Parade Lagu Kenangan

by drt on March 9, 2008

Ibu Inda Daxberger dari Munich tahu bagaimana caranya memancing pertapa turun dari gunung. Beliau mengirim kumpulan video di youtube ke milis Pak Laru Bolelebo. Saya sempat lihat lagu-lagu itu dan rasanya ada yang mengganggu kalau tidak melihat yang lain. Sekalian saya tampilkan di sini karena terlanjur menontonnya dan lain kali kalau mau dengar tak perlu cari satu per satu lagi.

Kalau parade lagu Jepang berasal dari lagu-lagu sekitar 30 tahun yang lalu, maka lagu-lagu di sini tentu jauh sebelumnya, bahkan sebagian penyanyi yang membawakan lagu ini malah belum lahir ketika lagu-lagu ini lagi mengetop.

Pertama, adalah lagu Angin Malam dari Almarhum Broery Maranthika.

Yang bikin kaget, ternyata waktu memilah-milih lagu Mimpi Sedih, koq ada versi almarhum Teresa Teng. Saya betul-betul kehilangan kata-kata akan Duta Suara dari Taiwan ini. Lagu-lagu Jepang, perfect! Di Jepang almarhumah sangat dihargai. Di Taiwan, Hongkong, Singapore. Dulu saya pernah postkan salah satu lagu Teresa, Cinta Suci, tapi lagu Mimpi Sedih ini betul-betul di luar dugaan. Sekalian saya taruh di sini, walaupun tanpa gambar Teresa.

Yang ketiga, lagu Widuri yang dibawakan Bob Tutupoli.

Lalu Mengapa Tiada Maaf Darimu?

Disusul Tinggi Gunung Seribu Janji.

Berikut adalah Senandung Rindunya Tetty Kadi:

Siwi Yunia? Saya baru tahu nama ini dari Youtube. Namun Layu Sebelum Berkembang adalah salah satu lagu kesukaan masa remaja dulu:

Masih dengan Siwi. Kali ini suatu lagu kesukaan sekitar tahun 67an. Haha, Siwi mungkin belum lahir atau baru usia berapa tahun:

Mendengar ini, tiba-tiba istri saya bertanya, ‘are you ok?’, ‘masih ingat pacarmu dulu?’ sambil cengir kepadaku.

Kalau yang dua berikut ini pasti tak ada masalahnya. Tapi yang tahu lagu-lagu ini ketika lagi ngetop, tentu juga sudah kakek dan nenek seusia saya. :lol:

Teluk Bayur-nya Ernie Johan:

Ayem dan Lapeh. Sampai sekarang masih ingat, siku capang siku capek, sikuala tabak sikulapek. Tabang nyo jua na karimbo, lalapek juo….

Rindunya Mus Mulyadi:

Sedangkan sebagai lagu penutup, beta taruh video ini di sini. Tanpa komentar.

Popularity: 1% [?]

Leave a Comment

Previous post:

Next post: