ada enam paroki di kota kami.

Ada beberapa kejadian menarik sebelum akhirnya saya kembali ke Gereja, yang akan saya tuturkan dalam serial berikut. Tapi suatu malam di bulan Oktober itu, begitu mendengar berita di CNN, saya langsung menyeletuk pada Winnie,….’Tuh, lihat Katholik-katholik bego tuh! Emangnya benar tuh prempuan itu bicara dengan Bunda Maria di akhir abad ke 20 ini?’ (Mohon maaf buat Nancy Fowler yang sudah menetap dalam kedamaian abadi di sisi Bapa di Surga).

Tak lama setelah kejadian itu, di tempat kerja saya, sudah ada kabar angin bahwa kontrak dengan pihak militer akan berakhir, dan harus tunggu sampai bulan Maret tahun depan baru diperpanjang.

Langit mulai menjadi mendung!

Tak lama lagi, untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun, saya akan dirumahkan lagi. Putra sulung kami sudah di Universitas dan kuliah di sebuah universitas kecil berperingkat – Wesleyan, di negara bagian Connecticut. Ada beasiswa serta pinjaman pemerintah. Tapi masih ada 4 perut lagi selain saya yang menjadi tanggungan saya. Tunjangan pengangguran dari pemerintah sangat tidak memadai. Makanya, menjelang peringatan perkawinan kami di bulan November, saya mengajak Winnie untuk ke Gereja.

Winnie sempat kaget. Situasi kami saat itu ibarat apa yang dikatakan dalam pepatah Tionghua, “Biasanya tak pernah bakar dupa, mendadak langsung peluk kaki Budha” (平时不烧香,临时抱佛脚). 😀

Tapi saya ingat, Winnie sempat tanya, ‘Mau ke mana? Holy Spirit?’

Holy Spirit atau Roh Kudus adalah nama paroki tetangga? Selama absen dari paroki kami, itu tujuan kami yang dua kali setahun itu. Napas alias Natal dan Paskah.

Saya bilang nggak, ke Good Shepherd, atau Gembala Baik, paroki kami.

Akhirnya tanggal 13 14 Nov 1998, untuk pertama kali selama hampir tiga tahun, kami kembali ke Good Shephard, tepat 22 tahun hari kami mendapatkan dispensasi perkawinan di Gereja Katholik St. Petrus, Pekalongan.

….. bersambung.

{ 4 comments }

Ceng Beng

imagePagi ini ponakan saya Reynold mengirim foto-foto perayaan Cheng Beng di kampung halaman lewat Facebook. Saya melihat foto-foto itu dan tiba-tiba merasa seperti kembali lagi ke masa kanak-kanak saya.

Ceng Beng adalah hari raya nyekar dalam tradisi Tionghua. Kata Ceng Beng atau dalam pinyin dibaca Qing Ming (清明), terdiri dari kata qing=bersih dan ming=terang, adalah salah satu dari keduapuluh-empat musim yang ada dalam penanggalan Tionghua.

Hari raya Ceng Beng jatuh pada hari ke-106 setelah perayaan makan onde dalam tradisi Tionghua, yakni pada hari titik pembalikan matahari di musim dingin atau winter solstice. Biasanya dirayakan pada tanggal 5 April, tetapi untuk tahun 2014, boleh dirayakan antara tanggal 21 Maret – 5 April. Jadi Qing Ming adalah salah satu hari raya di musim semi di daerah Tiongkok yang berempat musim. Sehari sebelumnya atau hari ke-105 dalam tradisi Tionghua dikenal dengan nama Han Shi (寒食).

imagePada hari raya Ceng Beng dalam tradisi Tionghua, para anggota keluarga melakukan penyapuan dan pembersihan di kuburan. Kuburan yang sudah tua dilabur lagi, tulisan di batu nisan yang sudah meluntur dicat lagi. Rerumputan di sekeliling dipotong rapi, kembang belukar di sekeliling dipangkas juga, disusul acara penghormatan buat arwah keluarga dan leluhur di dunia sono lengkap dengan berbagai sesajen.

Sedangkan pada hari raya Han Shi, yang terdiri dari dua kata berarti makanan dingin, dalam tradisi Tionghua berarti pantang menggunakan api selama tiga hari. Jadi makanan selalu disajikan dalam keadaan dingin.

Konon, Han Shi dirayakan untuk mengenang Jie Zitui(介之推), seorang pembantu Duke Wen dari negeri Jin (晋文公) dari zaman perang Chunqiu (770 – 476SM). Suatu saat Jie Zitui pernah membuat sup untuk Duke Wen dari daging yang diambil dari bokongnya sendiri dalam masa paceklik selama 19 tahun yang menimpa negeri Jin. Ketika Duke Wen menjadi raja, dia ingin memberi imbalan buat Jie Zitui, tapi yang bersangkutan malah lari dan hidup menyepi di hutan. Duke Wen mengirim orang mencarinya tak ketemu juga. Akhirnya Duke Wen perintahkan untuk membakar hutan ini. Bukannya melarikan diri keluar dari hutan, Jie Zitui dan ibunya malah terbakar mati dalam gubuknya. Untuk menyatakan penyesalannya Duke Wen memerintahkan seluruh negeri untuk tidak menyalakan api selama tiga hari untuk menghormati Jie Zitui. Akibatnya selama tiga hari tidak ada yang masak, dan itu menjadi suatu kebiasaan dalam perayaan sebelum Ceng Beng. Ada yang mengatakan bahwa dalam kalendar Jepang dan Korea ada juga nama-nama ini, dan di Korea Han Shi ini dikenal dengan nama Hansik, dan ada semacam tradisi serupa dalam kebudayaan mereka.

Perayaan Ceng Beng itu sendiri dimulai berdasarkan perintah Kaisar Tang Xuanzong di tahun 732 Masehi. Konon saat itu orang kaya selalu menghamburkan uang untuk melakukan upacara peringatan leluhur. Agar bisa menghemat, Kaisar Xuanzong lalu menitahkan bahwa penghormatan para leluhur hanya boleh dilakukan di pekuburan mereka pada hari Ceng Beng menurut penanggalan Tionghua. Lama-lama perayaan Hanshi dan Ceng Beng digabung dalam satu hari.

imageMakanya tidak heran kalau di Indonesia, perayaan Ceng Beng lebih ditekankan pada acara pembersihan kubur dan penghormatan arwah leluhur. Bagi kami yang sudah merantau ke barat, hari raya begini hanyalah kenangan masa lalu, terutama buat yang di Amerika yang sering disebut sebagai ‘melting pot’ atau ‘bejana pelebur’ ini.

Buat saya pribadi, selain kenangan masa kecil, masih teringat juga dua puisi tentang Ceng Beng yang dulu sempat dibicarakan guru sekolah rakyat Tionghua saya.

Kedua puisi ini adalah gubahan penyair dari dinasti Tang mengenai suasana Ceng Beng. Saya masih ingat bagaimana pak Zhang Guang Ying membaca dan menjelaskan kedua puisi ini waktu beliau berceritera tentang asal usul hari raya Ceng Beng. Ternyata ceritera pak Zhang itu bisa terekam sampai sudah setengah abad pun, saya masih tetap mengenang kedua puisi itu.

Ini adalah hasil terjemahan saya buat kedua puisi ini yang saya kerjakan sekitar sepuluh tahun lalu, saat masih aktif di milis Cersil (Ceritera Silat) di Yahoogroup.

Ceng Beng karya Du Mu

Pada hari raya Cengbeng hujan mengguyur deras
Pejalan yang hilir mudik seakan tak bersukma
Numpang tanya letaknya kedai minuman keras?
Anak gembala menunjuk jauh ke dusun Xinghua*

*Xinghua Cun – Dusun Bunga Aprikot, biasanya dipakai untuk mengungkapkan keindahan dusun pedesaan.

Kampung Selatan Ibu Kota*

Karya Cui Hu

Tahun kemarin hari ini di pintu ini
Rona wajah bunga persik saling beradu merah
Wajah ayu tak tahu sudah kemana kini
Bunga persik ‘sih senyumi angin musim semi.

*Ibu kota di sini adalah Chang An, ibukota dinasti Tang.

Buat yang tertarik, ini versi asli dan cara bacanya.

清明

清明时节雨纷纷
路上行人欲断魂
借问酒家何处有
牧童遥指杏花村

Qing ming shi jie yu fen fen
Lu shang xing ren yu duan hun
Jie wen jiu jia he chu you
Mu tong yao zhi xing hua cun

题都城南庄

去年今日此門中,
人面桃花相映紅。
人面不知何處去,
桃花依舊笑春風。

Ti Du Cheng Nan Zhuang

qu nian jin ri ci men zhong
ren mian tao hua xiang ying hong
ren mian bu zhi he chu qi
tao hua yi jiu xiao chun feng

Selamat merayakan hari raya Ceng Beng buat mereka yang masih merayakan. ***

{ 0 comments }

Bu Belinda dan mas Suwito

Kedua nama ini boleh disebut sahabat saya, dan masing-masing tidak kenal satu sama lainnya.

Terus terang, dengan bu Belinda saya hanya sempat berinteraksi lewat telepon satu atau dua kali, sekitar 30 tahun lalu sewaktu saya masih di Jakarta. Sedangkan mas Suwito adalah seorang teman kuliah saya selama di Yogyakarta, hampir empat puluh lima tahun yang lalu.

Bu Belinda Gunawan

Bu Belinda Gunawan

Bu Belinda adalah Redaktur Majalah Gadis waktu itu, dan saya sempat berkontak dengan beliau lewat telpon, karena waktu itu istri saya suka mengirim cerpennya ke majalah Gadis dari Femina Group. Beberapa waktu lalu, saya ketemu beliau lagi di Facebook dan sering membaca catatan ringan yang hampir setiap hari beliau postingkan di Facebook Wall-nya, dan tak terasa sudah seperti seorang sahabat lama saja, padahal ketemu muka pun belum pernah.

Catatan ringan Bu Be – panggilan akrab teman-teman Facebook – ini enak dibaca, karena isinya bisa tentang apa saja yang dapat diangkat dari sudut pandang yang menarik. Boneka cucunya, kota San Fransisco, lagu keroncong, nomor buntut atau apa saja bisa bu Be rangkumkan menjadi catatan yang menarik. Tak terasa begitu ada kesempatan buka Facebook di sore hari di sini (pagi hari di Jakarta,) saya akan melihat dan baca dulu catatan bu Be itu.

Tapi setiap kali membaca tulisan bu Be, saya jadi semakin teringat akan mas Suwito.

Berbeda dari bu Be, mas Suwito bukan penulis, melainkan seorang teman kuliah saya di Jurusan Fisika, Fakultas Ilmu Pasti dan Alam, Universitas Gadjah Mada (FIPA UGM) yang sekarang sudah diganti jadi FMIPA UGM.

Sewaktu menulis skripsinya, mas Wito yang milih jurusan Fisika Teoretis menulis tentang Teori Group dan pembimbing mas Wito adalah almarhum Prof. Baiquni, mantan Dirjen Badan Tenaga Atom Nasional, BATAN. Mas Suwito cerdas sekali.

Yang menarik, selain ahli Fisika, mas Wito juga punya kegemaran membaca dan banyak pendapatnya tentang sastra atau penulisan pada umumnya yang sering jadi bahan diskusi kami.

Maklum, di tahun kedua dan ketiga di Gadjah Mada saya jadi bimbang, apakah mau teruskan jadi ahli Fisika atau mau jadi pengarang?

Nah, di saat itu, ada satu usul mas Suwito yang menggelitik. “Kalau kamu memang betul-betul ingin jadi pengarang, mbok coba kalau lihat sesuatu benda, tulislah sebisamu tentang benda yang kamu lihat,” usulnya kepada saya dengan logat Jawanya yang kental.

“Buatlah semenarik mungkin sehingga orang tetap ingin membacanya begitu membaca beberapa baris pertama,” lanjutnya.

Ternyata permintaan sederhana itu begitu susah bagi saya saat itu.

Hampir setengah abad kemudian, sekarang, hampir setiap hari begitu buka Facebook, ada postingan menarik dari bu Belinda, yang boleh dibilang persis seperti yang mas Suwito usulkan. Bu Be bisa menulis tentang apa saja, tapi begitu mulai membaca, paling tidak untuk saya, sukar sekali kalau tidak menyelesaikannya.

Itu yang mendorong saya membuat catatan ini. Harapan saya, semoga suatu hari kumpulan catatan ringan bu Be ini bisa dibukukan, sehingga bukan hanya teman-teman Bu Be di Facebook saja yang bisa baca, tapi juga bisa dibaca oleh mereka diluar lingkarang sahabat Facebook bu Be.

Selain itu harapan saya, moga-moga suatu hari, bu Be bisa berbagi rahasianya tentang bagaiman beliau bisa menulis catatan ringan ini dengan para penulis muda seusia saya sekitar 45 tahun lalu.

Siapa tahu, mungkin beberapa puluh tahun lagi, kita akan sempat baca catatan serupa postingan ini, yang mengenang buku kecil bu Be buat para calon penulis, persis seperti saya teringat akan surat Rainer Maria Rilke kepada penyair muda, yang terjemahannya saya baca di Majalah Sastra Horison, di awal tahun 70an.

Ada satu hal dalam surat Rilke yang saya masih ingat sampai sekarang. Apakah kamu bakal mati kalau tidak menulis?

Dalam suratnya, Rilke menyuruh penyair muda itu masuk ke dalam dirinya dan mencari jawaban buat pertanyaan itu. Kalau jawabannya iya, ya terus menulis. Kalau tidak, ya, seperti saya sekarang. 😀

Bagaimana pengaruh buku Bu Be buat para calon penulis nanti, saya belum tahu. Tapi catatan ringan bu Be selalu menarik, dan pasti akan ada nasihat bagus buat para penulis muda. Bukan teori tentang penulisan kreatif yang njelimet, tapi catatan tentang bagaimana kursi dan meja bisa berceritera seperti kata teman saya mas Suwito, atau tentang angka 40 yang bukan angka dalam ramalan buntut, tetapi menjadi ide untuk ceritera yang menarik.

Akhir ceritera, buat teman-teman alumni FIPA, kalau ada yang tahu di mana mas Suwito sekarang, tolong kasih komen di bawah (yang tidak akan saya publikasikan), agar saya bisa hubungi mas Suwito. Terakhir saya tahu, mas Suwito sudah kembali ke Batan setelah kembali dari Inco di Sulawesi. Sejak saya di Amerika, pernah hubungan sekali soal urusan sekolah putra beliau tapi sudah lama sekali tak pernah berhubungan lagi. Kangen.***

^Sumbangan foto: Bu Belinda Gunawan. Terima kasih.

{ 2 comments }